
"Cepat kamu datang, susul dia. Pasti Fely sedang sedih. Karena perbuatan Rasti tadi, ibu tidak mau Fely itu kecewa padamu. Perjuangkan dia Dion, kamu tidak boleh melepas wanita sesempurna Fely!" ujar Bu Marni yang terus menyemangati putranya untuk mendapatkan Fely.
"Iya Bu, aku akan segera berangkat untuk menemui Fely." Lalu Dion pun langsung bergegas pergi menemui Fely.
Bu Marni memang sudah benar-benar merasa klop dengan Fely. Karena menurut Bu Marni, Fely adalah calon menantu sekaligus calon istri yang bisa diandalkan nantinya, dibandingkan Rasti yang hidupnya pas-pasan dan juga dari keturunan orang biasa.
...****************...
"Sayang, maaf ya aku kelamaan. Soalnya tadi macet," Fely berdecak kesal. Sudah hampir satu jam dia menunggu kedatangan Dion.
"Lama tau nggak! Kesel deh!" Sungut Fely.
"Maafin aku ya, sayang. Tadi itu aku kena macet,makanya aku telat datangnya. Sebagai pengganti kesalahan aku, gimana kalau besok kita pergi jalan-jalan? Dan hari ini Aku pengen bisa nyenengin kamu semalaman ini," mata Fely langsung berbinar saat mendengar ucapan Dion. Begitu pula dengan wajahnya Feli yang langsung tersenyum sangat sumringah.
"Serius, Sayang?" Dion mengangguk pasti. Meski hatinya tak terlalu yakin.
"Iya dong, ya udah yuk."
Malam itu Fely dan Dion pun menuju hotel, mereka berencana untuk menghabiskan malam ini bersama.
...****************...
Keesokan Harinya.
"Sayang, kamu jadi kan? Ngajak aku ke Mall untuk belanja dan juga jalan-jalan?" Rengek Fely manja pada Dion.
Mereka kini memang sedang berada di hotel bersama. Usai menghabiskan malam bersama. Dan Dion tidak pulang ke rumah semalam.
"Jadi dong, Sayang. Eh tapi boleh nggak, kalau aku ajak ibu dan juga Gita?"
Fely pun langsung terdiam saat Dion berencana untuk mengajak serta ibu dan juga adiknya. Dalam hatinya dia merasa sangat kesal. Sejujurnya Fely tak mau kalau dia harus pergi dengan keluarganya Dion.
Tapi karena perasaan tak enak, dan dia juga tak mau kalau sampai Dion kecewa. Akhirnya Fely pun menyetujui rencana Dion.
Mereka pun langsung pergi lagi untuk menjemput Bu Marni dan juga Gita.
Sepanjang jalan, Fely tak bisa menyembunyikan kekesalan di hatinya. Dalam hatinya, Fely merasa sangat dongkol sekali. karena memang kali ini dia ingin sekali berduaan dengan Dion tanpa ada embel-embel keluarganya Dion. tapi dion selalu saja melibatkan keluarganya dalam hubungan mereka berdua.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua pun sampai di depan Bu Marni.
"Bu... ada Kak Feli sama Mas Dion!" Teriak Gita yang sangat senang dengan kedatangan calon kakak iparnya itu.
Saat turun dari mobil, sebisa mungkin Fely bersikap santai dan langsung memasang wajah yang sumringah. Berbanding terbalik dengan isi hati dia yang sebenarnya.
__ADS_1
"Ya ampun Gita! Kamu tuh kenapa pake acara teriak-teriak segala sih! Sampai kaget tau nggak ibu." Sahut Bu Marni, sambil berjalan menghampiri Dion dan Fely.
"Ini ada Mas Dion dan Kak Fely, Bu."
"Loh Dion? Fely? Ada apa?
"Nggak ada apa-apa kok, Bu. Kita memang rencana mau pergi. Tapi aku mau ngajak ibu dan Gita juga sekalian. Aku mau ngajak kalian semua belanja dan juga makan-makan di Mall. Gimana, Bu?" Sontak saja mata Bu Marni langsung berbinar saat mendengar Dion yang mengajaknya untuk berjalan-jalan dan juga makan-makan. Begitu juga dengan Gita yang sangat antusias sekali dengan ajakan sang kakak. Berbeda dengan Fely yang hanya tersenyum kecut karena perasaan di hatinya sangat dongkol sekali.
Lalu, Bu Marni dan Gita pun langsung bersiap-siap untuk segera pergi ke Mall.
Di dalam mobil, pikiran Dion membayangkan kalau nanti semua pengeluaran, Fely yang bayar. Dia akan mencoba berpura-pura pergi untuk menemui temannya. Karena uangnya sudah semakin menipis, untuk membayar biaya hotel semalam.
Lain pikiran Dion, lain pula pikiran Fely. Dia membayangkan kalau sang kekasih akan memanjakannya, yaitu dengan menturuti semua permintaannya di Mall nanti. Dia juga sama sekali tak peduli pada Bu Marni dan Gita.
...****************...
Sesampainya di Mall, Bu Marni dan juga Gita semakin antusias sekali. Bola mata mereka berbinar-binar melihat keindahan Mall yang sedang mereka kunjungi. Bu Marni dan Gita tampak kampungan sekali, sampai-sampai membuat Feli merasa malu.
Sedangkan Dion merasa acuh dan tak peduli dengan sikap ibu dan adiknya. Dia malah sibuk dengan ponselnya, sambil tangan kirinya yang tetap menggandeng Fely.
"Dion, kita mau makan dulu, atau kita mau belanja dulu? Ibu udah nggak sabar nih untuk belanja-belanja, tapi perut ibu juga udah lapar. Ibu juga udah nggak sabar mau makan-makanan yang enak di Mall ini," rengek Bu Marni pada Dion.
"Ya, Mas Dion. Aku juga udah laper nih. Ayo dong kita makan dulu. Setelah itu kita belanja." Ucap Gita turut menimpali.
"Oke, oke. Ya udah kita makan dulu sekarang. Ayo sayang, kita makan dulu." Fely yang sedari tadi hanya terdiam sambil memperhatikan tingkah aneh Bu Marni dan Gita, kini hanya bisa tersenyum terpaksa, sambil mengikuti ajakan Dion untuk pergi makan di restoran.
Bu Marni yang pertama kalinya masuk restoran mewah setelah sekian lama, tiba-tiba membuat dirinya menjadi merasa gemetar, lalu tubuhnya pun oleng. Dan dia pun akhirnya hampir jatuh, tapi di pegangi oleh Gita. Namun sayangnya tangan Gita malah menyenggol nampan waitress yang kebetulan sedang lewat disampingnya.
Sampai akhirnya piring-piring yang berada di atas nampan itu pun pecah berhamburan ke lantai. Bu Marni langsung syok, begitu juga dengan Dion. Sedangkan Fely refleks langsung menutup wajahnya. Karena dia kali ini benar-benar merasa sangat malu sekali.
Apalagi kini dia menjadi tontonan semua orang yang sedang berada di resto ini. Semua orang menatap aneh pada mereka berempat.
"Ya ampun, Gita!" Hardik Bu Marni spontan.
"Maaf, Mas. Saya akan ganti rugi." Timpal Dion pada sang pelayan.
"Kalau jalan hati-hati dong, Mbak! Hancur kan, semuanya!" Sahut waitress kesal.
Gita yang merasa syok, hanya bisa terdiam mematung. Begitu juga dengan Fely yang sudah benar-benar merasa ilfeel dengan keluarga Dion. Tapi dia tahan sebisa mungkin, karena dia memang sangat mencintai Dion dan juga bangga pada pekerjaan Dion.
Akhirnya Setelah semuanya dibereskan dan Dion pun mau tak mau harus membayar ganti rugi semua barang-barang yang pecah tadi.
Setelah itu Dion pun langsung mengajak keluarganya untuk tak jadi makan disitu karena sudah kepalang malu. Mereka pun mencari restoran yang lain.
__ADS_1
...****************...
"Fely, kamu kenapa diem aja, Nak? Kamu nggak suka ya, kalau jalan sama ibu dan Gita?" Tegur Bu Marni pada Fely. Karena Fely sejak tadi hanya diam saja.
"Nggak kok, Bu. Aku lagi nggak enak badan aja kayaknya. Maafin aku ya, Bu," Bu Marni langsung mengangguk senang. Karena ternyata menantunya tak seburuk apa yang dipikirkannya.
"Syukurlah kalau gitu. Oh iya, katanya kamu janji mau beliin ibu tas? Bagaimana kalau kita beli tas sekarang aja, di Mall ini." Pinta Bu Marni pada Fely.
"Oh iya yah, Bu. Kak Fely kan janji mau beliin kita tas branded ya? Gimana kalau beli sekarang aja?" Gita pun turut menimpali.
"Hhmm...." Fely berfikir sejenak. Uangnya pasti akan habis, jika dia benar-benar membelikan barang mewah pada dua orang yang kampungan ini. Dan Fely tak mau itu terjadi.
"Gimana, Nak Fely?" Desak Bu Marni tak sabar.
"Kan, Feli janjinya nanti, Bu. Kenapa ditagihnya sekarang sih? Sabar dong Bu, jangan terburu-buru gitu," Dion langsung menengahi, karena ada rasa tak enak pada jawaban Fely yang menggantung. Sedangkan Bu Marni hanya berdecak kesal.
"Gimana kalau kita lihat-lihat aja dulu, Bu?" Nanti kalau ada yang suka, baru ibu beli. Kalau Gita nanti aja ya? Sekarang ibu dulu," Gita yang tadinya merasa senang, malah mendadak diam. Dia kecewa karena hanya Bu Marni yang akan dibelikan, tapi dia tidak.
...****************...
"Yang ini bagus kayaknya, Nak Fely. Cocok nggak sama ibu, Git?" Dengan antusias Bu Marni mencoba-coba salah satu tas yang ada di toko brand terkenal dan harganya pun lumayan mahal.
Feli yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka berdua yang sedang memilih-milih tas, berniat untuk segera pergi dari toko brand terkenal tersebut. Karena memang dia tidak berniat ingin membelikan tas itu untuk Bu Marni.
Mereka hanya belanja bertiga, sedangkan Dion meminta izin pada Fely untuk pergi sebentar, bertemu dengan temannya di tempat lain. Alasan Dion membuat Fely semakin badmood dan juga ilfeel. Walau Dion berjanji akan kembali lagi setelah urusannya selesai.
"Hai Fely, kamu di sini juga? Ya ampun, kamu makin cantik aja sih. Nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi di sini," tegur seseorang. Dan ternyata salah seorang teman sosialita Fely.
"Ya ampun Audi! Apa kabar Audi? Kangen deh sama kamu! udah lama banget ya, kita nggak ketemu? Tinggal di mana kamu sekarang?" Sahut Fely dengan senang dan antusias. Karena bertemu teman lamanya.
"Kabar aku baik. Aku sekarang tinggal di Aussie kan, dan sekarang aku lagi main aja ke Indonesia. Sekalin nengokin mama dan papaku di sini. Oh iya kamu kesini sama siapa?" Fely langsung gelagapan saat ditanya seperti itu.
Saat Feli sedang berbincang-bincang dengan Audi, Bu Marni malah memanggil Fely dengan ciri khas kampungannya.
"Nak Fely. Ini cakep nggak?" Teriak Bu Marni tanpa rasa malu sama sekali. Padahal semua karyawan toko disitu sedang memperhatikannya. Karena dia masih saja memilih-milih barang.
Teriakan Bu Marni membuat Fely merasa malu. Karena memang Audi dulunya adalah teman sosialitanya Fely.
"Itu siapa Fel? kamu ke sini sama ibu-ibu itum sama perempuan itu Tegur Audi.
Feli pun langsung gelagapan
bingung mau menjawab apa. Karena tak mungkin juga dia akan mengatakan yang sebenarnya. Dia akan merasa malu jika berbicara yang sejujurnya pada Audi. Lalu dengan terpaksa Fely pun akhirnya berbohong pada Audi.
__ADS_1
"Oh itu, mereka berdua itu asisten baru di rumah aku. Karena mereka itu rajin, jadi aku mau kasih apresiasi buat mereka berdua. Aku ajak mereka ke mall dan berbelanja barang yang mereka sukai," jawab Fely sesantai mungkin. Padahal hatinya sudah ketar-ketir takut kedengeran oleh Bu Marni.
"Ya ampun Feli! Kamu baik banget sih. Dari dulu sampai sekarang, kamu tetap jadi pribadi yang baik hati. Salut deh sama kamu. Hhm, ya udah deh kalau gitu next time kita ketemu lagi ya, aku mau ke sana dulu." Fely pun mengangguk sambil tersenyum sumringah. Sedangkan Audi sudah berjalan meninggalkan Fely.