Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Mendapatkan fakta


__ADS_3

"Mas Bagas!" Kita berteriak histeris, saat melihat suaminya yang sedang duduk di pelaminan bersama dengan perempuan lain.


Bagas telah menikah dengan Arini. Perempuan pilihan Bu Ratna.


Semua mata memandang ke arah Gita dengan tatapan nanar.


"Gi-gita?" Sahut Bagas yang terkejut dengan kehadiran Gita yang tiba-tiba. Dia pikir Gita tak akan kembali lagi. Tapi ternyata Gita datang lagi kemari.


Bu Ratna langsung menghalangi Bagas yang sudah bersiap untuk menghampiri Gita.


"Kamu diam disini Bagas! Jangan bikin malu ibu!" Perintah Bu Ratna tegas pada Bagas. Bagas yang takut pada ibunya, akhirnya pun menurut.


Bu Ratna segera berjalan menghampiri Gita dan juga Sinta. Gita sudah menagis sesenggukan,sambil memegangi perutnya yang buncit. Beberapa bulan lagi, janin itu akan lahir ke dunia.


"Mau apa kamu kesini lagi? Belum cukup ibu kamu menghina Bagas dan saya dengan seenaknya?" Hardik Bu Ratna tanpa aba-aba pada Gita.


"Saya ini masih istrinya Bagas, Bu! Kenapa Ibu tega menikahkan Bagas dengan wanita lain? Aku ini juga sedang mengandung anaknya Bagas, Bu!" Gita berteriak sambil sesenggukan. Musik mendadak berhenti, dan semua tamu semakin ramai berbisik-bisik.


"Iya Bu, kenapa tega sekali sih sama Gita? Andai aja nanti keluarga ibu yang diperlakukan seperti itu bagaimana?" Kini Sinta ikut menimpali. Sinta ikut emosi.


"Sudahlah, diam kamu! Sekarang lebih baik kalian pergi dari sini! Jangan ganggu Bagas lagi, dan masalah biaya persalinan nanti, Bagas akan tetap bertanggung jawab. Tapi tidak untuk kalian bersama lagi. Karena saya sudah muak melihat kamu dan juga ibu kamu yang sangat sombong itu!" Usir Bu Ratna pada Gita dan Sinta.


"Lihat saja Bu. Pasti nanti kalian semua akan mendapatkan karma atas perbuatan kalian sendiri! Ibu bukan saja telah menyakiti Gita, tapi ibu sudah menyakiti bayi yang tak berdosa di dalam kandungan Gita!" Dengus Sinta emosi. Setelah itu dia mengajak Gita yang masih menangis sesenggukan, untuk segera pergi dari sini.


...****************...


Sepanjang jalan Gita terus saja menangis. Sinta bingung ingin menenangkan Gita bagaimana lagi. Dia memang sangat mencintai Bagas. Namun ketidaksiapan Bagas menjadi seorang suami, malah membuat hidupnya Gita menjadi hancur.


"Mbak, aku turun disini aja ya? Aku mau nenangin diri," ucap Gita.


"Ini udah malam Git, kamu ngapain turun disini? Kamu mau kemana?" Tanya Sinta khawatir.


"Aku mau ke rumah teman aja, Mbak. Aku nggak mau pulang. Kamu tau kan ibu, kaya gimana orangnya? Dan aku nggak mau nambah beban pikiranku lagi, dengan mendengar ocehan ibu." Gita meluapkan unek-uneknya.


"Ya udah, kalau begitu mbak anterin ke rumah temen kamu sekarang ya? Mbak nggak mau kamu kenapa-napa, soalnya kamu juga lagi hamil kan?" Gita terdiam sejenak. Dia mencari cara agar Sinta tak memaksanya untuk mengantarkan dia ke rumah temannya. Karena memang Gita sendiri gak tau mau kemana.


"Teman aku ntar jemput disini, Mbak. Kamu tenang aja. Turunin aku disini aja ya?" Akhirnya mau tak mau, Sinta pun menuruni Gita di dekat sebuah jembatan.


Waktu sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam dan jalanan di sini juga sudah mulai sepi, karena bukan jalan utama.


"Mbak pamit ya, kamu hati-hati." Gita hanya tersenyum sambil mengangguk. Lalu Sinta pun langsung pergi meninggalkan Gita sendirian disana. Ada rasa tak enak di hati Sinta. Dia kasihan dengan adik iparnya. Karena kini dia juga mengalami hal yang sama, yaitu Rino yang sudah mempunyai pujaan hati lain.


Seperginya Sinta, Gita hanya bisa menangis sesenggukan meluapkan seluruh emosinya. Dia berfikir bahwa ini semua adalah balasan atas apa yang dulu telah ia lakukan pada mantan kakak iparnya, yaitu Rasti.

__ADS_1


Gita merasa telah banyak berbuat dosa pada Rasti. Padahal Rasti sudah menjadi kakak ipar yang sangat baik.


Tiba-tiba saja pikiran Gita merasa buntu. Dan sampai akhirnya dia berdiri di dekat sebuah jembatan yang di bawahnya ada sungai yang sangat deras.


Gita berniat untuk melompat dari jembatan itu, mengakhiri hidupnya. Karena dia tak tahu lagi harus berbuat apa dan juga dia telah membuat malu keluarganya yaitu sampai hamil tanpa suami.


Gita tak mau kalau nanti anaknya lahir tanpa ada seorang ayah yang mendampinginya. Dia pasti akan sangat malu. Oleh karena itu dia ingin mengakhiri hidupnya saja.


Jalanan sudah agak sepi, tapi tiba-tiba saja ada seorang ibu paruh baya yang sedang mengendarai motor, langsung saja berhenti.


Dia melihat gerak-gerik Gita yang tak wajar.


"Eh, neng geulis. Ngapain atuh disini malam-malam? Mana lagi isi," Gita langsung menoleh ke arah ibu tersebut.


"Jangan mendekat, Bu! Aku mau b*n*h diri! Aku udah buntu, Bu!" Teriak Gita. Mencegah ibu paruh baya itu agar tidak mendekat.


"Astaghfirullah! Istighfar Neng, istighfar. Kamu ini lagi hamil, jangan nekat, kasihan bayi kamu,Neng!" Ibu itu sangat khawatir.


"Sudah Bu, jangan ikut campur! Hidupku sudah tak ada gunanya lagi! Hidup aku sudah hancur, Bu!"


"Ya Allah, jangan kaya begini atuh,


Neng. Kamu itu masih muda,


Gita sadar kalau selama ini dia memang merasa jauh dari Allah. Dia selalu sibuk dengan dunianya dan juga selalu saja melupakan Allah.


Gita lupa, bahwa setiap perjalanan hidup ada campur tangan Allah.


"Sekarang ayo kamu turun, Neng. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut sama ibu. Kita cari solusi dari masalah kamu." Ucap ibu itu lagi. Menawari Gita untuk pulang bersamanya.


"Ayo mari ibu antar pulang. Rumahmu dimana?" Gita masih sesenggukan dan masih terdiam di tempatnya.


"Neng? Rumahnya dimana?" Ibu itu mengulangi pertanyaannya lagi.


Bukannya menjawab, Gita malah semakin menangis sesenggukan.


...****************...


Kenzo sudah sampai di rumah Rasti bersama dengan Bu Zoya.


"Assalamualaikum," ucap Bu Zoya.


"Waalaikumsalam, Bu Zoya?" Rasti agak terkejut dengan kedatangan Bu Zoya dan Kenzo yang tiba-tiba.

__ADS_1


Bu Zoya langsung menyalami Rasti, dan kedua orang tua Rasti.


"Bagaimana kabar kamu dan Della, Ras? Baik-baik aja kan?" Tanya Bu Zoya.


"Ba-baik, Bu. Alhamdulillah Della sudah mulai agak tenang, dan membaik."


"Syukurlah kalau begitu. Ini buat kamu dan Della," Bu Zoya memberikan sesuatu pada Rasti.


"Terimakasih, Bu. Maaf sudah merepotkan ibu dan Pak Kenzo." Jawab Rasti. Bu Zoya mengangguk sambil tersenyum.


"Terimakasih atas segala kebaikannya, Bu." Bu Ratih menimpali.


"Sama-sama bu. Sebentar lagi kita juga akan menjadi sebuah keluarga kok," ujar Bu Zoya semringah.


"Aamiin. Mari kita ngobrol dibelakang aja Bu. Siapa tau Kenzo dan Rasti mau berbicara sesuatu yang penting," ajak Bu Zoya pada Bu Ratih dan Bapaknya Rasti.


Setelah orangtua mereka kebelakang, kini tinggallah Rasti dan Kenzo berdua di ruang tamu. Rasti merasa sangat canggung pada Kenzo.


"Ras, aku sudah menemukan siapa dalang dari penculikan Della. Dan aku akan memberikan pelajaran pada mereka berdua," Rasti terhenyak.


"Siapa, Pak?" Tanya Rasti penasaran.


"Hhmm, aku akan kasih tau kamu. Tapi ada syaratnya," Rasti menatap Kenzo.


"Syarat apa, Pak?" "Pertama, kamu jangan panggil aku bapak lagi. Karena aku belum bapak-bapak. Kedua, kamu harus mau menikah dengan aku," sontak Rasti langsung melongo, karena syarat yang Kenzo yang ajukan barusan.


"Apaan sih, Pak, eh Ken. Kenapa kamu sebegitunya maksa aku untuk menikah sama kamu? Aku ini cuma seorang janda beranak satu loh. Dan aku juga belum tau, bisa atau tidak untuk membuka hati lagi pada laki-laki," sahut Rasti yang merasa bingung dengan perasaannya sendiri.


"Terserah. Kalau gitu aku tidak akan memberitahukan pada kamu, siapa yang menculik Della." Rasti menelan salivanya dengan susah payah. Bingung harus bersikap seperti apa.


"Kamu belum menjawab pertanyaan aku? Kenapa kamu maksa aku untuk menikah sama kamu?" Kini gantian Kenzo yang terdiam.


"Ya, ya karena mama sudah menyukai kamu. Dia setuju untuk kamu jadi menantunya," balas Kenzo salah tingkah.


"Hanya itu?" Kenzo memutar kedua bola matanya. Mau berterus terang tentang perasaannya, tapi gengsi.


"Iya. Apa lagi?"


"Ya sudah, maaf aku belum bisa," Kenzo langsung menatap Rasti dengan serius.


"Belum bisa apa?"


"Jawaban kamu saja seperti menggantung. Bagaimana aku bisa meyakinkan hati aku sendiri, kalau kamu memang lelaki baik-baik?" Kenzo melengos, membuang napasnya kasar.

__ADS_1


"Ok. Ok, aku ... aku ... mau kamu menikah denganku Rasti Amanda. Karena ... aku ... jatuh cinta sama kamu."


__ADS_2