Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Calon istri?


__ADS_3

Selesai menghadiri persidangan, Fely dan Dion langsung mampir di sebuah kedai ayam goreng yang terkenal di salah satu kota tersebut.


Mereka memang sengaja ingin membicarakan tentang rencana pernikahan mereka.


Sesampainya di kedai ayam goreng tersebut, Felly dan Dion langsung duduk di meja pojok paling belakang. Dion menyuruh Fely untuk memesan ayam goreng tersebut ke kasir.


Sesampainya di kasir, Fely langsung disambut oleh salah seorang laki-laki tampan yaitu Ammar. Dan pesona Ammar berhasil membuat Fely terkesima.


"Silahkan, ada yang bisa saya bantu?" Suara Ammar membuat Fely tersadar, kalau dari tadi dia sedang melamun sambil memperhatikan wajah Ammar.


"Hhmm, aku mau pesen ayam goreng crispy dua ya? Sama kentang, dan minumnya cola aja," ujar Fely gugup.


"Ok. Mohon ditunggu ya?" Sahut Ammar ramah.


"Ok."


Saat Amar sedang membuat pesanan untuk Feli dan Dion, tiba-tiba salah satu pegawai Ammar memberitahukan bahwa hari ini ada pertemuan penting dengan salah satu orang penting di kota ini, sesorang yang akan bekerjasama untuk mempromosikan kedai ayam gorengnya agar lebih terkenal lagi.


Lalu Ammar pun langsung pergi ke belakang dan posisinya digantikan oleh karyawannya tadi.


"Mbak, kalau boleh tau, tadi itu siapa ya? Manager kamu ya?" Tanya Fely penasaran.


"Itu Pak Ammar, Bu. Pemilik kedai ini. Sedangkan saya adalah manager disini." Mulut Fely ternganga. Fely benar-benar merasa terkesima dengan ketampanan Ammar dan juga dengan usahanya.


Wanita mana yang tidak klepek-klepek, saat melihat seorang laki-laki tampan dan juga mapan berdiri di depan matanya.


Selesai memesan, Fely langsung berjalan menuju meja tempat Dion yang sudah menunggunya dari tadi.


"Lama sekali sih!" Cerca Dion tak sabar.


"Kan ngantri, Say. Nggak sabar banget sih!" Balas Fely kesal.


Setelah itu mereka sama-sama terdiam karena memang perut Dion juga sudah sangat terasa lapar.


"Gimana rencana pernikahan kita? Kok kayaknya kamu santai-santai aja sih. Tidak seantusias seperti kemarin? Apa benar kamu ada main sama Kak Sinta?" Ujar Fely, memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Apaan sih! Negatif thinking aja. Aku cuma lagi mikirin Gita, gimana nasib adikku itu, kalau sampai dia tidak jadi menikah. Siapa yang akan menanggung bebannya, dan juga bayi yang akan lahir," jelas Dion.


"Ya seharusnya emang laki-laki itu harus modal dong! kan dia yang berbuat, eh ini malah si Bagas tidak mau tanggung jawab, aneh! Terus gimana rencana pernikahan kita? aku nggak mau ya, kalau harus di undur-undur lagi. Pokoknya setelah kamu menerima hasil surat cerai dari Rasti, kita langsung menikah. Dan aku akan tinggal di rumah kamu." Dion langsung menelan salivanya dengan berat karena Fely memang belum mengetahui tentang penjualan rumah itu.


"Gimana kalau Gita duluan saja yang menikah? baru nanti kita menyusul? Oh iya Setelah menikah nanti, apa nggak aku aja yang tinggal di rumah kamu? Kan kamu anak tunggal, pastinya di rumah itu juga kosong kan?" Fely yang sedang makan, langsung tersedak saat mendengar ucapan Dion.


"Eh, hhmm... nggak usah deh. Lebih baik mandiri. Lagipula kan kamu udah punya rumah. Ngapain juga rumah itu harus dikosongkan? Lebih baik diisi saja," Dion mulai bingung mencari alasan lain.


"Aku kepengen cari suasana baru, karena nanti istriku kan juga baru. Aku nggak mau dibayang-bayangi oleh masa lalu, karena kan aku nanti akan membuka lembaran baru bersama orang baru." Sebisa mungkin Dion merangkai kata agar Fely percaya dengan ucapannya, dan tak meminta untuk tinggal lagi di rumah kenangannya bersama dengan Rasti. Karena rumah itu juga sudah berubah menjadi uang, alias dijual.


"Hhmm, so sweet. Kita bicarakan nanti deh. Gapapa kalau Gita yang mau nikah duluan, tapi aku harap kamu nggak mengutak-atik uang untuk pernikahan kita nanti." Ungkap Fely tegas. Seakan tau kalau Dion akan memakainya untuk acara pernikahan Gita. Dan Dion hanya mengangguk-angguk pasrah.


...****************...


"Dari mana saja sih, kamu! Kerjaanmu setiap hari hanya keluyuran saja! Coba gitu kalau kamu balik kerja, kamu bantu urus perusahaan Papamu yang hampir bangkrut itu! Bukan malah keluyuran nggak jelas terus!"


Hardik Carol pada Fely. Padahal Fely baru saja sampai di rumahnya.


"Perusahaan papa tidak akan bangkrut, Mama tenang saja, Papa itu adalah seorang entrepreneur yang hebat dan juga sukses. Mama tidak perlu khawatir pada kehebatan Papa," sahut Fely santai.


"Hebat bagaimana? Kalau papamu hebat, dia tidak akan ditipu oleh seorang investor bodong! Sudahlah Fely, kamu harus berusaha sebisa mungkin mulai saat ini, agar bisa menyesuaikan diri dan kamu harus bisa terima kenyataan kalau kamu itu memang bukan anak mama dan juga Papa. Pesan Mama, jika saat ini kamu memang sudah mempunyai pasangan, lebih baik kamu buru-buru menikah dan tinggal bersamanya, karena kami akan pergi dari kota ini." Sontak saja Fely terkejut saat mendengar Carol berbicara seperti itu.


Fely tak menyahut lagi ucapan Carol, dia pun langsung pergi ke kamar dan menangis sejadi-jadinya meratapi semua nasib hidupnya.


...****************...


"Sekarang ibu lihat kamu tambah cantik, Ras?ibu sangat senang sudah membuat kamu menjadi seorang wanita yang cantik dan juga bersahaja," ucap Bu Elena. Rasti dan juga dirinya memang sedang berada di klinik kecantikan, karena mereka sudah janjian dengam Bu Zoya yang akan datang ke klinik ini.


"Terima kasih, Bu. Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan orang sebaik ibu, yang sudah berhasil merubah pola pikir dan juga perjalanan hidupku." Sahut Rasti, dan Bu Elena pun tersenyum bahagia.


Bu Elena sangat senang, karena semenjak ada Rasti, dia jadi merasa seperti mempunyai seorang anak.


Tak lama Bu Zoya pun sudah datang.


Bu Zoya dan Bu Elena pun langsung berbincang-bincang bersama dengan Rasti di ruangannya Bu Elena. Bu Zoya mengundang Bu Elena dan juga Rasti untuk datang ke acara pesta ulang tahunnya dua hari lagi dan acara itu akan diadakan di sebuah Ballroom hotel mewah di dekat pusat kota. Dan yang pastinya akan meriah sekali.

__ADS_1


...****************...


Dua hari kemudian.


Rasti kini sedang bercermin di depan sebuah meja rias di dekat kamarnya.


Dia akan pergi ke pesta ulang tahun Bu Zoya, bersama dengan Della dan juga Ibu Elena, serta kedua orang tuanya Rasti.


Awalnya kedua orang tua Rasti tidak mau ikut, tapi dipaksa oleh Rasti agar mereka juga turut serta berkumpul bersama-sama disana.


Penampilan Rasti hari ini memang nampak cantik sekali. Bu Zoya memang menyuruh semua tamu pesta yang hadir dengan memakai dresscode.


Rasti memakai gaun berwarna biru laut, sesuai dresscode permintaan Bu Zoya. Gaun cantik Rasti dipadukan dengan pashmina silk yang lembut dan juga berkilau, serta polesan make up yang natural namun elegan. Semua itu sukses membuat tampilan Rasti semakin terlihat sempurna dan lebih elegan. Membuat siapa saja yang memandang tak alan pernah merasa bosan.


Sesampainya di sana, rombongan Bu Elena pun langsung menemui si tuan rumah, yaitu Bu Zoya.


Bu Zoya sangat terpukau saat melihat penampilan Rasti yang begitu cantiknya.


Dalam hatinya, Bu Zoya benar-benar mengharapkan kalau suatu saat nanti yang akan menjadi jodoh Kenzo adalah Rasti. Meski dia tahu kalau Rasti itu bukan seorang Gadis, karena Bu Elena anak telah bercerita pada Bu Zoya tentang masa lalu Rasti.


Selesai berbincang-bincang dengan Bu Zoya, Rasti pun meminta izin untuk pergi ke toilet.


Manik Mata Rasti mencari-cari sosok seseorang yang dari tadi ingin la temui, tapi sayang belum muncul juga dari tadi.


"Aku kangen sama kamu, Ken!" Seorang perempuan memeluk erat Kenzo. Dan Rasti tak sengaja melihatnya. Mereka tak jauh dari tempat Rasti yang sedang berdiri.


"Ngapain kamu kesini lagi, Sherin? Setelah sekian lama kamu menghilang ninggalin aku begitu saja," Kenzo menjawab datar. Dan langsung berusaha melepaskan pelukan Sherin.


"Maafin aku, Ken. Ada banyak alasan yang nggak bisa aku jelasin sama kamu, dan sekarang aku balik lagi ke sini cuma untuk menjalin hubungan kita yang dulu sempat terpisah," Kenzo membuang muka, tak peduli dengan ucapan Sherin.


Saat Kenzo menoleh ke arah kanan, dia pun langsung terkejut karena melihat Rasti yang sedang berdiri sambil memperhatikannya.


Kenzo mendadak dapat ide untuk menghindari Sherin. Dengan langkah gugup, Kenzo pun langsung menuju ke arah Rasti dan meninggalkan Sherin begitu saja. Sherin pun langsung mengikuti Kenzo.


"Hai, Sayang? Kenapa kamu datangnya lama sekali? Kan aku udah nungguin kamu dari tadi," Rasti yang tak siap dengan kedatangan Kenzo yang tiba-tiba dan juga ucapan Kendo yang seperti tadi membuat dirinya semakin tergugup. Rasti bingung mau menjawab apa.

__ADS_1


Kenzo langsung menggandeng bahu Rasti dan mendekatkan pada dirinya. Membuat Sherin merasa kesal.


"Oh ya, Kenalkan, Rin. Ini calon istriku. Maaf ya, kita tidak bisa melanjutkan hubungan yang kamu bilang itu. Karena sebentar lagi kami akan menikah dan aku harap kamu bisa move on secepatnya." Ucapan yang keluar dari mulut Kenzo sangat menohok di hati Sherin dan membuat Sherin merasa kesel lalu langsung pergi meninggalkan Kenzo dan juga Rasti.


__ADS_2