
"Lantas apa yang akan kalian berikan padaku, untuk mengganti rugi..!" Dion berteriak dan kemudian mendekati Rino. Yang sudah lemah.
"Cukup Dion, Mas Rino, keadaannya sudah lemah!" cegah Sinta.
"Biar aku b*nuh dia sekalian, aku benci mempunyai saudara sepertinya, lebih baik dia m*ti. Agar aku merasa puas!" ucap Dion dan menatap dengan mata yang berkilat penuh amarah.
"Dion, jika Mas Rino mati. Kamu akan dipenjara!" ujar Sinta.
"Tidak apa, biar saja aku di penjara yang penting, aku bisa memberi pelajaran pada manusia ini!" tunjuk Dion.
"Aku akan mengganti uangmu, Dion. Segera aku akan mengambil sertifikat tanahku, dan memberikannya padamu," ujar Rino lirih. Sambil menahan sakit di tubuhnya.
"Kau berbohong!" ucap Dion.
"Kali ini aku berjanji," ujar Rino meyakinkan.
"Jika saja kau tidak menepati janjimu ini, akan ku b@kar rumahmu dan kau akan menjadi gembel, tidak mempunyai tempat tinggal. Ini peringatan untukmu! Aku tidak sudi lagi mempunyai kakak sepertimu, mulai hari ini hubungan kita putus kau bukan lagi saudaraku!" ujar Dion yang memutus tali persaudaraan sendiri, pada kakaknya. Karena merasakan kebencian yang amat sangat.
...****************...
Ketika Dion sampai di rumah. Dia mendengar keributan yang berasal dari kamarnya, yang ia tempati bersama dengan Felly.
"Serahkan tasmu itu!" pekik Bu Marni yang sudah terduduk di lantai, karena tadi ia telah didorong oleh Fely dengan kuat.
"Aku tidak akan memberikan uangku, padamu. Dasar wanita tua licik!" cerca Fely pada ibu mertuanya.
"Kamu, yang licik telah menipuku dan Dion, kembalikan sertifikat rumahku!" teriak Bu Marni.
"Mau kamu berteriak seperti apapun, sertifikat itu tidak akan kembali," sahut Fely mencebik.
"Kamu apakan?"
"Sudah aku gadaikan pada temanku, silakan ibu ambil lagi. Jika Ibu sanggup membayar dua kali lipat, dari uang yang aku pinjam padanya," ujar Fely dan menyelipkan anak rambut di belakang telinganya.
"Apa maksudmu?" Bu Marni tak mengerti tapi perasaannya mengatakan, hal buruk sudah di perbuat sang menantu baru.
"Aku mendapatkan uang sebanyak 500 juta, karena telah menggadaikan rumah ini pada temanku. Jika Ibu mau mengambilnya, ibu harus menyiapkan uang satu milyar!" jelas Fely.
"Apa? Ibu tidak punya uang sebanyak itu, kamu keterlaluan. Kamu sama saja menjual rumah ini," ujar Marni syok.
"Aku tak berniat menjualnya, Bu. Cuman jika Ibu tidak sanggup membayarnya, ya aku tidak tahu lagi akan berbuat apa, selain ibu harus legowo. Ketika rumah ini diambil olehnya, uang itu aku gunakan untuk resepsiku dan juga Mas Dion. Terima kasih ya ibu mertua yang baik hati, karena telah mendanai resepsiku yang mewah kemarin. Sehingga acara berjalan dengan lancar, sesuai dengan apa yang aku mau," ujar Fely yang mempermainkan emosional Ibu mertuanya.
"Fely, apa yang kamu katakan. Menggadaikan rumah ibuku?"
Suara itu mengejutkan Fely.
"Mas?" Fely terkejut ketika melihat Dion kini memasuki kamar.
"Aku mendengar semua pembicaraanmu, dengan ibu. Jelaskan padaku! Kenapa sampai bisa kamu, menggadaikan rumah Ibu?" cecar Dion.
__ADS_1
"Dion, istrimu ini telah menipu ibu. Dia meminta sertifikat rumah ini, dan berkata untuk modal ibu investasi, sebagai jaminan saja. Tapi ternyata dia berbohong, dan menggadaikan sertifikat rumah Ibu pada temannya. Dia menggunakan uang pegadaian rumah ini untuk resepsi kalian," jelas Bu Marni.
"Kamu menipu, Ibuku? Kenapa Ibu juga bisa memberikan sertifikat pada dia, begitu saja?" Dion heran pada Ibunya yang mudah sekali di perdaya.
"Karena Ibu percaya pada Fely. Tidak menyangka dia akan berbohong, kita telah ditipu mentah-mentah," ujar Bu Marni tak mau di salahkan.
"Tega kamu, berbuat ini pada keluargaku. Hanya demi resepsi pernikahan, jika tahu begini. Aku tidak mau melakukan resepsi. Uang yang kamu gunakan itu dari pegadaian rumah, pada siapa kamu gadaikan?" cecar Dion.
"Sudahlah, Mas. Kamu jangan marah, aku malu jika kita menikah tidak resepsi semewah kemarin. Karena banyak keluarga dan juga rekan bisnis Papaku, yang hadir. Juga rekan kerja kita, mau di taruh mana muka kita, jika hanya melakukan resepsi yang sederhana," ujar Fely.
"Dion kamu harus tahu, dia juga bukan anak kandung dari orang tuanya." ujar Bu Marni.
"Ibu tidak usah banyak bicara!" tunjuk Felly.
Dion menghampiri Bu Marni dan membantu ibunya untuk bangkit.
Bu Marni mengusap pinggangnya, yang terasa sakit.
"Dia itu cuman anak angkat, Dion. Ibu dengar sendiri tadi Mamanya datang ke sini, dan menyuruh Fely untuk mencari Ibu kandungnya, orang tua Fely itu sudah bangkrut!" cicit Bu Marni menjelaskan kembali memberi fakta, yang sangat mengejutkan bagi Dion.
"Jawab dengan jujur. Apa benar yang dikatakan oleh ibu?"
"Tidak Mas!" Felly menggeleng dengan cepat, ia masih berusaha mengelak, dan tidak mengakui tentang fakta orang tua angkatnya.
"Jawab jujur, atau aku ceraikan
"Mas," Fely mengusap air mata di sudut matanya yang mulai mengembun.
"Katakan sekarang, aku tidak mau mempunyai istri seorang pembohong!" ucap Dion ia menatap lekat Fely dan kini berdiri di hadapan istrinya.
Bibir Fely bergetar, dia ingin menjawab namun ragu, tapi tatapan Dion sangat mengintimidasinya. Seolah Fely tidak bisa berkelit lagi,mengatakan tentang kenyataan yang terjadi.
"Ya, Mas. Orang tuaku sudah bangkrut, dan aku hanya anak angkat,"
"Bangkrut?"
"Ya!" sahutnya.
"Sejak kapan?"
Fely bergeming.
"Sejak kapan!" hardik Dion karena Fely sangat lama sekali menjawab.
"Kamu tidak perlu tahu, Mas. Sejak kapan orang tuaku bangkrut,yang terpenting sekarang kita sudah menikah. Dan aku adalah tanggung jawabmu!" ujar Fely.
"Jika aku tahu orang tuamu akan bangkrut. Aku tidak akan pernah menikahimu," Dion berucap dan baru menyadari dia salah bicara.
"Kamu menikah denganku, hanya karena harta Mas, bukan cinta?"
__ADS_1
Kini giliran Dion yang terdiam.
"Kamu tidak cinta padaku?" Fely mencerca suaminya.
"Tentu saja tidak, untuk apa cinta yang dibutuhkan itu hanya uang. Jika saja kami tahu, kamu itu bukan anak orang kaya. Untuk apa Dion menikahimu, lebih baik kamu kembali pada Rasti Dion. Dia sekarang sudah kaya dan juga cantik, menyesal kamu melepas istri secantik Rasti. Jika dia melakukan perawatan, bisa cantik!" cicit Bu Marni.
"Ibu, jangan bandingkan aku dengan Rasti!" bentak Fely.
"Apa yang di katakan ibu benar, Rasti lebih cantik darimu. Dan sekarang dia juga kaya," ucap Dion.
Fely menggeleng tak menyangka, ia merasa telah di hina.
...****************...
Keesokan Hari..
Rasti bertemu dengan Pak Imron. Dia adalah pemilik ruko. Rasti berencana untuk menyewa ruko, dan membuka toko sembako.
"Gimana, Mbak Rasti. Berminat dengan tempat ini?" tanya Pak Imron. Yang tadi menjelaskan tentang harga sewa dan keadaan ruko yang letaknya di tempat strategis itu.
"Saya sangat berminat Pak, Bapak kirimkan saja nomor rekening, agar saya bisa mentransfer uang untuk membayar sewa selama setahun,"
"Baik Mbak Rasti, saya kirim nomor rekeningnya dulu," Pak Imron menunjukkan nomor rekening miliknya.
Dengan dua kali transfer. Rasti berhasil mengirim uang sewa selama satu tahun.
"Terima kasih banyak Mbak Rasti, senang bekerja sama dengan anda. Semoga betah ya, dan usahanya maju,"
"Amin.. Sama-sama Pak, mungkin satu beberapa minggu lagi akan buka." ujar Rasti dan tersenyum.
Usai menyewa ruko. Rasti pun berniat untuk segera pulang, ia menuju sepeda motornya.
"Heh, janda!" suara itu berasal dari belakang.
Rasti pun menoleh, ia melihat Sherin dan Casie berjalan menghampirinya.
"Kamu jauhi Kenzo, aku tidak suka melihat kalian dekat!" tunjuk Sherin.
"Jangan mimpi, bisa menjadi nyonya Davis!" timpal Casie dan mendorong bahu Rasti.
"Kalian, jangan mencoba mengintimidasiku! Yang mendekat itu Kenzo, bukan aku yang gatal. Lagian kenapa kamu harus menyuruhku menjauh? Kenapa, karena Kenzo tak mau denganmu lagi?" ucap Rasti dan membalas menatap Sherin yang tajam.
"Oh, kamu mau menghinaku. Kenzo itu pasti sudah kamu pengaruhi, jika cantik masih menang aku, dan aku berkelas!" tukas Sherin dengan emosi.
"Berkelas? Dengan cara melabrakku seperti ini? Kamu wanita norak!" cerca Rasti.
"Satu lagi, sebaiknya kalian jangan sok jagoan. Karena sebentar lagi, polisi akan datang menjemput kalian berdua!" ujar Rasti dan tersenyum. Sambil menggunakan helmnya.
Casie dan Sherin saling tatap, mendengar perkataan Rasti.
__ADS_1