
"Sekarang, Neng ikut sama ibu aja ya? Kamu pasti anak baik, anak yang kuat, sekarang tenangkan dirimu dulu ya." Gita masih sesenggukan. Pikirannya kacau balau, dia tak tau harus bebruat apa lagi terhadap kehidupannya yang begitu pelik.
Kalau dia tetap bertahan dengan Bagas, dia nggak akan tahan melihat Bagas dengan perempuan lain, dan juga tinggal bersama mertua yang jelas-jelas tak menyukainya.
"Yuk, naik ke motor ibu sekarang. Biar ibu antar pulang. Rumahmu dimana?" Gita belum juga menyahut ucapan ibu itu. Tapi dia menurut perkataan ibu itu, dia ikut naik ke motor ibu itu, dan duduk dibelakangnya.
Lalu ibu itu pun langsung menjalankan motornya.
"Aku nggak mau pulang, Bu. Aku ikut sama ibu aja boleh?" Pinta Gita tiba-tiba.
"Ikut sama ibu? Memangnya suami kamu kemana, Neng?" Gita tak menjawab lagi. Dia hanya menangis terus-menerus. Dan akhirnya ibu itu pun mengajak Gita ke rumahnya.
...****************...
Rino hampir saja m*t* karena dipukuli habis-habisan oleh Dion. Dan mau tak mau Sinta pun akhirnya membawa Rino ke rumah sakit.
Rino langsung ditangani oleh tim medis di ruangan gawat darurat.
Setelah beberapa jam penanganan, akhirnya Rino bisa pindah ke ruang perawatan. Rino juga sudah sadar. Seluruh badannya terasa remuk dan sakit sekali.
"Sin, aku dimana?" Tegur Rino, sambil matanya melihat-lihat ke sekeliling ruangan yang bercat putih.
"Kamu ada di rumah sakit, Mas. Kamu pingsan tadi," Rino terdiam. Menelaah kejadian yang baru saja dia lewati. Dia baru ingat, kalau Dion habis-habisan memukuli dia. Hingga dia sampai terkapar seperti ini.
"Hp ku mana, Sin?" Sinta memutar bola matanya malas. Dia kesal, sudah ditolong bukannya berterimakasih, tapi malah menanyakan ponselnya.
Setelah Sinta memberikan ponselnya. Rino pun langsung menelepon Siska. Padahal disitu jelas-jelas ada Sinta. Betapa perihnya hati Sinta.
"Kamu kesini sekarang ya, Sayang. Aku tunggu," dengan susah payah, mulutnya mengucapkan kalimat itu. Dan Sinta benar-benar merasa sangat kesal sekali.
Sinta segera beranjak dari tempat duduknya. Dia berniat ingin meninggalkan Rino sendirian disini. Hatinya sangat sakit sekali, sampai dia merasa tak mau peduli lagi pada Rino.
"Kamu mau kemana, Sin?" Tegur Rino, saat tau Sinta akan pergi meninggalkannya.
"Aku mau pergi. Ngapain juga aku disini? Kan si nenek lampir itu yang akan menemani kamu!" Sahut Sinta ketus.
"Kan dia belum datang. Terus nanti kalau aku butuh apa-apa bagaimana?" Sinta mendengus kesal.
"Mas, kamu punya ot@k apa nggak sih? Oh iya ot@k kamu udah nggak ada ya! Aku lupa sih soalnya. Kamu itu seharusnya bersyukur, udah untung kamu, aku bawa ke rumah sakit. Kalau kamu, aku bawa ke kuburan udah tamat riwayatmu! Nggak akan bisa pacaran lagi sama si nenek lampir itu!" Hardik Sinta tak suka.
"Maksudnya apa sih, Sin? Aku nggak ngerti?" Rino bertanya lagi.
"Kamu tahan aja kalau butuh apa-apa! Sampai bidadari mu yang tua itu datang kemari! Aku mau pulang! Kasihan anak-anak di rumah." Sinta pun ingin pergi.
"Tunggu, Sin!" tahan Rino.
Akhirnya Sinta kembali duduk, hingga menunggu kedatangan Siska.
Hampir 20 menit menunggu. Siska akhirnya datang, ia langsung mencium wajah Rino. Kekasihnya itu terbaring lemah.
"Sayang, kamu lebih baik tinggal bersamaku saja setelah ini. Agar tak ada yang menyakitimu!" ucap Siska dan sekilas melirik sinis pada Sinta.
__ADS_1
"Benar sayang, aku mau tinggal bersamamu saja," jawab Rino.
"Kalau kamu tinggal sama Nenek gatal ini, lantas aku mau tinggal di mana dengan anak-anak. Enak ya kamu Mas, menghindar dari tanggung jawab, untuk ganti rugi pada Dion. Menyesal aku telah menolongmu, harusnya aku biarkan kamu m*ti!" geram Sinta karena lagi dan lagi di khianati.
"Kamu bisa kembali, pada orang tuamu!" ucap Rino.
Siska menyunggingkan senyum, merasa dia adalah pemenang hati Rino.
Sinta yang geram, menyingsingkan lengan bajunya.
Dan mendekat pada Rino. Dengan kasar. Sinta melepas infus yang menancap pada tangan suaminya. "Akkkhhh....!" Pekik Rino menahan sakit.
Detik kemudian Sinta berlari keluar kamar. Sedangkan Siska menjerit melihat kondisi Rino.
"Suster, suster!" teriak Siska meminta bantuan.
Hingga akhirnya suster datang, untuk kembali memasang jarum infus yang baru.
...****************...
Dion kini sudah berdiri di depan rumah Rasti, tanpa perasaan malu sedikitpun atas kelakuannya di masa lalu.
Dion berharap bisa kembali lagi bersama Rasti. Karena Dion sudah membayangkan hidup enak dengan Rasti yang penuh dengan warisan dan juga harta kekayaan.
"Assalamualaikum, Ras, Rasti!" Dion menggoyang-goyangkan pagar rumah Rasti. Berharap si empunya rumah mau keluar menemuinya.
Tak lama, Bu Ratih pun akhirnya keluar.
"Bisa tolong bukakan pintunya, Bu? Aku mau ketemu Rasti, mau minta maaf sama Rasti," pinta Dion penuh harap.
"Ngapain lagi kamu mau ketemu Rasti? Ibu rasa kalian sudah tidak ada urusan lagi. Ngapain lagi mamu mau bertemu dengan anakku? Memangnya belum cukup kalian sekeluarga yang sudah menyakiti Rasti?" Ujar Bu Ratih ketus.
"Aku ke sini cuma mau minta maaf sama Rasti, Bu. Dan aku juga mau menemui Della. Bagaimana kabar Della sekarang, Bu?" Tutur Dion beralasan.
"Della baik. Namun dia masih belum bisa ditemui. Ibu harap kamu paham. Rasti juga sedang tak ada di rumah, dia sibuk bekerja di luar sana." Sindir Bu Ratih sinis.
"Aku mohon maafkan aku, Bu? Aku mau bertemu dengan anakku. Aku juga ingin membina hubungan rumah tangga kembali pada Rasti. Sekarang aku benar-benar sadar. Kalau aku ternyata benar-benar mencintai Rasti," pinta Dion
memohon-mohon pada Bu Ratih. Tapi Bu Ratih sama sekali tak membukakan pintu untuk Dion.
"Loh kenapa baru sadar sekarang? kemarin-kemarin ke mana aja kamu? Sudahlah Dion, kamu tidak usah banyak drama. Kamu dan ibumu tuh sama saja penuh dengan drama hidupnya. Lagipula kamu kan sudah mempunyai istri, ngapain lagi kamu mau ajak Rasti untuk balikan lagi? Sudah g*l* kamu ya?" Cerca Bu Ratih kesal.
"Aku khilaf, Bu. Sekarang aku baru sadar atas semua kesalahan-kesalahan aku. Aku mohon, bu. Rasti dimana, Bu? Biar aku bisa meminta maaf langsung padanya," tak menyerah Dion terus memohon-mohon pada Bu Ratih.
"Ibu nggak akan kasih tau dimana, Rasti. Sudahlah, lebih baik kamu pulang. Ibu tak ada waktu mengurusi orang seperti kamu!" Bu Ratih pun langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Bu, aku mohon, Bu! Buka pintunya, Bu! Asal ibu tau, di rumah ini ada uang aku juga! Karena Rasti meminta aku untuk membagi dua uang hasil penjualan rumahku!" Dion berteriak-teriak seperti orang yang sedang kesurupan. Tapi Bu Ratih sama sekali tak peduli, dan langsung menutup pintu rumahnya.
Dion benar-benar merasa frustasi dengan keadaan hidupnya yang sekarang.
Hutang yang numpuk, mobil yang dijual oleh saudara sendiri, dapat istri penipu dan masih banyak lagi hukuman-hikuman yang dia terima dalam hidupnya kini.
__ADS_1
...****************...
Bu Marni yang sudah tau tentang kondisi Rino. Langsung saja ke rumah sakit untuk melihat keadaan anaknya.
Sesampainya di ruangan Rino. Bu Marni sontak histeris, dia sangat shock sekali saat melihat keadaan anak pertamanya itu.
Bu Marni tak menyangka kalau Dion akan tega berbuat senekat ini. Bu Marni juga merasa ngeri, bagaimana kalau Dion tau sampai tau, kalau Bu Marni juga mengetahui tentang semua itu.
Siska sedang keluar, untuk membeli cemilan.
"Tega sekali sih, si Dion memperlakukan ini sama kamu? Nggak habi pikir deh ibu sama dia!" Desis Bu Marni.
"Iya bu, Dion sepertinya sedang merasa frustasi sekali, Bu. Makanya dia meluapkan amarahnya padaku." Bu Marni berdecak kesal. Bingung harus berbuat apa.
"Iya dia itu lagi kepusingan, karena dapat istri penipu! Sudahlah anak angkat, eh bangkrut pula. Duh, double-double derita adikmu itu! Ini semua pasti karena si Rasti yang udah nyumpahin keluarga kita biar sial terus!" Gerutu Bu Marni.
"Memangnya si Fely penipu apa,
Bu?"
"Dia itu cuma anak angkat, bukan anak kandung Bu Carol. Dan Bu Carol juga sudah bangkrut! Dan alhasil kita semua nggak dapat apa-apa kan dari si Fely si*l*n itu! Ah kesel sekali ibu," gumam Bu Marni, menumpahkan semua kekesalannya.
"Ya udah, ibu sabar ya? Tapi kan ibu tau kalau Siska beneran kaya. Dan ibu juga lihat sendiri kan, kalau rumah itu beneran miliknya. Jadi, tugas ibu tinggal ngedukung aku untuk menceraikan Sinta dan menikah dengan Siska." Mata Bu Marni berbinar, mengangguk-angguk semangat.
...****************...
Sudah dua hari, Bagas menikahi Arini secara resmi. Wanita pilihan Bu Ratna.
Bu Ratna memang sengaja menikahkan Bagas dengan Arini, tujuannya agar Bagas bisa ditanggung oleh Arini.
Arini bekerja di sebuah klinik kecantikan. Gajinya besar, karena ownernya terkenal baik hati.
Oleh karena itu, Bu Ratna sangat senang dengan Arini yang cantik dan juga sukses sebagai wanita karir. Dia merasa kalau Bagas tak perlu banting tulang, karena ada Arini.
Dalam hatinya, Bagas selalu memikirkan Gita. Karena sejak pesta pernikahan Dion. Gita tak pernah pulang lagi, hingga saat ini. Tapi Bagas bersikap seacuh mungkin, karena kini dia sudah mempunyai istri baru yang cantik dan mapan.
"Sayang, aku mau makan. Ambilin dong." Perintah Arini pada Bagas.
Mereka kini tinggal di rumah Bu Ratna untuk sementara waktu. Karena Arini sedang membangun rumahnya pribadinya untuk ditinggali bersama Bagas.
"Sayang! Kamu denger nggak sih? Aku laper nih! Ambilin buruan!" Perintah Arini lagi, tak sabar.
"Iya sebentar dong sayang. Aku kan lagi menjemur baju, baru selesai cuci piring juga!" Sungut Bagas. Dia merasa sangat kelelahan.
Bu Ratna sedang pergi ke rumah saudaranya. Oleh karena itu, dia hanya berdua saja di rumah dengan Arini.
"Aku tuh udah laper, Bagas! Kamu tuh ya!" Tanpa menyahut lagi. Akhirnya Bagas pun langsung mengambil nasi beserta lauk yang sudah dia masak tadi pagi.
Seumur hidupnya, Bagas tak pernah melakukan pekerjaan seperti ini. Bahkan kemarin waktu masih bersama Gita, Gita semua yang mengerjakannya. Bahkan Gita sambil bekerja di kedai ayam goreng milik Ammar. Dan Bagas hanya nongkrong-nongkrong bersama dengan teman-temannya.
"Kamu harusnya bantuin aku, jangan cuma duduk aja!" tegur Bagas karena tidak tahan dengan sikap Arini.
__ADS_1
"Aku istrimu, bukan babu! Masih untung aku mau denganmu, yang pengangguran!" Hardik Arini dengan matanya yang melotot pada Bagas.