
Setelah keluar dari ruang meeting. Fely mengikuti langkah Kenzo. Yang sedang berjalan bersama sekretaris pribadinya.
"Tuan Kenzo!" panggil Fely.
Sehingga membuat Kenzo menoleh. Fely berusaha berjalan sejajar dengan pria itu.
"Maaf Tuan, saya ingin bertanya. Apakah Tuan ada hubungan dengan Rasti. Kenapa saat itu kalian bisa bersama, apa yang di lakukan Rasti?" Fely bertanya. Ia penasaran juga tentang Rasti. Yang bisa bersama Kenzo dan Nyonya Zoya Davis saat itu.
"Berhentilah bertanya tentang privasiku, kamu siapa!" ujar Kenzo dan mempercepat langkahnya.
"Ketus banget sih! Apa salahnya dia jawab pertanyaanku. Padahal aku juga sudah dandan cantik hari ini, tapi dia sama sekali tidak mau melirikku. Dasar sombong!" gerutu Felly.
Padahal selama ini dia banyak disukai oleh lelaki, karena Fely kaya, dia juga cantik walaupun dia akhirnya lebih menyukai suami orang, yaitu Dion.
...****************...
"Kamu tadi meeting dengan, Pak Kenzo?" tanya Dion ketika mereka berdua, sedang makan di sebuah restoran Jepang. Di saat jam pulang kantor.
"Iya siang tadi, aku meeting bersamanya," jawab Fely.
"Kamu bisa tidak, jika di hadapan Pak Kenzo tidak usah cari perhatian!" ucap Dion.
"Maksudmu apa, Mas? Siapa yang cari perhatian!"
"Aku bisa melihat gerak-gerikmu,"
"Aku tidak cari perhatian, aku bersikap biasa dan ramah karena dia itu bos kita, itu saja!" ujar Fely yang kesal.
"Kamu tidak usah curiga deh, denganku!" ucap Fely kembali, yang mengelak padahal orang yang tidak mengenalnya saja bisa tahu, jika Fely itu suka cari perhatian dan sok cantik di depan Kenzo.
Bahkan tidak hanya dia, hampir semua karyawan perempuan di kantor itu melakukan hal yang sama.
Namun Kenzo tidak tertarik dengan mereka.
Fely menyeruput minumannya. Dan melihat Dion yang lahap memakan sushi.
"Mas, kamu kapan akan menikahiku?" pertanyaan itu membuat Dion menghentikan suapannya, dan meminum minumannya, sebelum menjawab pertanyaan Fely.
"Aku ingin segera kamu nikahi, Mas!" pinta Fely.
"Kamu sudah yakin?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu lagi! Tentu aku yakin, sekarang kamu sudah pisahkan dengan Rasti. Istrimu juga tidak kembali ke rumah. Justru itu gampang membuat kalian bercerai, atau kamu masih mencintai istrimu. Jadi kamu keberatan untuk mentalak dia?" Fely mencecar Dion.
"Sayang kamu yang sabar dong, aku pasti menceraikan, Rasti!"
"Cepat mas lakukan, dan kamu nikahi aku. Diriku siap menjadi istrimu, apalagi yang kamu tunggu!" ujar Fely dan menggenggam tangan Dion yang berada di atas meja.
Dion tersenyum simpul, walaupun terlihat dari raut wajahnya ia belum berani mengambil keputusan.
Rasti dan Bu Elena baru saja usai mengunjungi klinik kecantikan, mereka akan segera pulang.
"Rasti, segeralah urus perceraian kalian,"
"Baik Bu, nanti aku juga akan ke rumah untuk mengambil buku nikah. Karena saat itu aku lupa untuk mengambilnya, dan kemarin aku juga belum siap untuk kembali ke rumah itu, sebab ilfil sekedar bertemu dengan Mas Dion. Tapi nanti aku akan segera ke sana. Mungkin setelah ini, aku akan ke rumah itu," ujar Rasti.
"Ibu tunggu, kamu jangan takut dengan Dion. Hadapi saja dia. Tapi tetap berhati-hati, karena bagaimanapun kamu itu perempuan. Kalah tenaga dengan dia, Ibu akan tunggu, dan nanti akan menghubungi Arifin pengacara ibu, agar dia bisa menuntut Dion memberikan harta gono gini. Suamimu itu jika tidak ditekan, maka dia tidak akan memberikannya!" ucap Bu Elena yang selalu siap membantu Rasti.
"Benar Bu, Mas Dion itu keras dan juga egois."
...****************...
Usai dari restoran Jepang. Dion pulang bersama dengan Fely. Saat itu Fely menggunakan mobilnya, karena Dion tadi berangkat ke kantor menggunakan ojek online.
__ADS_1
Mobilnya dipinjam oleh Rino. Seperti biasa Rino meminjam untuk jalan-jalan, dengan Sinta dan juga ibunya.
Mereka bilang akan pergi tempat wisata
Fely ikut turun dan masuk ke dalam rumah Dion.
"Mas aku di sini dulu, boleh kan?" tanya Fely yang baru kali ini ke rumah Dion.
"Tentu boleh, nanti rumah ini akan kita tempati, setelah kamu jadi istriku,"
"Tapi bagaimana Mas, dengan istrimu. Jika dia menuntut harta gono gini?" tanya Fely yang khawatir.
"Kita pikirkan nanti saja, aku tidak mau memikirkan itu dulu. Hanya membuat kepalaku pusing!" ucap Dion.
...----------------...
Fely mencebik ketika melihat foto pernikahan Dion dan Rasti. Di dalam bingkai. Ternyata Dion belum menyingkirkan foto bersama istrinya.
Fely mendekati Dion dan melingkarkan tangannya di leher Dion. Mereka saling tatap dan kemudian dengan agresif. Fely memulai mencium bibir Dion. Hingga akhirnya Dion yang larut dalam nafsu, menggendong tubuh Fely ke dalam kamarnya.
...****************...
Rasti baru saja selesai berganti pakaian, dia akan pergi ke rumah Dion untuk mengambil buku nikah dan segera mendaftarkan perceraiannya.
"Ibu, temani Della belajar dong!" pinta Della dan menarik tangan Rasti.
"Nanti ya sayang, Ibu mau pergi dulu sebentar, ada urusan. Kamu minta temani sama kakek dulu ya!"
"Ya udah kalau gitu, aku mau minta ditemenin kakek aja. Ibu mau ke mana?" tanya Della.
"Ada hal penting,"
Della mengangguk dan dia tidak bertanya lagi, kemudian keluar kamar dan mencari kakeknya.
Motor bekas ini saja sudah cukup untuk digunakan. Rasti menyalakan mesin motornya, dan siap menuju rumah Dion. Tak mau lagi menunda, untuk segera menggugat cerai suaminya itu, dia tidak ingin membuang waktu.
Tidak lupa pasti juga membawa kunci cadangan, walaupun Rasti yakin, jika di jam ini Dion bisa saja ada di rumah. Karena sudah pulang dari kantor.
...****************...
Tidak sampai 15 menit. Rasti tiba di rumah itu. Perasaannya berkecamuk ketika melihat rumah, yang sudah bertahun-tahun ia tempati dengan suaminya.
Rumah yang hanya membawa penderitaan baginya, karena pernikahan yang tidak harmonis. Rasti melihat di depan terparkir sebuah mobil berwarna hitam, dan itu bukan milik Dion.
Ia ingat itu adalah mobil Fely.
"Apakah ada Fely, di sini?" Gumam Rasti dan melanjutkan langkahnya.
Dirinya mencoba memutar handle pintu. Dan ternyata pintu tidak terkunci.
"Ada perempuan di rumah ini!" ujar Rasti kembali.
Rasti mengambil ponselnya yang ada di dalam tas kecil, yang ia sandang.
"Apa yang sedang mereka lakukan?"
"Rasti!"
Rasti menoleh ketika ada suara perempuan yang memanggilnya, dan itu adalah Mbak Anna tetangganya. Rumah mereka berjarak 4 rumah.
"Mbak Anna!" ucap Rasti dengan suara yang cukup lirih.
Rasti meletakkan telunjuk di depan bibirnya.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu sudah lama nggak kelihatan, kemana aja, Ras?" tanya Mbak Anna penasaran.
Dia juga salah satu tetangga yang cukup dekat dengan Rasti.
"Aku pindah Mbak,"
"Pindah ke mana?"
"Nanti saja aku jawab Mbak, mending ikut aku deh. Sepertinya di dalam rumah, Mas Dion membawa perempuan!" ucap Rasti.
"Perempuan, siapa?"
Mereka masih saling bersuara lirih, saat bicara.
"Mbak tolong ya pegang HP ini, aku nyalakan video. Mbak rekam apa saja yang terjadi, nanti oke!" titah Rasti.
"Maksudmu, suamimu sedang berduaan dengan perempuan lain?"
"Aku duga begitu, mbak turuti saja apa kataku. Ayo kita masuk ke dalam!" ajak Rasti.
"Siap!" ucap Mbak Anna mengacungkan jempolnya. Tidak lupa merekam, ketika sedang masuk menuju dalam rumah.
Rasti membuka pintu, keadaan rumah itu sunyi.
"Mereka di kamar!" ujar Rasti lirih dan ia membuka pintu kamar yang dulu menjadi kamarnya dan Dion.
Pintu tidak di kunci dan terbuka. Dion dan Fely tidak menggunakan sehelai benang pun, mereka sedang asyik bercumbu.
Rasti bertepuk tangan ketika melihat mereka berdua. Fely terkejut jantungnya berdegup kencang, ketika melihat Rasti memergoki aksinya dengan Dion.
Terlebih lagi Mbak Anna. Matanya terbelalak ketika melihat adegan di hadapannya sekarang, sangat tidak pantas.
Dion refleks mendorong tubuh Fely yang berada di atasnya, hingga Fely terjatuh ke lantai.
"Mas!" pekik Fely yang kesal karena Dion mendorongnya, dengan keras.
Dion berusaha menutupi tubuhnya menggunakan selimut. Sedangkan Fely juga menarik selimut itu untuk menutupi tubuhnya, mereka berebutan.
"Bagus ya kalian, apa yang sedang kalian lakukan. Sedang nananina, dengan bebas. Karena tidak ada aku di rumah ini? Sehingga kalian bisa bebas berzina! Melakukan hal yang tidak pantas, dan sangat biad*b!" ucap Rasti.
Mbak Anna terus saja merekam sesuai dengan permintaan Rasti.
"Kamu jangan salah paham," ucap Dion. Dia sangat malu tertangkap basah.
"Salah paham apa, Mas? Aku sudah melihat kelakuan kalian di depan mataku, sendiri!" cicit Rasti.
"Mbak, aku pinjam hp-mu. Kamu bawa HP kan?" tanya Rasti.
"Ada!" Mbak Anna Mbak ana menyodorkan ponselnya, di ambil dari saku daster yang ia kenakan.
Mbak Anna tak banyak bicara, karena dia masih fokus untuk merekam.
"Aku pinjam ya Mbak, untuk buka grup WA komplek ini. Agar mereka digerebek oleh warga!" ujar Rasti.
"Ras, kamu jangan macam-macam. Jangan permalukan aku!" mohon Dion.
Rasti tak peduli. Dan mengirim pesan pada Grup.
"Mas, dimana pakaianku? Tadi kamu buang!" Fely bertanya, dia tidak bisa menemukan pakaiannya. Yang entah ke mana dibuang oleh Dion.
Fely mau berdiri dia malu dengan tubuhnya yang polos.
...****************...
__ADS_1