Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Hari kesialan


__ADS_3

"Rasti?" gumam Dion dan menatap pada istrinya.


Diam-diam Dion mencubit tangannya sendiri, untuk memastikan jika ini bukanlah mimpi.


Della hanya diam dan tidak menyapa ayahnya. Sebab dia kesal pada Dion. Yang selalu tidak perhatian pada Rasti dan juga dirinya.


"Itu kan, Mbak Rasti! Kenapa dia bisa dengan Bu Elena? Janda kaya raya itu!" ujar Gita berkata pada ibunya.


"Pantas saja Rasti, Ibu lihat dia berubah. Ternyata sekarang dia itu dekat dengan Bu Elena," ujar Bu Marni yang menyimpulkan kedekatan mereka.


"Bisa saja Mbak Rasti, kerja jadi pembantu di rumahnya Bu Elena. Jadinya dia punya uang, atau kasbon dulu!" ujar Gita dan menertawakan kakak iparnya itu. Ia mengira jika Rasti adalah pembantu.


"Iya kan, makanya dia ikut Bu Elena pergi ke mall!" ucap Bu Marni yang sependapat dengan Gita.


"Apalagi yang bisa dia lakukan, kecuali menjadi pembantu. Mbak Rasti itu kan tidak punya skill l!" cicit Gita yang masih saja menghina Rasti.


"Tuan Kenzo!" sapa Fely ramah dan tersenyum. Walau tadi ia sempat kaget, melihat Bos-nya bisa bersama dengan Rasti.


Kenzo hanya menatap Fely sekilas. Dia benar-benar tidak bisa bersikap ramah, dan kaku. Pria itu selalu membuat Fely minder. Karena bagaimanapun Kenzo itu adalah bosnya, dan Fely tertarik pada Kenzo.


Kenzo sangat tampan dan juga kaya raya, tapi Fely tidak bisa mendekatinya sama sekali. Kenzo tidak tertarik pada dirinya. Fely sering mencari perhatian di kantor, tak pernah sedikitpun Kenzo memperhatikan dirinya.


Bahkan karyawan perempuan di kantor, juga selalu mengagumi Kenzo. Tapi mereka sadar jika mereka bukanlah tipe Kenzo. Fely saja yang anak orang kaya dan selalu tampil modis, tidak bisa memikat hatinya.


Kabar beredar jika Kenzo itu banyak mempunyai mantan, dari model dan juga wanita-wanita cantik kelas atas.


"Tante, Mama Tuan Kenzo ya? Nyonya Zoya Davis. Perkenalkan aku Fely, salah satu karyawan di perusahaan anda!" ucap Fely memperkenalkan diri.


Dia hanya pernah bertemu dengan Bu Zoya dalam sebuah acara kantor, 2 bulan yang lalu.


Bu Zoya menyambut ramah uluran tangan Fely. Berbeda dengan putranya. Fely kemudian kembali menatap Kenzo. Membuat Dion kesal, karena Fely tak bisa menutupi kekagumannya pada Kenzo di hadapannya.


"Kita pernah bertemu?" ucap Bu Zoya berbasa-basi.


"Pernah Tante, saat acara kantor!" jawab Fely.


"Ehemmm!!" Dion berdehem membuat Fely bersikap normal, dan mengalihkan pandangannya.


"Rasti, kamu kenapa ada di sini?" tanya Dion yang menegur Istrinya. Dion tidak suka Rasti bersama Bu Elena.


Bahkan Rasti dari segi penampilan, dan juga sikapnya sudah membuat kesal. Ditambah lagi sekarang pergaulannya, juga berubah. Dia dekat dengan Bu Elena.


"Lebih baik kamu sekarang pulang, denganku!" ujar Dion menghampiri istrinya.


"Rasti akan pulang bersama, saya!" ujar Bu Elena mencegah Dion untuk memaksa Rasti.


Dion sangat menampakan sikap bengisnya, pada sang istri.


"Maaf Bu Elena, kalau saya lancang. Tapi Rasti ini adalah istri saya. Dan saya berhak untuk mengajaknya pulang. Kenapa ibu membawa Rasti kemari, sebenarnya apa hubungan kalian. Sehingga sedekat ini. Apakah ibu juga yang mengajarkan, Rasti untuk membangkang pada suaminya? Sehingga dia sekarang mampu melawan saya, dan menjadi istri durhaka!" ujar Dion mencecar Bu Elena.


Dion menduga jika Bu Elena adalah biang, yang berhasil mengubah Rasti. Menjadi seperti sekarang.


"Jaga ucapanmu, Mas! Bu Elena adalah orang yang baik!" cetus Rasti.


"Kamu yang jaga ucapan, Rasti! Kamu melawan lagi padaku, ternyata dia yang menjadi penyebab kamu berubah. Dan berani melawanku! Istri macam apa kamu, sekarang pulang ikut bersamaku!" hardik Dion.


Bu Zoya hanya bisa memperhatikan mereka. Karena tidak tahu apapun. Rasti ingin menangis, sebab menahan malu dengan sikap Dion.


"Dion, kamu jangan memaksa Rasti. Kami itu ada urusan penting," ujar Bu Elena memberi pengertian.


Apa? Aku tidak salah dengar, Rasti itu bukan perempuan yang pantas bergaul dengan ibu Elena. Seorang wanita kaya raya, istri saya ini hanya wanita rumahan. Dia hanya mengerti tentang bumbu dapur, dan mengurus anak saja. Apa Ibu telah meracuni pikiran Rasti. Apa tujuannya!" ucap Dion dan semakin menuduh Elena.

__ADS_1


"Cukup Mas, kamu jangan membuatku semakin malu" ucap Rasti penuh penekanan, agar Dion diam. Dan berhenti dengan pikirannya yang picik.


Rasti merasa sangat dibuat malu oleh Dion. Di hadapan orang-orang yang akan membantunya. Mengajak ia untuk join bisnis. Karena beberapa hari yang lalu. Rasti sempat curhat pada Bu Elena.


Jika dia mempunyai cita-cita ingin mempunyai salon sendiri, namun Rasti sadar dia itu belum mempunyai ilmu. Bagaimana caranya untuk membuka sebuah usaha. Karena itu Bu Elena sebagai wanita yang mempunyai banyak bisnis, dan sukses. Ingin mengajak Rasti karena dia juga mempunyai modal, dan bisa ikut menanam saham. Bu Elena berencana mengajari Rasti untuk membangun sebuah bisnis.


"Kamu turuti apa kata suamimu, jika Diom menyuruh kamu pulang, maka kamu harus mengikuti perintahnya! Menantu tidak tahu diri!" cerca Marni yang membentak Rasti.


Mata Rasti terasa panas, karena menahan malu dan sesak di permalukan. Seakan dia adalah istri pembangkang.


Fely tersenyum sinis melihat Rasti yang dipermalukan, oleh suaminya sendiri.


"Pulang bersamaku!" teriak Dion yang sudah merasakan emosi, tidak bisa tertahan lagi.


"Aku bisa pulang sendiri tanpamu!" jawab Rasti menolak Dion.


"Kamu itu istriku, jadi kamu harus menurut!" Diom menarik tangan Rasti dengan kuat.


"Ayah!" pekik Della yang takut melihat ayahnya, berbuat kasar pada ibunya.


"Jangan sakiti, Ibuku. Kenapa Ayah selalu marah pada ibu? Kenapa Ayah selalu menyalahkan ibu. Apa salah ibu!" ujar Della dam berlindung di belakang tubuh Rasti.


"Hei, singkirkan tanganmu. Apakah kamu tidak malu memperlakukan istrimu secara kasar, pria macam apa kamu!" ujar Kenzo yang menatap Dion dengan tajam.


Membuat nyali Dion seketika ciut, dan melepaskan pegangannya dari tangan Rasti.


Rasti seketika merasa terpana, karena Kenzo berhasil membuat Dion menunduk dan melepaskan cengkraman pada tangan Rasti.


Dion tersudut karena Rasti di bela oleh Bos-nya.


"Maaf Pak! Tapi dia itu istri saya, dan dia harus menuruti apa perkataan saya," ujar Dion memberanikan diri untuk berbicara.


Dion menatap Della. Putrinya itu bahkan enggan melihat ayahnya sendiri. Karena selalu berbuat kasar, dan berteriak jika berbicara.


"Bu Elena, lebih baik ibu itu jauhi saja Rasti. menantu saya itu tidak cocok dekat dengan, Ibu!"


"Kenapa ibu dekat dengan dia, Rasti itu kampungan. Apa Ibu tidak malu jalan dengan dia, saya saja menjadi mertuanya kesal. Karena tingkahnya!" ujar Bu Marni yang justru semakin menjelekkan menantunya di hadapan orang-orang.


"Cukup, kenapa ibu selalu berusaha untuk mempermalukan aku? Apakah aku seburuk itu, kurang apa aku mematuhi anakmu, selama ini? Kurang sabar apalagi aku menghadapi keluarga kalian!" Rasti berjalan menghampiri Fely.


"Lihat wanita ini, wanita yang berani bermesraan dengan suami orang. Dan memamerkan hubungannya!" tunjuk Rasti pada wajah Fely.


Fely terbelalak melihat Rasti yang berbicara seperti itu, padanya.


Fely menyingkirkan telunjuk Rasti.


"Apa maksudmu!" ujar Ferly dan berharap Rasti tidak berbicara lagi.


"Kamu pelakor yang merusak rumah tanggaku, minta di nikahi. Aku sudah menyerahkan suamiku untukmu, bahkan Mas Dion sendiri yang sudah menceraikan aku semalam. Karena dia ingin menikahimu, dan kamu juga disenangi oleh mertuaku. Kurang apalagi?" cecar Rasti membuat Fely tak menyangka. Kini ia yang merasa di permalukan.


"Bahkan aku merelakan suamiku, demi perempuan lain yang Ibu sukai!" ucap Rasti kembali.


"Rasti diam!" hardik Dion.


"Kenapa Mas, kamu malu? Aku sudah memintamu diam Mas. Tapi kamu terus bicara dan menuduhku. Tidak salah juga kan mereka tahu tentang kebusukanmu, ini impas!" ucap Rasti.


"Kita pulang, jangan bicara ngawur. Siapa yang selingkuh!" Dion berusaha mengelak dan tidak mau di ketahui skandalnya dengan Fely.


"Sikap kalian yang membuat aku, berubah. Kenapa kamu memaksaku untuk pulang? Bukankah kamu sudah menemukan mainan baru, yang lebih kamu cintai dan bisa membuatmu dimabuk kepayang, hingga melupakan keluarga kecilmu?" ujar Rasti. Dion mengembuskan nafas gusar.


Rasti mengeluarkan ponselnya, dari dalam tas. Ia mencari video barusan, ketika Dion dan juga Fely jalan saling merangkul.

__ADS_1


Bu Zoya melihat itu, ia menangkupkan kedua tangannya menutupi mulut. Wanita yang berada di hadapannya benar, seorang pelakor.


Dion Dan Fely tertegun. Tak bisa mengelak.


"Untuk ibu, berhenti mengurusi apa yang aku lakukan. Lebih baik Ibu mempersiapkan rencana pernikahan mereka, karena sebentar lagi ibu akan mendapatkan menantu yang selama ini Ibu idamkan. Tidak seperti aku, yang hanya wanita kampung!" ucap Rasti.


Fely menatap Bu Zoya dan juga Kenzo. Apa kata mereka, jika dia ketahuan menjalin hubungan dengan suami orang. Dan pria itu bekerja di perusahaan mereka.


Bu Elena tersenyum, dia salut dengan keberanian Rasti.


Walaupun harus mengungkap bobrok suaminya di depan bosnya sendiri.


"Rasti diamlah kamu jangan berbicara lagi, kamu sadar tidak sedang bicara di hadapan siapa? Karir suamimu bisa hancur. Jika kamu terus berbicara!" ujar Fely lirih. Rasti membuat citra buruk pada


"Kenapa kalian takut, kalian saja berani menunjukkan hubungan kalian di depan umum. Bahkan sering mengunggah foto berdua, kenapa sekarang kalian takut. Harusnya kalian pamer lagi dong, ayo bermesraan lagi di depanku!" tantang Rasti.


"Aku mohon, diamlah!" tekan Dion.


"Suami macam apa yang harus aku patuhi? Sedangkan kamu tidak bisa menjadi imam yang baik, di dalam sebuah rumah tangga!" Rasti kembali berujar.


Dion benar-benar tak bisa berkutik. Ingin dirinya lenyap saja dari permukaan bumi ini.


Kenzo menggaruk ujung alisnya, dia cukup salut dengan keberanian perempuan ini.


"Oke berhentilah bicara, sekarang kita bisa selesaikan masalah ini di rumah. Kamu jangan membuatku malu di depan bosku!"


Dion kembali mencengkeram tangan Rasti.


"Lepaskan, aku bisa pulang sendiri. Della ayo pulang bersama ibu," ajak Rasti.


"Bu Elena, Bu Zoya dan Pak Kenzo. Maafkan atas kejadian ini, aku sangat meminta maaf. Semua ini di luar kendaliku," Rasti meminta maaf dan menangkupkan kedua tangannya, setelah itu dia menggandeng Della untuk pergi dari mall itu.


"Rasti tunggu! Ibu akan pulang bersamamu," Bu Elena memanggilnya.


"Bu Zoya, mungkin kita akan bertemu di lain waktu. Maaf waktunya tidak tepat sekarang," ujar Bu Elena.


Bu Zoya mengangguk dan dia mengerti, perempuan itu tidak marah sama sekali. Justru ia merasa kasihan pada Rasti.


Kenzo dan Bu Zoya juga meninggalkan tempat itu.


"Jadi gimana Dion, itu bos kamu beneran? Rasti buat kamu malu!" gerutu Bu Marni.


Dion dan Fely tak bisa berkata apapun. Dan memutuskan untuk pulang.


Dion pulang ke rumah. Ia membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.


"Rasti!" Dion berteriak memanggil nama istrinya, namun tidak ada jawaban.


Ia berjalan menuju kamar, tapi tidak ada Rasti di sana. Dion melangkah menuju dapur juga, tidak ia dapati istrinya.


"Della!" panggil Dion memanggil putrinya, juga sama tidak ada jawaban.


Dion kali ini menuju pada kamar Della. Tidak ada putrinya di situ. Dion memeriksa lemari Della. Sebagian pakaiannya sudah kosong.


"Kemana istri dan anakku?" gumam Dion khawatir.


Ponselnya berdering. Dion mengambil ponselnya dari dalam saku celana, ada panggilan dari Gita.


"Halo Git! Apa, Ibu jatuh, di mana? Mas akan kesana!" jawab Dion raut wajahnya berubah panik setelah mendapat kabar dari Gita.


"Sungguh sial aku hari ini. Bangs*t!" umpat Dion.

__ADS_1


__ADS_2