Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Pembelaan Kenzo


__ADS_3

"Selamat ya, Ras? Ibu nggak nyangka loh kalau lelaki dingin seperti Kenzo akan jatuh hati sama kamu. Tapi kalian serasi banget sih," imbuh Bu Elena, saat mereka sudah pulang dari pesta ualng tahun Bu Zoya.


Kini rombongan Bu Elena sudah sampai di rumah Rasti. Bu Elena memang sengaja mampir ke rumah Rasti, karena memang ada yang mau dia bicarakan.


Della, Ibu, dan juga Bapak Rasti telah berpamitan untuk istirahat ke kamar masing-masing. Sedangkan Rasti masih berbincang-bincang dengan Bu Elena di ruang tamu.


"Aku juga nggak nyangka, Bu." Sahut Rasti datar. Dia bingung mau menjelaskannya pada Bu Elena. Karena tak enak juga pada Kenzo.


"Ibu sering dengar cerita Bu Zoya, kalau Kenzo itu sangat susah untuk membuka perasaannya pada wanita lain. Semenjak mantannya itu pergi meninggalkan dia begitu saja. Ibu salut sih sama kamu, kamu sudah berhasil membuka hatinya lagi, yang mungkin saja dulunya kosong dan kini menjadi lebih berwarna," ujar Bu Elena lagi, dengan tatapan penuh harap pada Rasti.


Sikap Bu Elena benar-benar membuat Rasti menjadi semakin bingung untuk menjelaskan yang sebenarnya.


"Ikuti saja dulu alurnya, Bu. Kalau jodoh nggak kemana." Rasti menjawab sebisanya. Menutupi semua yang sebenarnya terjadi.


"Semoga kalian berjodoh ya? Aamiin. Oh iya, ibu kesini cuma mau bilang, kalau rumah ini sebaiknya kamu cicil aja," Rasti langsung terperangah dengan ucapan Bu Elena.


"Maksudnya, Bu?"


"Maksud ibu, rumah ini lebih baik kamu saja yang beli, dan uangnya bisa kamu cicil pada ibu,"


"Tapi kan, rumah ini mahal sekali, Bu? Harus sampai berapa lama aku mencicil rumah ini?" Bu Elena langsung mengusap pundak Rasti.


"Ibu tidak akan kasih tenggang waktu. Sebisa kamu saja untuk mencicilnya. Jadi, kamu tidak perlu repot-repot lagi mencari rumah lain," Rasti mengusap sudut matanya yang mulai basah. Dia benar-benar merasa terharu dengan kebaikan Bu Elena.


Wanita paruh baya, yang Allah hadirkan ke dalam hidupnya, membantu dia memandang dunia dengan sudut pandang yang berbeda.


Bu Elena juga sudah membantunya untuk masuk ke dalam dunia bisnis dan juga bergabung bersama dengan orang-orang hebat yang maju.


"Terimakasih, Bu. Terimakasih atas semua kebaikan yang telah ibu berikan. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah ibu berikan pada aku." Ujar Rasti penuh haru. Lalu Rasti pun langsung memeluk Bu Elena, dan Bu Elena pun menyambutnya.


"Sama-sama sayang. Kamu sudah ibu anggap sebagai anak sendiri. Semenjak kehadiran kamu juga, Ibu jadi tidak merasa sendirian lagi." Pungkas Bu Elena. Karena anak dan cucunya, tinggal berjauhan sekarang. Sibuk dengan hidup mereka.


Allah memang Maha Adil. Saat kita bisa bersabar saat diberikan ujian, maka Allah pun akan menggantikannya dengan beribu kenikmatan, yang mungkin kita sendiri juga tak pernah menyangkanya.


...****************...


"Assalamualaikum, aku pulang, Bu." Tegur Della, pada Rasti yang sedang sibuk memilih-milih baju untuk segera pergi ke klinik kecantikan.


"Waalaikumsalam, sayang." Rasti segera memeluk putri kecilnya itu, dan sebentar lagi Della akan bertumbuh menjadi dewasa.


"Badan kamu anget ya, Nak?" Tegur Rasti, sambil memegang kening Della.


"Iya Bu. Aku boleh nggak minta sesuatu sama ibu?"

__ADS_1


"Apa sayang?"


"Aku mau dibeliin ayam goreng yang banyak, di tempat om ganteng kemarin." Ujar Della penuh harap.


"Cuma itu?" Della mengangguk.


"Oke. Ibu akan belikan ya? Kamu istirahat aja di rumah ya? Sana gih ganti baju, terus istirahat. Ibu akan segera membelikan keinginan. kamu." Perintah Rasti dengan lembut, pada putri kecilnya itu.


...****************...


20 menit kemudian Rasti telah sampai di kedai ayam goreng yang Della mau. Dan Rasti sudah melihat Ammar yang sedang berdiri dekat meja kasir dari kejauhan. Karena kedai ayam goreng tersebut berdinding kaca, jadi yang diluar bisa melihat ke dalam kedai dengan jelas. Dan kebetulan suasana kedai tersebut belum terlalu ramai.


"Silahkan, ada yang bisa saya bantu?" Tegur Ammar ramah.


"Aku pesen ayam goreng dua pack ya?" Sahut Rasti.


"Oke. Anaknya mana, Kak? Tumben nggak diajak," ucap Ammar lagi. Berusaha untuk beramah-tamah dengan Rasti.


"Oh, Della sedang sakit. Jadi dia tak bisa ikut kemari,"


"Kasihan sekali Della. Cepat sembuh ya, Kak. Salam kenal, saya Ammar," dengan pedenya Ammar mengulurkan tangannya. Namun Rasti bukannya menyambut uluran tangan Ammar, dia malah menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Rasti." Ucap Rasti, mengenalkan dirinya tanpa menyentuh.


Dengan perasaan agak malu, Ammar pun menarik uluran tangannya.


"Maaf, ini mungkin salah orderan. Karena saya hanya pesan dua pack saja," ujar Rasti pada Ammar yang sedang membuat pesanan lain.


"Itu buat Della, si anak cantik. Semoga cepat sembuh ya? Dan tentunya buat ibunya juga, yang tak kalah cantik," Rasti melongo mendengar ucapan Ammar.


"Salam untuk Della ya? Salam juga ... untuk ...." Ammar langsung pergi, lalu masuk ke dalam sebuah ruangan, dan tak meneruskan ucapannya pada Rasti. Rasti hanya diam tak mengerti maksud Ammar sama sekali.


...****************...


Saat menempuh setengah perjalanan, entah mengapa motor Rasti malah mendadak berhenti.


Buru-buru Rasti mengecek motornya yang sedang mogok tiba-tiba.


Saat Rasti sedang berjongkok untuk mengecek mesinnya. Tiba-tiba saja ada mobil yang melintasi dia, Dan Hampir saja menyerempet motor yang sedang Rasti parkirkan di pinggir jalan. Padahal motor Rasti sudah berada persis di pinggir jalan.


Rasti langsung berdiri, melihat siapa yang sengaja mau menyerempet motornya itu. Dan ternyata mobil tersebut juga berhenti tak jauh di depannya.


"Kasihan sekali mantan istriku ini! Hahaha." Ejek Dion dengan sumringah. Dibelakangnya ada Fely yang ikut turun dari mobil.

__ADS_1


"Kenapa? Motornya mogok ya? Beli mobil dong! Kacian ...."


Mereka berdua mentertawakan Rasti.


"Apa yang harus dikasihani? Biasa aja tuh!" Sahut Rasti cuek. Dia masih fokus pada motornya.


"Kasihan ya, Mas, mantan istrimu? Semenjak ditinggal kamu, dia jadi gembel sekarang. Palingan dia juga sekarang cuma jadi pembantunya Bu Elena, yang gajinya tak seberapa. Sangat miris hidupmu Rasti!" Ejek Fely seenaknya.


"Masa? Affah iyah? Lebih miris mana, dari pada menjadi pelakor di rumah tangga orang? Kalian kapan nikah? Jangan lupa undang-undang ya?" Sahut Rasti telak. Dan sukses membuat bola mata Fely melotot dan hampir keluar dari tempatnya.


"Aku bukan pelakor ya! Mas Dion memang lebih tau, mana yang berlian dan mana yang hanya batu selokan! Kamu itu cuma ibu rumah tangga yang bau bawang, yang hanya menunggu jatah dari suaminya. Sangat berbeda jauh dengan aku yang keturunan orang kaya dan juga wanita karir!" Ucap Fely, berusaha menyombongkan dirinya.


"Bagus dong wanita karir. Jadi nanti, kalau suatu saat kamu dikasih jatah pas-pasan oleh Mas Dion. Kamu nggak kepusingan. Hahaha," bukannya marah, Rasti malah mengejek Fely balik. Dan sukses membuat Dion terperangah.


"Apa maksud kamu, Rasti!" Dion tak terima Rasti berbicara seperti itu.


Tak lama ada sebuah mobil mewah keluaran terbaru, yang kini ikut memarkirkan mobilnya di belakang motornya Rasti. Jadi motornya Rasti diapit oleh dua mobil. Si pemilik mobil itu pun langsung turun, dan ternyata dia adalah Kenzo.


Kenzo langsung menghampiri Rasti Dia sangat geram dengan kelakuan Fely dan Dion.


"Sayang. Kamu ngapain disini? Kan tadi udah aku bilang, kalau kamu aku antarkan saja untuk pulang ke rumah. Tapi kamu malah menolaknya," tegur Kenzo pada Rasti, sambil merangkul bahu Rasti.


Rasti kaget, tapi Kenzo spontan merangkulnya. Dia ingin lepas, tapi Kenzo mengeratkan tangannya pada bahu Rasti.


Perlakuan Kenzo pada Rasti, sukses membuat Dion dan juga Fely menjadi ketar-ketir dan tak menyangka kalau Kenzo akan ada hubungan spesial dengan Rasti.


"Pak Kenzo? Pak Kenzo punya hubungan sama Rasti?" Tegur Fely tak terima.


"Memangnya kenapa? Ada yang salah?" Fely tergeragap. Dia benar-benar tak menyangka kalau Rasti akan mendapatkan Kenzo. Bos besar di kantornya. Fely merasa telah kalah telak pada Rasti.


"Maaf ya, Pak. Kenapa bapak mau sama bekasan saya? Maaf kalau saya lancang?" Kini Dion yang gantian bertanya. Seolah tak terima dengan pemandangan di depan matanya.


"Tidak ada kata bekas di mata saya. Justru Rasti ini wanita mahal di mata saya. Dimana jaman sekarang jarang sekali wanita yang memiliki sifat dan juga hati yang bersih seperti dia." Kenzo semakin merekatkan rangkulannya pada Rasti, dan cukup membuat Rasti salah tingkah dengan sikap dan juga ucapan Kenzo. Apalagi kini mata Rasti dan Kenzo saling bertemu. Ada sebuah rasa yang sama-sama hadir disana. Namun saling malu untuk mengakuinya.


"Pakai dukun apa kamu, Rasti! Sampai-sampai Pak Kenzo terpikat sama kamu!" Lagi-lagi Fely berkata seperti itu.


"Sudahlah sayang. Kamu hanya akan membuang-buang waktu di sini. Lebih baik kita pergi sekarang, dan biarkan motor kamu tinggal di sini. Biar nanti aku telepon anak buahku untuk mengambil motormu di sini," Kenzo langsung menarik tangan Rasti untuk segera menuju ke mobilnya.


"Dasar erempuan mur*h*n!" Hina Fely, yang tak terima dengan perlakuan Kenzo pada Rasti.


"Kamu cukup diam, atau kamu kehilangan pekerjaan! Apa kamu tidak malu dengan video viral itu? Saranku lebih baik kalian cepat-cepat segera menikah,karena hasrat bisa datang kapan saja!" Tunjuk Kenzo pada Fely.


Wajahnya merah padam menahan kesal, karena ucapan Fely barusan pada Rasti. Sedangkan Dion hanya diam tak berkutik. Dia takut kalau banyak omong, pekerjaannya akan ikut terancam seperti Fely. Karena dia tau kalau Kenzo adalah bos besar di perusahaan tempat dia bekerja.

__ADS_1


Lalu Rasti dan Kenzo pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan mereka pun segera pergi. Sedangkan Feli hanya bisa menahan kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya.


"Kenapa kamu diam aja sih, Mas! Nggak belain aku sama sekali! Kesel deh!" Hardik Fely pada Dion.


__ADS_2