Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Mendapatkan Fakta


__ADS_3

"Kenapa Dion?" Tanya Bu Marni penasaran.


"Kenapa, Mas?" Fely ikut menimpali.


"Mas Rino sudah menjual mobil aku ke penadah, Bu. Mas Rino benar-benar br*ngs*k!" Bu Marni pura-pura terkejut. Padahal memang sebelumnya dia sudah tau akan hal itu.


Awalnya Bu Marni sempat marah pada Rino, Bu Marni tahu kalau mobil Dion dijual oleh Rino. Tapi setelah Rino memberikan sedikit uang dari hasil penjualan mobil itu pada Bu Marni, Bu Marni pun langsung terdiam dan tak terlalu. banyak bicara lagi.


Bu Marni memang benar-benar contoh orang tua yang tamak akan harta dan materi.


"Apa?! Mobil kamu dijual, Mas! Kurang ajar sekali sih, Mas mu itu! Serakah!" Fely mengusap pelipisnya yang tiba-tiba merasa pusing. Baru saja menikah, sudah banyak sekali masalah yang datang menghampirinya.


"Aku akan cari Mas Rino dan meminta uang hasil penjualan mobil itu!" Dion pun segera pergi untuk berangkat kerja, sekalian mencari keberadaan kakaknya.


...****************...


Dion sudah pergi bekerja, dan kini tinggallah Fely dan Bu Marni di rumah. Gita juga sudah pulang ke rumah Bu Ratna, karena dipaksa oleh Bagas.


"Bu, mana ATM Mas Dion? Sini,biar aku aja yang pegang!" Paksa Fely.


"Loh kok dipinta lagi? Kan udah dikasih Dion ke ibu. Ngapain kamu pinta lagi? Sudahlah, biar ibu saja yang atur. Dion itu kan anak ibu, dan kamu juga sudah punya gaji sendiri," tolak Bu Marni tegas.


"Ya tapi nggak bisa gitu dong, Bu. Saya ini kan istrinya Mas Dion, dan saya juga berhak mengatur keuangan suami saya," Fely tetap ngotot dengan pendiriannya.


"Kamu itu orang lain yang baru masuk ke keluarga ini. Kenapa kamu segitunya sih, sampai mau menguasai uang suami kamu? Rasti aja dulu nggak seperti itu kok!" Mata Fely membelalak, tak menyangka Bu Marni akan berkata seperti itu.


"Loh kok ibu banding-bandingin aku sama si Rasti? Dia itu orang kampung dan Aku ini orang kaya. Jadi beda jauh ya, Bu! Jangan samakan aku dengan orang kampung itu!" Tampik Fely kesal.


Saat mereka masih berseteru, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah Bu Marni. Dan Bu Marni pun segera ke depan untuk melihat siapa yang datang.


Ceklek! Ternyata yang datang adalah Bu Carol, mamanya Fely.


Wajah Bu Marni yang tadi merengut, langsung berubah total, karena tak enak ada besannya.


"Selamat siang, Bu Marni. Fely nya ada?"


"Siang, Bu Carol. Sini masuk. Fely ada kok di dalam. Dia masih istirahat, mungkin masih kecapean." Bu Carol hanya tersenyum dan langsung segera masuk ke rumahnya Bu Marni.


Setelah Bu Marni mempersilahkan besannya untuk duduk, dia segera ke belakang memanggil menantu barunya itu.


"Mama?" Fely langsung berhambur memeluk mamanya. Karena hari ini mamanya akan pamit, dan akan segera pindah ke luar negeri. Rumah yang mereka tempati juga akan disita. Jadi secepatnya harus dikosongkan.


"Fel. Bisa kita bicara berdua saja?" Ucap Bu Carol, sambil melirik ke arah Bu Marni.


"Eh, hmm... Bu, aku boleh kan bicara sebentar sama mama?" Bu Marni pun akhirnya pergi ke belakang, walau dengan wajah yang kesal.

__ADS_1


"Ini uang hasil resepsi kalian. Mama harap kamu simpan baik-baik uang ini. Dan semoga bisa jadi bekal untuk kamu kedepannya. Masalah semua kekurangan uang resepsi, kamu serahkan saja pada suamimu itu. Karena memang sudah menjadi tangung jawab dia. Kamu jaga diri baik-baik ya? Mama sayang sama kamu." Fely tak dapat membendung air matanya, saat Carol mengucapkan selamat perpisahan. Dia kini benar-benar merasa sendiri. Tak ada lagi sosok dua orang tua yang memanjakannya.


"Mama pamit ya? Kalau kamu mau mencari ibu kandungmu, tanyakan saja detailnya di Panti Asuhan Kasih Ibu," pesan Carol pada Fely.


"Aku tak akan mencarinya, Ma. Biarkan saja aku sendiri sampai mati. Mama jaga diri baik-baik ya? Aku juga sayang sama mama." Kini mereka saling berpelukan lagi. Meluapkan sebuah rasa, yang nantinya mereka akan sangat jarang bertemu.


Bu Marni yang tidak pergi, dia menguping di sebalik dinding. Ketika Fely dan Carol membicarakan rahasia terbesar Fely. Yang ternyata bukan anak kandung, pasangan kaya raya yang telah bangkrut itu.


"Anak angkat, dan bangkrut? Maksudnya mereka gimana?" gumam Bu Marni cemas.


...****************...


Sherin sudah datang ke rumah Bu Zoya. Sedangkan Bu Zoya belum juga pulang dari acaranya.


Kenzo sudah mulai jengah, saat menunggu mamanya yang juga pulang. belum


"Hai, Ken. Apa kabar?" Kenzo hanya melengos. Malas untuk bicara.


"Kamu berubah sekali sih, semenjak punya hubungan sama janda itu," kini Kenzo menatap Sherin dengan tatapan emosi.


"Memangnya kenapa kalau janda? Ada yang salah? Lebih baik janda tapi terhormat. Daripada gadis tapi rasa janda!" Sahut Kenzo sinis.


Kata-kata Kenzo berhasil melukai hati Sherin lebih dalam lagi. Dia memang dulu bersalah karena telah meninggalkan Kenzo demi pria bule di sana. Namun kini dia menyesal, dan ingin mengulang kisahnya kembali pada Kenzo. Tapi Kenzo malah sudah punya calon istri yaitu Rasti.


"Apa maksud kamu, Ken? Kenapa kamu tak mau membuka hatimu dan memaafkan aku sama sekali?" Sherin mulai mengeluarkan jurus andalannya yaitu menangis.


"Kalau kamu nggak maafin aku. Akan aku pastikan perempuan itu juga nggak akan bisa mendapatkan kamu, Ken!" Ancam Sherin.


"Terserah!" Kenzo pun langsung pergi Sherin sendirian. Tak lama Casie pun datang menghampiri Sherin yang masih menangis.


Kenzo bergegas menuju ke mobilnya. Niat dia ingin menjemput mamanya, karena Bu Zoya sangat lama sekali.


Namun setelah sampai di garasi, Kenzo baru menyadari kalau kunci mobilnya ketinggalan. Mau tak mau akhirnya dia pun kembali lagi masuk ke dalam rumah.


"Kenapa bisa ketahuan sih, Kak? B*d*h!" Hardik Sherin pada Casie.


Kenzo yang tak sengaja mendengar Sherin dan Casie sedang berbicara serius. Langsung saja menghentikan langkahnya.


"Kakak juga bingung. Kenapa si Anton jadi seteledor itu! Masa menculik anak kecil saja bisa ketahuan. Kakak takut kalau Kenzo sampai tau dengan semua ini! Bisa m*t* kita." Ucapan Casie berhasil membuat Kenzo meradang. Ternyata mereka berdua dalang dibalik penculikan Della.


Tangan Kenzo mengepal keras. Berusaha menahan emosinya. Agar Casie dan Sherin merasa kalau Kenzo belum tau sama sekali tentang hal ini.


Kenzo dengan cepat mengambil ponsel, di saku celana panjang yang ia kenakan. Dan merekam mereka berdua, dengan bersembunyi.


"Aku belum sempat mengancam janda itu, agar dia menjauhi Kenzo. Dan aku melepaskan putrinya. Tapi anak buahmu sangat bod h. Hanya membuatku emosi, dan membuang uang percuma!" kesal Sherin. Karena semua rencananya gagal, untuk membuat Rasti terpisah dengan Kenzo.

__ADS_1


"Lupakan, dia tutup mulut saja. Sudah cukup membuat kita aman.


Bagaimana jika kita di seret masuk penjara, aku tidak mau!" ucap Casie.


"Tapi aku ingin Kenzo, kembali." rengek Sherin. Perasaannya sangat menggebu. Dia menginginkan Kenzo menjadi miliknya.


"Kita pikirkan rencana lain, dan lebih matang dari sebelumnya. Jangan menyerah, peluangmu masih ada!" ujar Casie mencoba menenangkan Sherin.


"Mereka itu cuma pura-pura, aku pernah mendengar obrolan Kenzo. Tapi sepertinya Kenzo sudah mulai menaruh hati padanya," tutur Sherin yang kala itu mendengar pembicaraan Rasti dan Kenzo.


"Pasti Kenzo, sudah di rayu oleh dia, menggunakan tub*hnya! Sehingga adik sepupuku itu menjadi tol*l!" cerca Casie.


Kenzo menyimpan rekaman tadi. la tersenyum smirk.


"Kalian dalang semua ini, tunggu kejutan dariku!" gumamnya.


...****************...


Gita gelisah. Dia mengunjungi Sinta untuk di antarkan ke rumah mertuanya. Usai acara resepsi kemarin. Bagas tak kunjung menjemputnya, dari rumah sang Ibu. Sudah hampir 3 hari di situ.


Awalnya dia di ajak pulang, oleh suaminya itu. Namun ternyata dia di antar, ke rumah Ibunya. Gita kira akan di bawa pulang ke rumah suaminya, tapi tidak.


"Mbak, antarin aku lah. Kalau bilang sama Ibu. Nanti dia marah, karena Ibu tak setuju jika aku kembali pada Mas Bagas!" pinta Gita yang merayu Sinta.


"Iya, ayo deh! Kasian juga aku ngeliat kamu," Sinta bangkit dari duduknya untuk bersiap.


"Fani, Vino kalian di rumah aja ya. Makan itu goreng sosis aja, Mama mau pergi ada urusan!" ujar Sinta pada kedua anaknya, yang sedang menonton film kartun di televisi.


Fani hanya melirik sekilas dan mengangguk.


...****************...


Gita dan Sinta hampir sampai. Terlihat dari kejauhan, rumah Bagas sangat ramai. Dan mengejutkan ada dekorasi ala pernikahan di depan sana.


"Mbak, itu kenapa rame? Siapa yang nikah?" ucap Gita dengan jantungnya berdegup kencang tak karuan.


"Bagas gak punya saudara lain?"


"Gak Mbak, dia anak tunggal!"


"Si Bagas, atau Bapaknya kali nikah lagi!" sahut Sinta dan memacu sepeda motor untuk segera sampai dan mencari parkiran.


"Gak mungkin Bapak, sembarangan kamu Mbak!" tampik Gita.


"Terus Bagas, yang nikah?"

__ADS_1


"Mbak!" teriak Gita menahan tangis.


Mereka berdua gegas menuju lokasi, rumah Bu Ratna yang sudah di pasang pelaminan.


__ADS_2