
POV Rasti Amanda
Kedatanganku bersama Kenzo di acara resepsi mantan suamiku. Menjadi pusat perhatian, karena banyak karyawannya yang menjadi tamu undangan.
Jujur aku merasa tidak nyaman, di situasi sekarang. Terlebih ketika Kenzo semakin berani mengatakan, jika dia adalah calon suamiku.
Mengundang ucapan antusias dari mereka.
Apa yang akan di katakan orang lain, yang mengenalku nanti, ketika tahu aku masih dalam masa Iddah sudah mempunyai calon suami. Tapi Kenzo membawa dalam situasi pelik.
"Ini, kamu minum lagi, agar lega!" Kenzo menyerahkan minuman padaku. Dengan tatapannya yang teduh kali ini. Setelah aku tadi tersedak ketika ia memperkenalkan aku pada semua karyawannya.
Pria yang selalu bersikap datar dan dingin ini, kali ini memberikan senyumannya. Ia benar-benar melakukan sandiwara ini, dengan baik.
Aku tidak yakin, jika Kenzo akan membuktikan ucapannya untuk melamar. Tunggu dulu, aku tidak boleh menganggap sepele ucapannya. Dia itu selalu mengejutkanku.
"Apakah kamu yakin, jika aku menyukaimu?" bisiknya pada telingaku.
Kemudian ia kembali berbincang dengan yang lain. Sekilas ia melirikku dengan menaikkan sebelah alisnya.
Lelaki menyebalkan. Apa maksudnya, dia meninggikan aku,kemudian menjatuhkan kembali. Apakah dia juga sangat yakin, jika semua perempuan akan luluh dengan ketampanan dan kekayaannya.
...****************...
Kenzo masih berbincang dengan seseorang, aku hanya berdiri di sebelahnya menunggu dengan bosan. Apalagi mantan mertuaku sedari tadi, menyorotku dengan raut wajah tak suka.
Aku tahu. Ibu pasti tidak menyukai kehadiranku yang datang bersama Kenzo.
Aku akui jika resepsi mereka sangat mewah. Di hadiri tamu-tamu penting, berasal dari rekan kerja, dan teman-teman Fely.
Fely mengenakan gaun putih, yang cantik.
"Kamu hanya kunikahi di KUA! Tidak perlu budget mahal untuk menikahimu!" kata-kata itu terngiang kembali di kepalaku. Perkataan Mas Dion.
Aku tidak iri Mas. Dengan Pernikahanmu sekarang, walaupun kau menghina dan mencoba merendahkan aku. Dulu aku tak pernah berpikir buruk tentang sebuah pernikahan, karena melihat kesungguhanmu ketika melamarku kepada Bapak.
Siapa yang tahu jika rumah tangga kita akan hancur, karena perbuatanmu. Walaupun nanti aku menikah lagi, dan tidak mewah, itu tidak penting. Yang aku harapkan menemukan imam yang baik, dan bisa membangun rumah tangga hingga akhir hayat. Karena pernikahan itu komitmen seumur hidup, dimana aku harus yakin tidak akan bosan dan setia melihat pria yang sama, setiap aku bangun dan menjalani hariku.
"Jika kita menikah nanti, kamu mau di mana?" ucap Kenzo yang sedari tadi selalu saja berdiri di sebelahku. Tiba-tiba memberi pertanyaan. Membuat lamunanku buyar.
"Hah?"
"Resepsi pernikahan kita, akan lebih mewah dari ini!" ujarnya dan tersenyum smirk.
"Percaya diri sekali, aku mau denganmu!"
"Akan kupaksa jika kau tidak mau! Tak ada yang bisa menolakku!" ucapnya dengan arogan.
"Hai, Kenzo! Perkenalkan dia padaku," ucap Pria yang menghampiri kami.
Aku tidak jadi bicara karena ada seseorang.
"Kau datang bersama siapa?" tanya Kenzo.
__ADS_1
"Lucas, dan Paul. Aku harus menghadiri acara pernikahan mantan kekasihku!" ujarnya.
Pria itu mengulurkan tangan padaku. Apakah yang di maksud Fely. Ini mantan kekasihnya. Jika begini mantan kekasih Fely. Kenapa dia bisa memilih mas Dion. Apa dia mempunyai fetish aneh, hanya ingin suami orang.
"Kau tidak perlu memperkenalkan diri padanya Verell. Kekasihku tidak mau berkenalan denganmu!" ucap Kenzo dan memasang badan di depanku. Agar pria itu tak bisa memaksa untuk berkenalan.
"Baiklah, kau sangat posesif. Chill Bro!" pria itu menarik tangannya kembali. Ia tersenyum padaku.
"Brengs*k!" umpat Kenzo.
...****************...
"Nak Kenzo, terima kasih sudah menghadiri resepsi ini. Tante sangat merasa terhormat, dengan kehadiranmu!" ucap ibu mendekati kami.
Tetapi ibu hanya ramah pada Kenzo saja. Sedangkan ketika melihatku, dia kembali menatapku dengan sinis.
"Sama-sama, Tante!"
"Kamu nggak mau berfoto dulu, dengan pengantinnya?" tanya Ibu yang seperti cari muka. Membuatku yang melihatnya muak.
"Tidak perlu, aku sudah mau pulang,"
"Oiya, Tante ada nasehat untuk kamu. Jika ingin mencari calon istri, yang sepadan dan selevel dengan kamu. Harus jelas bibit,bebet, bobotnya. Jangan sembarangan memilih wanita. Apalagi kamu ini kaya, takutnya perempuan hanya mau denganmu karena harta saja!" ujar Ibu yang menyindirku.
"Maksud Tante? Aku yakin Rasti tidak begitu, dia itu baik dan tidak pernah memorotiku. Aku yakin dia akan menjadi istri yang baik, setelah kami menikah nanti. Selama menjadi istrinya Dion saja, dia selalu sabar ketika suaminya mendzolimi dirinya, tidak diberi nafkah yang layak, Dion selingkuh!" tutur Kenzo.
"Kamu tenang saja Sayang, aku tidak akan seperti itu. Jika kita sudah menikah nanti, aku akan menjadi Papa sambung yang baik juga, untuk Della!" ucap Kenzo padaku.
"Karena itu, aku juga percaya padamu dan memilihmu," ucapku pada
Terkadang aku terpaksa berkata manis padanya.
"Ya, ini kan cuma nasehat. Harusnya kamu berterima kasih, sudah di nasehati. Karena yang tua, sudah berpengalaman!" ujar Ibu ketus.
"Aku tidak butuh nasehat, Mamaku saja merestui hubungan kami!" sahut Kenzo.
Kami berdua berlalu meninggalkan Ibu yang masih ngedumel.
"Masih muda, gak mau dengar nasehat orang tua!" cicitnya yang masih bisa aku dengar.
...****************...
Ketika kami tiba di depan hotel. Sudah ada keributan Di depan parkiran.
Mbak Sinta duduk di atas tubuh Mbak Siska tetanggaku yang janda kaya itu.
"Heh, cuih!" Mbak Sinta melud*hi wajah perempuan itu.
"Sinta!" teriak Mas Rino yang sepertinya sudah berusaha melerai mereka.
"Kenapa kau tidak suka hah, aku ludahi. Tapi kau suka di ludahi suamiku! Pel*kor, dengar ya dia ini pel*kor, merebut suamiku! Janda gatal, suamiku juga mur*han!" teriak Mbak Sinta.
Aku malu sekali mendengarnya. Mereka memperebutkan pria yang sama. Kenapa harus ribut di depan umur.
__ADS_1
"Berapa biaya per-malam, untukmu ketika menemani dia Mas!" Mbak Sinta terus mengoceh.
Mbak Siska berhasil mendorong Mbak Sinta hingga terjatuh, dari tubuhnya.
Sanggul Mbak Siska sudah kusut, dan tidak jelas modelnya sekarang. Begitu juga rambut Mbak Sinta.
"Kita pergi, untuk apa melihat ini!" ajak Kenzo padaku.
"Sebentar, aku ingin lihat siapa yang menang!" ucapku menahan Kenzo.
"Kamu pikir, mereka sedang bertanding!"
"Tunggu!" pintaku.
"Kalian jangan ribut di sini!" para security dan keamanan hotel mencoba melerai.
Mbak Siska mengangkat rok sepannya tinggi, dan menendang Mbak Sinta. Tapi tak terkena hingga sepatunya heelsnya lepas.
"Maju Nek, gak kena Nek!" ejek Mbak Sinta.
"Nenek pel*kor ngamuk gaes!" Mbak Sinta semakin mencercanya.
Orang yang berada di sana merekam, dan seperti menikmati kejadian ini.
Dia memanggil Mbak Siska Nenek. Sengit sekali mereka berdua.
Security itu masing-masing menahan tubuh mereka. Dan di giring menuju tempat lain.
Ponselku berdering. Panggilan masuk dari Ibu.
"Assalamualaikum, Ras!" teriak Ibu terdengar suaranya seperti panik.
"Walaikumsalam, ada apa Bu? Kenapa panik?" aku ikut panik yang mendengarnya.
"Della, gak ada!"
"Apa maksud Ibu?"
"Tadi kan ibu nemanin Della, main sepeda di depan. Terus dia haus minta minum. Ibu masuk ke dalam ambil minum, Della udah gak ada ibu cari!" Ibu kini terdengar menangis.
"Astaghfirullah dimana anakku?" aku yang mendengar tidak tahan lagi menahan tangis.
"Kenapa?" Kenzo bertanya melihatku menangis.
"Della hilang!" jawabku dan berlari menuju mobil Kenzo tadi.
"Hilang? Apa di culik?" sahut Kenzo.
"Tidak tahu, aku takut!" jawabku dengan emosi tak karuan.
"Kita cari, oke!"
Kenzo dan aku pulang. Dia bahkan memacu mobilnya cukup kencang. Aku hanya ingin cepat sampai dan bertemu Della. Jika di culik, siapa yang tega menyakiti putriku.
__ADS_1