Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Panik?


__ADS_3

"Jika kamu merasa butuh kehangatan, Mbak siap!" ujar Sinta.


Dion bergidik ngeri melihat kakak iparnya itu. Dia sama sekali tidak tertarik pada Sinta.


"Kamu jangan menolak Mbak, terus Dion. Mbak mau kok jadi selingkuhanmu, walaupun kamu akan menikah dengan Fely. Sekedar kita berbagi kesenangan!" ucap Sinta dan memeluk tubuh Dion.


Dion berusaha melepaskan pelukan Sinta dan akhirnya berhasil. Dion pun langsung berlari menaiki sofa dan Sinta pun terus mengejarnya.


Saat Sinta mengejar Dion, dia juga sambil membuka bajunya, hingga Sinta pun kini hanya mengenakan pakaian dalamnya saja.


Melihat Sinta yang seperti itu, Dion benar-benar merasa sangat syok.


Dion tak habis pikir, melihat sikap Sinta yang semakin di luar batas, seperti orang yang sedang kesurupan.


"Dion, jangan kabur terus dong! Masa kamu nggak mau sih, sama Mbak? Jarang-jarang loh Mbak seperti ini!" Ujar Sinta dengan nada yang dibuat-buat.


Dion sama sekali tak memperdulikan ucapan iparnya itu. Dia hanya memikirkan bagaimana caranya untuk segera lolos dari Sinta, yang kini otaknya sudah mulai kurang seons.


"Please, Mbak! Jangan seperti ini. Tolong buka pintunya! Aku nggak mau ada yang salah paham. Apalagi Mas Rino!" Dion memohon pada Sinta.


"Nggak ada dia mah, Dion. Udah kamu tenang aja. Kita aman kok," sahut Sinta acuh. Membuat Dion semakin bingung dan juga ingin segera kabur.


Dion baru ingat kalau di belakang ada pintu dapur, lalu dia pun segera berlari ke arah pintu dapur. Namun Sinta tak mau kalau Dion lepas begitu saja, Sinta malah terus mengejar Dion tanpa ampun.


Sesampainya di dapur, Dion mulai berusaha lagi untuk menenangkan kakak iparnya yang kini seperti orang kesetanan.


"Istighfar, Mbak! Istighfar. Aku ini adik ipar kamu, dan aku juga sebentar lagi akan menikah dengan Fely. Jadi please, kamu jangan gila, Mbak! Apalagi kalau sampai Mas Rino tahu, dia pasti akan marah sama kamu dan menceraikan kamu. Apa kamu nggak takut diceraikan oleh Mas Rino, Mbak?" Ujar Dion, berusaha menjelaskan pada Sinta. Sedangkan Sinta hanya tersenyum-senyum saja, seperti orang yang tak waras.


"Mbak, udah males Dion sama kakakmu. Dia itu cuma lelaki miskin, nggak bertanggung jawab, dia juga nggak pernah kaya-kaya, dia juga pengangguran. Dan sekarang, Mbak benar-benar sudah ilfil dengan kakakmu itu!" Jelas Sinta, sambil tersenyum kecut.


"Mbak itu maunya sama kamu, lelaki mapan dan juga baik hati pada keluarganya, termasuk pada Mbak dan juga Fany dan juga Fino." Jelas Sinta lagi.


"Ya tapi nggak gini juga Mbak caranya. Aku sudah mau menikah dengan Fely. Kalau mbak masih berada di sini, terus nanti tiba-tiba Fely datang, pasti nanti Fely bisa salah paham sama aku, Mbak. Aku nggak mau semua itu terjadi, Mbak!" Pinta Dion, terus memohon pada sang kakak ipar, agar mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Ya bagus dong, kalau si Fely salah paham. Terus dia ninggalin kamu deh! Dan kamu bisa bersama selamanya dengan Mbak. Lagipula, Mbak juga udah bosan kok sama kakakmu itu. Dan Mbak janji akan ninggalin si Rino kalau kamu mau menerima Mbak, sebagai pengganti Rasti," Dion semakin menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan ucapan Sinta barusan.


Dion mengusap wajahnya dengan kasar, kini posisi dia dan Sinta hanya dipisahkan oleh sebuah meja makan besar.


Bola mata Dion sedang berusaha mencari-cari pintu keluar, sedangkan Sinta perlahan-lahan bergerak terus maju berjalan mendekati Dion, dan sukses membuat Dion semakin panik.


Keringat Dion semakin mengalir deras. Bajunya juga basah, karena dia takut kalau Sinta akan berbuat macam-macam padanya. Bisa kacau semua urusannya.


Sinta berlari mengejar Dion, dan akhirnya Dion berhasil ditangkap oleh Sinta. Lalu Sinta memeluk Dion dengan erat. Dion pun terus berusaha melepaskan kembali pelukan Sinta


Untung saja tenaga Dion lebih kuat dari Sinta. Sampai akhirnya Sinta pun terjatuh dan tangannya menyenggol botol kecap yang berada di dekat meja makan.


Rasti memang sering membeli kecap dalam kemasan reffil, lalu menuangkannya pada botol yang mirip seperti di tukang bakso.


Alhasil botol kecap tersebut langsung tumpah ke kepala dan juga seluruh wajah Sinta. Dan sukses membuat Sinta gelagapan.


Tak lama, pintu pun diketuk oleh seseorang. Membuat Dion semakin panik, karena sedang berduaan di dalam rumah bersama Sinta.


Jantung Dion berdebar sangat kencang. Dion takut kalau yang datang adalah Fely.


Dion takut akan ada kesalahpahaman lagi jika semua ini ada yang melihat apalagi dengan keadaan tubuh Sinta yang hampir saja setengah bvgil, yaitu hanya memakai dalaman saja.


Karena pintu diketuk terus-menerus. Akhirnya mau tak mau Dion pun langsung menuju ke arah ruang tamu untuk membuka pintu. Tapi ternyata pintunya dikunci. Terpaksa Dion harus meminta kunci rumah iti pada Sinta. Dan mau tak mau Sinta pun memberikannya, lalu dia beralih ke kamar mandi.


...****************...


Setelah pintu terbuka. Betapa terkejutnya Dion saat melihat siapa yang datang. Dan benar saja yang datang adalah Fely.


"Mas kamu lama banget sih! Habis ngapain aja sih! Ih sebel deh. Udah hampir 15 menit aku nungguin di sini!" Cerca Fely merasa kesal.


Dion yang masih syok karena kehadiran Fely yang mendadak hanya diam tak menanggapi omelan Fely sama sekali.


Hati Dion benar-benar takut kalau Fely akan salah paham dengan semua ini.

__ADS_1


Tubuh Dion pun semakin dibanjiri dengan peluh, karena habis lari-larian dikejar oleh Sinta, dan juga seluruh wajahnya basah oleh keringat.


"Maaf sayang aku aku tadi...." Dion bingung ingin menjelaskan darimana. Hatinya benar-benar merasa ketar-ketir. Apalagi Sinta masih berada di dalam.


Sinta yang sudah selesai mandi dan masih memakai handuk, segera mengintip dari balik lemari besar dan wajahnya tersenyum riang, saat tahu yang datang adalah Fely.


Fely langsung masuk ke dalam rumah Dion, dan Dion hanya bisa pasrah sambil mengekori Fely.


Sinta buru-buru pergi ke kamar mandi lagi, pura-pura sedang mandi, karena ingin membuat Fely cemburu.


"Kamu habis ngapain sih, Yang? Kenapa badan kamu keringetan kaya gitu? Wajah kamu juga penuh sama keringat? Habis ngapain sih, kamu?" Cecar Fely tak sabar. Fely merasa ada yang janggal dengan calon suaminya itu. Dan tentu saja pertanyaan Fely membuat Dion semakin gugup.


"Aku, aku, aku nggak ngapa-ngapain, kok Yang. Aku cuma habis olahraga aja," Jawab Dion tergeragap. Sedangkan mata Fely memandang Dion tajam.


"Ah bohong kamu! Pasti kamu lagi ngebohongin aku ya? Nggak mungkin kalau lagi olahraga, tapi keringetan kayak orang habis ngapain aja! Pasti kamu lagi selingkuh ya? Awas ya, kamu kalau sampai selingkuh, aku potong punya kamu!" Ancam Fely pada Dion.


Lalu Fely pun langsung mengecek ke arah kamar Dion dan Rasti, nihil. Lalu ke arah kamar Della, tetap nihil. Dan kini Fely langsung menuju ke tempat terakhir yaitu ke arah dapur.


Jantung Dion pun semakin berdebar lebih kencang, seolah ingin keluar dari tempatnya. Saat Fely sedang berjalan untuk mengecek ke arah dapur. Karena dia tahu kalau Sinta sedang berada di sana.


Sesampainya di dapur Fely pun terkejut karena melihat keadaan dapur yang berantakan dan juga ada baju wanita yang tercecer di lantai, serta ada suara orang yang sedang mandi di kamar mandi.


"Mas! Itu siapa yang mandi? Ini juga baju siapa? Ini kan, baju perempuan Mas! Kamu selingkuh ya, Mas?!" Hardik Fely. Dion tak bisa menjawab. Dion hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu tega Mas! Pantes aja kamu bilang nggak mampu kalau mau nikahin aku dengan alasan budget yang aku minta terlalu besar. Ternyata kamu memang punya selingkuhan ya?!"


"Kamu salah paham, Sayang. Aku ... aku... aku itu... dijebak." Dion berusaha membela dirinya.


"Dijebak sama siapa? Bohong kamu!" Teriak Fely kesal, kini diapun menangis karena kesal dengan ulah Dion, yang menurutnya selingkuh dibelakangnya.


Belum selesai Dion berbicara menjelaskan semuanya pada Fely. Sinta pun langsung keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk dan juga rambut yang sudah basah.


Jelas saja pemandangan Sinta yang seperti itu, membuat Fely merasa sangat marah dan juga kesal pada Dion. Fely benar-benar merasa kecewa pada calon suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2