
~ Malam yang dingin ~
Gladis selesai memandikan putrinya. dia lalu mulai memakaikan shine baju. Sore ini Gladis berencana mengajak putrinya jalan-jalan menggunakan troli.
"Shine sayang. Mama akan mengajakmu berkeliling desa nenek buyutmu. desa ini sangat indah. bahkan mama dulu tidak ingin meninggalkan desa ini."
Gladis mengingat masa kecilnya yang tidak bisa lagi menginjakkan kakinya ketika dia harus mengikuti kedua orang tuanya ke Jakarta dan menetap di sana dengan berpindah-pindah tempat tinggal.
Gladis dan kedua orang tuanya sempat tinggal di rumah kontrakan selama sepuluh tahun dan mereka sering tinggal berpindah-pindah karena pekerjaan papanya. Hingga kedua orang tuanya memutuskan untuk memiliki rumah dan menjadi seorang pedagang. Dia tinggal di dekat seorang wanita yang mengenal mereka karena berasal dari kampung yang sama. Suatu hal yang tidak terduga sekali. Mereka bisa bertemu, tapi sayangnya dia tidak mendapatkan kabar apapun dari nenek dan kakeknya. dia yang akhirnya kehilangan kedua orang tuanya dan hidup sebatang kara dengan jerih payahnya sendiri akhirnya mampu menyelesaikan sekolah formal sampai sekolah menengah atas. dia juga akhirnya bertemu dengan Jaka hingga akhirnya menikah dan dicampakkan.
Gladis menghapus air matanya yang jatuh karena masa lalunya yang begitu pahit. Dia kini tidak ingin merasakan kepahitan itu. dia ingin merasakan hidup manis bersama dengan putrinya yang cantik.
Gladis mendorong troli shine dan mereka siap untuk berkeliling desa. Di saat dia sudah berjalan cukup jauh dari rumah. Gladis bertemu dengan Aldi di persimpangan jalan. Aldi langsung menghampiri dua wanita itu. Dia lalu menawarkan diri untuk menemani Gladis berkeliling desa berilmu.
__ADS_1
"Tidak perlu Aldi. aku bisa sendiri berkeliling." Tolak Gladis dengan halus.
"Jangan sungkan. aku yakin kamu pasti sudah asing dengan desa ini. Kamu pergi dari desa ini dia puluh tahun lalu. Aku juga tahu bahwa desa ini sudah banyak berubah. hanya rumah nenekmu saja mungkin yang tidak berubah sehingga kamu masih bisa mengenalinya." Aldi bersikeras menemani Gladis.
Gladis akhirnya mau tidak mau menerima tawaran Aldi. mereka berjalan bersama menyusuri jalan setapak. jalan setapak itu menuju sebuah tempat yang bisa membuat mereka melihat desa berilmu dari atas. pemandangan yang sangat indah dan sering orang yang menghabiskan waktu mereka untuk memandangi desa itu dari atas bukit.
Gladis dan Aldi duduk. sedangkan shine berada di troli yang sudah di kunci roda-rodanya oleh Gladis. mereka berdua begitu takjub dengan pemandangan dari atas bukit. Aldi yang bahkan sering kali naik ke bukit untuk menghilangkan penat saja masih sering terpana dengan keindahan yang disajikan dari atas bukit. Di sana mereka bisa melihat setengah dari desa berilmu yang indah.
Aldi merasa seperti bertemu lagi dengan cinta di masa kecilnya. meski dia belum pernah mengungkapkannya, tapi baginya Gladis wanita pertama yang membuat dirinya jatuh cinta. senyum yang indah, mata yang selalu berbinar membuat dia tidak pernah bisa melupakan gadis di masa kecilnya.
"Aku senang kamu akhirnya kembali ke desa ini. Aku pernah berpikir untuk pergi ke Jakarta hanya sekedar ingin tahu kabarmu. namun, saat aku lihat di peta. Jakarta begitu luas dan padat. aku berpikir ulang untuk mencarimu di sana. karena aku tidak tahu harus mencarimu dimana." kata Aldi sambil mentertawakan dirinya sendiri.
"Jakarta memang sangat luas. Namun, ada seseorang yang aku kenal, dia satu-satunya orang yang bisa mencari keberadaan orang yang dicarinya. dia tidak akan pernah berhenti dan menyerah. Saat ini aku yakin dia sedang mencari." Gladis menatap ke depan. tatapannya kosong seperti jiwanya tak ada di sini.
__ADS_1
Aldi menatap Gladis yang begitu fokus dengan tatapan ke depan. Dia merasa takjub mengenai orang yang diceritakan oleh Gladis.
"Apa semua orang di jakarta bisa melakukan hal yang dia inginkan?" tanya Aldi dengan sangat polos.
"Ya, mereka melakukan semua yang mereka inginkan. mereka bahkan hidup sangat bebas dan mampu meraup uang dengan sangat banyak dalam waktu satu malam saja." Terang Gladis.
"Aku dengan kehidupan di sana sangat bebas dan tak ada batasan. Aku menjadi semakin takut untuk menginjakkan kaki di sana." Jelas Aldi.
"Jika seorang laki-laki takut berjalan di jalan gelap dan takut berjalan di jalan terjal. Bagaimana dia bisa memenangkan hati wanita dan bagaimana dia bisa melindungi wanitanya?" Gladis berbicara seakan dia sedang membela seorang yang dia kenal dan dia rindukan.
Gladis dan Aldi selesai memandang desa berilmu. mereka memutuskan untuk turun dari bukit karena memang hari akan segera gelap. matahari akan segera kembali ke rumahnya.
Gladis mendorong troli bayi hingga ke rumahnya. dia berpisah dengan Aldi di sebuah gang karena Aldi ada urusan mendesak. Gladis masuk ke dalam rumah dan menidurkan shine di atas kasur. Dia berjalan ke jendela kamarnya yang belum dia tutup. Dia lihat langit gelap sudah bertabur bintang-bintang dan sinarnya sudah menerangi sampai ke bulan. Malam ini angin sejuk masuk ke dalam kamarnya melewati jendela. Angin sejuk itu membuat malam ini dingin sedingin hatinya. dan malam yang bertabur bintang itu mengingatkannya pada seseorang yang ada di lubuk hatinya.
__ADS_1