Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Karma


__ADS_3

Orang suruhan Fely yang bernama Dani, kini sudah mengikuti mobil alph*rd yang ditumpangi oleh Bu Elena dan juga Rasti.


"Bu, sepertinya ada yang mengikuti mobil kita di belakang," tegur Rasti pada Bu Elena. Untungnya Rasti segera sadar, kalau mobil yang ditumpangi oleh mereka, ada yang mengikuti sejak tadi.


"Iya yah? Siapa ya kira-kira?" Bu Elena langsung menengok kebelakang, memastikan omongan Rasti. Dan benar saja, ternyata ada yang mobil mereka.


Bu Elena langsung menyuruh pak sopir untuk segera berjalan lebih cepat, dan menuju ke tempat yang lebih ramai.


Bu Elena juga segera menelepon orang kepercayaannya, untuk meluncur ke tempat dia dan Rasti berada. Agar Bu Elena merasa aman.


"Saya juga nggak tau. Kira-kira siapa ya, Bu?" Rasti masih celingak-celinguk, memperhatikan mobil dibelakangnya.


Mobil yang ditumpangi Bu Elena segera meluncur dengan cepat. Dan setelah beberapa menit kemudian, mobil itu berhenti di tempat yang agak ramai.


Karena tempat tersebut lumayan ramai, akhirnya mobil yang mengikuti tadi pun sudah tidak terlihat lagi. Bu Elena dan Rasti pun akhirnya bisa bernafas lega.


"Ibu jadi bingung. Kira-kira tadi siapa ya? Kenapa dia mengikuti kita? Ada urusan apa, mereka sama kita?" Bu Elena menghembuskan nafas gusar.


Tak lama mobil mereka pun diketuk oleh orang suruhan Bu Elena. Dan Bu Elena pun segera turun.


"Mana orangnya, Bu?"


"Mereka mungkin kehilangan jejak. Saya ingin kalian mencari tau, siapa mobil yang mengikuti kita tadi. Ini saya kirimkan foto plat nomor mereka. Saya takut kalau mereka akan berniat jahat pada saya dan juga Rasti," perintah Bu Elena tegas.


"Baik Bu." Lalu mereka pun sama-sama masuk ke dalam mobil lagi, begitu juga dengan Bu Elena.


Orang suruhan Bu Elena segera mengikuti Bu Elena dari belakang. Agar majikannya tetap merasa aman sampai di tujuan.


...****************...


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, akhirnya Rasti sampai di depan rumahnya. Rasti memang diantar oleh Bu Elena.


"Terimakasih ya, Bu, sudah mengantar saya sampai sini,"


"Sama-sama, Ras. Besok ibu mengirimkan mobil untuk kamu. Bukan mobil mahal, cuma cukuplah kalau untuk kalian berempat. Karena kamu sudah bisa naik mobil, dan agar kamu bisa lebih leluasa kesana-kemari dengan menggunakan kendaraan. sendiri," sontak Rasti langsung terkejut. Tak percaya dengan ucapan Bu Elena.


"Ya ampun, Bu. Kenapa ibu repot-repot sekali? Seharusnya nggak usah, Bu. Saya sudah banyak sekali berhutang budi sama ibu. Apalagi tadi ibu habis mengirimkan bonus untuk saya," jawab Rasti, yang merasa keberatan dengan pemberian Bu Elena.


"Gapapa, Ras. Ibu ikhlas kok. Anggap saja ini bonus dari ibu, untuk kamu. Kamu juga sudah memberikan kontribusi terbaik untuk perusahaan yang ibu bangun, hingga sampai di titik seperti sekarang ini," ucap Bu Elena. Rasti segera memeluk haru Bu Elena. Entah bagaimana lagi dia harus membalas semua kebaikan Bu Elena.


"Terimakasih banyak ya, Bu. Semoga aku bisa selalu memberikan yang terbaik untuk ibu dan juga perusahaan. Semoga aku tidak pernah mengecewakan ibu," ucap Rasti penuh haru, air matanya menetes haru. Dia tak menyangka kalau akan mendapatkan partner kerja sebaik Bu Elena.


"Sama-sama," sahut Bu Elena tersenyum.


Lalu, Rasti pun langsung turun dari mobil milik Bu Elena. Saat turun dari mobil, Rasti agak terkejut karena melihat Rino dan juga Bu Marni yang sedang berada di dalam rumah Siska--tetangga depan rumahnya.


Bu Marni juga sedang memperhatikan Rasti dari rumah Siska, tapi dia dicegah oleh Rino.


...****************...


"Kenzo, bagaimana perasaanmu terhadap Rasti? Sepertinya mama lihat, kamu ada rasa sama dia?" Kenzo langsung tersedak, saat Bu Zoya berkata seperti itu.


Bu Zoya dan Kenzo sedang makan siang bersama. Setelah ini, Bu Zoya menyuruh Kenzo untuk menengok Rasti ke rumahnya.


Karena kemarin Bu Elena menghubungi Bu Zoya, kalau mereka baru saja diikuti oleh seseorang yang tak dikenal.


Bu Zoya sangat cemas, memikirkan sahabatnya dan juga Rasti. Karena Bu Zoya benar-benar mengharapkan kalau suatu saat Rasti dan Kenzo akan berjodoh.

__ADS_1


"Ken?" Bu Zoya memanggil Kenzo lagi.


"Iya, Mah. Aku belum tau, Mah. Yang jelas...." ucapan Kenzo terjeda.


"Yang jelas apa, Ken?"


"Ada rasa nyaman di dirinya. Dia sangat berbeda dengan perempuan lainnya." Sahut Kenzo malu-malu. Bu Elena pun langsung bersorak senang.


"Mudah-mudahan kalian berjodoh. Mama sangat mengharapkan itu!" Ucap Bu Elena penuh harap.


Kenzo tak merespon ucapan Mamanya. Dia hanya mengaduk-aduk makanan di piring dengan tatapan yang entah.


...****************...


Kini Kenzo sudah sampai di depan rumah yang ditinggali Rasti dan juga keluarganya. ART Rasti yang membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan Kenzo masuk.


Hatinya mendadak ragu, ingin masuk tapi dia merasa tak enak hati. Dia juga bingung ingin beralasan apa pada Rasti.


Tapi, karena teringat dengan pesan mamanya. Akhirnya Kenzo pun tetap masuk ke dalam rumah Rasti.


"Assalamualaikum," ucap Kenzo. Rasti sudah menunggunya di ruang tamu.


"Waalaikumsalam. P-pak Kenzo? Ada apa ya kemari?" Tanya Rasti gugup.


"Ini untuk kamu." Kenzo langsung memberikan sebuah bucket bunga mawar merah pilihan mamanya, dan juga ada beberapa coklat yang terselip di dalamnya.


Dengan ragu-ragu, Rasti pun menerimanya.


"Terimakasih, Pak," Rasti menerima bunga itu sambil seperti orang yang kebingungan.


"Sama-sama." Lalu hening. Mereka sama-sama terdiam. Menata hati masing-masing yang sudah sama-sama tak karuan.


Kenzo langsung berdiri, lalu menyalami Bu Ratih.


"Ras, Nak Kenzo nggak dibuatin minum emang?" Rasti refleks langsung menepuk keningnya. Dia benar-benar lupa, karena gugup. Kenzo tersenyum simpul. Lucu dengan tingkah Rasti.


"Aku lupa, Bu, hehehe." Segera Rasti beranjak dari duduknya. Lalu pergi ke dapur.


Setelah selesai membuatkan minum, Rasti pun langsung kembali ke ruang tamu dan menyuguhkannya untuk Kenzo. Sedangkan Bu Ratih sudah ke kamar Della.


"Silahkan diminum tehnya." Kenzo malah menatap Rasti dengan serius. Cukup membuat Rasti semakin gugup.


"Terimakasih. Hhm, ada salam dari mama," Ucap Kenzo. Mengalihkan pandangannya setelah beberapa menit tersadar.


"Salam balik ya." Sahut Rasti


singkat.


"Mau pergi sama aku?" Tawar Kenzo.


"Pergi? Kemana?" Kenzo memutar kedua bola matanya.


"Kemana aja." Rasti berfikir sejenak.


"Maaf ya, bukannya nggak mau. Nanti ada waktunya. Sekarang aku masih dalam masa iddah," dengan raut wajah kecewa, Kenzo pun hanya mengangguk-angguk.


Kaku sekali hubungan mereka. Hubungan yang masih sama-sama jaim.

__ADS_1


"Oh oke. Gak masalah. Ini semua juga karena disuruh mama, kok." Sebisa mungkin Kenzo menyembunyikan perasaan kecewanya karena ditolak Rasti.


Seumur-umur baru kali ini dia ditolak oleh seorang perempuan. Padahal biasanya dia yang selalu dikejar-kejar oleh perempuan.


...****************...


[Gita, ibu mau kesana. Kamu di rumah kan? Ibu mau jemput kamu. Dua hari lagi kakakmu akan menikah.] Ucap Bu Marni di telepon.


Gita memang hari ini sedang libur. Tapi tak ada yang namanya waktu istirahat kalau tinggal di rumahnya Bagas.


[Ehm, i-ibu yakin mau kesini? Aku aja deh yang kesana. Tapi ibu kirimin aku uang untuk ongkos ya?] Jawab Gita takut. Takut kalau ibunya akan marah, sampai tau kalau Gita tak punya uang.


[Kirim ongkos? Memangnya kamu nggak punya uang? Si Bagas memang nggak ngasih kamu uang? Hah!] Benar saja Bu Marni langsung murka tanpa banyak bertanya Bu Marni pun langsung menutup teleponnya, dan bergegas untuk segera pergi ke rumah Bu Ratna.


...****************...


Kini Bu Marni sudah sampai di rumah Bu Ratna. Dia diantar oleh Dion. Kebetulan Dion memang sudah mengajukan cuti untuk persiapan pernikahan dua hari lagi.


Tok! Tok! Tok!


Bu Marni mengetuk pintu dengan kencang. Karena di hatinya memang masih kesal pada Bu Ratna dan juga Bagas, karena ucapan Gita di telepon tadi. Dia merasa kalau Gita sangat tersiksa, sampai Gita tak memiliki uang sama sekali.


Ceklek! Mata Bu Ratna langsung melotot saat melihat siapa tamu yang datang. Ternyata yang datang adalah besan yang paling dia benci.


"Ada apa?" Tanya Bu Ratna acuh.


"Mana Gita? Kenapa semenjak menikah dengan anakmu, dia nggak pernah ke rumah saya?" Cecar Bu Marni langsung.


"Ada di kamarnya. Ya mana saya tau, anakmu itu pemalas, dia bisanya santai-santai di kamar aja!" Sahut Bu Ratna lagi. Sengaja berbohong.


Padahal Bu Ratna sudah pernah mengancam Gita. Bahwa Gita tak boleh mengadu pada Bu Marni kalau dia sudah bekerja. Karena Bu Ratna sudah menduga, kalau Bu Marni tau tentang putrinya, dia pasti akan marah.


Bu Marni dan Dion segera masuk ke dalam rumahnya Bu Ratna.


Walau rumah Bu Ratna terlihat sederhana dari luar, namun di dalamnya ternyata cukup bagus.


Banyak furniture, yang mahal. 'Banyak uang juga dia!' batin Bu


Marni.


Saat Bu Marni sudah masuk ke dalam kamar Gita. Gita langsung berdiri dan menghampiri ibunya. Gita langsung menangis memeluk ibunya.


"Ibu." Gita memeluk erat ibunya. Gita merasa sangat rindu dengan ibunya. Karena sudah hampir beberapa bulan setelah menikah, dia tak bertemu Bu Marni lagi. Setelah berpelukan, Gita juga langsung menyalami Dion. Raut wajah Gita tersenyum senang.


"Ya ampun Gita, kamu kurus sekali sih, Nak! Sudah seperti orang cacingan kamu tahu nggak!" Celetuk Bu Marni. Sambil memperhatikan seluruh tubuh Gita. Perut Gita yang sudah membuncit, dan tak sebanding dengan badan Gita yang semakin kurus.


"Iya Git. Kamu kurus sekali. Apa kamu tidak dikasih makan oleh Bagas?" Dion ikut menimpali.


"Nggak kok, Mas, Bu. Aku cuma kecapean aja mungkin." Sahut Gita takut. Karena dia tau, pasti Bu Ratna sedang menguping pembicaraan mereka.


"Capek kenapa? Kata mertuamu, kamu itu santai-santai aja kerjaannya? Masa santai, bisa capek?" Gita langsung menunduk. Lalu menangis. Gita memang sudah merasa benar-benar lelah.


Selama tinggal di sini, dia memang harus bekerja lebih keras. Gita harus membersihkan rumah Bu Ratna yang besar, dan juga harus bekerja di kedai milik Ammar, karena suaminya, Bagas, belum juga mendapatkan pekerjaan.


"Aku sekarang kerja, Bu." Mau tak mau, Gita pun akhirnya mengadu pada ibunya. Berharap Bu Marni dan Dion akan membawanya pulang ke rumah.


"Kerja? Lagi hamil besar begini, kamu kerja! Dasar mertua tak punya otak! Biasanya hanya menyiksa anak orang! Awas saja kamu Ratna!" Gerutu Bu Marni,penuh dendam.

__ADS_1


Bu Marni kemudian berteriak.


"Ratna, Ratna mertua si*lan!"


__ADS_2