Sang Penari ( Kisah Seorang Singel Parents, Yang Menjadi Penari Malam )

Sang Penari ( Kisah Seorang Singel Parents, Yang Menjadi Penari Malam )
SP 27


__ADS_3

~Perjanjian yang disetujui~


Jerry pagi sekali sudah bersiap. Dia mengenakan setelah sangat santai sekali.


"Kamu mau kemana?" tanya Wiharja.


Jerry tidak menghiraukan perkataan papanya.


"Jerry." Wiharja menaikkan nada bicaranya.


"Bukan urusan papa." Jerry keluar rumahnya.


Melihat putranya semakin acuh tak acuh kepada diri, membuat Wiharja muak.


"Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau hubunganku semakin renggang dengannya." Wiharja mengenal kedua tangannya.


.


.


Dalam perjalanannya Jerry mendengarkan lagu-lagu ceria. Hati Jerry begitu berbunga. Hati yang sudah lama sekali belum karena kehancuran keluarganya, membuat dirinya berubah menjadi manusia dingin.


"Aku akan menagih janjimu. Kali ini aku pastikan dirimu tidak akan pernah tersakiti." Jerry bicara sendiri di dalam mobilnya.


Dia pergi tidak menggunakan sopir dan tidak ditemani oleh Satria.


Melewati gang kecil dan sebuah perkampungan Jerry begitu tidak sabar ingin cepat sampai.


"Selamat pagi, Bos." Sapa anak buahnya yang berjaga di rumah Gladis.


Jerry pergi ke rumah Gladis untuk menagih janji.


"Sepagi ini sudah bertamu?" tanya Nick.


"Kenapa? Kau tidak suka?" Tanpa menunggu jawaban dari Nick, Jerry langsung masuk ke dalam rumah.


Gladis melihat kearahnya. "Mau apa lagi?"


Pertanyaan Gladis sedikit menyinggung perasaan pria berusia tiga puluh tahun itu.


Meski mereka berusia sama tapi Jerry lahir lebih dulu dari pada Gladis.

__ADS_1


Jerry duduk di sofa tanpa persetujuan tuan rumah. " Aku ingin menagih hutang." Jerry menyilang kedua kakinya.


Gladis menoleh. "Hutang? Kapan aku berhutang?" Ketusnya.


Jerry tertawa kecil, dia tidak menyangka Gladis sangat tidak tahu terima kasih sekali. Sudah di tolong menemukan putrinya, dia juga melupakan janji yang sudah mereka sepakati.


"Bukankah sebelum aku menemukan putrimu, kita sudah membuat janji?" Ungkit Jerry.


"Katamu, menyelamatkan Shine adalah tugasmu, salah satu tanggung jawabmu. Kenapa sekarang membuatnya menjadi hutang?" Skak Gladis.


Sungguh Jerry kehabisan kata-kata jika sudah mulai berdebat dengan Gladis. Wanita satu itu selalu pandai mematahkan perkataan orang lain. Awalnya dia terlihat takut dengan Jerry, tapi sekarang dia berubah sangat santai terhadap Jerry.


"Tanda tangani." Jerry mengeluarkan berkas perjanjian.


Dirinya sudah tidak bisa lagi berdebat. Dia tidak mampu melawan kata-kata wanita yang sudah melahirkan anak yang begitu membuatnya luluh.


"Jika aku tidak mau?" tanya Gladis.


Pertanyaan Gladis sungguh menguji kesabaran pria yang dijuluki 'Macan Hutan' itu.


"Jika nanti terjadi masalah lagi. Aku tidak akan membantumu." Tegasnya.


Mendengar perkataan Gladis, membuat Jerry kesal. Dia menyusul Gladis ke dapur.


"Kenapa kamu ingkar?" tanya Jerry.


"Putriku bukan barang yang bisa kamu klaim sebagai putrimu. Aku dan shine bisa saja dalam bahaya lagi jika terus berada di sisimu. Lagi pula Papamu tidak akan suka dengan wanita sepertiku yang bekerja sebagai penari malam." Beber Gladis.


"Dengar ... Dengarkan aku. Papaku akan menjadi bagian, aku akan mengurusnya." Janji Jerry.


"Kamu yang harus mendengarkan ku. Kita ini beda kasta, kamu dan aku itu tidak ada hubungan apapun. Jadi aku harap kamu melepaskan kami berdua. Izinkan aku dan Shine hidup berdua tanpa gangguan." Mohon Gladis sambil menatap manik mata pria yang terus mendesaknya.


Jerry akhirnya kembali mengalah, dia mundur. Dia tidak akan memaksa kali ini. Dia mau urutan yang benar agar bisa menjalin hubungan yang benar juga.


.


.


Rumah kecil di sebuah kampung yang digerebek kemarin oleh Jerry dan anak buahnya terlihat sangat berantakan sekarang.


Jaka habis mengamuk kemarin, setelah putrinya berhasil dibawa.

__ADS_1


"Haaah! Ini semua karena kamu. Kamu tidak memperhatikan sekelilingmu sebelum menemuiku." Marah Jaka.


Melly mengembangkan hidungnya, dia kesal dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Jaka. Dirinya yang dimintai bantuan tapi malah ikut disalahkan.


"Semua itu karena kamu. Kenapa kamu pakai membawa bayi itu? Jika kamu ingin anak, aku bisa memberimu." Teriak Melly.


Mendengar perkataan Melly, Jaka langsung tertawa keras.


"Kamu ingin mengandung? Melahirkan? Bukannya kamu takut? Kamu takut tubuhmu yang sexy ini akan kelar." Jaka menyinggung Melly.


"Kamu ingat beberapa bulan lalu? Aku meminta agar kita tidak menggunakan pengaman, tapi apa? Kamu menolaknya, kamu bilang belum siap. Kamu bilang belum bisa menemukan obat agar tubuh kembali semula setelah melahirkan!" Jaka menyudutkan Mely.


Mendengar perkataan Jaka, itu adalah suatu kebenaran. Mely takut tubuhnya akan melebar. Konon kata orang tubuh wanita yang sudah hamil dan melahirkan, akan mengalami pengembangan karena harus banyak makan untuk menyusui.


Melly terlihat menyesal setelah mengingat kejadian itu. Benar adanya dia memang takut, tapi sekarang dia semakin takut. Takut kehilangan pria yang menemani dirinya selama ini.


"Sayang, aku dan kamu sudah cukup lama bersama. Kita mulai kembali dari awal dan kita pasti akan memiliki anak. Aku berjanji kepadamu." Melly memohon.


Jaka menghempaskan Melly ke atas ranjang. Amarahnya sedang mendidih, dia kesal karena putrinya begitu tenang di tangan orang lain, dan sekarang pacarnya mulai memaksanya.


Jaka melucuti satu persatu pakaian Melly hingga ke pakaian dalam. Jaka mencium kasar bibir pacarnya.


Melly yang terkejut mendapatkan perlakuan mengejutkan itu. Langsung berusaha memberontak, tapi tidak bisa.


"Ayo, layani aku dan berikan aku anak." Pinta Jaka tanpa melepas bibirnya.


Melly sedikit menitikkan air matanya, tapi dia harus mengikuti permainan Jaka. Melly tidak mau kehilangan Jaka meski terkadang jengkel dengannya.


Jaka melenguh panjang, dia mengeluarkan cairannya semua di dalam kepemilikan Melly. Tubuhnya tumbang, dia lelah bercinta dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Kamu marah?" tanya Melly setelah tubuh mereka sejajar diatas ranjang.


Jaka langsung mengenakan kembali pakaiannya dan pergi.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2