
Rasti merasa resah, karena ikut dengan Kenzo. Rasti ingat dengan ayam goreng Della. Yang tadi tertinggal di motornya.
"Pasti Della nungguin. Karena manusia menyebalkan itu, aku nggak bisa pulang!" gumam Rasti.
Rasti duduk di jok tengah sendirian, sedangkan yang duduk di depan, bersebelahan dengan Kenzo adalah Casie. Perjalanan menuju rumah Bu Zoya hening.
Casie adalah kakak sepupu Kenzo. Orangtuanya telah tiada. Sehingga dia dekat dan di anggap anak oleh Bu Zoya.
...****************...
Rasti ikut ke rumah Bu Zoya. Ketika mengantarkan Casie. Karena dia akan menginap di rumah Bu Zoya beberapa bulan ini.
Casie masih tidak tahu. Sampai kapan ia akan ada di Indonesia.
Dan ia langsung menuju kamar.
"Maaf ya Rasti, Tante tadi menyuruh Kenzo untuk menjemputmu!"
"Iya Tante, tapi aku mau segera pulang sekarang,karena Della nungguin. Dia tadi menitip sesuatu," ujar Rasti yang tidak mau berlama-lama.
"Oh begitu, ya sudah kalau kamu mau buru-buru pulang. Kenzo! Kamu anterin Rasti," tidak Bu Zoya.
"Memangnya, Della titip apa?" tanya Bu Zoya.
"Dia minta dibelikan ayam goreng, tapi ayam gorengnya ketinggalan di motorku yang mogok!" jawab Rasti.
"Kenzo, Kamu anterin Rasti beli ayam goreng lagi!"
Kenzo mengangguk, dan menuruti perintah mamanya.
Rasti merasa sangat gusar memikirkan Della. Karena sandiwara Kenzo membuatnya susah, sehingga harus mengikuti permainan ini. Dan Kenzo yang suka datang tiba-tiba, tanpa menanyakan terlebih dahulu.
...****************...
Rasti menunjukkan kedai ayam Amar. Di situlah ayam favorit Della. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.15 malam. Dan kedai ayam itu masih buka, justru semakin ramai.
Amar antusias ketika melihat Rasti datang, kembali. Walau ia seorang owner, tapi Ammar ikut melayani pembeli.
Rasti pasti ingin membeli ayam goreng, pikir Amar dan tersenyum. Namun senyum di raut wajah Amar memudar. Ketika melihat Kenzo yang menyusul, dan berdiri di belakang Rasti.
"Mau pesan, berapa Kak?" tanya Amar yang kini terlihat lebih kaku, tidak seceria seperti sebelum mereka bertemu.
Ammar mengambil kertas bungkusan. Tolong bungkuskan 20 potong!" ujar Kenzo membuat Rasti reflek menoleh padanya.
"Dua puluh!" ulang Kenzo pada Ammar.
Rasti tak bicara apapun lagi. Dengan cekatan Ammar membungkus pesanan.
Kenzo mengeluarkan 5 lembar uang berwarna merah.
"Ambil saja kembaliannya!" ucap Kenzo.
Ayam yang di jual Ammar berharga 10 ribu perpotongnya.
"Wah ini suami kakak ya?" tanya Amar dan memberikan pesanan pada Rasti.
Amar memberanikan diri bertanya.
"Calon suami tepatnya. Kami akan segera menikah!" jawab Kenzo.
__ADS_1
Amar tersenyum getir saat mendengarnya.
...****************...
"Kamu apa apaan, bilang aku calon istrimu!" protes Rasti. Ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Memang begitu, ini sandiwara kita!" sahut Kenzo tanpa menoleh, dan fokus pada jalanan.
"Apakah di depan semua orang, kita harus bersandiwara?"
"Harus totalitas!" tegas Kenzo.
"Aku tidak mau mengikuti sandiwara, ini konyol!" cicit Rasti yang tak sepakat.
"Jika kamu tidak mau, aku bisa memaksamu!"
"Berhenti memaksaku Kenzo!" ucap Rasti. Tidak memanggil menggunakan Pak lagi.
"Diamlah, aku tidak mau mendengar mulut bawelmu!"
"Setelah ini kamu jangan lagi mengajakku, untuk melakukan drama pura-pura!" dengkus Rasti kesal, kemudian ia membuang pandangannya pada kaca mobil. Hatinya kesal menghadapi Kenzo yang sangat egois, semua ini karena perbuatan Kenzo. Dan Rasti juga tidak enak pada Tante Zoya.
Karena beliau begitu baik tapi.Rasti ingin mengungkapkan kebohongan mereka, dia tidak mau bohong terus-menerus dengan hubungan yang sebenarnya tidak ada.
"Jika ini sandiwara, kita buat menjadi kenyataan saja!" cetus Kenzo.
"Jangan mengada, kamu!" Rasti menggeleng tak mengerti dengan sikap Kenzo.
...****************...
Siang itu Gita akan melakukan ijab kabul.
"Ibu ke rumah kakakmu!" jawab Bu Marni.
"Pasti ibu menyempatkan, mampir kan ke tempat ibu-ibu tukang ghibah!" tuduh Gita.
"Enggak Gita! Ibu sekarang sedang malu, untuk berkumpul dengan ibu-ibu lain. Karena kamu, Ibu menjadi bahan gunjingan semua orang!" cicit Bu Marni.
Rino datang ke rumah itu bersama Sinta. Walaupun hubungannya sedang tidak baik dengan Rino. Akan tetapi Sinta ikut ke rumah itu, untuk menyaksikan ijab kabul Gita. Semalaman Bagas tidak pulang karena ditahan oleh Gita.
Dirinya tidak mengizinkan Bagas.Untuk bisa pergi dari rumah itu sebelum menikahinya.
Bagas yang terancam, tak bisa berkutik ataupun menghindar. Karena ancaman keluarga Gita.
...****************...
Dion menjadi wali untuk Gita. Dan mereka sudah menikah siri. Walaupun sebenarnya pernikahan itu tidak akan sah, karena Gita dalam keadaan hamil. Tapi mereka tak punya pilihan. Takut Gita melahirkan tanpa suami.
"Gita bodoh, maunya di nikahi secara siri!" gumam Fely lirih. Dia duduk agak jauh dari keluarga Dion.
Sore itu setelah beberapa jam, usai ijab kabul. Gita mengemasi pakaiannya. Karena akan ke rumah orang tua Bagas. Sesuai perjanjian dengan Ibunya.
"Apa kita tidak bisa tahan dulu, tinggal di sini?" tanya Bagas.
Dia khawatir jika membawa Gita pulang. Namun tidak di terima oleh Ibunya. Bu Ratna sangat membenci Gita.
"Ibu menyuruhku untuk segera pergi dari sini, Mas. Aku tak punya pilihan lain!" ucap Gita. Matanya tiba-tiba memanas, ingin menangis.
Bagaimana pun Gita merasa sedih. Dengan keadaannya yang seperti sekarang, dia di perlakukan tidak baik oleh banyak orang.
__ADS_1
"Kenapa semua orang, tak menginginkan keberadaanku?" bibir Gita bergetar.
Bagas merasa terenyuh, dan memeluk Gita untuk memberikan ketenangan pada istrinya.
"Sttt.... Baiklah kita ke rumahku. Tapi kamu harus tahan, dengan sikap Ibuku. Yang kamu tahu, dia kurang menyukai dirimu," ucap Bagas.
Gita tak menjawab dan sesenggukan. Dirinya sudah bertekad, dengan apa yang nanti akan terjadi.
...****************...
Di jam makan siang. Fely sudah ada janji untuk bertemu dengan temannya. Mereka masih satu kantor, hanya beda divisi.
Sekarang Fely dan juga Karen. Sudah berada di sebuah tempat makan, yang terkenal dengan menu ikan bakarnya yang enak.
Sembari menunggu pesanan. Fely ingin menyampaikan tujuannya, untuk bertemu dengan Karen.
"Kamu sudah tahu kan Karen, aku mengajakmu untuk bertemu, karena ingin meminjam uang padamu!" tegas Fely sekali lagi. Karena ia sudah menyampaikan pesan itu semalam.
"Kamu ingin, meminjam berapa, katakanlah!" tukas Karen.
"Aku mau meminjam 200 juta, bagaimana?" Fely mengatakan nominal yang ia inginkan.
"Dua ratus juta, tanpa jaminan. Itu terlalu banyak Fel!" Karen merasa ragu.
"Apakah kamu tidak bisa meminjamkan aku, tanpa jaminan?"
Karen menggeleng.
"Aku tidak mau mengambil resiko, karena itu uang bukan sedikit!" jawab Karen.
Fely bingung, karena hanya Karen yang bisa, ia minta bantuan saat ini.
Karen itu adalah anak dari orang kaya, sama seperti dirinya. Tetapi Karen punya usaha lain. Selain bekerja di kantor.
"Bukankah, aset orang tuamu itu banyak?" ujar Karen yang tidak tahu, latar belakang Fely sebenarnya.
"Kamu tidak tahu ceritanya!" lirih Fely.
"Maksudmu?" Karen bertanya dan mengerutkan dahi.
Tidak ada yang tahu jika Fely itu hanya anak angkat, kecuali dirinya dan kedua orang tua. Bahkan Dion juga tidak di beritahu oleh Fely. Dan sekarang orang tuanya, sedang berada di ambang kebangkrutan. Sedangkan Fely tidak diberikan apapun.
Selama ini dia diberikan fasilitas oleh orang tuanya, namun Fely selalu boros dan menghamburkan uang. Tidak pandai mengatur keuangan, dan mempunyai usaha. Akibatnya sekarang, di saat terpuruk dia tak punya pegangan.
Hanya mobil saja, yang ia miliki.
"Baiklah, aku nanti akan memberikan kamu jaminan!" ujar Felly dan dia tidak menjawab rasa penasaran Karen.
"Untuk apa uang itu, kamu seperti yang membutuhkan banyak uang!" Karen penasaran.
"Aku akan mengadakan resepsi pernikahan, dengan Mas Dion. Setelah ia bercerai secara resmi dengan istrinya, kami akan menikah!" Fely menjelaskan dan tersenyum. Resepsi mewah impiannya harus terlaksana.
"Jadi kalian beneran akan menikah?"
"Tentu saja, kami itu saling mencintai. Kamu jangan percaya dengan gosip yang beredar, tentangku. Yang sebenarnya, mantan istri Mas, yang tukang selingkuh!" ujar Fely dan melontarkan sebuah fitnah.
"Oh, begitu!" ucap Karen. Ia tahu tentang video viral Fely dan juga Dion. Karena berita seperti itu akan cepat menyebar. Karena tak percaya ucapan Fely begitu saja.
"Kami akan mengadakan resepsi mewah, di sebuah ballroom hotel. Karena itu aku berniat untuk meminjam uang darimu, kami modal berdua!" "Baiklah, aku tunggu jaminan yang akan kamu tawarkan padaku, Fel!"
__ADS_1
Fely mengangguk. Ia berpikir untuk mencari jaminan apa yang akan ia beri pada Karen. Resepsi pernikahan impiannya. Tidak boleh gagal.