
Fely sudah bersiap. Karena malam ini dia akan melakukan acara Henna night. Dia mengambil konsep India style, untuk malam sebelum pernikahan.
"Mama, sudah siap kan?" tanya Fely yang menuju dalam kamar Carol.
Malam itu mereka juga sudah check in di hotel. Karena ada fasilitas kamar, untuk pengantin menginap. Tetapi Fely hanya mengambil kamar untuk kedua orang tuanya, dirinya dan juga Dion. Sedangkan Bu Marni tidak.
"Papamu ini Fel, gak angkat telpon Mama!" gerutu Carol sambil menekan layar ponselnya. Untuk menghubungi Ferdinand.
Fely merasa sedih di campur kesal. Hanya ini permintaannya sebelum di tinggal oleh, kedua orang tua angkatnya. Menemani hingga dia menikah. Namun Ferdinand yang tidak terlalu menyayangi dia sedari kecil itu, membuat masalah.
"Tidakkah dia mempunyai waktu, di hari ini saja?" gumam Fely dan matanya memanas.
Fely selalu merasa emosional jika menyangkut, orang tuanya.
Ponsel ada di dalam genggaman Felly berdering, ia kemudian keluar dari kamar Carol. Fely menaikkan sebelah alisnya, ketika melihat sebuah nomor baru menghubunginya. Dirinya tidak suka dengan nomor baru, tapi bisa saja ini adalah telepon penting.
"Halo, ini siapa?" tanya Fely ketika menjawab panggilan itu.
"Kamu lupa dengan aku? Sudah 3 tahun kita tidak bertemu, mungkin itu sudah membuatmu lupa tentangku!" Fely mengernyitkan dahinya sambil berpikir.
la seperti mengenal suara pria yang ada di sambungan telepon ini.
"Verrel!" terka Fely. Dia mengingat pria ini adalah mantan kekasih dulu.
"Kamu masih mengingatku, sudah lama kita tidak bertemu. Dan aku dengar dari Karen, kamu akan menikah!" ujar pria bernama Verrel itu.
"Benar, aku akan menikah," jawab Fely lesu, karena dulu dia sangat mencintai Verrel. Namun hubungan mereka kandas, karena Verrel itu Playboy. Ia bermain dengan banyak wanita, dan dia juga berasal dari keluarga konglomerat. Membuat Fely tidak sanggup bersaing, karena Verrel begitu banyak uang, wanita tak bisa menolak pesonanya.
Walaupun harus jadi kedua, ketiga atau hanya untuk one night stand.
"Apakah kamu tidak mengundangku?" tanya Verrel.
"Aku sudah mengantarkan undangan pada keluargamu. Aku harap kamu hadir di pernikahanku!" ucap Fely.
"Baiklah, aku akan datang pada pernikahanmu."
"Apakah, kamu tidak sedih aku akan menikah?" tanya Fely.
"Tidak, justru aku menelponmu untuk memberi selamat. Karena akhirnya kamu menemukan pelabuhan hati, dan membawamu ke jenjang yang lebih serius!" ujar Verrel.
Fely meremas ponselnya, usai mematikan telepon dengan Verrel.
"Kenapa kamu harus kembali menyapaku, ketika aku sudah akan menikah. Andai saja waktu bisa diulang kembali," gumamnya.
Fely merasa resah, seseorang dari masa lalu mulai menyapanya. Dan Verrel adalah mantan yang berkesan untuknya, karena dia menyerahkan kesuciannya pada pria itu.
...****************...
"Mas, kenapa kamu mengajak Ibu dan keluargamu?" tanya Fely ketika mereka sudah bertemu di hotel.
Dion mengajak Bu Marni, Gita dan juga Sinta beserta dua keponakannya.
__ADS_1
Sinta memutuskan untuk ikut, tak peduli dengan sang mertua.
"Besok acara resmi. Memang kenapa jika Keluargaku ikut?"
"Mas, budgetnya akan membengkak, jika mereka ikut menginap!" ujar Fely menahan kesal. Karena tidak mau terlalu memperlihatkan kekesalannya di depan Bu Marni.
"Sudah terlanjur, biaya pernikahan kita membengkak. Sekalian saja jor-joran. Ibuku juga minta menginap di hotel!" ujar Dion.
"Tak sudi, aku mengeluarkan banyak uang untuk keluargamu yang matre dan norak!" gumam Fely lirih.
"Apa kamu bilang?" tanya Dion yang masih bisa mendengar dengan jelas gumaman Fely.
"Lupakan!" Fely meninggalkan Dion dan masuk ke dalam kamarnya.
Henna night nanti akan di hadiri oleh kerabat Fely. Dan juga teman-temannya.
"Ibu ikut, nanti di acara malam ini kan Dion?" tanya Bu Marni dan menghampiri Dion.
Karena Dion tadi menjelaskan tentang Henna night untuk acara malam ini.
"Tidak usah Bu, itu acara untuk pihak perempuan. Kita di dalam kamar saja!" ucap Dion.
Raut wajah Bu Marni menjadi cemberut. Karena tidak boleh ikut.
"Kasian deh, gak boleh ikut! Lagian Ibu norak, acara begitu kan hanya untuk pihak perempuan, gak usah kecentilan kali Ibu, mau ikut segala!" cerca Sinta mengejek mertuanya. Dan sebelum Bu Marni keluar tanduk. Sinta dengan cepat mengajak kedua anaknya masuk ke dalam kamar.
Gita hanya menatap malas, dan masuk ke kamar lebih dulu. Karena ia akan sekamar dengan Ibunya.
...****************...
Acara malam itu berjalan sukses. Fely begitu senang, banyak temannya yang datang. Dan mereka mengabadikan banyak video dan foto. Untuk di unggah pada sosial media milik mereka.
Para tamu juga menggunakan pakaian, yang sesuai dengan tema yang di tentukan. Mereka menggunakan gaun ala India.
Fely larut dalam kebahagiaan malam itu, hingga acara usai hanya 3 jam saja.
...****************...
Dion sudah tertidur semenjak jam 8 tadi. Ia sangat merasa lelah, dan harus menyiapkan tenaga untuk hari esok. Acara resepsi akan di lakukan siang setelah akad nikah.
Bu Marni pikir dia akan mengikuti acara Henna itu. Ternyata itu hanya untuk keluarga perempuan. Yang membuat Bu Marni sepanjang malam menggerutu, karena tidak di izinkan ikut.
Gita juga sudah tertidur pulas. Bu Marni menoleh dan memperhatikan raut wajah Gita yang tertidur. Wajahnya terlihat polos dan juga kelelahan.
"Kasian juga kamu Nak, setelah kamu melahirkan. Lebih baik cerai dengan Bagas. Cari pria yang mapan, dari pada melanjutkan pernikahan dengan dia, jadi kurus dan bisa-bisa nanti busung lapar!" gumam Bu Marni yang prihatin dengan kondisi Gita.
...****************...
Dion terbangun dari tidurnya, dia reflek mencari keberadaan ponselnya. Untuk melihat jam sudah pukul berapa.
Dion mengusap matanya "Sudah jam 12.00 tengah malam?" gumam Dion. Dirinya sudah lama tertidur, pasti acara Fely juga sudah usai.
__ADS_1
"Fely, pasti sudah kembali ke kamarnya!" ujar Dion.
Ia bangkit dan turun dari ranjang. Dion berniat untuk menemui Fely di kamarnya, sebelum itu ia pergi dulu ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Ketika Dion membuka pintu kamarnya. Dirinya melihat dengan jelas seorang pria tampan, dengan tubuh tinggi baru saja keluar dari kamar sebelahnya, yaitu adalah kamar Fely. Kamar mereka bersebelahan.
Dion cengo karena merasa heran, siapa pria yang keluar dari kamar calon istrinya. Pria itu berjalan tanpa menatap Dion. Dengan santai meninggalkan hotel itu. Pria itu menggunakan kaos berwarna putih, dan juga celana panjang longgar. Penampilannya sangat casual.
"Fely!" teriak Dion sambil mengetuk pintu kamar.
"Buka pintunya cepat! Siapa pria yang masuk ke dalam kamarmu?" emosi Dion mulai naik dia baru bisa mencerna, apa saja yang baru terjadi.
Fely memasukkan pria lain, sebelum mereka menikah.
"Ada apa sih, Mas! Kenapa berteriak?" tanya Fely ketika membuka pintu kamar.
"Siapa pria yang baru saja keluar dari kamarmu?" tanya Dion mencecar Fely.
"Maksudmu, apa? Pria yang mana?" jawab Fely dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Pria yang baru saja keluar dari kamarmu, kamu tidak usah berpura-pura tidak tahu. Apakah kamu mempunyai selingkuhan, apa yang kalian lakukan sebelum kita menikah!" cecar Dion karena Fely tidak jujur.
"Tidak ada pria yang masuk ke dalam kamarku. Kamu salah lihat mas!" ucap Fely dan membantah tudingan Dion.
"Tidak mungkin aku salah lihat, kamu berbohong! Apakah kamu sudah selingkuh!" Dion terus mendesak Fely untuk mengaku.
"Aku tidak mungkin selingkuh, aku tidak memasukan pria ke dalam kamar ini. Jangan ngaco deh, Mas!" bantah Fely yang kekeh pada perkataannya.
"Dengan jelas aku melihat pria itu keluar dari kamarmu, aku tidak mungkin salah lihat," Dion juga kekeh dengan penglihatannya tadi.
"Masa sih, bisa saja itu bukan manusia!"
"Maksudmu, hantu?" sahut Dion.
"Ya bisa saja kan Mas, aku dengar hotel ini itu cukup sering terjadi hal horor. Walaupun hotel mewah sekalipun, tidak menampik ada hal seperti itu di sini!" ujar Fely.
Dion mengusap lehernya, dia tidak merasa merinding ketika melihat pria itu.
"Tapi aku lihat dia tadi berjalan, kakinya menapak ke lantai!" ucap Dion dan tak percaya jika itu hantu.
"Halusinasimu saja, kamu juga baru bangun tidur kan? Makanya belum seratus persen sadar, kamu jangan menuduhku. Kita ini akan menikah, tidak mungkin aku membawa pria lain ke dalam kamar. Aku yakin, itu hantu!" ujar Fely meyakinkan Dion.
Dion semakin bingung apa iya, pria yang ia lihat tadi adalah hantu.
"Kamu mau kemana?" tahan Fely ketika Dion akan masuk ke dalam kamarnya.
"Aku ingin kamu sayang!" jawab Dion.
"Besok saja Mas, malam pertama sebagai suami istri. Aku capek, habis acara tadi dan ingin tidur!" tolak Fely dan mendorong tubuh Dion. Kemudian Fely menutup pintu kamarnya.
Dion menyugar rambutnya dan kesal. Karena di tolak oleh Fely malam itu.
__ADS_1