Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Balas dengan elegan


__ADS_3

"Aku mau jenguk Mbak Sinta," ucap Rasti dan tersenyum.


"Sinta ada di kamar, kalau mau jenguk!" jawab Marni ketus.


Bu Marni masih jengkel dengan menantunya, karena kejadian tadi.


Rasti berjalan menuju kamar Sinta.


"Ras, kamu jadi ikut arisan?" tanya Bu Marni dan Rasti menghentikan langkahnya.


"Jadi, Bu!"


"Kamu ikut berapa nomor?" Bu Marni penasaran.


"Ikut dua nomor!" sahut Rasti.


"Dua nomor, dapat uang dari mana asal untuk membayar?"


Rasti berbalik dan menatap Ibu mertuanya, Gita dan juga Fely yang sedari tadi memperhatikan Rasti.


"Mas Dion! Dari mana lagi, suamiku kan gajinya banyak. Jabatannya saja manajer, sangat royal pada istri! Beruntung aku mendapatkan suami seperti dia," jawab Rasti membuat Marni tercengang.


Fely mengalihkan pandangannya, ketika Rasti memperhatikan dirinya.


"Tapi kamu mikir dong, ikut arisan satu saja, sudah 3 juta, jika 2 berarti 6 juta. Apa semua gaji suamimu itu mau kamu bayarkan arisan? Sudah bersyukur Dion itu royal padamu, tapi kamu memanfaatkan dia!" cecar Bu Marni.


"Selama memanfaatkan gaji suami, enggak masalah dong Bu. Lebih baik aku menikmati gaji suamiku, dari pada gaji suamiku dinikmati oleh wanita lain!"


Fely sontak menoleh pada Rasti. Namun Rasti masih tetap tenang, nada bicaranya tidak terdengar marah sidkitpun.


"Apa maksud ucapanmu?" sahut Marni.


"Tidak Bu, aku hanya bilang jika lebih baik gaji suami itu dinikmati oleh istrinya, benar kan? Daripada digunakan oleh wanita lain, tapi aku yakin Mas Dion itu pasti setia. Ya sudah aku mau menjenguk Mbak Sinta dulu!" ucap Rasti.


Bu Marni memasang raut wajah sinis, dia semakin kesal ketika Rasti tak terpancing sedikitpun dengan ucapannya. Dan merasa penasaran dengan Dion.


"Apakah, Dion bohong sama Ibu?" bisik Marni pada Gita. Ibu dan anak itu suka berbisik-bisik.


"Interogasi Mas Dion, Bu!" lirih Gita.


"Oh iya ini ada makanan. Aku bawakan untuk ibu juga Gita,"


Rasti menaruh bungkusan yang berisi dua kotak brownies, yang ia bawa. Tanpa diduga bungkusan yang diberi Rasti dibuang oleh Bu Marni.


"Makanan murah, Ibu tidak mau memakan makanan darimu!" ucapnya angkuh.


Fely kemudian tersenyum sekilas, ketika melihat Marni membuang makanan yang dibawa oleh Rasti dia seperti senang melihat kejadian itu.


"Kamu nggak lihat makanan di atas meja ini semua makanan mahal, yang dibawa oleh Fely. Jadi ibu nggak butuh ya makanan darimu, paling juga murah dan nggak steril nanti bikin Ibu sakit perut, kalau memakannya!" cerca Marni dan menyombongkan makanan yang di bawa Fely.


Rasti memungut bungkusannya, dan menaruh pada meja.


"Mana tahu Ibu berubah pikiran, jika tahu harga. Bisa lihat kan dari bungkusannya. Jika itu bukan brownies murah! Sepertinya ibu terbiasa makan yang 50 ribuan, jadi tidak tahu merk ini!" ujar Rasti tertawa kecil dan melenggang menuju kamar Sinta.


Gita melihat bungkusannya, dan memang kue yang di bawa oleh Rasti itu dari tempat terkenal.


Bahkan untuk cake paling murah saja, 500 ribu.


"Punya dia itu yang murah, pakai ngatain ibu segala gak tau merk!" cicit Marni.


"Tapi itu emang mahal sih, liat itu merk-nya." ujar Gita.

__ADS_1


"Yang benar kamu, Git!" ucap Marni dan menatap Gita.


"Iya Bu, bahkan paling murah aja di sana 500 ratus ribuan! Aku pernah beli untuk teman dulu," jawab Gita.


"Dia tu bisa berubah begitu, lihat penampilannya. Wajahnya juga makin cerah gak kusam!" ujar Marni masih berbisik dengan Gita.


"Pasti pakai skincare mahal, abis duit Mas Dion untuk biayain istrinya!" sinis Gita.


Fely hanya memperhatikan dua orang di depannya berbicara dengan suara lirih.


"Keterlaluan Dion, bohong terus!" geram Marni.


"Mas Dion!" ujar Fely ketika melihat Dion datang.


"Kamu udah lama nunggu ya?" Dion duduk di sebelah Fely.


"Lumayan, tapi gak apa-apa. Ada Ibumu dan Gita,"


"Nampaknya kalian sudah akrab!" tukas Dion melihat Keluarganya yang cepat dekat dengan Fely.


"Harus akrab dong Mas, kan Kak Fely calon kakak iparku.


Kapan-kapan ajakin aku dong kak, ke Mall yang jual tas branded, seperti tas Kakak itu dari Gu**i ya? Aku pengen banget punya tas dari brand itu, tapi mahal banget. Aku masih kuliah belum mampu beli!" ucap Gita yang naksir dengan tas Fely.


"Kamu suka? Nanti Kakak kasih kamu tas dari brand ini, besok kakak bawakan," ujar Fely.


Gita tersenyum lebar mendengarnya.


"Beneran kak?" Ucap gita


"Benar sayang!" ucap Fely dan semakin di sukai oleh keluarga Dion.


"Branded Bu!" jawab Gita.


"Untuk Tante, aku akan belikan yang baru. Besok aku kirimkan gambarnya ya, aku minta nomor kamu, Gita!" Fely menyodorkan ponselnya pada Gita.


Dengan cepat Gita menyambar ponsel Fely. Dan mengetikkan nomornya.


"Udah aku save juga, Kak! Namanya Gita."


Gita kembali memberikan ponsel itu pada Fely.


"Mas, kamu di sini!" ucap Rasti yang kembali ke ruang tamu.


"Kamu ngapain di sini, bukankah kamu jenguk Sinta?" ujar Marni tak suka karena mereka sedang senang dengan Fely. Dan Rasti hanya pengganggu saja.


"Mbak Sinta sedang tidur, jadi aku tidak mau mengganggu waktu istirahatnya!" Rasti kemudian menghampiri Dion dan duduk di sebelah suaminya.


Dion menjadi canggung diapit oleh dua perempuan, yang satu istrinya dan satu selingkuhannya.


Dion menggeser duduknya agar berjarak dengan Fely. Membuat Fely semakin jengkel dengan sikap Dion. Raut wajah Feli berubah menjadi kesal, karena kedatangan Rasti.


Dia tidak suka melihat Rasti yang dekat dengan Dion. Dan lagi Rasti kemudian merangkul tangan suaminya, membuat Fely terbakar cemburu.


"Mas, ayo kita pulang. Della sendirian di rumah. Kenapa kamu meninggalkannya, kan tadi aku sudah bilang jika titip Della dulu. Karena kamu tidak mau ikut ke sini, tapi kamu malah datang kemari, pasti karena kangen sama aku ya?" ucap Rasti membuat Dion cengo.


"Aku tahu, kamu itu semakin tak mau jauh dari aku. Makasih ya Mas, tadi transferan 8 juta nya, juga sudah aku terima. Kamu perhatian banget dan royal. Oh iya Mas kamu kan bawa mobil, kita jalan-jalan. Ini kan malam minggu jadi kamu harus banyak menghabiskan waktu bersama istri, dan anak!"


Belum saja Dion menjawab. Rasti sudah menarik tangan suaminya untuk ikut dengannya.


Dion yang bingung dan takut jika Rasti mengetahui tentang Fely. Akhirnya menurut saja dengan ajakan sang istri.

__ADS_1


"Mas!" lirih Fely.


Dion hanya menoleh dia tidak bisa berbuat banyak, tak bisa menolak istrinya karena Dion masih ada rasa takut untuk terang-terangan.


"Rasti, kamu kalau mau pulang sendiri saja. Kenapa harus mengajak Dion? Dia baru saja sampai di rumah ini!" tegur Bu Marni


"Kami mau menghabiskan malam minggu dengan Della. Apakah tidak boleh? Mas Dion juga nggak keberatan, ya kan Mas?" tanya Rasti.


Dion hanya mengangguk.


Bu Marni cemberut karena Dion tidak bisa menolak ajakan istrinya. Terpaksa pulang bersama Rasti.


"Maaf ya nak, Fely. Karena sikap Rasti itu," ujar Marni yang tak enak dengan Fely. Dan raut wajah Fely sudah berubah tidak seramah tadi.


"Aku pulang dulu, Tante!" Fely meraih tasnya dan bangkit dari duduk.


"Kak, kok cepet banget pulang. Kita di sini aja dulu makan-makan!" ucap Gita.


"Aku ada urusan lain, ya sudah Tante aku pulang!" jawab Fely.


"Lain kali kamu main ke sini, jangan sungkan ini hanya sementara kok, sebentar lagi kan Dion, akan menikah denganmu!" ujar Bu Marni yang percaya jika Dion akan secepatnya mengganti istri.


Fely tak menjawab dan hanya menoleh sekilas, kemudian ia berlalu menuju luar rumah.


Dion masuk ke dalam mobil bersama Rasti.


Fely menghentakkan kakinya kesal, detik kemudian dia menuju mobilnya sendiri.


"Sialan!" umpat Fely ketika sudah duduk di kursi kemudi, dan memukul setir mobilnya.


...****************...


"Apa-apaan kamu Rasti bersikap seperti tadi!" berang Dion setelah mereka tiba di rumah."Kenapa mas? Apa aku salah, kamu kan suamiku!" ucapnya santai.


"Tapi aku tidak suka dengan sikapmu tadi! Sok romantis!"


"Aku tidak boleh menunjukkan sikap romantis, di depan orang lain? Aku tahu, dia itu kan selingkuhanmu, kenapa kamu takut dia marah dan cemburu?" ujar Rasti dan melipat kedua tangannya.


"Kamu sengaja kan berbuat seperti ini, sengaja membuat kesalahpahaman tadi!"


"Kesalahpahaman? Aku tidak salah dengar, harusnya aku yang marah dengan perselingkuhan kalian. Hebat ya! Bahkan keluargamu menyambut dengan baik pelakor itu, sungguh hebat Dion!" ucap Rasti dan memuji Dion. Membuat Dion semakin marah dan merasa di permalukan.


"Aku ingin menikah lagi, dengan Fely, keluargaku juga sudah menerimanya!" ujar Dion.


"Bagus jika kamu ingin menikah lagi, itu berarti kamu siap menceraikan aku,"


"Ya, lebih baik aku menceraikan kamu istri tidak tahu diri! Maksudmu apa, aku memberikan kamu uang? Padahal aku tidak transfer uang padamu?"


"Seharusnya kamu itu senang mas,karena aku menjaga marwah Suamiku di depan orang lain. Mau kamu aku bilang pelit di depan calon istrimu, yang ada nanti dia ilfil dan tidak mau menikah denganmu. Harusnya kamu bersyukur dong karena aku membuat citramu baik di depan dia!" jawab Rasti.


Dion tertohok dengan ucapan Rasti. Sejak kapan istrinya ini pandai sekali bicara, dan juga memainkan kata-kata. Sehingga Dion kesulitan untuk menjawab.


"Aku mau kamu pergi dari rumah ini, setelah kita bercerai. Karena aku akan menempatinya dengan Fely!" ucap Dion.


"Baiklah, tapi rumah ini tidak akan didapatkan oleh siapapun!"


"Ini rumahku Rasti, aku yang membangunnya dengan hasil kerja kerasku selama ini!" hardik Dion yang tidak tahan membentak, karena Rasti masih bisa menghadapinya dengan tenang.


"Apakah kamu lupa jika aku bisa menuntut harta gono gini. Aku mau rumah ini dijual dan dibagi dua, jika kamu tidak mau aku bisa menuntutmu mas di pengadilan. Karena rumah ini kamu bangun setelah kita menikah, dan ini akan menjadi harta gono gini!" Rasti tersenyum kemudian ia berlalu menuju kamarnya.


Dion tidak bisa berkata-kata lagi. Kenapa Rasti begitu cerdik sekarang.

__ADS_1


__ADS_2