Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Calon menantu hedon


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Gita pun langsung merobohkan badannya di sofa. Kebetulan kondisi rumah sedang sepi. Bu Ratna sedang pergi ke acara arisan tetangga sebelah. Sedangkan Bagas sedang pergi entah kemana.


Oleh karena itu, dia berani untuk beristirahat sejenak di sofa empuk milik mertuanya.


Gita merasakan pinggangnya sangat pegal sekali. Karena di kedai itu selalu ramai dan juga harus berdiri terus, untuk melayani para pembeli.


Tak sadar, karena kelelahan. Gita pun akhirnya terlelap di sofa empuk itu.


Bbyuurr!!!


Tiba-tiba saja, Bu Ratna menyiramkan air segayung ke wajah Gita yang sedang tertidur. Alhasil membuat Gita gelagapan dan akhirnya terbangun.


"Ibu?" Gita tergeragap. Di dalam hatinya mau marah. Dongkol. Tapi tak berani melawan mertuanya yang memang terkenal galak.


"Apa! Mau marah kamu! Enak-enakan tidur di sofa milik aku! Siapa yang ngijinin? Awas ya, kalau kamu berani-berani lagi tidur di sofa ini! J*j*k tau nggak, saya lihat wajah kamu!" Hardik Bu Ratna penuh emosi.


"Ma-maaf, Bu." Dengan terpaksa Gita pun meminta maaf. Padahal hatinya sangat dongkol sekali.


"Maaf, maaf. Sekarang kamu cuci piring sana! Pulang kerja bukannya cuci piring, rapihin rumah, ini malah enak-enakan langsung tidur! Ingat ya, kamu itu di sini bukan untuk jadi ratu! Kamu itu di sini jadi babu bagi saya. Dan bukan istrinya Bagas, paham kamu!" Cacian Bu Ratna cukup menusuk ke dalam hati Gita. Sampai-sampai Gita pun menangis di depan Bu Ratna.


"A-aku ini istrinya Mas Bagas, Bu. Bukan babu. Aku juga sekarang kerja. Dan aku lagi ngerasa capek banget karena pinggang dan punggung aku juga terasa pegal sekali, Bu. Jadi aku mohon, aku mau istirahat sebentar. Nanti kalau sudah tidak pegal lagi, baru aku lanjut melakukan pekerjaan rumah. Aku kan juga lagi hamil, Bu. Harus Butuh banyak istirahat," lirik Gita, hatinya. menciut. Takut Bu Ratna semakin marah padanya.


"Alah! manja kamu! Lagi pula kenapa kamu jadi wanita mur*h*n sekali. Kenapa kamu tidak bisa menjaga kehormatan kamu, dengan alasan anak saya yang menjebak kamu, padahal kamu sendiri kan yang menyodorkannya! Dasar wanita mur h*n!" Hardik Bu Ratna semakin murka.


"Saya berani bersumpah, Bu. Mas Bagas yang menjebak saya. Saya juga nggak berani melakukan hal seperti itu, kalau bukan Mas Bagas yang mengajak saya terlebih dahulu," sahut Gita tak mau kalah. Dia juga sambil menangis


sesenggukan.


"Ah sudahlah! Pokoknya saya nggak mau tahu, kamu harus bersihin rumah ini sekarang juga! Cuci piring sana! Kalau sudah selesai, baru kamu boleh istirahat. Awas kamu ya, kalau sampai tidak mengerjakannya!" Bu Ratna pun langsung berlalu pergi meninggalkan Gita, dengan keadaan rambut dan baju yang basah akibat diguyur oleh Bu Ratna.


...****************...


Hari ini Bu Marni, Dion dan Fely, akan membeli seserahan untuk acara pernikahannya nanti.


Bu Marni seketika teringat dengan nasib anak gadisnya yang kurang beruntung. Gita malah menikah dengan persiapan yang seadanya. Jauh dari kata mewah. Seperti yang akan dilakukan oleh Dion dan juga Fely.


"Andai saja kamu tidak berulah, Git. Pasti kamu akan merasakan kebahagian seperti kakakmu si Dion. Sebentar lagi dia akan menjadi suami dari pewaris tunggal. Kamu pasti nanti bisa minta apa saja pada kakak iparmu, si Fely. Karena Fely keturunan dari keluarga kaya. Tidak miskin seperti si Rasti yang kampungan itu." Gumam Bu Marni sendirian. Hatinya terasa sedih jika mengingat Gita.


Apalagi putrinya itu sudah lama, tidak ke rumah Bu Marni. Karena memang Gita tidak mempunyai uang untuk sekedar ongkos perjalanan ke rumah ibunya. Dan sekarang Gita semakin sibuk, karena sudah bekerja di tempat Ammar.


"Bu, mau kemana? Tunben, udah rapi gitu." Tegur Sinta tiba-tiba. Sinta datang bersama Rino dan juga kedua anaknya, Fani dan Vino.

__ADS_1


"Mau beli seserahan si Dion." Sahut Bu Marni malas.


"Wah, aku ikut dong, Bu. Pasti nanti mampir ke restoran mahal ya? Kan si Fely anak orang kaya," celetuk Rino. Mata Bu Marni mendelik ke arah Rino. Bu Marni diam, seperti sedang berfikir.


"Ya udah, tunggu Dion dan Fely saja dulu. Sebentar lagi dia juga datang."


"Ok, Bu." Rino mengacungkan jempolnya.


Tak lama Dion dan Fely pun akhirnya datang. Semenjak mobil Dion direntalkan oleh temannya Rino. Dion pun kemana-mana harus menumpang di mobil Fely.


Fely dan Dion langsung menyalami Bu Marni. Fely sama sekali tidak menegur Sinta dan juga Rino. Karena Fely sudah malas dengan kelakuan calon iparnya, yang seenaknya membawa dan menyewakan mobil Dion pada orang lain.


"Ayo kita berangkat. Atau mau istirahat dulu?" Tanya Bu Marni tak sabar.


"Kita udah makan, Bu. Mending langsung jalan aja deh. Takut kesorean. Karena masih banyak yang harus dikerjakan. Fitting baju, meeting sama WO dan lainnya." Jelas Fely.


"Ya sudah, ayo kalau gitu." Bu Marni langsung melangkahkan kakinya untuk menuju ke mobil Fely.


"Aku ikut ya? Mau sekalian bantuin milih-milih," Rino menaik-turunkan kedua alisnya. Berusaha merayu Dion.


"Aku juga ikut sama anak-anak." Sahut Sinta tak mau kalah.


"Ya udah, kita nyusul aja. Memangnya kalian mau ke Mall mana?" Tanya Rino lagi, tak pantang menyerah. Padahal sudah ditolak oleh Fely.


"Ke Mall? Kita itu mau ke tanah abang!" Jawaban Bu Marni sontak saja membuat mata Fely melotot dan mulutnya menganga.


"Kok tanah abang sih, Bu? Ya, ke Mall lah. Mana level aku beli seserahan di tanah abang! Ada-ada aja sih Ibu ini," sahut Fely Ketus. Dia tak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya pada Bu Marni.


"Kalau kita belanja di mall, pasti harganya mahal-mahal. Apa uang Dion cukup hanya untuk beli seserahan saja? Belum lagi biaya-biaya yang lainnya. Lebih baik kita ke tanah abang saja, karena di Tanah Abang kualitasnya juga sama dengan kualitas Mall dan harganya jauh lebih murah," jelas Bu Marni lagi. Masih kekeuh dengan pendiriannya.


Bu Marni takut kalau uang Dion akan cepat habis. Karena kini Dion sudah tidak punya apa-apa lagi. Rumah satu-satunya adalah harta yang Dion punya. Malah harus dibagi dua dengan Rasti.


"Duh! Terserah ya, Mas. Aku nggak jadi pergi kalau ke tanah abang! Aku ini anak orang kaya! Mana level aku menginjakkan kaki ke tanah abang!" Fely pun langsung pergi menuju ke mobilnya. Dion meremas kasar rambutnya. Kepalanya terasa pusing sekali. Sedangkan Bu Marni hanya diam sambil mencebikkan bibirnya.


"Terus gimana, Dion? Mau ke mall apa ke tanah abang?" Tanya Bu Marni, beralih ke Dion.


"Udahlah Bu, ikuti saja maunya Fely. Memang benar kata Fely, kalau dia itu kan anak orang kaya, Bu. Mana pernah dia menginjakkan kakinya di Tanah Abang. Kita juga harus jaga image, Bu. Aku nggak mau kalau sampai mamanya Fely kecewa sama aku hanya karena masalah seserahan," jelas Dion panjang lebar. Dan akhirnya menuruti maunya Fely. Walau dia tau, akan banyak sekali uang yang keluar nantinya. Karena Fely sangat berbeda sekali dengan Rasti.


Akhirnya Bu Marni pun menuruti permintaan calon menantunya itu. Sinta dan Rino tak jadi ikut.


Karena Fely memang tak welcome pada mereka berdua.

__ADS_1


...****************...


Sesampainya di mall, Fely pun langsung menuju ke arah toko tas yang terkenal dengan brandnya yang sangat mahal.


Dion sempat dibuat terkejut, saat Fely masuk ke toko dengan brand yang terkenal mahal tersebut.


"Kamu nggak salah masuk toko ini?" Bisik Dion. Tak yakin dengan pilihan Fely. Sedangkan Bu Marni yang memang tak tau, hanya diam saja. Andai saja Bu Marni tau, pasti dia sangat shock.


Yang di tuju Fely adalah brand Ch*nnel. Di Mall itu berjejer store brand mahal, yang harganya puluhan hingga ratusan juga.


"Nggak dong. Aku itu udah biasa pakai barang mahal, Mas. Terus kamu mau beliin aku tas yang seperti apa? Yang lima puluh ribuan? Yang di emperan sana? Kamu tuh serius gak sih, mau nikah sama aku?" Fely malah mencecar Dion.


"Iya sayang. Tapi kan kita harus lihat budget. Nggak semahal ini juga," Protes Dion yang merasa keberatan.


"Udah deh jangan bawel!" Fely pun langsung melanjutkan aktivitasnya untuk memilih-milih tas mahal. Dia juga kini didampingi oleh seorang pelayan toko. Fely diperlakukan bak ratu sejagat.


Setelah selesai memilih-milih, akhirnya Fely pun langsung menuju ke kasir bersama Dion dan juga Bu Marni.


Bu Marni memang tak mengerti tentang harga tas di toko tersebut,makanya dia masih bersikap santai dan biasa saja.


"Totalnya 52 juta, Bu. Silahkan dipilih pembayarannya." Kasir pun langsung menyodorkan mesin ede pada Dion.


"52 juta? Nggak salah mbak! Mahal sekali tas ini. Kenapa jual tas aja sampai puluhan juta? Padahal di Tanah Abang juga nggak sampai kayak gini kok dan modelnya pun hampir sama!" Refleks Bu Marni berteriak, karena dia shock saat mendengar harga tas pilihan Fely.


Semua orang yang ada di toko itu pun dibuat bingung oleh sikap Bu Marni. Apalagi Fely yang benar-benar merasa malu dengan calon ibu mertuanya yang sangat kampungan sekali.


"Bu, tolong dong jangan teriak-teriak. Biar ini jadi urusan aku dan Mas Dion saja, ini aku beli juga yang lumayan murah!" Bisik Fely. Kesal.


"Tapi, memang ini mahal sekali sayang. Aku rasa ini terlalu berlebihan." Dion pun ikut menimpali ucapan ibunya. Dion. merasa keberatan untuk mengeluarkan uang segitu banyak. Karena dulu waktu masih sama Rasti, dia tak pernah mengeluarkan uang sebanyak itu.


"Mas kamu tuh sebenarnya niat nggak sih, nikah sama aku? Dari tadi kamu tuh kayaknya keberatan terus deh! terserah kamu deh!" Fely pun akhirnya merajuk. Kesal dengan sikap Dion dan ibunya. Dia juga merasa malu, karena semua karyawan toko sedang memperhatikannya.


"Ya udah, sayang. Kamu beli aja, nggak apa-apa kok." Dion pun menghembuskan nafasnya gusar. Hatinya terasa sesak, karena setelah ini masih ada barang-barang lain yang akan dibeli oleh Fely. Apakah uangnya akan cukup hanya untuk sekedar membeli seserahan saja?


Di dalam pikirannya, Dion membayangkan kalau semua ini yang dia lakukan hari ini, pasti akan cepat tergantikan. Karena setelah menikah, Dion akan meminta Fely untuk tinggal di rumahnya. Dan Dion pun akan ikut mengelola perusahaan milik orang tuanya Fely.


Pikiran Dion telah membayangkan hidup yang nikmat dan bergelimangan harta. Karena setahu dia, Fely memang anak tunggal dari keluarga kaya raya.


Belum lagi cincin berlian yang di minta oleh Fely. Kepala Dion menjadi sakit dan lehernya tegang.


Selesai berbelanja, Bu Marni, Dion dan Fely langsung keluar dan menuju ke tempat toko sepatu dan tak disangka di dalam toko sepatu tersebut, mereka semua harus bertemu dengan Rasti, beserta keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2