
Keluarga Rasti cukup terkejut, saat mereka harus berpapasan dengan keluarganya Dion.
"Eh,eh, eh, ada mantan besan. Apa kabar? Nggak tinggal di kampung lagi ya?" Tegur Bu Marni, sambil menyindir ibu dan bapaknya Rasti.
"Della? Sini sama ayah, sayang." Dion berusaha menggapai pundak Della. Tapi Della malah menghindar, dan menjauhi Dion.
"Lihat tuh didikannya, Rasti. Masa sama ayahnya sendiri, begitu sih? Kamu ajarin yang benar dong si Della," sindir Bu Marni seenaknya.
"Alhamdulillah kami baik. Kami sudah tidak tinggal di kampung lagi. Kami sekarang juga tinggal bersama Rasti dan juga Della," sahut Bu Ratih ramah.
"Memangnya majikan Rasti mau menampung kalian yang cuma dari kampung? Makanya Ras, pakai acara cerai sama Dion segala sih nyesel kan tuh. Eh jadi pembantu deh sekarang. Tapi nggak apa-apa deh, kamu itu emang pantas jadi pembantu, daripada jadi istrinya Dion." Bu Marni mengejek dengan pongahnya.
"Saya justru bersyukur. Karena anak saya sudah berpisah dari seorang lelaki pecundang seperti anak anda. Saya juga doakan,semoga saja nanti pernikahan kalian yang selanjutnya, akan bahagia. Dan istrinya Dion bisa tahan dengan kelakuan dan juga sifatnya keluarga Dion," mata Bu Marni sontak langsung melotot, karena mendengar ucapan yang keluar dari mulut Bu Ratih. Ucapan yang begitu menohok ke dalam hatinya.
"Apa maksud kamu bilang anak saya pecundang? Anak kamu itu yang pecundang! Sini balikin uang anak saya! Pasti kamu belanja kesini karena dapat uang dari Dion kan, Ras? Enak-enakan ya kamu menghabiskan uang anakku!" Bu Marni naik pitam. Dia malah mengungkit uang hasil jual rumah tersebut di depan Fely.
Dion langsung tergeragap, takut Fely tau semuanya tentang penjualan rumah itu.
"Bu, sudah bu. Lebih baik, ayo kita melanjutkan belanja saja. Tak enak dengan Fely," bisik Dion. Takut ibunya makin kebablasan lagi saat berbicara.
"Ya udah deh kalau gitu. Kita mau belanja-belanja dulu ya? Kalau orang kaya, belajanya di Mall.
Kalau manusia kampungan seperti kalian, lebih baik belanja di pasar aja," Dion langsung menarik tangan ibunya. Berusaha menjauh dari keluarganya Rasti. Jantungnya berdebar kencang. Berharap Fely tak terlalu dengar soal tadi. Saat Bu Marni membicarakan soal uang Dion untuk Rasti.
"Ini aja Fely, calon mantuku beli tas mahal. Sampai 52 juta, di belikan Dion. Pantas dia mendapatkan itu, setelah bercerai hidup Dion makin sukses, karena pembawa sialnya udah di buang!" cicit Bu Marni yang masih berceloteh.
Fely tersenyum bangga sambil menatap Rasti dan keluarganya. Dan mereka berlalu.
...****************...
Setelah hampir 3 jam menghabiskan waktu di mall, untuk memilih-milih barang seserahan. Sampai-sampai kaki Bu Marni pun terasa pegal dan juga encok. Akhirnya mereka pulang ke rumah Bu Marni.
Sepanjang perjalanan, Bu Marni bibirnya terus menyerocos karena barang-barang yang dibeli Fely, sangat mahal-mahal sekali. Dan total keseluruhannya hampir habis sekitar 150 juta lebih. Semua itu hanya untuk seserahan, belum yang lainnya. Dion yang dari tadi hanya terdiam, serta terus-menerus memijat keningnya yang terasa pusing.
__ADS_1
Pikiran Dion melayang entah kemana. Hati kecilnya kini selalu memikirkan Della dan juga Rasti.
Penampilan Rasti yang sudah berubah menjadi glow up, membuat Dion terus terbayang-bayang oleh wajah Rasti.
Dion juga sedang memikirkan mobilnya yang belum juga kembali sampai saat ini. Dia takut kalau mobil itu akan hilang. Karena teman Rino yang tak amanah.
Sesampainya di rumah. Bu Marni dan Dion pun segera turun. Dion juga menurunkan semua belanjaan milik Fely. Tanpa banyak kata, Bu Marni berjalan terlebih dahulu,meninggalkan Fely dan juga Dion.
Selesai menurunkan belanjaan, mereka beristirahat sejenak di ruang tamu. Tak lama Shinta pun datang.
"Widih, enak banget ya yang jadi orang kaya. Semua
barang-barangnya brand terkenal semua. Aku nggak kecipretan sedikit gitu, Dion?" Dengan tak tahu malunya, Sinta malah berkata seperti itu. Membuat Fely semakin benci padanya.
"Ini kan seserahan untuk pernikahan nanti, Mbak." Sahut Dion malas. Sedangkan Fely hanya diam saja, sibuk dengan ponselnya.
Tak lama Bu Marni pun keluar dari kamarnya dan karena telah selesai mengganti baju.
Fely yang dari tadi merasa jengah dengan ocehan Bu Marni yang terus-menerus. Akhirnya dia pun ingin segera berpamitan untuk pulang. Karena setelah ini dia juga ingin mampir dan melakukan perawatan ke salon yang sedang naik daun di kotanya itu.
"Aku pamit pulang dulu, Mas. Aku mau ke salon soalnya habis ini. Aku pamit ya, Bu." Tanpa basa-basi Fely segera berdiri, dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah Bu Marni.
Setelah kepergian Fely. Dion langsung merenggangkan otot-ototnya yang terasa sangat kaku. Kepalanya juga masih pusing.
"Dion, Kenapa si Fely semakin hari semakin semakin boros terus sih? Lalu nanti kalian setelah nikah akan tinggal dimana? Apa benar kalian mau tinggal di rumah Fely? Karena ibu tidak mau loh, kalau Fely sampai tinggal di sini. Karena dia pasti akan sangat boros sekali hidupnya. Dan ibu juga nggak mau ya, jatah bulanan Ibu berkurang hanya karena istri barumu itu," cerocos Bu Marni terus-menerus dan berhasil membuat kepala Dion semakin pusing.
Dion tak menjawab semua pertanyaan Bu Marni sepatah katapun. Dia malah langsung pergi ke kamarnya. Kamar yang sudah sekitar beberapa bulan belakangan ini dia tempati. Tepatnya semenjak rumah Dion dan Rasti dijual.
Sinta tertawa kencang, saat Bu
Marni malah ditinggal oleh Dion.
"Hahaha. Makanya Bu, jangan ngoceh terus. Si Dion jadi pusing kan tuh! Calon Istrinya juga hedon sekali! Pasti dia tambah pusing tuh!" Celetuk Sinta. Lalu meninggalkan Bu Marni sendirian.
__ADS_1
Bu Marni hanya bisa mencebikkan bibirnya. Karena dia yang kini tinggal sendirian di ruang tamu. Dia pun langsung pergi ke kamarnya lagi. Tanpa memperdulikan barang belanjaan milik Fely.
Rumah kini sudah sepi. Sinta yang tahu kalau Bu Marni dan Dion sedang berada di kamar. Langsung saja dia melihat-lihat barang belanjaan yang Fely beli.
Ada sebuah barang yang Shinta suka, yaitu dompet dengan harga yang cukup lumayan yaitu kisaran 3 juta. Dan Sinta sangat menyukainya. Karena tak sanggup beli, sampai akhirnya Sinta pun berniat ingin mengambil dompet tersebut.
Lalu Shinta pun segera pergi dari rumah Bu Marni, karena takut ketahuan oleh Bu Marni dan juga Dion.
......................
Fely kini telah sampai di depan sebuah klinik kecantikan. Dia memang akan melakukan perawatan di tempat ini..
"Selamat ya, Ras. Berkat kamu, salon sekaligus klinik ini menjadi semakin ramai. Semakin banyak juga yang melakukan perawatan di klinik ini. Ibu benar-benar bangga dan kagum padamu, Ras," ujar Bu Elena pada Rasti. Lalu menyalami Rasti, karena perasaan bangga padanya. Rasti benar-benar telah berubah menjadi seorang perempuan yang tangguh dan hebat serta cerdas.
"Terimakasih, Bu. Semua ini juga atas bimbingan ibu untuk saya." Ucap Rasti sumringah. Lalu mereka pun langsung berpelukan.
Memang dari mall tadi, Rasti langsung pergi ke klinik kecantikan milik Bu Elena. Karena Bu Elena menghubunginya dan menyuruh Rasti untuk segera datang ke klinik tersebut. Sedangkan kedua orang tua Rasti, beserta Della langsung pulang ke rumahnya.
"Ibu juga ingin memberikan sedikit reward untuk kamu. Semoga semua ini cukup untuk tabungan kamu dan juga Della ke Bu Elena sudah mengirim sejumlah uang pada rekening Rasti.
Rasti pun mau tak mau menerima uang tersebut dan cukup tercengang, melihat nominalnya. hingga puluhan juta.
Selesai bicara penting dengan Rasti. Bu Elena pun segera mengajak Rasti keluar dari ruangannya. Sambil membicarakan konsep-konsep terbaru yang akan mereka rancang beberapa bulan ke depan.
Rasti terkejut saat melihat Fely yang sedang berjalan masuk ke dalam klinik ini. Begitu juga dengan Fely yang saat sadar melihat Rasti juga berada disini.
"Rasti? Ngapain kamu disini?" Tegur Fely tak suka.
"Saya sedang ada urusan dengan Bu Elena."
"Rasti kan, salah satu pemilik saham di sini!" ujar Bu Elena.
"Hah?!" Fely sulit mempercayai ucapan Bu Elena barusan.
__ADS_1