
Tidak lama ada sebuah mobil Porsch* keluaran terbaru, memasuki basement.
Dan benar Casie dan Sherin keluar. Sherin tampak semringah dari raut wajahnya.
"Itu mereka!" ucap Kenzo.
Para polisi yang sudah mengepung tempat itu, kemudian keluar dari mobil.
Mereka ada 6 petugas yang menangkap. Cassie dan Sherin. Kedua perempuan itu dengan cepat.
"Ada apa ini?" jerit Casie panik dan mengedarkan pandangan ke sekitar, tiba-tiba saja sudah ada petugas polisi.
"Lepaskan aku, mau dibawa kemana?" tanya Sherin tak kalah paniknya. Bahkan ia ingin menangis, karena sangat takut tidak pernah ada di bayangan Sherin akan ditangkap. Karena kesalahan yang ia perbuat.
Sherin sang anak manja, sangat ketakutan, tak bisa mengendalikan emosinya.
"Kalian sudah terbukti melakukan sebuah tindakan kriminal,dan ingin melakukan pemb*nuhan berencana pada anak di bawah umur." ujar salah satu petugas.
"Kami tidak pernah melakukan tindakan kriminal, bapak pasti salah tuduh!" elak Casie. Wajahnya memanas. Rahasia terbesarnya bisa di ketahui.
"Kami sudah menerima laporannya. Kalian tidak usah banyak bicara. Jelaskan saja di kantor!" hardik petugas bernama Robert.
"Tunggu, aku tidak mau ditangkap seperti ini. Pengacaraku akan datang untuk menyelesaikan, masalahnya, lepaskan aku!" tangis Sherin memohon di lepaskan.
"Nanti saja hubungi,
pengacaramu. Sekarang ikutlah!"
"Aku tidak mau!" Sherin menangis.
"Pak kita bisa bicarakan ini, jangan tangkap kami. Memangnya Bapak ada bukti?" tanya Casie yang lebih bisa mengendalikan emosionalnya.
"Tentu saja, kami mempunyai bukti sebelum menangkap kalian. Dan Kami mempunyai surat resmi penangkapan!"
Mereka berdebat. Terutama Casie yang pandai bicara. Sedangkan Sherin hanya menangisi keadaan.
Kenzo mengajak Rasti untuk keluar dari dalam mobil.
"Kenzo?" gumam Casie yang melihat Kenzo menghampiri mereka.
"Bawa mereka Pak!" ucap Kenzo.
"Kenzo,tolong aku!" pinta Sherin. "Kamu pikir, aku datang untuk
menolongmu?" sahut Kenzon.
"Aku takut Kenzo!" pekik Sherin.
"Kamu pantas mendapatkan ini, karena perbuatan kejimu!" tukas Kenzo.
"Maksudmu apa?" Casie mulai mencurigai Kenzo.
"Aku sudah mengetahui semua kebusukan kalian, berdua!" ungkap Kenzo.
"Kamu salah paham, Kenzo!" Sherin menjerit histeris dan meminta tolong.
Hingga Sherin pip*s karena menahan takutnya.
Rasti menatap Sherin. Perempuan yang tadi menantangnya dan mengatakan ia berkelas, malah ng*mpol. Kenzo juga melihat, dan merasa speechless dengan kejadian itu.
Sherin semakin merasa tidak punya harga diri lagi di depan. Kenzo. Ia merasa sangat malu.
Rasti menahan tawa, ia kesulitan dan membuang pandangan ke arah lain.
__ADS_1
Mereka di giring menuju mobil. Dari sorot mata Casie sangat menyimpan dendam pada Rasti.
Sherin buru-buru ingin pergi, dari hadapan mereka.
Rasti merasa lega. Dia menatap Kenzo dan ingin mengucapkan terima kasih, pada pria itu.
"Terima kasih ya, atas apa yang kamu lakukan. Aku mungkin tidak akan mendapat keadilan, untuk Della. Jika bukan karenamu," ujar Rasti tululus.
"Sama-sama Rasti. Aku juga merasa bersalah, karena pelakunya itu adalah mantan kekasihku, yang tidak tahu diri. Dirinya itu seperti psikop*t!" tutur Kenzo.
Rasti tersenyum getir, memang benar juga apa yang dikatakan Kenzo. Kedekatannya dengan pria itu, banyak yang tidak menyukai. Baru saja dekat belum menikah.
Bu Zoya menghampiri mereka.
"Tante!" ucap Rasti menyapa Bu Zoya dengan ramah.
"Ini semua juga berkat bantuan Mama, karena dialah yang menjebak Casie untuk datang kemari," ujar Kenzo memberitahu.
"Terima kasih ya, Tante. Atas bantuannya," ucap Rasti.
"Iya sayang, Tante tidak menyangka jika Casie, menjadi dalang di balik penculikannya itu. Padahal dia itu sudah Tante anggap, seperti putri tante sendiri. Namun perbuatannya membuat Tante kecewa, Casie harus di beri hukuman!"
"Jangan terima dia lagi, di keluarga kita!" ujar Kenzo. Yang tak sudi, berbaikan dengan kakak sepupunya.
"Segeralah kamu menghalalkan hubunganmu, dengan Kenzo. Setelah masa iddahmu berakhir,Tante akan datang bersama Kenzo, untuk melamarmu, untuk anak lelaki Tante ini, Kenzo sudah membicarakan ini dengan serius, dia mau menerima kamu dan Della," ujar Tante Zoya.
Kenzo membuang pandangannya, ia merasa salah tingkah karena perkataan sang Mama.
Lidah Rasti seakan kelu, untuk berbicara. Dia ingin mengatakan, jika dirinya itu belum siap untuk menikah lagi. Namun kebaikan Tante Zoya membuatnya merasa sungkan.
...****************...
Rasti keluar dari kamar Della. Ia melihat putrinya yang sudah tertidur, pulas. Tadi tante Zoya mengajaknya untuk datang ke penthouse miliknya.
Dia menghabiskan waktu di sana, karena Tante Zoya mengajak nya, membahas banyak hal. Dan juga bersama Kenzo.
Rasti masuk ke dalam kamarnya, tanpa sadar ia tersenyum membayangkan kejadian tadi.
"Apakah aku berdosa, mencintai pria lain di saat masa iddah-ku belum berakhir?" Rasti menggumam.
Tapi Rasti tak bisa menampik, merasa mulai luluh dengan sikap Kenzo yang mulai menghangat, pada dirinya.
Kenzo meminta nomor Rasti. Sungguh aneh bukan, mereka kenal beberapa bulan ini, bahkan Kenzo mengenalkan dia sebagai calon istri. Tapi baru tadi saling menyimpan nomor.
Drrttt.. Rasti melirik pada ponselnya, yang ia letakkan di atas kasur.
[Kamu sudah tidur?] Kenzo mengirim pesan.
Rasti tercenung mendapatkan pesan dari Kenzo. Pria ini, menanyakan hal seperti ini padanya.
[Belum.] balas Rasti.
[Aku ingin mengajakmu, untuk berlibur dengan Della. Kita bisa ke Bali, jika kamu mau!] Kenzo kembali membalas.
[Sudah kubilang, jaga jarak. Nanti akan timbul fitnah. Berjalan berdua saja sudah mengundang cibiran. Apalagi mengajak liburan, kamu jangan cari masalah.] balas Rasti.
Kenzo terlalu gegabah, dan tidak sabaran. Mungkin ia terbiasa dengan kebebasan, pikir Rasti.
Tak ada balasan, dan justru kini Kenzo menghubungi Rasti dengan video call. Rasti yang melihat panggilan video call mask, dia merasa panik.
Telapak tangannya, berkeringat dingin.
"Kenapa dia, harus video call?" gumam Rastu
__ADS_1
Karena tidak kunjung dijawab panggilan itu berakhir.
[Kenapa, kamu tidak mau mengangkatnya?] kembali Kenzo protes dan mengirim pesan.
[Kamu mau apa video call?]
[Aku ingin melihatmu, dan selamat tidur.. Hanya itu] balas Kenzo terlihat sebal karena Rasti menolak.
[Tidak usah, ucapkan saja melalui teks.] Rasti membalas.
[Tapi aku ingin melihat wajahmu.]
[Seharian kamu sudah bersamaku. Apa kamu tak bosan melihat wajahku!] balas Rasti yang terkesan ketus.
[Oke baiklah. Aku tidak akan menuntutmu, selamat tidur.] balas Kenzo yang ikut dingin.
Rasti menaruh ponselnya. Ia membayangkan wajah Kenzo yang kesal.
"Pasti lucu!" gumam Rasti.
Pintu kamar Rasti di ketuk oleh ibunya.
"Rasti, kamu sudah tidur?" panggil Bu Ratih.
Rasti gegas turun dari ranjang, dan membuka pintu.
"Ada apa, Bu? Kenapa terlihat panik?" tanya Rasti penasaran.
"Itu di luar, ada pria yang datang bersama istrinya. Mereka mengaku sebagai orang tua, Sher, siapa tadi nama anaknya, ibu lupa. Dan mereka membawa bodyguard, lima orang! Dia sedang marah-marah, mana Bapak sedang tak di rumah!" ujar Bu Ratih menjelaskan.
"Apakah orang tua, Sherin? Ada masalah apa dia marah-marah kemari!" ujar Rasti dan merasa kesal. Ia mengambil ponselnya, sebelum menemui mereka.
Rasti bersama Ibunya menuju ruang tamu.
"Ini dia, biang keroknya!" seorang pria yang mungkin berusia 40 tahun ke atas. Menunjuk Rasti yang baru saja menghampiri ruang tamu.
"Ada apa, kalian kemari?" tanya Rasti yang tak bisa menahan emosi, karena datang-datang sudah di tunjuk oleh pria itu bernama Daniel.
"Kamu ya, yang menjebak Sherin. Sekarang putriku di penjara. Papa tuntut balik dia, Mama tidak terima dengan semua yang terjadi, pada Putri kita!" wanita yang adalah istri dari Daniel.
"Tuntut balik? Jadi kalian orang tua dari Sherin. Baguslah dia sudah di penjara, memang aku yang melapor, aku melaporkan ada bukti. Putrimu itu telah membayar orang, untuk menculik anakku!" Rasti balik menunjuk mereka.
"Mau tuntut balik silakan!" tantang Rasti.
"Mudah, memenjarakan kamu. Karena koneksi kami banyak!" Daniel mengambil ponselnya di saku celana, panjang hitam yang ia kenakan.
"Telpon, koneksi Papa dan pengacara yang bisa menuntut dia!
Kupastikan kamu juga merasakan penjara!" ucap Mama dari Sherin. Ia bernama Patricia.
Rasti juga menghubungi seseorang.
Seseorang yang di hubungi Rasti menjawab panggilan, dalam satu panggilan saja.
"Kenzo, orang tua Sherin datang ke rumahku. Mereka mencoba mengintimidasiku, datanglah kemari!" pinta Rasti.
Sambungan telepon di matikan.
"Siapa yang kamu hubungi?" tanya Daniel pada Rasti dan menatap tajam.
"Kenzo Davis, kita akan selesaikan masalah ini."
Daniel dan Patricia terperangah, mendengar nama yang di sebut oleh Rasti.
__ADS_1
"Bagaimana ini?" tanya Patricia lirih.
Daniel mulai menciut nyalinya. Karena Zoya Davis adalah pemilik 60% saham di perusahaan miliknya. Dia tak bisa berkutik pada keluarga Davis.