
"Sombong banget gaya Rasti, ingin ibu cepat nyuruh Dion bercerai dari istrinya. Yang tidak berguna itu!" ucap Bu Mirna setelah Fely pergi.
Bu Marni mengkhawatirkan perasaan Fely. Dia takut perempuan cantik itu kecewa, dan mengurungkan rencananya untuk menikah dengan Dion.
"Iya Bu, Kak Fely jadi ngambek kan. Gara-gara Mbak Rasti yang sok romantis!" sahut Gita yang ikut kesal karena perbuatan Rasti tadi, membuat Fely jadi merajuk dan terlihat jelas cemburu. Fely tak bisa menyembunyikan itu dari mereka. yang tegas dong pada, Mas Dion. Bisa habis uangnya di gunakan oleh Mbak Rasti!" ucap Gita.
"Ibu sudah tegas, tapi Dion bilang tidak memberikan uang pada Rasti,"
"Mas Dion bohong, agar kita tak minta banyak uang padanya! Kita ke sana aja Bu!"
"Ke rumah mereka?" Bu Marni menoleh pada Gita.
"Sekarang kita kesana!" ajak Gita.
"Oke, kamu antar ibu kesana!" ujar Bu Marni dan menepuk bahu Gita.
Gita menuju kamarnya untuk mengambil kunci motor.
Sinta terbangun, dan melihat jam pada ponselnya. Sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sinta melirik pada meja di sebelah ranjangnya, sudah ada bungkusan makanan dan buah-buahan.
"Siapa yang bawa itu?" gumam Sinta karena buah yang di beri oleh Fely kemarin, sudah habis olehnya. Walaupun ia tak menyukai Fely. Tapi buah tangan dari Fely tetap di makan oleh Sinta.
Rino masuk ke dalam kamar.
"Mas, kamu dari mana saja seharian ini?" tanya Sinta yang baru melihat kehadiran Rino semenjak pergi tadi pagi, dan baru kembali.
"Ada urusan!" jawab Rino dan melepas jaketnya.
"Urusan apa? Pekerjaan?" tanya Sinta.
"Urusan dengan teman, banyak nanya kamu, bawel!" ketus Rino.
"Mas, kamu sampai kapan menganggur. Kerja dong, aku butuh duit!"
"Lebih baik kamu fokus untuk sembuh aja, soal uang, kita bisa minta pada Dion!" ucap Rino yang selalu mengandalkan adiknya.
"Mas, sebenarnya kakiku sudah agak baikan, dam bisa berjalan pelan-pelan," ujar Sinta.
Sinta selalu berlatih untuk jalan, karena dia ingin segera sembuh.
"Kamu latih terus, besok kita pergi kontrol!"
Sinta mengangguk karena tak sabar bisa pulih, seperti sedia kala.
...****************...
Pintu rumah Dion di ketuk berulang kali, dengan kencang.
"Sebentar!" ucap Dion.
Bu Marni dan Gita datang ke rumah Dion. Karena jarak rumah mereka juga tidak terlalu jauh.
Pintu di ketuk. Dion yang membukanya.
"Ibu?" gumam Dion ketika melihat Ibu dan adiknya berdiri di depan pintu.
"Mana, Rasti!" ucap Bu Marni dan masuk ke dalam rumah.
Dion gelagapan karena Ibunya terlihat marah, saat datang.
"Di sini aku, Bu!" Rasti berdiri di hadapan Marni sambil berkacak pinggang.
"Kamu ya, menantu tidak tahu diri!" tunjuk Marni menatap nyalang pada Rasti.
__ADS_1
"Tidak tahu diri, dari segi apa?" Rasti berjalan menuju sofa dan duduk tanpa mempersilahkan mertua nya ikut duduk.
"Ck! Tidak sopan!" gumam Gita melihat gaya Rasti yang santai, seperti tanpa dosa.
"Masih bertanya, kamu sadar tidak telah melakukan kesalahan yang besar! tujuanmu apa, bersikap seperti tadi di depan Fely. Bersikap romantis pada Dion. Padahal selama ini kalian itu tidak seromantis!" ujar Marni memarahi Rasti karena tadi membuat Fely ngambek.
"Jadi Ibu tidak suka ketika aku bersikap baik, aku tahu wanita itu yang ingin menikah dengan Mas Dion, bukan?" ucap Rasti.
Marni terdiam.
"Sudahlah jangan kalian tutupi lagi, aku tahu kok mas Dion sendiri sudah bilang padaku. Jika ingin menikah dengannya, bersyukurlah aku tidak membuat citra suamiku buruk di depan calon istrinya," Rasti menatap Marni.
Bu Marni melengos sinis.
"Jika dia tahu kalau ibu itu pelit, dan Mas Dion kikir. Mungkin dia akan berpikir berulang kali, untuk menikah dengan pria medit seperti suamiku!" ujar Rasti dan tertawa kecil.
"Jaga mulutmu itu, Rasti!" hardik Dion.
Rasti berulang kali membuat ia merasa rendah.
"Memang kan Mas, kamu kikir!" sahut Rasti.
"Kenapa kamu cemburu, Fely itu tidak akan bersikap kurang ajar. Dia tidak butuh nafkah suaminya nanti, karena dia itu lebih kaya anak tunggal dari seorang pengusaha!" jelas Marni membanggakan kekayaan Fely.
"Beritahu, Bu. Bagaimana latar belakang Kak Fely, yang akan membuat dia tercengang. Karena jika dibandingkan dengan Kak Fely, Mbak Rasti itu tidak ada apa-apanya!" timpal Gita ikut menyombongkan Fely.
"Dengar itu Rasti, Fely itu anak tunggal dan pasti akan menjadi pewaris kekayaan kedua orang tuanya. Kekayaan dia itu lebih banyak dari Dion, setelah Dion menikah dengan dia maka kehidupan Dion akan berubah menjadi Sultan!" ucap Bu Marni penuh penekanan.
"Wow!" ucap Rasti sarkas.
Membuat Marni semakin gondok, hanya itu responnya.
"Kamu dengarkan Mas, ibumu sudah mendesak kita untuk bercerai!" ujar Rasti pada Dion.
"Ada apa lagi Dion, kamu lihat betapa sombongnya tingkah istrimu sekarang. Dan kamu juga tidak perlu bohong pada ibu lagi, kenapa kamu mengirimnya banyak uang?" Bu Marni membahas tentang uang lagi.
"Aku tidak mengirim uang pada Rasti, Bu!" bantah Dion karena memang merasa tak mengirim uang pada Istrinya.
"Tapi itu yang dia katakan, Rasti!" ucap Bu Marni.
"Dia itu berbohong!" ujar Dion.
"Lantas dari mana dia mendapatkan uang, sebanyak itu? Lihat penampilannya saja berubah!" tunjuk Bu Marni.
"Dia itu jual diri, aku yakin itu!" tuduh Gita.
Perkataan Gita barusan membuat Rasti berdiri, dan menghampirinya.
"Plakkkk....!!" Rasti mendaratkan sebuah tamparan untuk adik iparnya.
Gita melotot dan terperangah dengan tindakan Rasti.
"Kurang ajar kamu, Mbak! Beraninya kamu menamparku!" berang Gita.
Pipinya terasa perih mendapat tamparan dari Rasti. Bahkan tangan Rasti meninggalkan jejak, pada pipi mulus Gita.
Tanpa menjawab Rasti kembali menampar Gita. Rasti tak segan melakukannya, karena mulut Gita seperti sampah jika bicara.
"Mulut kurang ajar sepertimu, memang pantas di tampar!" tunjuk Rasti. Dia akan bertindak jika seseorang sudah merendahkan harga dirinya.
"Tanganmu, berani memukul Putriku hingga dua kali!" bentak Bu Marni dan mendekat.
Bu Marni ingin membalas tindakan Rasti. Dan mengangkat tangannya.
__ADS_1
Rasti menahan tangan Marni dan memelintirnya.
"Mau aku patahkan?" bisik Rasti.
"Dion, tolong Ibu!" teriak Bu Marni.
"Rasti lepaskan!" hardik Dion dan ikut mendekat untuk menolong Ibunya.
Rasti melepas dan menghempaskan tubuh perempuan paroh baya itu.
"Aku sudah terima dengan hinaan kalian selama ini, cukup kalian membuat hidupku seperti di neraka. Aku sudah bilang pada putramu, untuk segera mentalakku. Semakin cepat, semakin baik!" ujar Rasti dan berlalu.
Jantung Marni berdegup kencang dan gemetar. Melihat perlawanan Rasti. Dia tidak pernah melihat Rasti marah, dan bahkan seberani itu.
"Kenapa istrimu sangat menakutkan Dion? Semenjak dia pulang kampung, sikapnya sangat berubah!" ujar Bu Marni dengan bibirnya yang bergetar. Ia masih merasa hawa takut.
Sedangkan Gita masih terdiam, dia syok dengan tamparan dua kali, yang dilayangkan oleh Rasti.
Rasti dulu adalah istri yang penurut, tak pernah melawan. Sehingga keluarga Dion dengan mudah memanfaatkan Dion untuk mendzolimi istrinya.
Perempuan yang di anggap lemah, dan penurut itu sudah berubah.. Sehingga amarah terlihat lebih menakutkan.
"Itulah Bu, yang membuatku heran. Entah dari mana dia mendapatkan uang. Dan berani sekali untuk melawanku!" ujar Dion.
"Segera kamu ceraikan dia,menikahlah dengan Fely. Perempuan itu lebih baik dari Rasti. Ibu yakin hidupmu akan senang setelah ini, Fely itu anak tunggal. Kamu tidak boleh membuang kesempatan ini, jangan lambat Dion sebelum Fely digaet oleh pria lain!" ujar Bu Marni menekan Dion.
"Aku tahu, Bu. Tapi taruhannya rumah ini!" jawab Dion yang masih merasa tak ikhlas, jika rumah itu harus di jual.
"Kenapa, Mas?" tanya Gita penasaran.
"Rasti minta rumah ini dijual, dan hasilnya dibagi dua!" jelas Dion dan memijit pelipisnya.
"Tidak bisa begitu! Kamu yang bangun rumah ini, dengan uangmu sendiri. Kenapa dia meminta ini dijual. Sok sekali, bahkan tak ada sepersen pun uang Rasti, untuk membiayai!" cicit Bu Marni bertambah kesal mendengarnya.
"Rasti, mengancamku, Bu. Akan menuntut harta gono gini di pengadilan nanti!" ujar Dion.
"Menuntut? Halah Mas, kamu nggak usah takut dengan mbak Rasti. Dia itu bisa apa sih, cuman perempuan bodoh dari kampung. Mana tahu dia tentang menuntut harta gono gini!" ujar Gita meremehkan Rasti.
"Benar Dion, kamu jangan takut. Kamu talak saja dia, pasti Rasti tidak akan bisa bertindak.
Gegayaan mau nuntut!" Bu Marni malah tertawa seakan meledek Rasti.
"Ibu yakin. Memangnya dia bisa punya pengacara untuk melawanmu!" ujar Bu Marni kembali dan mencebik.
"Aku sudah menyiapkan pengacara, untuk sidang perceraian kita nanti. Aku juga sudah tidak sabar berpisah denganmu Mas. Suami pelit, yang selalu berlindung di ketiak ibunya. Tidak punya prinsip!" ujar Rasti yang tiba-tiba saja menyahut, sebelum ia masuk ke dalam kamar. Sepertinya Rasti baru saja kembali dari dapur.
Mereka semua seketika merasa heran.
"Istrimu, seperti hantu. Perkataannya mengejutkan, dan muncul tiba-tiba!" ucap Bu Marni dan mengelus dadanya.
"Dia punya pengacara?" Gita berkata.
"Dion, kamu harus selidiki Istrimu itu. Apa yang dia lakukan sebenarnya. Dari mana ia mendapatkan uang!" titah Bu Marni dan ingin tahu dari mana sumber uang Rasti.
"Siap Bu, aku akan menyelidiki Rasti. Aku juga penasaran, dari mana ia dapat uang. Karena Rasti itu tak punya skill apapun!" ujar Dion.
Ponsel Dion berdering, dan dia mengangkatnya.
"Ya, aku akan datang sekarang. Kamu jangan marah, jangan ngambek gitu dong. Tunggu aku sayang!" ucap Dion dan mengakhiri panggilan.
"Siapa yang menelpon, Fely?" tanya Bu Marni Yang penasaran ketika Dion memanggil, dengan sebutan sayang.
"Iya Bu, Fely memintaku untuk datang ke tempat yang telah ia katakan!" jawab Dion.
__ADS_1
"Cepat kamu datang, susul dia. Pasti Fely sedang sedih. Karena perbuatan Rasti tadi, ibu tidak mau Fely itu kecewa padamu. Perjuangkan dia Dion, kamu tidak boleh melepas wanita sesempurna Fely!" ujar Bu Marni yang terus menyemangati putranya untuk mendapatkan Fely .