
Karena Rasti dan Kenzo sudah pergi. Akhirnya Dion pun mau tak mau pulang ke rumah Bu Marni. Perutnya terasa lapar sekali, mengingat dia sangat berusaha keras, agar Rasti mau balikan dengannya.
Saat Dion sampai di rumahnya. Terdengar suara keributan antara Bu Marni dengan istrinya yaitu Fely.
"Kamu itu bukan anak konglomerat! Kamu itu sudah jatuh miskin! Dasar pemalas!" Cerca Bu Marni.
"Ya terus kenapa kalau aku miskin? Toh, aku juga masih bekerja kok! Bukan pengangguran." Sahut Fely santai.
Kepala Dion semakin terasa pusing, karena mendengar ocehan kedua wanita yang sebenarnya dia sayangi.
"Sana nyuci sekarang! Pemalas!" Bu Marni terus-menerus mencerca Fely, karena dia merasa kesal dengan Fely.
"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali sih?" Karena tak tahan mendengar ocehan mereka berdua. Akhirnya Dion pun angkat suara.
"Ini loh, Dion. Istrimu ini malas sekali. Ibu suruh mencuci baju yang sudah menumpuk, tapi dia tak mau." Adu Bu Marni pada Dion.
"Kenapa kamu nggak mencuci baju, Fel?" Fely mendecak kesal.
"Memangnya aku ini pembantu! Seumur-umur, aku tuh nggak pernah nyuci Mas! Jadi jangan sampai pas nikah sama kamu, aku malah jadi pembantu. Lagipula kan ada ibu, kenapa nggak ibu aja yang nyuciin?" Sahut Fely seenaknya. Membuat Bu Marni semakin meradang dengan tingkah menantu barunya ini.
"Tapi kamu harus sadar diri, Fel. Kamu itu siapa? Status kamu itu apa sekarang? Ingat Fel, kamu itu cuma anak angkat dan tak punya apa-apa lagi. Hahkan harta yang kamu pegang sekarang pun, juga mungkin tidak akan cukup untuk menutupi tunggakan biaya pernikahan kita." Sindir Dion panjang lebar. Dan sindirannya cukup menohok sekali ke hati Fely.
"Loh, kok jadi aku sih yang bayar semua tunggakan biaya pernikahan kita? Itu semua utusan kamu dong, Mas! Kan kamu sebagai suami aku! Rugi banget sih, aku nikah sama kamu! Sudahlah, anak sama ibu sama saja. sama-sama nyebelin!" Lalu Fely pun pergi ke kamar Dion. Dion dan Bu Marni yang masih kesal terhadap sikapnya.
Dion kini benar-benar merasa menyesal sekali, karena telah menikahi Fely. Sudahlah dia banyak hutang sekarang. Belum lagi tunggakan untuk membayar vendor wedding kemarin. Dan mobilnya yang mau tak mau harus diikhlaskan, karena Rino sudah menjualnya.
Dion langsung terduduk di Sofa. Kedua tangannya bertumpu di kepala. Dia benar-benar merasa sangat pusing sekali.
Rasa lapar yang mendera perutnya sedari tadi, sudah diabaikannya.
Bu Marni ikut duduk disamping anaknya itu. Berusaha mendinginkan suasana yang dari tadi lumayan panas.
"Ibu menyesal, telah merestui hubungan kamu dan Fely. Lalu menceraikan Rasti. Sekarang malah seperti ini jadinya. Huft!" Ucap Bu Marni penuh sesal.
"Iya Bu. Aku juga sekarang menyesal. Tapi si Rasti sekarang sombong sekali. Apalagi dia sekarang sudah semakin dekat saja dengan si Kenzo. Pasti kalah lah aku, Bu." Sahut Dion yang patah semangat. Pandangannya datar, menatap langit-langit rumah.
"Sombong bagaimana dia? Sok jual mahal sekali jadi perempuan! Padahal dia cuma seorang janda, huh!" Gerutu Bu Marni.
__ADS_1
"Tadi aku ke rumahnya Rasti, Bu. Niatku mau bertemu dengan Della.
Tapi Bu Ratih malah melarangku untuk masuk. Sangat arogan sekali mantan mertuaku itu, bu," Mata Bu Marni mendelik.
Mendengarkan penjelasan Dion dengan serius. Mereka tak sadar, kalau ada Fely yang sedang menguping pembicaraan mereka dari balik lemari besar.
"Cuih! Sombong sekali dia! Ingin ibu lud@hi saja mukanya itu." Ucap Bu Marni yang merasa geram, dengan cerita yang Dion lontarkan.
"Iya, Bu. Jangankan dibukakan pintu pagar. Disuruh masuk pun aku nggak, Bu. Malah mereka dengan teganya membiarkan aku di luar panas-panasan. Lalu, saat aku masih bertahan di luar rumah Rasti, eh si Rasti datang sama si Kenzo. Dan Rasti dengan entengnya malah mengusir aku, bu. Dan yang lebih menyebalkan lagi, si Kenzo yang sok pahlawan itu juga sama sekali tidak membolehkan aku untuk mendekati Rasti, dan tak lama mereka pun pergi lagi entah ke mana. Aku juga tak tahu!" Tutur Dion panjang lebar.
Bu Marni merasa sangat kesal sekali dengan perlakuan mantan besannya, yaitu Bu Ratih. Dia berniat akan ke rumah Rasti, sekalian melabrak Bu Ratih.
...****************...
Tak terasa sudah hampir 3 hari, Gita tinggal di rumah Bu Salamah. Wanita paruh baya yang telah menolong Gita dari rencana b*n*h diri.
Bu Salamah mengajari Gita untuk memakai jilbab, karena menutup aurat memang sudah kewajiban sebagai muslimah yang taat.
Bu Salamah juga selalu mengingatkan Gita untuk sholat. Karena seburuk apapun hidup, jika kita melaksanakan sholat. Maka Allah akan menunjukkan jalan yang lurus, dan juga semua permasalahan akan cepat selesai.
"Oh, taro disana aja, Neng. Udah kamu nggak usah capek-capek. Kamu istirahat aja ya? Perutmu itu udah besar sekali, ibu ngeri kalau kamu kenapa-napa," tutur Bu Salamah, penuh kelembutan. Hal yang tak pernah Gita dapatkan dari Bu Marni dan juga Bu Ratna.
Ibunya Gita, yaitu Bu Marni memang menyayangi Gita. Tapi hampir setiap hari Bu Marni hanya sibuk memikirkan duniawi saja. Jarang sekali Bu Marni menyuruh Gita untuk sholat, dan bahkan dirinya sendiri pun jarang sekali untuk bersujud.
Hari-hari Bu Marni hanya dihabiskan untuk hal yang sia-sia saja. Misalnya membicarakan tetangga yang sedang kesusahan, mengumbar aib orang lain kesana-kemari. Dan juga mengurusi hidup Dion dan Rasti.
Baru kali ini Gita benar-benar merasa diperhatikan oleh seseorang yang bergelar ibu. Meski bukan ibu kandungnya sendiri.
"Gapapa, Bu. Aku nggak capek kok. Aku malah senang." Sahut Gita penuh semangat.
Gita memang tinggal di rumah Bu Salamah sejak tiga hari lalu. Gita tinggal hanya berdua saja dengan Bu Salamah. Karena Bu Salamah memang hanya mempunyai satu orang anak saja, yaitu anak laki-laki yang kini sudah menjadi PNS dan bekerja di luar kota.
Tapi hari ini Bu Salamah merasa sangat senang, karena Daffa akan segera pulang ke rumahnya. Dia sudah mengajukan cuti, dan berniat ingin segera menemui ibunya.
"Nanti, kamu nggak usah malu ya, kalau ada anak ibu. Biasa aja," pesan Bu Salamah pada Gita.
"Iya bu. Terimakasih ya, sudah mau menampung aku untuk tinggal disini. Aku benar-benar wanita yang sangat beruntung, karena sudah bertemu dengan orang tua sebaik ibu," ujar Gita, merasa terharu.
__ADS_1
"Sama-sama sayang. Ibu juga senang karena sudah bertemu dengan wanita cantik seperti kamu. Karena memang ibu tidak mempunyai anak perempuan." Bu Salamah langsung memeluk Gita. Dan Gita pun membalasnya penuh haru.
Rencananya Gita akan menjual cincin pernikahannya, untuk biaya persalinannya nanti. Karena dia tak mau banyak merepotkan Bu Salamah.
Gita juga berniat ingin menitipkan sang bayi ke panti asuhan. Lalu dia mencari pekerjaan, agar hidupnya bisa stabil lagi.
Meski ini baru rencana Gita, dan Bu Salamah pun belum mengetahuinya.
...****************...
Bu Marni berencana ingin ke rumah sakit untuk menjenguk Rino.
Dia bersiap-siap dan saat ingin memakai cincin yang disimpannya bersama dengan perhiasan yang lainnya, malah tak ada. Nihil.
Bu Marni langsung panik dia mengacak-ngacak isi lemarinya sampai berantakan. Bu Marni mencari kotak perhiasannya yang sudah tak ada sama sekali.
"Kemana kotak perhiasanku? Siapa yang berani ambil! Si*l*n! Awas saja kalau ketemu siapa malingnya." Gerutu Bu Marni seorang diri.
Bu Marni langsung menuju ke kamar Fely dan Dion. Kebetulan Dion sedang beristirahat,sedangkan Fely sedang pergi entah kemana.
"Dion! Buka pintunya Dion!" Bu Marni menggedor-gedor pintu kamar Dion tak sabar.
"Duh, ada apa sih, Bu? Ganggu aja deh!" Dion mengucek-ngucek kedua matanya yang masih terasa mengantuk.
"Perhiasan ibu hilang, Dion! Pasti istrimu yang mengambilnya. Karena di rumah ini hanya ada kita bertiga! Mana istrimu itu? Mana!" Bu Marni langsung masuk ke kamar Dion tanpa aba-aba. Mencari Fely di setiap sudut kamarnya Dion. Namun Fely memang tak ada.
"Fely lagi nggak ada, Bu. Aku juga nggak tau dia lagi kemana? Apa mungkin dia yang mengambil perhiasan ibu? Setahu aku, perhiasan dia juga banyak bu. Barang-barang mahalnya juga masih banyak. Apa mungkin dia yang ambil?" Sahut Dion, yang masih tak yakin dengan ucapan ibunya.
"Si Fely itu manusia yang sangat licik, Dion! Dia saja sudah berani menipu kita, bilangnya anak orang kaya, anak konglomerat. Padahal cuma anak angkat! Apalagi tentang perhiasan, ibu sangat yakin kalau memang dia yang mengambilnya! Awas saja kamu, Fely!" Dengus Bu Marni penuh emosi.
"Sabar bu, sabar. Nanti akan aku tanyakan pada Fely."
"Mana mau ngaku dia! Mana tas mahalnya? Biar ibu jual sekalian. Sebagai gantinya, karena dia telah mengambil perhiasan milik ibu." Bu Marni langsung mengacak-acak lemari Fely dan mengambil sebuah tas yang menurut Bu Marni berharga mahal.
"Bu, nanti kalau Fely marah bagaimana?"
"Biar saja! Usir saja dia kalau sampai marah. Kamu bisa cari istri yang lain lagi, yang lebih kaya!" Sahut Bu Marni asal. Lalu dia pun langsung keluar kamar Dion, dan bersiap untuk segera pergi ke rumah sakit, lalu menjual tas milik Fely
__ADS_1