
Keesokan hari jam 10 pagi. Rasti dan Dion bertemu dengan seseorang yang akan membeli rumahnya. Karena Rasti tidak mau bertemu di rumah Dion. Dia mau menjaga dari situasi yang tidak, di inginkan.
Rasti sengaja mengajak Della, agar Della bisa bertemu dengan Ayahnya.
Saat pertama bertemu lagi dengan Rasti. Dion tak henti-hentinya menatap ke arah wajah Rasti. Karena Rasti kini semakin dipandang, semakin cantik.
Dengan berbalut gamis berwarna peach dan juga pashmina berwarna senada, membuat Rasti semakin terlihat cantik. Apalagi kulitnya kini sudah terlihat lebih bersih dan juga bodynya yang lebih ramping.
Dion benar-benar terkesima dengan penampilan manta istrinya itu.
"Della, kamu salim sama Ayah." Dengan rasa malas, Della pun menyambut uluran tangan ayahnya. Dion langsung memeluk Della, tapi Della seperti keberatan.
"Kamu apa kabar, Ras?" Tanya Dion, mengalihkan rasa canggung.
"Baik." Jawab Rasti datar.
Tak lama si pembeli rumah pun datang. Mereka pun berbincang-bincang dan berakhir dengan pembayaran.
Uangnya langsung dibagi dua oleh Dion. Karena Dion tak mau lagi membuang-buang waktu.
Gepokan uang yang banyak itu, di masukan ke dalam tas oleh Rasti. Yang cukup besar, agar longgar dan banyak tempat. Dion juga membawa tas.
Transaksi berjalan lancar, karena rumah itu akan segera di huni oleh putranya yang menemani tadi. Ya, pria paruh baya itu membelikan rumah untuk sang putra.
Setelah selesai bertransaksi, si pembeli pun akhirnya berpamitan untuk pergi. Kini tinggallah Rasti dan juga Dion. Tapi karena Rasti merasa risih. Rasti pun langsung berpamitan untuk pergi. Karena dia akan menuju bank, dan menyimpan uang di rekening.
"Kamu nggak mau jalan-jalan sama Papa dulu, Nak?" Tanya Dion pada Della.
Della langsung menggeleng tegas.
"Papa jalan sama Fani aja. Ayo bu!" Della langsung menarik tangan Rasti untuk naik ke atas motornya. Dan Dion pun hanya pasrah.
...****************...
Rasti dan Della keluar dari Bank.
"Bu, aku pengen makan ayam goreng yang enak banget. Mamanya temen aku, biasanya suka ngajakin makan disana, kalau aku lagi main di rumahnya," pinta Della.
"Dimana sayang tempatnya? Apa kamu tau?"
"Tau, Bu,"
"Ya udah, kita kesana sekarang ya?" Della bersorak riang.
__ADS_1
"Asyik...." lalu mereka pun langsung melajukan motornya ke arah restoran ayam goreng yang diinginkan Della.
Tujuan Rasti kini memang hanya untuk membahagiakan putri satu-satunya. Tentang masalah jodoh dia tak mau ambil pusing.. Karena masih malas menjalin hubungan dengan lelaki siapapun.
Apalagi proses sidang perceraian dengan Dion belum juga selesai.
...****************...
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit,akhirnya Rasti dan Della pun sampai di sebuah kedai ayam goreng.
Della langsung berlari dengan riangnya menuju ke arah meja kasir untuk memesan menu yang sangat dia suka.
"Hallo anak cantik? Kamu apa kabar? Kok baru kesini lagi?" Sapa seorang laki-laki berparas tampan dan juga riang.
"Hallo om. Aku mau beli ayam goreng kesukaan aku," sahut Della dengan riang juga. Berbanding terbaik saat waktu dia bersama Dion tadi.
"Boleh, boleh. Nanti om lebihin yang banyak ya, khusus untuk kamu. Oh iya, kamu kesini sama siapa?" Lelaki bermata elang tersebut pun langsung terperangah saat melihat Rasti yang sedang berjalan menuju ke arahnya dan juga Della.
Rasti memang tadi sedang memarkirkan motornya, sedangkan Della sudah duluan masuk ke dalam restoran tersebut.
"Aku ke sini sama Mama aku, Om. Kenalin ini mama aku," ujar Della yang mengenalkan lelaki tampan bernama Ammar tersebut, pada Rasti.
Ammar pun langsung tergeragap saat dia sadar kalau dirinya sedang menatap Rasti dengan serius, lalu Ammar pun buru-buru mengajak Rasti untuk bersalaman.
Rasti tak menyambut uluran tangannya Ammar. Rasti malah menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. Dan Ammar pun menjadi salah tingkah.
...****************...
"Bu, Aku mau nikah." Mulut Marni langsung melongok saat mendengar ucapan Gita.
"Menikah? Sama siapa? Kamu kan masih kuliah, Git!" Jawab Marni sinis. Tak setuju dengan keinginan anaknya.
"Pacar aku udah ngajakin nikah,Bu. Masa aku tolak? Pamali kan, Bu?" Sengaja Gita berbohong. Padahal semua ini terpaksa, karena Gita sedang berbadan dua.
"Ibu aja nggak kenal siapa pacar kamu. Kok tiba-tiba udah ngajakin nikah aja!" Gita mencebikkan bibirnya.
"Pokoknya aku mau segera menikah, Bu!"
"Kenapa jadi buru-buru banget sih? Ada apa? Apa jangan-jangan. kamu hamil, ya?!" Gita langsung tergeragap. Takut sekali dia kalau sampai ibunya tau soal hal itu.
"A-apa sih, Bu. Enggak kok! Aku cuma mau nikah aja. Lagipula umurku kan juga udah cukup. Masa dilarang?" Imbuh Gita beralasan.
"Iya ibu tau, Git. Tapi kan sekarang kamu tau, kalau kita aja masih mengandalkan Mas mu. Dia juga sebentar lagi akan menikah dengan Fely, dan kamu juga belum kerja. Jadi, lebih baik Mas mu dulu ajalah yang menikah, baru kamu nanti setelah sudah bekerja," Gita tak menjawab. Hanya mengerucutkan bibirnya saja.
__ADS_1
"Memangnya calon kamu orang kaya juga, Git? Dia mau kasih kamu mahar berapa? Kalau dia orang kaya, seperti Fely, gapapa deh ibu setuju. Lumayan kan, sekalinya dapat dua mantu yang keturunan orang kaya semua."
Kini Bu Marni malah senyam-senyum. Membayangkan kalau dia nantinya akan hidup enak, karena mendapatkan dua menantu yang berasal dari keluarga mapan.
Dia membayangkan suatu saat nanti akan bermandikan uang, di kasurnya ada uang, di kamar mandinya ada uang, dan di lantai rumahnya juga ada uang. Kini mata Bu Marni benar-benar penuh dengan gambar dollar.
"Orang kaya, Bu," Bu Marni pun langsung tersadar dari lamunannya, dan matanya langsung membelalak. Dia sangat senang sekali dengan jawaban Gita.
Berbanding terbalik dengan hati Gita yang sedang merasa galau, karena semuanya tidak sesuai dengan apa yang ia katakan tadi.
Gita teringat kalau mamanya Bagas malah meminta Gita yang menyiapkan uang mahar dan juga semua biaya untuk pesta pernikahannya.
...****************...
Tiga hari kemudian, di rumah Bu Marni akan diadakan kumpul keluarga karena keluarga Bagas akan segera datang untuk melamar Gita. Awalnya Bu Ratna sangat keberatan karena tak setuju dengan calon istri anaknya.
Tapi karena memang Bagas yang melakukan semuanya mau tak mau Bu Ratna pun menyetujuinya, walau dengan berat hati.
Kini semua keluarga Bagas sudah berkumpul di rumah Gita. Disana ada Dion dan juga Fely yang ikut menghadiri acara lamaran Gita dan Bagas.
Setelah berbincang-bincang akhirnya langsung saja ke acara inti yaitu menentukan tanggal pernikahan dan juga menanyakan bagaimana tentang uang mahar.
Bu Marni yang terpesona dengan penampilan calon besannya, dan benar-benar merasa beruntung kalau dia sebentar lagi akan mempunyai calon menantu dan juga calon besan dari keturunan keluarga kaya. Apalagi semua keluarga Bagas yang datang kini menaiki mobil mewah.
"Hhm, maaf Bu Ratna. Apa tidak ada uang dp dulu untuk uang mahar?" Tanya Bu Marni tanpa rasa malu.
200
"Uang mahar? Memangnya anakku nggak bilang?" Sahut Bu Ratna sinis. Semua yang ada disitu mulai terdiam.
"Bilang apa ya, Bu? Anak saya nggak bilang apa-apa," jawab Bu Marni lagi. Masih dengan sikap tenang.
"Saya kan sebelumnya sudah bilang sama si Gita, kalau si Bagas ini masih pengangguran. Dia belum bekerja, wong setiap harinya aja cuma bisa minta sama aku kok?" Sahut Bu Ratna sinis, sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas tangan.
Sontak saja Bu Marni dan keluarga Gita yang lainnya langsung terkejut, saat mendengar penuturan orang tua Bagas.
"Jadi maksud ibu apa? Ngapain ngelamar anak saya, kalau anak ibu saja masih pengangguran? Mau dikasih makan apa anak saya?" Kini Bu Marni mulai naik pitam.
"Anakmu sendiri kok yang maksa anak saya si Bagas. Karena anakmu itu telah berbadan dua. Dia menuntut Bagas untuk segera menikahinya, kalau tidak anak saya akan dilaporkan ke polisi. Dan saya bilang, dia harus menyetujui agar semua mahar dan juga biaya pesta pernikahan ditanggung oleh Gita. Dan Gita pun menyetujuinya kok! Lalu dimana salahnya?" terang Bu Ratna pada calon besannya itu.
Bu Marni langsung shock saat tahu kebenaran yang sesungguhnya. Badannya mendadak lemas. Dan Bu Marni pun langsung kejang-kejang seperti orang yang kehilangan nafas.
Semua tamu yang berada di situ langsung ramai riuh. Begitu juga dengan Dion dan Rino yang berusaha untuk membuat ibunya sadar kembali.
__ADS_1
Sedangkan Fely Hanya duduk terdiam, karena dia juga bingung ingin berbuat apa.
Fely hanya membayangkan, kalau sampai Dion dan keluarganya tahu kalau Dia bukan anak kandung dari kedua orang tuanya, dan juga kini dia sudah mengalami kebangkrutan.