Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Perubahan


__ADS_3

Braakk!!!


Tiba-tiba terdengar benturan keras di luar sana. Tepat di depan rumah Bu Marni. Dan segera saja Bu Marni langsung mengeceknya.


Betapa terkejutnya Bu Marni dengan apa yang dilihatnya.


"Gita! Kamu kenapa?" Teriak Bu Marni yang sangat shock saat melihat anak perempuan satu-satunya yang terkapar tak berdaya di lantai rumahnya.


Gita yang kini sedang dalam kondisi mabuk berat, dan membuat dia menjadi tak sadarkan diri.


Dengan langkah terseok-seok, Bu Marni pun akhirnya menyeret tubuh Gita yang lumayan berat.


Bu Marni benar-benar merasa tak habis pikir dengan semua rentetan kejadian di hari ini.


"Ya Allah, kenapa seperti ini sih? Hari ini benar-benar aku merasa lelah sekali!" Gerutunya sendiri. Dan Gita kini sudah tertidur di lantai ruang tamu rumahnya.


Berulangkali Bu Marni menelepon anak laki-lakinya yaitu Dion dan Rino. Tapi mereka semua tak ada yang menanggapinya, dan sukses membuat Bu Marni semakin kesal. Belum lagi Sinta yang selalu berteriak-teriak meminta makan, karena memang dia sangat kelaparan sekali. Bu Marni memang belum memberikannya makan. Jangankan memberi makan Sinta, dirinya sendiri pun belum terisi nasi sejak tadi pagi. Karena sibuk mengurusi anak dan menantunya.


...****************...


Dion berulangkali menghubungi sang istri yaitu Rasti. Emosinya sudah memuncak, karena Rasti kini seolah tak peduli padanya. Membuat Dion merasa semakin terabaikan.


Apalagi belakangan ini keluarga Dion selalu saja ditimpah dengan musibah.


Ceklek! Dion yang sedari tadi menunggu kedatangan istrinya, dan akhirnya Rasti pun datang.


"Assalamualaikum." Ucap Rasti


Saat masuk ke rumahnya.


"Darimana aja sih kamu? Kenapa baru pulang sekarang? Semakin kesini, kamu semakin berbuat seenaknya!" Hardik Dion emosi. Dion sama sekali tak membalas salam Rasti, malah dia langsung marah-marah dengan Rasti.


"Aku kan dari kampung. Kenapa sih memangnya? Bukannya enak kalau nggak ada aku? Kan, aku jadinya nggak ngerepotin kamu, nggak minta jatah lagi sama kamu kan?" Jawab Rasti sesantai mungkin.

__ADS_1


"Bu, aku ngantuk. Aku mau tidur dulu ya?" Della langsung menuju ke kamarnya. Hatinya penuh dengan rasa kecewa. Karena saat dia baru sampai, bukannya disambut hangat oleh ayahnya, tapi dia malah harus menyaksikan ibunya yang dimarahi oleh ayahnya.


"Ya, tapi kamu kelamaan. Harusnya kamu punya empati sedikit dong! Kak Sinta itu habis kena musibah, kenapa kamu nggak langsung pulang? Dan kamu malah enak-enakan di kampung. Kamu bersenang-senang, jalan-jalan, tanpa memperdulikan keadaan orang di sini." Cerca Dion seenaknya, tak memperdulikan perasaan Rasti sama sekali.


"Loh, ngapain juga aku harus mikirin perasaan kamu dan keluargamu? Memangnya kalian pernah mikirin perasaan aku? Nggak kan? Dan soal Kak Sinta, itu urusan dia sendiri lah. Kan dia sendiri yang mau ikut jalan-jalan dan kamu pun yang mendukungnya kan?" Sahut Rasti yang masih dengan nada sesantai mungkin. Padahal dihatinya juga sudah merasa gondok sekali.


Dion terhenyak dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Rasti. Kenapa istrinya bisa seberubah itu. Rasti lebih tenang dan santai dalam menghadapi kemarahannya.


"Oh iya, aku juga mau berterimakasih sama kamu, Mas. Karena kamu kemarin udah ngelarang aku sama Della untuk tak ikut rekreasi itu. Andai aja aku ikut, pasti juga aku akan mengalami hal yang sama seperti Kak Sinta sekarang. Aku bersyukur karena Allah masih menolong aku dan juga Della melalui kamu." Tutur Rasti panjang lebar dan menyindir Dion sehalus mungkin.


"Besok kita akan ke rumah ibu. Kamu tinggal disitu untuk sementara waktu, karena Kak Sinta nggak ada yang ngurusin.Kami semua repot!" Alih-alih membalas ucapan Rasti, Dion malah seolah mengalihkan pembicaraannya. Dion merasa sangat aneh pada Rasti yang kini malah menjadi lebih sabar.


"Loh? Aku kan istrimu, Mas. Aku bukan baby sitter loh? Apalagi yang akan diurusi itu adalah orang yang suka ngegoda kamu. Dia kan punya suami, dan kebetulan suaminya juga pengangguran kan? Ya sudah, kenapa mesti aku? Udah ah, aku baru pulang. Capek, mau istirahat." Rasti pun melangkah pasti, melewati Dion yang masih tercengang dengan ucapan Rasti.


...****************...


Pagi-pagi sekali Dion memabangunkan Rasti yang masih terlelap dalam tidurnya.


Rasti sama sekali tak memperdulikan perintah dari Dion. Rasti malah seolah cuek, lalu dia malah meneruskan tidurnya, sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Karena kebetulan hari ini Della juga Masih izin dari sekolahnya dan besok baru masuk.


Dion mendengus kesal. Dia merasa bahwa Rasti kini telah berubah menjadi 180 derajat. Seperti bukan Rasti yang sebelumnya.


...****************...


Setelah Dion berangkat pergi bekerja, Rasti pun langsung bangun dari tempat tidurnya. Karena hari ini dia akan bertemu dengan seseorang yang akan membantunya untuk menyewa sebuah toko yang akan dijadikan salon nanti.


Semua usaha yang akan dibeli oleh Rasti, sengaja atas nama orang tuanya. Karena dia tak mau suatu saat nanti Dion tau dan menjadi harta gono-gini.


Saat Rasti sedang membersihkan rumah yang sudah benar-benar tak terawat lagi. Tiba-tiba dari arah depan terdengar suara ketukan pintu. Bukan diketuk, melainkan digedor.


"Iya sebentar!" Rasti pun langsung menuju ke ruang tamu untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang.


"Bagus ya, yang habis jalan-jalan! Enak-enakan ya kamu di sana ngabisin duit anakku, seenaknya ngebahagiain orang tua kamu yang kampungan itu dengan uang anakku. Sedangkan kami di sini sedang kesusahan, lihat kakak iparmu, dia sedang ditimpa musibah. Tapi kamu malah nggak peduli sama sekali! Bukannya langsung pulang, tapi malah jalan-jalan! enak sekali ya hidup kamu, Rasti!" Tanpa aba-aba Bu Marni langsung saja menghardik Rasti dan mengata-ngatainya, tanpa mau mendengar dulu penjelasan Rasti sebelumnya.

__ADS_1


"Sudah Bu, ceramahnya? Kalau sudah, aku mau keluar dulu ya sebentar. Soalnya perut aku lapar karena belum makan. aku juga nggak masak, dan Della juga belum makan. Jadi kita mau beli makan dulu ya? Ibu tunggu sini aja ya?" Sebisa mungkin Rasti menahan amarahnya dan bersikap santai saat menghadapi ocehan mertuanya.


"Kurang ajar ya kamu! nggak punya sopan santun sama orang tua! Ibu itu lagi ngomong sama kamu, kenapa kamu jawabnya malah seperti itu! Pokoknya nanti setelah ini kamu harus ke rumah ibu. Kamu harus urusi Sinta. Karena Ibu sudah capek dari kemarin ngurusin dia terus!" Hardik Bu Marni lagi, seenaknya sama Rasti.


"Duh aku tuh capek tau gak sih, nggak anak, nggak ibu sama saja. Aku itu di sini sebagai istrinya Dion, bukan babysitter ya Bu. Lebih baik Ibu saja yang mengurusi Kak Sinta. Bukannya Kak Sinta itu menantu kesayangan. ibu?" Sindir Rasti balik pada Bu Marni. Wajah Bu Marni merah padam. Tangannya sudah terkepal dengan kencang. Dan bersiap ingin menampar Rasti.


Rasti yang sudah tau akan gerak-gerik Bu Marni. Dia pun langsung bersiap-siap dan menghindar.


"Udah ah, buang-buang waktu.Tolong jagain Della ya, Bu? Tanyain juga keadaan Della, jangan Kak Sinta aja yang diurusin! Emangnya Ibu nggak kangen sama cucu ibu? anaknya Mas Dion loh." Imbuh Rasti lagi, dan masih bersikap santai.


Saat Rasti melangkahkan kaki, Bu Marni langsung melayangkan tangannya untuk menampar Rasti. Tapi sayang, tamparannya malah meleset. Bukannya mengenai wajah Rasti, tapi malah mengenai daun pintu. Alhasil Bu Marni pun langsung berteriak kesakitan.


...****************...


"Assalamualaikum, eh Ibu masih di sini toh? aku pikir udah pulang. Maaf ya, udah nungguin Della karena aku harus beli makan. Ibu udah makan belum? Kalau belum, ayo kita makan bareng yuk?" Tutur Rasti semanis mungkin, pada mertuanya yang kini wajahnya malah seperti orang bingung.


Bukannya menjawab salam, mata Bu Marni malah terfokus pada kantong-kantong plastik yang berada di dalam genggaman tangan Rasti. Karena memang Rasti membeli makanan yang sangat banyak sekali. Dia sengaja agar ibu mertuanya semakin bertambah panas hatinya, karena Bu Marni pasti akan menyangka bahwa semua ini adalah uang anaknya yaitu Dion.


"Kenapa kamu belanja banyak sekali Rasti? boros sekali kamu? Bisanya cuman menghabiskan uang anak aku!" Lagi dan lagi Bu Marni mencerca Rasti seenaknya.


Rasti malah tertawa. Lalu berjalan ke arah meja makan dan mengeluarkan semua isi belanjaan yang ada di dalam kantong.


Mata Bu Marni langsung terbelalak saat melihat semua makanan enak yang sedang disajikan oleh Rasti di atas meja makan. Disana sudah tersedia ikan bakar, cumi pedas manis, udang saus tiram dan juga ayam bakar satu ekor, makanan kesukaan Della.


Selama ini Rasti memang sering menahan keinginan untuk makan enak, karena Dion tak pernah menuruti permintaan Rasti dan juga Della. Bahkan Dion kadang terkesan cuek dengan Della, padahal Della adalah anak kandungnya sendiri. Tapi sikap Dion memperlakukan Della malah seperti anak tirinya. Oleh karena itu Rassti ingin membalas semua perbuatan keluarga Bu Marni selama ini. Sebelum dia benar-benar pergi dari kehidupannya Dion dan keluarganya yang toxic itu.


"Kenapa melamun sih, Bu? Sini makan bareng aku dan Della. Pasti ibu juga ngiler kan ngelihat semua ini? Udah jangan malu-malu, sini ambil nasi, terus kita makan bareng deh. Ibu itu jangan marah-marah mulu. Nanti kalau darah tinggi ibu kumat gimana? Terus tiba-tiba ibu stroke gimana? Siapa yang akan ngurusin ibu? Aku gitu? Males ah!" Tutur Rasti dengan santainya. Tak memperdulikan Bu Marni yang sudah menahan emosi sedari tadi. wajahnya kini juga sudah merah padam. Menahan emosi atas semua ucapan Rasti.


Saat Bu Marni ingin marah dan menghardik Rasti tiba-tiba ponselnya pun berdering.


[Haloo..Kenapa sih rino?]


[Ibu di mana sih Aku mau pergi nih, tolong tungguin Sinta. Si Gita belum juga keluar dari kamarnya, dia masih tidur. Buruan pulang ya, Bu!] Mendengar perintah Rino yang seenaknya Bu Marni hanya mendengus kasar.

__ADS_1


__ADS_2