
~Tertuduh~
Melihat Gladis terus menangisi putrinya yang hilang, penjaga itu pun langsung menghubungi satria segera.
"Lapor, Pak."
Penjaga menjelaskannya kepada Satria, mereka semua sudah pasti dalam bahaya, sebab hilangnya Shine akan menjadi malapetaka untuk mereka, Jerry sudah pasti akan mengamuk, anak dari seorang wanita yang dia bawa dari rumah bordir begitu disayanginya.
.
.
Satria memasuki rumah Jerry, dia begitu cemas, sudah pasti dia orang pertama yangaakan mendapat amukan Jerry.
"Apa aku kirim pesan saja? Aaaah, amukannya yang bagai macan hutan itu mampu membuatku terbunuh tanpa tersentuh." Satria membalikkan badannya.
"Satria." Panggilan Jerry menghentikan langkah Asisten pribadinya.
Satria membalikkan badannya sambil beraut wajah frustasi.
"Kamu belum pulang?" tanya Jerry smabil menuang minuman.
"Be-belum Bos," jawabnya terbata.
"Ada apa?" tanya Jerry yang hafal gelagat asistennya.
Satria sudah kepergok, dia tidak bisa menghindar dan menggunakan rencananya untuk memberitahukan berita hilangnya Shine lewat pesan singkat.
Satria maju perlahan, langkahnya yang meragu, semakin membuat Jerry mengerutkan dahinya.
"Be\=begini," Satria sungguh berat mengatakannya.
"Katakan saja, ada apa? Jika kamu jujur saya pasti tidak akan marah."
Satria melirik tajam. "kau selalu bicara begitu, tapi pada akhirnya, macan hutan itu datang dan siap menerkam."
"Satria."
Mendengar Jerry memanggil namanya keras, dia membayangkan Jerry sedang mengeluarkan gigi taringnya yang disembunyikan.
"Saya mendapatkan kabar, anak Nyonya Gladis hilang." Satria bicara sambil memejamkan matanya.
Seorang preman berdarah dingin, begitu menciut jika berhadapan dengan manusia dingin yang selalu menyembunyikan taringnya.
'Macan hutan' itu adalah panggilan Jerry ketika mereka semua ketakutan dengan amarah yang ditunjukkan bos mereka.
"Shine maksudmu?" Jerry meletakkan gelasnya sembarang.
__ADS_1
"Kaliaaan!"
PRAAAAAAAANG
Gelas terjatuh berbarengan dengan teriakan Jerry, teriakannya saja sudah mengagetkan ditambah gelas yang terjatuh dan pecah, suaranya semakin membuat jantung Satria hampir copot.
"Siapa yang berani menyentuh Malaikatku?" Jerry langsung berjalan, dia pergi menuju pintu.
Satria dengan sigap langsung menyusul Bosnya, mereka langsung berangkat menuju kediaman Gladis, selama perjalanan Jerry nampak gelisah, terlihat begitu takutnya dirinya, baru kali ini seprtinya tingkah Jerry seperti ini, asistennya sangat tidak menyangka kalau bosnya begitu lembut terhadap anak-anak.
"Percepat jalannya, jangan LAMBAT!" Jerry kembali berteriak.
"Sabar, pak. Jika kita terlalu cepat, bisa jadi kita nanti celaka dan tidak bisa menemukan Nona Shine." Saran Satria.
Jerry semakin meremas jemarinya, dalam pikirannya saat ini dia harus segera bertemu dengan Gladis, dia juga sedang berpokir, siapa kira-kira yang melakukan hal licik ini.
.
.
"Dimana putriku." Gladis sudah seprti orang linglung.
"Gladis." Naura yang dihubungi penjaga langsung datang ketempat.
"Nick, bawa Gladis ke dalam." Perintah Naura,
"Letakkan di sana saja." Naura menunjuk ke sofa.
Nick meletakkan Gladis. "Kak, bagaimana ini? Dia terus meracau begini, sudah seperti depresi."
Naura langsung melebarkan matanya kearah Nick, dia tidak suka Nick bicara sembarangan.
"Naura, Shine, dimana Shine, apa dia bersamamu?" tanya Gladis dan langsung tidak sadarkan diri.
Naura menepuk-nepuk pipi sahabatnya, tapi tak berhasil membangunkan sahabatnya.
"Gladis." Jerry langsung masuk ke dalam rumah.
Tatapan Jerry langsung tertuju kepada Gladis yang tertidur di atas sofa. "Apa dia tertidur?" Jerry menoleh kepada Naura.
Naura menggeleng. "Dia pingsan, karena terlalu khawatir dan terlalu syok." Naura menatap sendu kearah Gladis.
Jerry langsung keluar, dia menghampiri para penjaga dan menonjok satu persatu bagian perut mereka dengan spontan mereka semua teriak kesakitan.
"Apa saja yang kalian lakukan? Kenapa bisa Shine menghilang?" tanya Jerry berteriak keras.
Macam-macam umpatan dikeluarkan, ancaman pun kerap di sebutkan oleh Jerry, betapa marahnya Jerry. ini hanya sekedar persoalan anak orang lain yang belum sah menjadi putrinya, bagaimana jika sudah menjadi putrinya, bukan lagi tonjokan yang diberikan Jerry, mungkin mereka akan ditembak peluru panas oleh bossnya.
__ADS_1
"Maaf, Pak, ini kelalaian kami, tapi kami juga benar-benar tidak tahu, awalnya kami hendak bergiliran istirahat, karena merasa butuh energi dan kebetulan lewat pedagang nasi goreng keliling, kami memesannya dna memakannya, setelah kami memakannya, seperti terasa mengantuk dan kami tidak tahu lagi kelanjutannya." Jelas salah satu penjaga yang memberhentikan pedagang keliling.
"Sepertinya ini sudah direncanakan, mereka tidak akan mudah lengah meski dipancing." Satria mencoba mengamati dari cerita anak buahnya.
Hebatnya kelompok Satria adalah, mereka tidak mudah tergoda, fokus mereka sudah pasti terjaga, mereka tidak mudah lengah, itulah mengapa Wiharja selama ini selalu gagal mengawasi gerak-gerik Jerry.
"Jika benar apa yang kamu simpulkan dari cerita mereka, siapa yang berani melakukan hal licik ini?"
"Papa mu!" Gladis terbangun dan menghampiri Jerry.
"Gladis," panggil Jerry.
"Tidak ada lagi yang akan mengincar aku dan Shine selain Papamu, semua ini karena mu." Tangisan seorang ibu kembali pecah.
"Tidak ... papaku htidak akan melakukan hal licik seperti ini," tandasnya.
"Tidak katamu? Apa kamu lupa kejadian beberpaa hari ini? Apa kamu mengalami amnesia dadakan?" begitu geramnya Gladis.
"Aku tidak lupa, aku hanya bilang tidak mungkin," kata Jerry.
"Kenapa tidak mungkin? buktinya kemarin dia menculikku dna Shine?" Gladis membulatkan matanya yang sudah begitu merah karena terus menangis.
"Itulah yang tidak mungkin, karena kamu masih ada di sini, dia tidak akan pernah membawa putrimu, tanpa dirimu ibunya." Jerry mungkin terdengarseperti sedang membela Papanya.
"Kini kamu membela Papamu?" Gladis menyipitkan matanya.
"Aku tidak membelanya, aku hanya tahu siapa Papaku, bagaimana cara kerja mereka, jika memang Papaku yang menculik anakmu, aku akan melepaskanmu sebagai tanda permohonan maaf, tapi jika bukan, maka kamu akanmenjadi milikku selamanya, begitu juga dengan Shine." Jerry berusaha meyakinkan Gladis dengan perkatannya.
"Kamu terdengar seperti orang yang sudah mempersiapkan semua ini?" Tuduh Gladis.
"Apa maksudmu?" tanya Jerry tidak mengerti.
"Kamu yang merencanakan penculikan ini, lalu berpura-pura tidak mengetahuinya, lalu kamu menggunakan situasi ini untuk mengikatku dalam hidupmu, benarkan? Sungguh permainan sampah!" Dengan kasar Gladis menuduh Jerry.
Jerry benar-benar kesal dengan tuduhan yang dilayangkan Gladis terhadap dirinya, dia ke rumah Gladis bertujuan untuk membantu malah berujung menjadi tersangka dimata wanita itu.
"Aku bilang Papaku tidak mungkin melakukannya, kamu malah menuduhku, itu sungguh hal yang sangat mustahil." Jerry membela diri.
"Aku tidak percaya." Gladis menyangkal, padahal saat ini dalam hatinya dia benar-benar tidak berniat menuduh Jerry, dia hanya ingin meluapkan kekesalannya dan juga rasa frustasinya.
"Aku akan mencarinya, dan ingat-ingat siapa orang yang kemungkinan menjadi target tersangka," Jerry memutar balik tubuhnya.
"Apa dia?" batin Gladis.
.
.
__ADS_1
Apa yang akan Jerry lakukan sekarang? Siapakah yang ada dipikiran Gladis?