
Kini Bu Marni sudah sampai di balai warga. Tempat dimana Dion dan juga Fely diadili. Disana juga ada Rasti dan Mbak Anna yang menemaninya.
"Ada apa ini?! Kenapa kalian semuanya mempermalukan anakku disini!" Teriak Bu Marni yang tak terima kalau Dion dan Fely dipermalukan seperti sekarang ini.
Semua mata kini menoleh ke arah Bu Marni.
"Anak ibu sudah berbuat zina di lingkungan kami. Dia juga masih berstatus sebagai suami dari Rasti. Tapi Dion malah berselingkuh, sampai melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama, dan yang lebih memalukannya lagi dia malah berbuat seperti itu di rumah yang Rasti tinggali. Ini semua sangat tidak etis bagi kami," jelas ketua RT di daerah itu.
"Mereka itu sebentar lagi juga mau nikah kok, Pak! Lagipula kenapa kalian mesti ikut campur sih? Mereka itu kan juga sudah sama-sama dewasa, dan sebentar lagi Dion juga akan menceraikan Rasti, jadi apa yang harus dipermasalahkan?" Pak RT dan semua warga hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tak habis pikir dengan isi kepala Bu Marni. Seorang ibu yang malah mendukung perzinahan dan perselingkuhan anaknya. Nauzubillah.
"Rasti itu memang pantas diperlakukan seperti itu oleh Dion! karena Rasti itu adalah menantu yang tidak berguna, dia hanya menjadi beban buat Dion, jauh sekali perbandingannya dengan Fely, yang memang keturunan dari keluarga kaya dan tidak kampungan. Sedangkan Rasti hanya bisanya menyusahkan kami saja! Ah, sudahlah, saya harap bapak tidak usah ikut campur dengam urusan anak saya! Terserah anak saya dong mau melakukan apa saja. Toh, nggak merugikan bapak dan yang lainnya juga kan?pakai acara mengadili segala, memangnya Bapak dan semuanya tidak punya dosa dan aib?" Sahut Bu Marni berapi-api, yang tak terima dengan perlakuan seluruh warga dan juga pak RT Yang telah mengadili Dion.
"Tapi anak ibu itu masih tinggal di daerah sini. Dan disini itu ada aturannya, Bu. Kalau kami biarkan hal seperti ini, sama saja kami semua mendukung perzinahan dan juga perselingkuhan," jawab Pak RT tegas.
"Anak sama ibu sama aja! Otaknya miring! Gak jelas!" Sahut salah satu warga yang geram dengan sikap Bu Marni. Bukannya menerima dan mengakui kesalahan anaknya. Tapi dia malah membela kesalahan anaknya.
"Mungkin kurang seons kali!" Salah satu warga ikut menimpali lagi.
"Kalau nggak mau ikut peraturan sini, lebih baik pergi dari daerah sini! Kalian yang berbuat zina, kami semua nanti yang kena bala-nya!" Sahut warga lainnya.
"Saya nggak mau tahu, anak ibu tetap harus membayar denda sebesar 20 juta yang seperti disebutkan oleh Rasti tadi. Karena kalau tidak, kita akan proses ke jalur yang lebih serius lagi. Yaitu jalur hukum. Karena jaman sekarang perselingkuhan itu bisa dipidanakan." Bu Marni langsung terdiam saat Pak RT mengancamnya untuk melaporkan Dion dan Fely ke kantor polisi dengan pasal perselingkuhan. Dia benar-benar tak mau kalau tulang punggungnya dan juga calon menantu kebanggaannya memakai baju oren.
Sedari tadi Dion dan Feli hanya tertunduk malu. Mereka bergelut dengan pikirannya masing-masing.
"Rasti! Kamu ya, seenaknya aja kamu minta-minta uang ke Dion? Udah nggak punya uang kamu? sampai-sampai minta uang 20 juta ke Dion? Alasan saja untuk membayar denda, padahal memang kamu kan yang butuh uang! Dasar perempuan miskin nggak tahu diri! Bersyukur anak saya bisa lepas dari perempuan miskin seperti kamu!" kini gantian Bu Marni menghardik Rasti. Tak terima dengan permintaan menantunya itu.
__ADS_1
"Terserah ibu mau bicara apa. Yang jelas anakmu harus membayar denda 20 juta pada ketua warga di kampung ini. Dan uangnya juga bukan untuk saya kok, ibu tenang aja. Uangnya akan saya suruh Pak RT gunakan untuk membantu orang-orang yang kesusahan dan juga memperbaiki semua fasilitas di kampung ini. Oh iya, saya cuma mau bilang ke Dion dan selingkuhannya, kalau misal mau berbuat sesuatu, bisa berbuat di hotel kan? Hotel bintang lima misalnya. Kan yang Saya dengar katanya calon menantu ibu itu orang kaya ya tapi kenapa malah berbuat di rumah saya?" Dion, Fely dan Bu Marni langsung terhenyak saat Rasti yang menjawab seperti itu.
"Rumah kamu? Mimpi kamu Rasti! Kerja saja tidak kamu! Anak saya yang selama ini bekerja untuk membeli rumah itu. Kamu hanya. menguncang-nguncang kaki di rumah. Menunggu nafkah dari suamimu. Beda sekali kamu dengan Fely yang benar-benar wanita karir dan juga dari keturunan keluarga yang kaya," sahut Bu Marni lagi yang tak terima dengan ucapan Rasti. Padahal semua itu nyatanya benar.
"Oh iya? Saya lupa Bu. Maaf ya Bu, tapi bagaimana juga rumah itu tetap ada hak saya dan juga Della. Karena rumah itu dibangun saat kami masih bersama, dan masuk ke dalam harta gono-gini," jelas Rasti dengan elegan dan santai.
"Awas kamu ya, Rasti! Kamu akan menyesal telah melakukan semua ini pada kami sekeluarga!" Ancam Bu Marni lagi.
"Wow? Takut...." ledek Rasti. Membuat Bu Marni semakin kesal.
"Oh iya, ibu nggak usah ngancam-ngancam saya ya? Apa Ibu nggak shock kalau melihat video Dion dan Fely yang belum halal tapi sudah ditonton semua warga di sini? Apa Ibu tidak malu saat seorang anak yang Ibu lahirkan, malah membuat malu ibu? Sama saja kan, Dion seperti membuang ta* di wajah Ibu sendiri? Asal ibu tau, saya juga sangat bersyukur karena telah lepas dari keluarga toxic seperti kalian." Jawaban Rasti sangat-sangat menohok. Sampai membuat Bu Marni terdiam tak menjawab lagi.
Akhirnya mau tak mau Dion pun harus membayar denda 20 juta. Namun, karena uangnya belum ada saat ini, dan Fely juga beralasan tidak membawa uang lebih.
Kepala Dion terasa pusing sekali, karena dia memikirkan banyak sekali tanggungan dan juga cicilan yang kini membebani pundaknya.
Belum lagi keinginan ibu dan adiknya yang tak pernah ada habisnya. Dan juga keinginan calon istrinya yang ingin segera dinikahi buru-buru dengan pesta pernikahan yang teramat mewah.
...****************...
"Pak Dion. Kamu dipanggil Pak Andre disuruh ke ruangannya." Dion mengusap wajahnya gusar. Dia tau, kalau video itu pasti akan menyebar dengan cepat. Karena saat video itu ditayangkan kemarin, banyak sekali yang merekam ulang.
Tanpa menjawab, Dion langsung neranjak dari tempat duduknya dan menuju ke ruangan Pak Andre--atasannya Dion.
Tok!
__ADS_1
Tok!
Tok!
"Masuk." Dion pun langsung masuk. Jantungnya berdebar sangat kencang. Berharap dia tak kehilangan pekerjaannya. Karena masih banyak tanggungan yang harus diselesaikan.
"Langsung saja Dion. Saya tidak mau basa-basi. Pastinya kamu sudah tahu dong, apa tujuan saya, memanggil kamu ke sini?" Ujar Pak Andre tegas.
"Maafkan saya, Pak," jawab Dion sambil menunduk. Dirinya sangat merasa malu dengan semua ini.
Dia juga sangat kesal dengan Rasti, karena perbuatannya Rasti yang merekam semua itu. Kini Dion harus menaggung malu pada semua teman kantornya.
"Apa kamu tidak malu Dion, melakukan hal seperti itu? Berselingkuh dan juga berzina di rumahmu sendiri. Rumah yang pernah kamu tinggali bersama dengan istrimu Rasti. Kamu juga telah mencoreng nama baik di perusahaan ini karena skandalmu dengan Fely. Tapi karena saya tidak bisa langsung memecat kamu, maka saya akan berikan kamu surat SP3. Dan ini surat yang terakhir, kalau kamu berbuat kesalahan sekali lagi maka kamu akan dipecat secara tidak hormat dan tanpa pesangon apapun," ucap Pak Andre tegas, sambil memberikan surat peringatan terakhir pada Dion.
Dion tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa meneguk air liurnya dengan bersusah payah.
Setelah selesai berbicara dengan Pak Andre, Dion pun langsung keluar dari ruangan Pak Andre, dan disambut dengan sorakan semua teman-teman kantornya. Dion benar-benar merasa sangat malu. Tanpa disadari, Dion kini sudah terkena sanksi sosial.
"Keren banget Dion aksi kamu di ranjang! Tapi sayang durasinya kurang!" Celetuk salah satu staf.
"Aturan yang lebih lama lagi. Jadi kan, kita bisa puas nontonin tubuh Fely yang mulus." Sahut karyawan lain yang kebetulan tak suka pada Dion.
"Tubuh Fely mulus ya? Bolehkah kapan-kapan aku cobain." Wajah Dion memerah. Giginya bergemelatuk, menahan amarah.
Andai saja dia lawan, semua ucapan para staff tadi, pasti dia akan kehilangan pekerjaannya, karena dia telah berkelahi di kantor. Tapi karena Dion masih membutuhkan pekerjaan, maka sebisa mungkin Dion menahan emosinya.
__ADS_1