Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Menyusahkan


__ADS_3

[Hallo, Bu. Hari ini Sinta mau pulang ke rumah Ibu. Aku minta ibu siapkan semua keperluan Sinta nanti ya? Suruh Gita juga untuk membereskan kamar.] perintah Rino pada Bu Marni seenaknya


[Loh, kok Sinta pulang kesini? Kenapa nggak pulang ke ibunya aja? Disini siapa yang akan mengurusi Sinta?]


[Ya, ibu dong sama Gita. Nanti si Rasti kan juga Sebentar lagi pulang dari kampungnya. Dan pasti dia juga akan ngebantu untuk merawat Sinta. Nggak mungkin lah aku pulang ke rumah, Bu. Siapa yang akan mengurus Sinta nanti?]


[Duh, Rino! Kamu tuh ngerepotin aja deh. Udah tahu ibu lagi mumet, kamu malah tambah-tambahin mumet, dengan masalah istrimu yang pulang ke rumah. Ibu enggak mau repot ah! Pokoknya Ibu nggak mau Sinta pulang ke sini. Pulang saja ke rumah kalian. Ibu lagi pusing! Udah dulu ya.] Panggilan pun di akhiri.


Rino sejenak terdiam. Bingung ingin menjelaskan pada istrinya karena tidak mungkin juga dia pulang ke rumahnya sendiri. Karena sejujurnya, Rino juga tidak mau mengurus Sinta.


Sedangkan Bu Ratna mau kalau untuk mengurusi Fani, karena Fani tidak terlalu terluka parah. Tidak separah Sinta yang harus duduk di kursi roda, karena masih kesusahan jika menggunakan tongkat. Sinta tidak mau, dan sudah pasti akan menyusahkan orang yang merawatnya.


...****************...


Karena takut menyakiti hati sang istri akhirnya Rino tetap mengajak Sinta untuk pulang ke rumah ibunya. Walaupun dia tahu kalau sang Ibu tak setuju dengan keputusannya.


Sesampainya di depan halaman rumah, Rino pun langsung membantu Sinta untuk menurunkannya dari mobil yang ditumpanginya, lalu menaikinya ke kursi roda.


Betapa kerepotannya Rino saat itu. Sampai akhirnya dia pun memanggil orang-orang yang ada di dalam rumah. Tak lama, Ibu, Gita dan Dion pun keluar dari dalam rumahnya.


Bu Marni sangat terkejut saat melihat Sinta yang tetap pulang kemari, tapi Karena rasa tak enak hati akhirnya Bu Marni hanya bisa menggerutu di dalam hati.


"Gita, ayo dong bantu Mas untuk mendorong kursi roda kakakmu!" Gita pun terkesiap. Karena memang dia sedang dalam keadaan melamun.


Sebenarnya Gita juga malas untuk membantu Sinta dan mendorong kursi rodanya. Tapi karena tidak enak hati, dan juga takut dimarahi oleh Rino, akhirnya mau tak mau Shinta pun didorong oleh Gita untuk masuk ke dalam rumah Bu Marni. Sambil di dalam hatinya, Gita memikirkan siapa yang akan mengurusi kakak iparnya nanti? Apa mungkin dia yang akan mengurusinya? Gita pun refleks mengeleng-gelengkan kepalanya.


Sesampainya di dalam rumah, Rino langsung menanyakan apakah Rasti sudah pulang atau belum.


"Istrimu belum pulang juga Dion? Kenapa lama sekali sih dia di kampung? Lalu siapa nanti yang makan mengurusi istriku? Sedangkan Gita kan dia kuliah. Dan ibu juga tak mungkin bisa mengurusi Sinta. Karena Ibu juga sudah tua," tanya Rino pada Dion. Kini mereka semua berkumpul di ruang tamu. Sedangkan Sinta sudah beristirahat di kamar milik Rino sewaktu dia masih lajang.


"Belum tahu, Mas. Mungkin hari ini atau besok. Lebih baik, sambil menunggu Rasti pulang, kita ganti-gantian saja yang mengurusi Sinta, dan Gita juga izin saja dulu dari kuliahnya agar dia bisa fokus mengurusi Sinta." Sahut Dion, memberikan opsi.


"Nggak mau ah, kalau aku sampai izin kuliah! Aku itu masih mau menuntut ilmu, Mas. Nggak mau aku kalau harus menghabiskan waktu untuk mengurusi orang yang sakit seperti itu." Sanggah Gita yang tak setuju dengan keputusan kakak-kakaknya.

__ADS_1


"Kan cuma sementara aja Git? Sampai Kak Rasti datang doang." Jawab Rino lagi.


"Aku nggak janji, Mas!" Gita pun langsung pergi meninggalkan mereka semua yang kebingungan. masih


Sejenak di ruang tamu mendadak hening. Mereka semua sedang bingung tentang urusan Sinta.


"Aduh kepala ibu pusing sekali. Sepertinya ibu harus beristirahat dulu di kamar. Ibu mau ke kamar dulu. Dion, coba kamu hubungin istrimu lagi. Siapa tau dia mau pulang lebih cepat. Karena Ibu memang nggak bisa kalau harus mengurus Sinta secara full, mungkin hanya sebisa ibu saja. Karena kalian juga tau kan, kalau ibu ini sudah tua dan sering sakit-sakitan." Tolak Bu Marni secara halus. Sengaja dia memainkan dramanya. Padahal Bu Marni masih sehat, dan segar-bugar.


Tapi, dia memang tak mau repot-repot untuk mengurusi orang sakit, meski itu menantunya sendiri.


...****************...


Pagi-pagi sekali para tetangga tukang ghibah sudah berkumpul, tak jauh dari depan rumah Bu Marni. Mereka membicarakan Sinta yang mengalami kecelakaan, dan juga Gita yang sering terlihat pergi keluar bersama laki-laki yang tak dikenal.


Tak lama kemudian, Bu Marni pun datang menghampiri mereka semua, lalu ikut berkumpul dengan mereka. Mau tak mau mereka pun akhirnya mengalihkan obrolannya dengan pembahasan yang lain.


"Hei, tau nggak bu-ibu. Rumah di depan sana katanya udah laku. Yang beli wanita kaya raya katanya." Ucap Bu Nenden. Salah satu warga yang paling kepo di daerah ini, dia juga selalu berusaha mencari tahu semua berita yang ada di daerah ini.


"Siapa emangnya yang beli, Bu? Pasti perempuan itu kaya sekali ya? Duh, jadi penasaran deh." Kini Bu Marni pun turut menyahuti. Sorot matanya penuh keingintahuan.


"Iya, pasti dia wanita karir yang terkenal di kota dan uangnya pasti banyak. Enak sekali ya, yang jadi suaminya. Pasti hidupnya terjamin." Bu Yuyun turut menimpali. Dan ucapan Bu Yuyun sukses membuat Bu Marni berandai-andai. Membayangkan kalau Dion akan menceraikan Rasti dan menikahi perempuan kaya yang membeli rumah itu.


"Aku juga sampai sekarang belum tau nih. Tapi tenang aja, besok-besok pasti aku bakal cari tau siapa si pemilik rumah mewah tersebut." Sahut Bu Nenden yang penuh percaya diri.


...****************...


"Ibu. Gita. Mas Rino. Dion. Ya ampun pada kemana sih ini orang-orang? Kenapa aku ditinggalin sendiri begini sih?" Sinta hanya bisa menggerutu sendiri. Karena kaki dia pun memang sedang dalam keadaan tak bisa bergerak sama sekali.


Semua orang di rumah sedang keluar. Gita yang pergi entah kemana, Bu Marni yang masih berkumpul dengan para tetangga dan berghibah, Rino yang sedang pergi juga entah kemana, dan juga Dion yang sudah pulang ke rumahnya untuk beristirahat sambil menunggu kepulangan Rasti.


Karena tak ada yang membantunya untuk menaiki kursi rodanya, dan Sinta yang sudah kebelet ingin membuang air kecil.


Akhirnya mau tak mau, Sinta pun harus mengesot untuk pergi menuju ke kamar mandi. Tapi sebelum sampai di kamar mandi, Sinta sudah merasa tak tahan lagi, sampai akhirnya dia pun harus membuang air kecil di lantai.

__ADS_1


Sinta masih terus berteriak-teriak. Berharap ada yang mau membantunya. Tapi nihil, semua orang memang sedang tak ada di rumah.


Lima belas menit kemudian, Bu Marni pun pulang dan mendapati bau yang tak sedap dari dalam rumahnya. Karena memang baunya sangat menyengat sekali.


"Duh, bau apaan sih ini? Pesing sekali sih?"


Buru-buru dia mengecek isi ruangan di rumahnya, sampai akhirnya dia pun melihat Sinta yang terduduk lemah di lantai, dan juga air kotoran milik Sinta yang berceceran di lantai. Menyebabkan bau tak sedap dan membuat perut menjadi mual.


"Ya ampun Sinta! Kenapa kamu buang air kecil disini sih? Duh, kerjaan banget dong! Mana bau banget lagi! Arrghhh...." hardik Bu Marni yang tak bisa lagi untuk mengendalikan emosinya. Karena dia memang sudah benar-benar merasa kesal, muak, dan juga jijik.


"Ma-maaf Bu. Aku sudah panggil semua orang disini, tapi kalian semua memang tak ada yang menyahut. Aku mau pipis, tapi kan ibu tau kalau aku nggak bisa jalan. Jadi, karena aku udah nggak tahan lagi, sampai akhirnya aku pipis di lantai. Maafin aku, Bu." Jelas Sinta dengan raut wajah sedih.


"Duh Sinta! Tahan dong harusnya. Terus kalau udah kaya begini, siapa yang harus kamu repotkan? Ibu kan? Ah, kenapa kamu nggak pulang ke rumah mamamu saja sih? Kan dia orang tuamu, harusnya dia yang mengurus kamu, bukan aku." Gerutu Bu Marni lagi. Karena perasaannya teramat kesal sekali pada Sinta. Dan tak sadar kalau ucapan Bu Marni sudah sukses membuat Sinta merasa sakit hati dan Sinta pun berniat ingin membalasnya, ketika nanti dia sudah sembuh.


Akhirnya mau tak mau Bu Marni pun memanggil tetangganya untuk membantu Sinta membersihkan dirinya, dan juga membersihkan rumah yang sudah tercemar oleh air kotoran milik Sinta.


Setelah semuanya selesai, Bu Marni pun memberikan sedikit uang untuk tetangganya itu dan berniat akan meminta ganti pada Dion dan juga Rino. Karena menurutnya semua ini akibat ulah istrinya yang sudah membuatnya sangat repot.


...****************...


Hari sudah menjelang malam. Bu Marni menelepon semua anak-anaknya, karena sejak tadi dia belum makan, begitu juga dengan Sinta.


Sudah hampir pukul tujuh malam, Rino dan juga Gita belum juga pulang. Padahal biasanya Rino sering di rumah, tapi semenjak istrinya sakit, dia malah sering pergi keluar.


"Duh, perutku perih sekali!" Gerutunya sendiri. Merasa kesal dengan keadaan saat ini.


Braakk!!!


Tiba-tiba terdengar benturan keras di luar sana. Tepat di depan rumah Bu Marni. Dan segera saja Bu Marni langsung mengeceknya.


Betapa terkejutnya Bu Marni dengan apa yang dilihatnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2