
Dion panik di kabari mobilnya menghilang.
"Ada, apa mas?" tanya Fely Yang penasaran. Seperti terjadi sesuatu yang buruk.
"Mobilku hilang!" jawab Dion.
"Hah! Gimana bisa hilang? Memangnya di mana?" cecar Fely.
"Tentu saja di garasi, rumah Ibuku. Dan sekarang tidak ada di tempatnya!"
"Kita, ke rumah ibumu sekarang. Untuk memastikan!" ucap Felly yang juga ikut panik karena mobil Dion menghilang.
...****************...
Sesampainya di rumah Bu Marni. Dion gegas menemui ibunya.
Bu Marni sudah ada di ruang tengah, sambil memijit kepalanya yang terasa pusing. Banyak kejadian yang tidak ia inginkan. Justru terjadi, dan seperti musibah yang datang bertubi-tubi.
"Gimana, mobilku, bisa hilang, Bu!" cecar Dion.
"Ibu, juga tidak tahu Dion!" sahut Bu Marni kesal karena menjadi di salahkan.
"Di mana, kunci mobilku?"
"Ibu tidak bisa menemukannya, tidak ada di kamarmu. Kamu bilang ada di atas lemari kecil, dekat ranjang. Tapi tidak ada! Coba kamu ingat, kamu taruh di mana kuncinya," ujar Bu Marni karena tak bisa menemukan kunci mobil.
"Aku sangat ingat, jika aku menaruhnya di sana. Tidak mungkin, aku lupa Bu!" Dion memastikan jika dirinya tidak lupa.
"Kita lapor saja, Mas. Ke polisi, jika memang ada yang mencuri mobilmu! Itu kan mobil masih dalam cicilan, bisa dapat asuransi!" ujar Fely.
"Sebentar!" Dion fokus pada ponselnya, dan mencari nomor Rino Kakaknya.
"Bisa saja Rino yang membawa mobil!" ujar Dion.Dan menelpon Rino.
"Halo Mas!" ujar Dion ketika panggilan sudah tersambung.
"Kamu ada membawa mobilku?"
"Iya Dion! Mas yang membawanya," jawab Rino dari sambungan telepon.
"Kalau kamu yang membawanya. Seharusnya, kamu bisa minta izin kan mas. Tidak harus membuat kami semua panik di sini, aku kira mobilku sudah hilang dicuri orang. Hampir saja aku laporkan ke polisi!" ucap Dion yang kesal pada Rino meminjam tanpa permisi. Seakan barang itu adalah miliknya sendiri.
"Maaf Dion, tapi ini mobil juga sedang di pinjam teman Mas.Mungkin dia akan kembaliin 4 hari lagi!" ujar Rino.
Ternyata mobil itu dipinjam oleh teman Rino.
"Dipinjam untuk, apa?" tanya Dion kembali kesal. Bagaimana bisa Rino meminjamkan mobilnya, pada orang lain tanpa seizinnya.
"Ini teman Mas, dia itu pinjam untuk pulang kampung!"
__ADS_1
"Mas merentalkan mobilku pada orang lain, sudah lah akui saja!"
"Ti-Tidak!"
"Dapat berapa duit kamu! Lancang kamu Mas, aku tidak mengizinkan mobilku untuk di rental, ataupun digunakan oleh orang lain, yang tidak aku kenal. Bagaimana jika orang itu tidak amanah!" berang Dion yang kesal dengan sikap Kakaknya.
"Kamu jangan begitulah, sama saudara sendiri. Selama ini juga kamu royal kan pada saudaramu, Mas melakukan ini, juga karena lagi butuh duit. Karena Sinta mau reuni dengan temannya. Kamu kan tahu, Mas sedang tidak ada kerja. Jadi daripada mobilmu itu menganggur, Mas rental kan saja. Hanya 4 hari!" ujar Rino memberitahu agar Dion mau mengerti.
"Bagaimana, jika orang itu membawa mobilku kabur!" Dion semakin panik.
"Ah tidak! Dia ini teman mas ,orangnya baik dan bisa dipercaya!" ucap Rino terus meyakinkan.
"Sial, brengs*k!" umpat Dion. Kemudian mematikan teleponnya.
Dia naik pitam karena perbuatan lancang Rino.
"Kenapa mas?" Fely kembali panik, sedari tadi mendengar Dion bicara dan mengumpat. Pasti terjadi hal buruk.
"Mobil itu dibawa oleh Mas Rino,"
"Dibawa oleh Rino, syukurlah!" ujar Bu Marni.
"Tapi, kenapa kamu masih marah? Mobilnya, aman kan?" tanya Fely memastikan.
"Rino si lan merentalkan mobilku, pada orang lain. Bagaimana jika orang itu membawa kabur mobilku, perasaanku tidak enak!" ujar Dion dan ingin mem*kul wajah Rino jika berada di hadapannya.
"Kamu percaya saja, pada Rino. Ibu yakin, dia itu tidak akan menipu kamu!" ujar Marni.
"Gak bisa Tante, orang jaman sekarang susah di percaya. Kebanyakan pembohong. bagaimana jika orang itu maling!" ujar Fely pada Marni.
...****************...
Mulai hari ini. Gita sudah bekerja di kedai ayam goreng milik Amar. Pada bagian kasir. Bagas mengantarkannya tadi pagi, dan nanti Bagas akan menjemputnya kembali. Sedangkan Bagas. Dia masih pengangguran, karena hanya Gita yang diterima bekerja di sana.
Hingga sore hari banyak pembeli, yang berdatangan. Tempat itu sangat ramai.
Gita merasa takjub, pasti sebagai owner. Amar mendapat banyak keuntungan, jika pelanggannya ramai seperti ini setiap hari.
Gita memperhatikan Amar. Yang sedang memantau, bagaimana keadaan sore itu.
Gita terpana melihat Amar. Yang masih muda tapi mempunyai usaha sukses, tampan, mapan dan juga ramah.
"Kenapa, aku tidak bertemu kamu, sebelum mengenal Mas Bagas. Jika saja aku kenal dengan dengan dia, saat masih gadis. Pasti aku tidak akan memilih untuk menikah dengan Mas Bagas!" gumam Gita menggerutu meratapi nasibnya.
Ia menyesal menikah dengan Bagas. Yang akhirnya hanya membawa Gita dalam penderitaan, menikah dengan Bagas. Seperti tinggal di neraka, dan sekarang harus bekerja. Sedangkan Bagas tidak perlu susah payah.
Bahkan Gita masih merahasiakan kehamilannya dari Ammar.
seorang perempuan paruh baya yang berpenampilan glamour menghampiri Amar perempuan itu bahkan tampak akrab dengan amal tak lama Amar meninggalkan ke daerah yang goreng setelah berbincang dengan perempuan itu
__ADS_1
"Bagaimana penjualan hari ini?" tanya perempuan itu mendekati Gita. Karena ia berada di bagian kasir.
"Ramai Tante!" jawab Gita merasa bingung, perempuan itu menanyakan tentang penjualan.
"Kamu, kasir baru ya di sini?"
"Iya tante, saya baru bekerja," ujar Gita ramah
"Bekerja yang semangat, dan amanah ya. Kenalkan saya Chintya, Ibu pemilik tempat makan ini!" ujar perempuan itu mengenalkan diri.
"Jadi Tante, Ibunya Pak Amar?" terka Gita dan tersenyum. Ketika mengetahui jika perempuan itu adalah ibunya Ammar. Pantas saja mereka tadi akrab.
"Benar, ini usaha anak saya. Ammar itu merintis usaha ini, dulu saya modali dari awal, hingga dia bisa membuat usahanya maju seperti sekarang!" ujar Chintya bangga.
"Hebat ya Pak Amar, bisa sukses di usia muda. Pasti banyak perempuan, yang menyukainya!" ujar Gita memuji Ammar, di depan ibunya.
"Soal itu, memang banyak yang menyukai dia. Tapi Tante, tidak mau jika Ammar, salah dalam memilih jodoh. Sampai saat ini juga, dia belum memperkenalkan perempuan pada Tante,"
"Tapi, aku lihat Pak Amar itu ada dekat dengan seorang perempuan!" ucap Gita.
"Benarkah? Kamu kan baru di sini ya, kenapa bisa tahu?" Chintya heran.
"Aku baru di sini, tapi aku tahu. Karena dia dekat dengan mantan kakak iparku, yang telah menjadi janda!" Gita mulai memberitahu tentang Rasti. Padahal Rasti dan Ammar tak punya hubungan apapun.
"Apa maksudmu, anak saya dekat dengan janda?" tanya Cinthya memastikan.
"Begitulah Tante, Pak Amar itu dekat dengan seorang janda. Dan itu adalah mantan kakak ipar saya,"
"Informasi kamu ini, bisa dipercaya?" Cinthya ingin percaya, namun masih ragu.
"Tentu saja, karena saya itu mengenal perempuan yang disukai oleh Pak Ammar, tanya pada karyawan lain, jika janda itu sering kemari!" ujar Gita mengada. Agar Cinthya semakin percaya pada dirinya.
"Tapi kasihan, Pak Ammar dekat dengan janda! Padahal mantan Kakak ipar saya itu, wanita nakal. Bercerai dengan Kakak kandung saya, karena dia itu suka selingkuh!"
Cinthya semakin tercengang, mendengar informasi dari Gita.
"Lebih baik Tante, mewanti-wanti Pak Ammar dari sekarang. Sebelum menyesal!"
Cinthya manggut-manggut dan mengerti, apa yang harus ia lakukan setelah ini.
...****************...
Dion memijat pelipisnya, ketika Fely mengirimkan daftar mahar yang harus. Dion berikan, ketika mereka menikah nanti.
Seminggu lagi pernikahan mereka, dan mahar yang diminta Fely ini semua mahal. Dion takut uangnya tidak cukup, untuk memenuhi permintaan calon istrinya.
Ditambah dia memikirkan mobilnya, yang akan balik atau tidak.
Dion membanting ponselnya di atas kasur.
__ADS_1
"Aku menyesal telah menceraikan Rasti, selama dia menjadi istriku. Dia tidak pernah membuatku susah, seperti ini. Apalagi meminta hal yang mahal, ternyata jika Rasti berdandan dia juga cantik! Tidak kalah dengan Fely. Seharusnya dari dulu, aku modali saja Rasti untuk perawatan, agar aku tidak bosan melihatnya!" gerutu Dion dan meremas rambutnya. Karena percuma dia menyesali sekarang. Semuanya sudah terlambat.