
Hari sudah mulai gelap, dan Rasti baru saja sampai di rumahnya.
Della sudah menunggu di ruang tamu bersama dengan kakek dan neneknya.
Wajah Della nampak murung sekali, karena Della marah pada Rasti yang terlalu lama pergi membeli ayam goreng pesanannya.
"Sayang, maafin ibu, ya? Ini ayam gorengnya." Ucap Rasti sambil menyerahkan sebuah dus berisi ayam goreng.
Della menerimanya, dan langsung pergi ke kamarnya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Rasti. Hatinya benar-benar merasa kecewa.
...****************...
"Ras, ini ada titipan dari kurir." Bu Ratih menyerahkan sebuah bucket bunga pada Rasti.
"Ini dari siapa, Bu?" Tanya Rasti bingung.
"Ibu juga nggak tau, itu dari siapa. Tadi kurir yang mengantarkan bucket ini." jelas Bu Ratih.
Segera Rasti mengecek bucket bunga tersebut, dan ternyata saat dibuka di dalamnya ada sebuah kotak cincin, beserta selembar amplop.
"Kira-kira ini dari siapa ya, Bu?" Tangan Rasti masih sibuk mengecek isi kotak tersebut dan juga membuka amplop surat.
"Coba kamu buka dulu amplopnya. Siapa tau ada disitu nama pengirimnya. Ibu mau ke belakang dulu ya? Ibu mau ke kamar Della. Sepertinya dia masih ngambek sama kamu." Bu Ratih langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar Della.
"Ya udah, Bu. Nanti aku nyusul ke kamar Della." Sahut Rasti.
Della memang masih ngambek pada Rasti. Karena semalam Rasti terlalu lama membawakan pesanannya.
Saat Rasti membuka kotak tersebut, betapa terkejutnya dia, saat melihat sebuah cincin yang berkilauan di dalamnya. Dan segera Rasti membuka amplop surat tersebut lalu membacanya.
"Terimakasih telah hadir di hidupku. Dan telah memberi warna di duniaku. Wahai Bidadari, jika kamu berkenan. Nanti malam silahkan datang ke restoran hijau daun. Karena aku menunggumu disana jam 7 malam, di meja nomor 28.' Kenzo.
Sontak saja mata Rasti langsung membulat dan jantungnya pun berdebar lebih kencang. Rasti benar-benar tak menyangka kalau Kenzo akan menjadi se romantis itu.
Padahal mereka baru saja beberapa kali bertemu, dan belum terlalu lama berkenalan.
Memang waktu itu Kenzo sengaja mengajak dirinya untuk menjalani hubungan yang berpura-pura, tapi dia benar-benar tak menyangka dengan perlakuan Kenzo yang speerti
Tiba-tiba hati Rasti mendadak bimbang. Dia bingung, ingin pergi ke acara makan makan itu atau tidak.
...****************...
Fely dan Karen memang sudah janjian di sebuah Restoran mahal dan privat, karena Fely akan menyerahkan surat rumah milik Bu Marni. Surat yang akan ditukar dengan uang untuk biaya resepsi pernikahannya dengan Dion.
"Jadi gimana, Fel? Sudah ada jaminan untuk pinjaman kamu?"
"Ini surat rumah, dan aku ingin kamu menambahkan nominal pinjamanku. Karena rumah ini cukup besar. Jadi aku ingin kamu melebihkan nominal pinjamannya." Ujar Fely, lalu menyerahkan sebuah map yang berisi surat rumah milik Bu Marni. Dan Karen pun menerimanya, sambil mengeceknya dengan teliti.
__ADS_1
"Ini rumah orang tuamu, Fel?" Fely menggeleng.
"Lalu?"
"Itu surat rumah calon mertuaku, dan beliau dengan senang hati mau meminjamkannya untukku," jawab Fely berbohong. Padahal Bu Marni sudah ditipu oleh Fely.
"Wah, baik sekali ternyata calon ibu mertuamu. Keren kamu, Fel. Langgeng ya?" Mereka pun langaung bersalaman. Karen tersenyum tipis, dan tahu sebenarnya bagaimana kelicikan Fely. Tapi yang terpenting, dia mendapatkan jaminan.
Setelah bernegosiasi, akhirnya Karen pun langsung mentransfer 100 juta.
"Aku akan kirim lagi secara berkala, kupastikan akan segera mengirim semuanya!" ujar Fely.
"Oke, baiklah"
Fely tersenyum senang, mendapatkan banyak uang. Dan jaminannya adalah rumah milik Bu Marni.
Karen mengatakan, jika dalam waktu enam bulan tidak ada usaha untuk mengangsur, maka rumah tersebut akan disita. Dan Fely pun menyetujuinya. Karena tanpa disadari, Bu Marni sudah menandatangani surat persetujuan tesebut.
Bu Marni memang tak membacanya lagi, saat dia menandatangani surat tersebut. Bu Marni sudah terlalu percaya sekali dengan Fely, karena melihat Fely yang keturunan dari orang kaya raya.
Karen tahu tak mudah mengambil alih, tapi dia adalah lintah darat. Dan bisa membeli kewenangan. Karen mempunyai banyak bekingan, dan uang.
...****************...
"Iya, Mah. Ini aku udah sampai di restoran yang mama bilang. Mama udah sampai mana?" Ucap Kenzo pada mamanya, melalui sambungan telepon.
"Iya, bawa." Walau agak sedikit bingung. Kenzo tetap menuruti permintaan ibunya. Padahal di hatinya dia merasa ada yang aneh. Karena tumben sekali sang ibu mengajaknya makan malam, dan juga menyuruhnya untuk membawa bunga.
Memang semua ini adalah strategi dari Bu Zoya. Karena dia ingin sekali, melihat Rasti dan Kenzo bisa makan malam bersama. Agar Rasti dan Kenzo bisa menjadi lebih dekat.
Sesampainya di meja yang Bu Zoya pesan. Kenzo pun langsung duduk disana, sambil menunggu mamanya datang.
Selang lima belas menit kemudian, Rasti pun datang sendirian.
Rasti menggunakan dress berwarna silver, dan juga menggunakan pashmina berwarna senada. Dihiasi dengan make up natural, namun tetap menawan dan juga memakai sepatu high heels yang membuat tubuhnya semakin terlihat tinggi. Penampilan Rasti benar-benar cantik sekali malam ini.
Jantung Rasti berdebar-debar semakin kencang, saat dari kejauhan dia sudah melihat Kenzo yang duduk di sana.
Kini Rasti sudah berdiri tepat di hadapan Kenzo. Dan Kenzo pun langsung tercengang saat melihat penampilan Rasti yang begitu menawan dan juga elegan di mata Kenzo.
Sampai-sampai Kenzo pun dibuat tak berkedip sama sekali.
"Ha-hai?" Sapa Kenzo yang mendadak kaku. Lidahnya terasa kelu.
"Hai." Sahut Rasti singkat. Dia merasa risih, karena dari tadi mata Kenzo tak lepas-lepas memandangnya.
"Boleh aku duduk?"
__ADS_1
Rasti pun mengangguk salah tingkah
"Ka-kamu? Kamu diundang juga sama mama?" Rasti mengerutkan kedua alisnya.
"Diundang? Sama Bu Zoya?" Rasti malah bertanya balik.
"Iya. Kamu kesini karena diundang juga kan, sama mama?" Kenzo mengulangi pertanyaanmya lagi.
"Loh? Aku kesini bukannya karena kamu yang kirim bunga dan juga selembar surat? Lalu di surat itu kamu menyuruhku untuk datang ke restoran ini jam 07.00 malam?" Kenzo pun langsung refleks melongo. Dia benar-benar tak menyangka kalau semua ini adalah rencana dari mamanya.
...****************...
"Bosan sekali sih hari ini! Si Gita udah nggak tinggal disini. Si Rino sibuk terus! Sinta sudah malas ah lihat mukanya yang pemalas dan juga tak sekaya Fely." Bu Marni menggerutu sendiri. Dia merasa kesepian, karena dia memang sedang sendirian di rumahnya.
"Apa aku ke rumah Dion aja ya? Siapa tau disana masih ada barang si Rasti yang mau aku buang-buangin. Nggak sudi ih, punya menantu miskin dan juga kampungan seperti itu!" Lalu Bu Marni pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke rumah Dion. Ia meminta di antarkan oleh anak tetangga. Karena rumah tak begitu jauh.
Sengaja dia tidak memberitahukan kepada Dion terlebih dahulu. Karena Bu Marni memang ingin ke sana diam-diam.
"Mana tahu aku dapat, mengambil beberapa barang elektronik di sana!" gumam Bu Marni.
Sudah lama sekali semenjak Dion bercerai dengan Rasti, dia tidak menengok rumah itu lagi. Karena waktu itu Dion bilang kalau Rasti ingin Dion menjual rumah itu dan membagi dua hasil penjualannya.
Dion juga sekarang sering menginap di rumah Bu Marni. Alasannya karena dia bosan sendirian disana, dan sekalian ingin menemani Bu Marni sampai Dion menikah nanti dengan Fely.
Kini Bu Marni telah sampai di depan rumah Dion. Tapi alangkah terkejutnya Bu Marni, karena rumah Dion sebagian sudah ada yang berubah.
Dimulai dari cat tembok rumahnya yang berubah warna, dan juga kini ada banyak anak-anak kecil yang bermain di depan teras rumahnya Dion.
Biasanya dulu, setiap Bu Marni ke sini rumahnya selalu bersih dan juga sunyi. Karena Rasti sering sangat rajin membereskan halaman depan rumah itu.
"Eh, eh, eh, pada ngapain main di depan rumah orang? Ngotorin teras rumah anakku saja! Mending pada pulang sana! Dasar anak-anak nakal!" Hardik Bu Marni seenaknya, pada anak-anak kecil tersebut. Mereka yang sedang asyik bermain, langsung berhenti. Disana ada sekitar tujuh orang anak kecil. Mereka berusia sekitar 3-5 tahun.
Karena suaranya Bu Marni yang agak besar. Alhasil ada salah satu anak yang menangis. Sehingga orang tua si anak tersebut, keluar dari dalam rumah Dion.
Jelas saja pemandangan seperti itu semakin membuat Bu Marni merasa kesal. Bu Marni bingung, siapa orang yang keluar dari dalam rumah Dion tersebut.
"Ada apa ini? Ibu apakan anak saya? Kenapa bisa nangis?" Cecar orang tua si anak tersebut pada Bu Marni. Dia tak terima kalau sang anak yang sedang bermain tiba-tiba menangis kencang.
"Saya nggak apa-apain kok! Kamu siapa? Ngapain di dalam rumah anak saya? Kenapa ada acara ramai-ramai seperti ini? Mengotori saja!" Lagi dan lagi Bu Marni berkata dengan angkuhnya.
"Rumah anak ibu? Maksudnya apa ya?" Si perempuan tersebut malah bertanya balik. Raut wajahnya nampak bingung.
"Rumah ini tuh rumah anak saya, si Dion! Kalian ngapain rame-rame disini?" Bu Marni menjawab sambil ngotot.
"Oh, Pak Dion? Loh, rumah ini kan sudah dijual Pak Dion pada mertua saya. Dan sekarang jelas saya tempati. Karena jelas sudah dibeli kok. Masa kamu sebagai ibunya nggak tau?" Sahut si perempuan itu, tak kalah ngegasnya. Sama seperti Bu Marni.
Sontak saja Bu Marni langsung terkejut dan matanya pun melotot dengan lebarnya.
__ADS_1