
"Saya menolak lamaran ini, tak Sudi menikahkan putri saya, dengan pria pengangguran seperti anakmu!" ujar Marni dengan nada suaranya yang tinggi. Bu Marni tiba-tiba merasa tenaganya menjadi kuat lagi, karena perasaan emosi di hatinya.
Suasana menjadi tegang, karena Bu Marni berseteru dengan Ibunya Bagas. Bagaimana dia bisa menerima, jika Gita yang harus membiayai pernikahan mereka.
Sungguh ini adalah lelucon yang diberikan oleh calon besannya. Dan kejadian ini membuat jatuh harga diri Bu Marni.
Belum lagi beberapa tetangga, yang mendengar berita kehamilan Gita. Akan menjadikan bahan gunjingan.
Selama ini Bu Marni selalu menggunjingkan tetangganya, dan pernah mengolok anak tetangga yang sudah hamil duluan.
Sekarang hal itu menimpa pada Gita.
"Boleh jujur nih,saya juga tidak mau, jika kalian menerima lamaran anakku. Karena Bagas tidak perlu menikahi anakmu, yang mur*han itu, dia hanya cewek nak l! Yakin jika putrimu itu, sudah banyak tidur dengan pria lain!" ujar Ratna menunjuk-nunjuk wajah Gita.
Gita menggeleng.
"Aku tidak seperti itu, Mas Bagas yang padaku. Dia yang menjebakku!" ucap Gita membela dirinya. Jika memang bukan dia yang meminta hal itu, pada Bagas.
Bagas yang telah pernah menjebaknya, dan kemudian merayu dirinya. Hingga Gita luluh dan menyerahkan semua pada Bagas.
"Gita Kamu jangan pernah bermimpi menikah dengan, Bagas. Ibu tidak sudi jika kamu sampai menikah dengan pria pengangguran, hanya modal burung saja, cuih!" Bu Marni meludah di depan kedua orang tua Bagas. Dan merendahkan calon suami Gita.
Bu Ratna segera bangkit dari tempat duduknya, dia merasa sangat terhina. Darahnya terasa mendidih, dengan perbuatan Bu Marni.
"Bagas pulang! Tidak ada gunanya kita di sini, hanya membuang waktu. Lihat cara mereka menghina keluarga kita, biarkan saja anaknya itu menanggung kehamilan sendiri. Untuk apa kamu bertanggung jawab!" ucap Ratna dan menatap tajam, pada keluarga Gita.
Bagas mengepalkan tangannya, dan juga merasa marah dengan penolakan Bu Marni.
Dion menghampiri Bagas yang akan menuju keluar rumah. Dengan cepat ia menarik kerah baju Bagas. Dan memberi bogem mentah pada pria itu.
"Bughh....!" satu jotosan mendarat pada wajah pria itu.
"Kau tidak mau tanggung jawab, adikku sudah kau hamili. Nikahi Gita, dan bawa uang mahar kemari. Jangan memperlakukan adikku seperti sampah, yang sudah di nikmati, dan di buang!" teriak Dion yang tidak terima jika Gita di rendahkan, sama sekali tak dihargai oleh Bagas dan keluarganya.
"Lepaskan, anak saya!" pekik Bu Ratna.
"Suruh putramu ini tanggung jawab! Jangan jadikan ia seperti pecundang!" Kembali Dion melayangkan satu pukulan pada wajah Bagas.
Bagas terhuyung, akan terjatuh.
Namun ia berhasil menyeimbangkan dirinya.
"Datang kemari membawa uang mahar, jika tidak datang, akan saya tuntut anakmu!" ancam Dion.
Bu Ratna menatap sinis, walau tak bisa menyembunyikan kegugupannya. Sedangkan Santoso hanya diam, Bapaknya Bagas itu tak banyak bicara.
"Bagas, pulang!" hentak Bu Ratna.
"Datang, atau penjara!" ancam Dion.
Bagas menunduk dan mempercepat langkahnya.
Gita menangis karena acara lamaran berakhir tragis. Dan ketakutan, akan siapa yang akan bertanggung jawab, dengan kehamilannya, jika bukan Bagas.
...****************...
__ADS_1
Kini Gita seperti di sidang oleh keluarganya.
"Mas tolong maafkan mas Bagas, aku mau menikah dengannya," isak Gita memohon pengertian dari Dion.
"Kamu mau menikah dengan pria yang tidak mau bertanggung jawab itu?!" hardik Dion.
"Kan ada, Mas Dion. Yang bisa membiayai pernikahanku, Mas tolonglah, aku tidak mau hamil tanpa suami. Aku malu!"
"Gita kamu ini memang anak yang bodoh!" Bu Marni menoyor kepala putrinya.
"Sudah di kuliahkan, malah hamil duluan. Kenapa kamu jadi mur han seperti ini? Kamu sudah melempar kotoran ke wajah Ibu, sekarang semua orang sudah tahu dengan kondisimu yang berbadan dua. Ibu pikir di kuliahkan akan pintar, ini malah semakin bodoh!" cerca Bu Marni pada putrinya.
Sinta tersenyum ikut meledek, dengan apa yang dialami oleh Gita.
"Makanya Git, jadi perempuan itu agak mahalan dong. Masa mau sih menyerahkan harga diri dengan percuma pada pria yang masih berstatus pacarmu. Sekarang suruh menikahimu dia tidak mau, tanggung jawab!" cicit Sinta sok menasehati.
Dion melirik sekilas pada Sinta. Padahal Sinta lebih menjijikkan lagi bagi Dion. Karena telah datang malam itu, dan berusaha menggoda dirinya. Bahkan hampir memperkosa Dion.
"Bukankah Mbak lebih murahan!" ujar Felly yang marah pada Sinta sejak kejadian malam itu.
Fely sangat membenci Sinta. Dion tidak oleh luluh oleh bujuk rayu kakak iparnya.
"Maksudmu apa?" tanya Rino. Berusaha membela Sinta.
Sinta meneguk salivanya dengan kasar, ia takut jika Fely menceritakan kejadian malam itu pada Rino.
"Mas jaga deh istrimu ini, jangan sampai dia kelayapan. Apalagi kelayapan ke rumah seorang duda yang tinggal di rumah sendirian!" ucap Fely.
"Aku tidak mengerti dengan ucapanmu!" Rino belum paham apa yang dimaksud oleh Fely.
"Memperk*sa Dion?" Bu Marni ikut kaget.
"Iya tante, Mbak Sinta ini mur*han, dia mengejar Mas Dion. Bahkan dia sudah membuka bajunya dan setengah telanj*ng. Mencoba merayu Mas Dion dengan tubvhnya. Beruntung Mas Dion tidak n*fsu melihat dirinya!" jelas Felly.
"Kamu jangan fitnah aku ya, Fel!" tunjuk Sinta mengelak.
"Fitnah, aku yang datang malam itu. Kamu hampir saja merusak rencana pernikahanku dengan Mas Dion,"
"Mas, dia bohong! Aku tidak akan mur han!" ucap Sinta, berusaha membela diri.
Bu Marni mendekati menantunya.
Plakk...!" perempuan paruh baya itu mendaratkan sebuah tamparan pada pipi Sinta.
"Sinta, apa kamu masih merasa kurang dengan milik suamimu. Sehingga ingin merayu adik iparmu, sendiri! Dion itu akan menikah dengan Fely, Ibu tidak menyangka, kamu melakukan ini!" tunjuk Marni.
"Bukan begitu Bu ceritanya, tidak seperti itu!" Sinta masih mengelak.
"Aku berani bersumpah, jika aku mengatakan hal yang benar!" timpal Fely.
"Mas, kamu adukan saja bagaimana kelakuan Mbak Sinta di belakang suaminya!" ujar Fely.
"Benar Mas, apa yang di katakan Fely. Mbak Sinta datang malam itu!" ucap Dion.
Rino kemudian menarik rambut Sinta.
__ADS_1
"Istri bej*t! Kamu main gil@. Perempuan macam apa kamu!" Rino menyentak rambut Sinta hingga istrinya itu mendongak kan kepalanya.
"Mas!" lirih Sinta menahan sakit.
Dan tidak tahu harus bicara apa lagi, untuk membela diri. Sinta sangat merasa ketakutan. Dikeroyok oleh keluarga Dion.
"Beri pelajaran istrimu itu Rino!" timpal Bu Marni.
"Akui saja apa perbuatanmu, kenapa kamu masih saja terobsesi dengan Dion!" hardik Rino.
Sinta hanya bisa terisak, sebenarnya Rino tidak menampik jika Sinta memiliki perasaan pada adiknya. Tetapi baru kali ini dia begitu marah, ketika mengetahui Sinta berbuat nekat dan mencoba menyerahkan tubvhnya pada Dion.
Gita tersenyum puas, melihat Sinta kena batunya.
Dion tak bicara apa lagi tentang malam itu, sudah cukup semuanya dijelaskan oleh Fely.
"Ayo kita pulang!" Rino melepaskan tangannya pada rambut Sinta.
Sekilas Sinta menatap tajam pada Feli yang sangat dendam pada calon istri Dion itu.
Kini Dion kembali membahas Gita.
"Oke Gita, mas akan memikirkan tentang pernikahanmu!" ucap Dion.
"Mas yang benar?" Gita menatap Dion penuh harap, karena hanya Dion yang bisa membantunya.
"Apa maksudmu Dion?" Bu Marni bertanya.
"Gita harus dinikahkan Bu. Ibu mau menanggung malu?"
Bu Marni merasa di keberatan jika Gita menikah dengan Bagas. Tapi perut Gita juga semakin lama, akan semakin membuncit.
...****************...
Sore itu Rasti dan Dion keluar dari ruang persidangan, mereka baru saja melakukan persidangan pertama untuk perceraian.
Rasti mengucapkan terima kasih pada Pak Arifin sudah menjadi pengacara. Dan mereka berpisah di pelataran. Pak Arifin menuju mobilnya.
Mungkin satu kali sidang lagi. Rasti akan resmi menyandang status janda.
Fely datang menjemput Dion. Sedangkan Rasti akan pulang menggunakan sepeda motornya,
Fely menyadari ada Rasti. Mereka bertemu di parkiran.
"Mas, sudah selesai! Gimana hasilnya? Aku tidak sabar kamu resmi bercerai dengan perempuan kampung itu, dan kita akan menikah!" ujar Fely kemudian melirik Rasti.
Rasti seperti tidak peduli dengan ucapan Fely. Ia menggunakan helm, dan bersikap santai.
"Mas jangan lupa undang mantan istrimu, jika kita menikah nanti. Perempuan itu harus hadir di pernikahan kita, yang mewah. Pasti di pernikahan nanti banyak perempuan yang iri denganku, karena aku akan menjadi pengantin tercantik!" celoteh Fely.
Dion menggaruk ujung alisnya. Justru merasa tidak enak pada perasaan Rasti, yang di sindir oleh calon istrinya.
"Semua orang akan memujimu, Mas. Jika kamu menemukan istri yang tepat. Seorang wanita cantik, berpendidikan tinggi. Dan tentunya berbeda dengan mantanmu yang hanya seorang perempuan kampung!" Fely berkata sinis.
"Berpendidikan tinggi, tapi di tangkap warga. Tak ubahnya seperti pelacvr! Enak tidak viral karena perbuatan asusila? Orang tentu akan memujimu, karena skillmu yang hebat jadi pelak*r. Karena tidak punya harga diri!" ujar Rasti dan menyunggingkan senyumnya untuk Fely.
__ADS_1
Setelah itu Rasti melajukan motornya, meninggalkan mereka berdua. Fely merasa emosi ketika di balas oleh Rasti.