
~Jaka~
Langit biru begitu cerah, udara juga tidak terlalu panas, tapi sayang suasana di rumah Jerry begitu panas, dia kedatangan seorang tamu tidak terduga. Hazel putri Kertajaya bertamu ke rumahnya bersama Papinya.
"Aku lelah, berkunjung lain kali saja." Jerry melanjutkan langkahnya.
"Jerry tunggu!" Tegas Wiharja yang membuat langkah Jerry terhenti.
Jerry menghentikan langkahnya bukan karena dia takut, tapi dia saat ini enggan untuk bertengkar, energinya habis dipakai seharian bekerja dan memikirkan Gladis.
"Papi meminta Hazel untuk kerumahmu, karena ingin membahas tentang pertunangan kalian," kata Wiharja sambil melirik Hazel.
"Aku tidak berminat untuk bertunangan." Tolak Jerry.
"Kalau begitu langsung saja menikah." Hazel ikut dalam pembicaraan.
"Menikah, apalagi itu, aku tidak tertarik, bukan dengan acaranya tapi dengan dirimu." Jerry begitu ketus dan terang-terangan menolak Hazel.
Hazel langsung mengerucutkan bibirnya, manik matanya sudah terlihat akan menangis karena ditolak pria yang selama ini menjadi incaran dirinya, cintanya yang sudah sangat menjalar ke dalam hatinya bahkan sampai ke sekujur tubuhnya bagaikan penyakit kanker. Hazel bahkan kadang menggila ketika dirinya begitu tidak sabar dengan kesepakatan papanya dan juga papinya Jerry.
"Lagi pula, aku sudah memiliki anak, dia darah dagingku, berarti dia juga darah daging Papi, apa Papi akan mengabaikannya?" tanya Jerry.
"Jerry!" Wiharja berteriak.
Dirinya tidak menyangka amnaknya akan membahas tentang bayi tersebut di hadapan Hazel, Wiharja begitu murka, dia tidak mau dianggap sebagai pembohong, lagi pula bagi wiharja saat ini gladis bukanlah wanita baik-baik.
"Kamu punya anak?" tanya Hazel dengan wajah penuh tanda tanya.
"Ya, dia seorang bayi mungil yang begitu cantik." Jerry bahkan saat bicara tentang Shine selalu tersenyum.
Wiharja yang melihat senyuman putranya, begitu tahu arti senyuman itu, senyuman yang dulu sering anaknya tunjukkan saat bersama dengan dirinya dan saat mereka bertiga selalu menghabiskan waktu bersama, sebelum sifatnya berubah menjadi dingin kepada dirinya.
"Senyuman itu, putraku ternyata begitu menyayangi putrinya, jika sudah begitu, maka aku harus menunda rencana perjodohan ini dan menyusun ulang strategi." batin Wiharja.
"Sebaiknya kalian pulang saja, aku lelah hari ini, pekerjaanku menumpuk di kantor karena seseorang menculik kekasih dan putriku, jangan ganggu mereka dan jangan datang ke ruamh ini lagi, karena aku akan segera membawa mereka kemari dan menikahi kekasihku, aku tidak mau putriku tidak mendapat status." Jerry langsung pergi.
Mendengar perkataan putranya, membuat emosi pria berjas coklat dengan rambut sudah hampir memutih itu menjadi mendidih bagaikan air yang sudah menggolak di atas kompor.
.
__ADS_1
.
Seseorang pria berpakaian formal datang ke rumahg Gladis, dia membawa beberapa Map berisikan dokumen-dokumen, pria itu meminta Gladis untuk membacanya dan mempelajarinya.
"Untuk apa semua ini? aku tidak mau terlibat lebih jauh lagi." Gladis meletakkan kertas-kertas itu di meja.
"Pak Jerry hanya ingin melindungi anda dan putri anda."
"Beritahu dia, selama ini, kehidupanku selalu baik-baik saja, kami berdua tidak butuh perlindungan dari siapapun, dialah penyebab aku dan putriku mengalami hal mengerikan." Gladis memberikan tatapan mautnya.
Semua tahu, jika Gladis memiliki tatapan maut yang begitu mengerikan hanya saja dia kemarin di tempat Jerry tidak bisa berkutik, jika dia melakukan kesalahan bukan hanya dia yang akan terancam, tapi juga putrinya yang mereka bawa.
Stelah kepergian pengacara kiriman Jerry, Gladis menginci pintu rumahnya, dia tidak perduli dengan penjaga yang mengelilingi di beberapa titik rumahnya. Dia masuk ke dalam kamar dan mulai melihat putrinya, sendu matanya menyiratkan kekhawatiran besar, dia takut putrinya dan dirinya berada dalam ancaman lagi, maka dari itu dia berusaha untuk menghindari beberap penjaga terutama menghindari Jerry.
.
.
Pagi harinya, Jerry mendapatkan kunjungan dari pengacaranya, pengacara menjelaskan semua kejadian itu kepada Jerry, Jerry tidak heran mengapa Gladis menolak permintaannya, tapi yang menjadi masalah sekarang adalah, dia tidak bisa melepaskan rasa yang menyesakkan di hatinya karena rindu bertemu dnegan Shine.
"Biar aku yanga akan membujuknya, kalian semua bersiap, kita kan pergi ke rumah Gladis, persiapkan berkasnya." Perintah Jerry kepada anak buahnya dan kepada pengacaranya.
Jerry tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah dia sukai, seorang putri yang mampu mencuri perhatiannya dan juga mampu membuat hatinya terpikat.
.
.
Gladis mendengar ketukan pintu dari luar rumah dan ada keributan kecil juga di luar rumahnya, mendengar suara bising itu membuat Gladis memutar anak kunci dan membuka pintu rumahnya. Alangkah terkejutnya dia melihat seorang pria yang sudah menebar luka yang begitu dalam muncul kembali dihadapan dirinya.
"Untuk apa kamu kembali?" tanya Gladis dengan menahan emosinya.
"Aku ingin bertemu anak kita."
Gladis hanya bisa menggelengkan kepalanya. Jaka dengan entengnya bicara seperti itu saat hal yang sangat fatal telah ia lakukan kepada Gladis dan juga Shine.
"Anak?" Gladis mulai kehilangan kendali.
"Apa kamu punya anak? dia anakku, bukan anakmu, dia putriku, bukan putrimu, dalam pernikahan kita, tidak pernah kita punya anak, camkan itu." Gladis meluapkan emosinya dengan tetesan air mata.
__ADS_1
.
.
Pria yang memperhatikan suasana memilukan ini, hanya bisa berdiri mematung. Jerry bukan tidak mau menghampiri sepasang suami istri yang belum sah bercerai itu, Jerry sadar dirinya tidak punya hak untuk ikut campur, lagi pula dirinya membawa Gladis hanya untuk membalas semua sakit hatinya kepada Papinya.
"Kita tunggu di sini dulu, beritahukan kepada para penjaga untuk tidak ikut campur kecuali pria itu berbuat kasar." Jerry masih terus memandang ke arah rumah Gladis.
"Baik, Pak." Satria langsung menghubungi para penjaga untuk siaga.
.
.
"Dengarkan aku, Jaka." Gladis menarik napas panjang.
"Jangan pernah kamu mengakui dia sebagai anakmu, karena tidak ada seorang ayah yang membiarkan anaknya yang masih di dalam kandungan istrinya terancam kehilangan nyawanya, hanya karena wanita yang bukan siapa-siapa." Derai air mata semakin deras.
"Aku minta maaf untuk kesalahanku, tapi aku ingin melihatnya, anakku, darah dagingku." dengan wajah memelas Jaka memohon kepada Gladis.
Gladis yang memperhatikan wajah Jaka, tiba-tiba diteriaki oleh seorang wanita yang bukan lain adalah kekasih gelap pria yang menyakitinya.
"Dasar wanita malam, bisa-bisanya kamu meminta kekasihku mendatangi rumahmu!" Mely berteriak sambil mendekat kearah rumah Gladis.
Tidak habis pikir, seorang pelakor berteriak seolah istri sah pria itu adalah pelakor, Gladis menarik sudut bibirnya sedikit lalu dia tertawa.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Mely ketika sampai.
"Aku tertawa, karena melihat pelakor berjalan begitu cepat seakan takut prianya kembali kepelukan istri sahnya, apa setakut itu? apa pesonamu hilang? atau dirimu sudah tidak lagi bisa bergoyang untuk memuaskan kekasihmu?" cibiran itu keluar dari mulut Gladis.
Mely begitu terkejut mendengar Gladis bisa berkata kasar seperti itu, Mely menghampiri Gladis, tangannya sudah hampir mendarat di pipi Gladis, tapi dengan cepat seseorang menghalaunya.
.
.
.
.
__ADS_1