Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Bagian 54


__ADS_3

"Bu, dimana Della? Kenapa dia bisa hilang?" Ucap Rasti panik.


"Ibu juga nggak tau, Ras. Tiba-tiba saja dia menghilang," jelas Bu Ratih. Rasti terisak bingung. Mau kemana dia mencari Della.


"Kamu tenang, Sayang." Rasti langsung mendongak, saat Kenzo kelepasan memanggilnya dengan sebutan sayang.


Bu Ratih yang tadinya agak panik, kini malah jadi tersenyum tipis.


"Aku punya ide. Bagaimana kalau kita cari ke kedai ayam goreng kesukaan Della." Usul Rasti. Dan Kenzo pun menyetujuinya.


Mereka pun langsung pergi kesana.


...****************...


Kini Rasti dan Kenzo sudah sampai di kedai ayam goreng milik Ammar.


"Mas Ammar, apa Della kemari?" Langsung saja Rasti memberondong pertanyaan pada Ammar yang baru saja menyambutnya.


"Della? Dia tidak kemari. Memangnya kemana Della?" Rasti menepuk pelan pelipisnya.


Pikirannya sangat semrawut sekali.


Kenzo yang awalnya berusaha menjaga jarak, karena merasa cemburu dengan Ammar. Dia langsung mendekati Rasti, lalu mengelus pelan bahu Rasti.


"Aku juga nggak tau Della kemana. Tadi saat aku pergi, dia tiba-tiba menghilang. Aku pikir Della kesini bersama temannya," jelas Rasti yang nampak kebingungan sekali.


"Jadi Della hilang? Baik, kamu sekarang tenang dulu. Aku akan memerintahkan orang suruhanku untuk mencari Della sampai ketemu." Sahut Ammar antusias. Dia tak mau kalau Rasti sampai harus bersedih.


"Aku rasa Rasti tak memerlukan bantuanmu, Bro! Aku juga bisa menyelesaikan masalah ini. Sudah kamu tenang saja, sayang. Aku juga akan menyuruh orang suruhanku untuk mencari Della sampai ketemu. Kamu nggak usah khawatir. Ada aku di sini." Sahut Kenzo yang tak mau kalah. Hatinya benar-benar merasa sangat cemburu. Saat tau kalau Ammar juga menaruh hati pada Rasti.


"Santai saja, Bro! Kalau bisa semua dikerahkan untuk mencari Della agar cepat ketemu, itu jauh lebih baik kan?" Balas Ammar, dengan tatapan yang meremehkan. Gigi Kenzo bergemelatuk. Kesal.


Rasti hanya diam memperhatikan dua orang pria yang sepertinya sedang perang dingin.


Lalu Kenzo pun langsung menelepon orang kepercayaannya, untuk diberikan tugas mencari Della.


"Ini minuman untuk kamu, lebih baik kamu duduk dulu. Sampai ada kabar dari orang suruhanku," Ammar memberikan minuman pada Rasti, agar Rasti merasa lebih tenang.


Saat Rasti ingin mengambil gelas dari tangan Ammar, Kenzo langsung mengambilnya terlebih dahulu.


"Aku rasa Rasti tak menyukai minuman ini. Lebih baik ini untuk aku, dan aku bisa pesan satu lagi untuk Rasti." Ammar berdecak kesal. Karena Kenzo terlalu over di depan Rasti.


"Ck. Baiklah." Ammar pun langsung menyuruh karyawannya untuk membuatkan minuman lagi untuk Rasti.

__ADS_1


"Periksa cctv! Kenapa kita tak melakukan itu terlebih dahulu," Kenzo.


"Benar Kenzo, kita periksa cctv sekarang!" sahut Rasti setuju.


"Aku ikut!" timpal Ammar ketika mereka akan pergi kembali ke perumahan.


...****************...


Pesta pernikahan Dion dan Fely kini sudah selesai. Dan mereka kini sedang bersiap-siap untuk beristirahat di hotel.


Fely benar-benar merasa kesal karena tahu Sinta dan juga Siska, malah berkelahi di saat acara pesta pernikahannya berlangsung.


"Iparmu norak sekali sih, Mas! Bikin malu saja!" Gerutu Fely, saat sudah sampai di kamar pengantin yang sudah di dekor seromantis mungkin oleh petugas hotel.


"Tau tuh, Mas Rino. Bikin ulah saja kerjanya!" Sahut Dion yang agak sedikit tak fokus.


Pikiran Dion masih memikirkan mantan istrinya yang kini sudah berubah menjadi glow up. Dan juga memikirkan mantan pacar Fely yang waktu itu tak sengaja dia melihat di depan kamar Fely sebelum hari pernikahan.


Tok! Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu.


"Siapa sih? Ganggu aja deh!" Gerutu Fely, lalu langsung menuju ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang. Sedangkan Dion langsung bergegas ke kamar mandi.


Ceklek!


"Eh ini, Nak Fely. Kotak amplopnya tadi ditaruh dimana ya?" Mata Fely membulat. Sedangkan Bu Marni senyum-senyum nggak jelas.


"Sudah diamankan oleh salah satu asisten mama. Memangnya kenapa ya, Bu?" Sahut Fely sinis.


"Loh? Kok kotaknya sama Bu Carol sih? Seharusnya dibagi dua dong! Kan disana juga ada uang Dion. Kenapa buat mama mu semua?" Bu Marni langsung naik pitam. Dia merasa telah didahului oleh besannya.


"Bukan diambil mama, Bu. Tapi diamankan. Besok baru kita hitung bersama-sama, dan uangnya juga untuk membayar semua kekurangan acara pesta ini. Dan sisanya untuk aku pergi bulan madu bersama Mas Dion," Bu Marni berdecak kesal. Dia merasa telah kalah cepat dengan asisten mamanya Fely.


"Ok deh kalau gitu!" Bu Marni pun langsung pergi sambil menggerutu.


Fely pun langsung menutup pintu kamarnya, dengan perasaan yang benar-benar badmood.


...****************...


Dion telah selesai mandi, begitu juga dengan Fely. Jiwa kelelakian Dion merasa tertantang untuk segera menunaikan hasratnya yang sudah beberapa lama dia pendam.


Semenjak dia ketahuan oleh Rasti, sedang berduaan dengan Fely di kamarnya. Semenjak itu Dion tak menyentuh Fely lagi. Dan sekarang sudah saatnya, karena mereka telah sah menjadi suami istri.


Hati Dion memang tak bisa dibohongi. Entah mengapa disaat seperti ini dia malah memikirkan Rasti, Dion malah melihat Fely berubah menjadi Rasti. Dion juga teringat dengan malam pertanya dengan Rasti pada waktu itu.

__ADS_1


Sebenarnya Dion sangat mencintai Rasti dulunya, namun karena hasutan Bu Marni dan Gita, dan juga ulah Rino dan Sinta, yang membuat Dion menjadi ilfil pada Rasti.


Padahal di mata Dion, Rasti adalah seorang istri yang sangat baik dan juga pengertian terhadap Dion.


"Mas, mau sekarang?" Fely menyadarkan Dion dari lamunannya.


"Eh, hmm, kamu, kamu cantik sekali?" Fely langsung tersenyum senang. Mereka berdua kini telah duduk di sisi ranjang, dan Dion juga hanya mengenakan celana pendek. Sedangkan Fely hanya memakai handuk saja untuk menutupi tubuh polosnya.


"Makasih, Mas." Lalu bibir mereka pun saling berpagutan satu sama lain. Dan semakin memanas.


Sampai pada akhirnya, saat ditengah-tengah 'pertempuran', Dion berhenti melakukan aktifitasnya. Entah mengapa Dion langsung mendorong Fely. Sampai Fely hampir terjatuh.


"Mas, kamu kenapa sih? Untung aku nggak jatuh!" Teriak Fely, tak terima dengan perlakuan suaminya itu.


Dion mengedip-ngedipkan matanya. Dikiranya dia sedang bercnta dengan Rasti, namun ternyata dia sedang berkhayal, dan nyatanya dia kini sedang bersama Fely.


"Ma-maaf, Fel. Aku nggak bisa melanjutkannya. Lebih baik kita istirahat dulu. Mungkin aku kecapean." Dion langsung menutup tubuhnya dengan selimut.


"Nggak mungkin kalau cuma karena kecapean aja! Pasti kamu lagi mikirin mantan kamu itu kan, Mas! Kalau kamu masih memikirkan dia, ngapain kamu nikahin aku, Mas!" Fely merajuk, tak terima.


"Bukan gitu, Fel! Udahlah, nggak usah dibahas. Lagipula, aku ngerasa ada yang aneh sama tubuh kamu. Kenapa punya kamu longgar sekali?" Mata Fely langsung melotot. Jelas saja pertanyaan Dion yang seperti itu membuat Fely meradang.


"Longgar bagaimana, Mas? Kan kamu sendiri yang udah menyicipinya hingga berkali-kali!" Cerca Fely tak terima.


"Tapi kan semenjak video viral itu, aku udah nggak pernah sentuh kamu lagi. Seharusnya nggak selonggar ini dong," Dion menyahut tak terima.


"Ya aku nggak tau lah, Mas! Orang aku melakukan itu cuma sama kamu aja kok!" Fely masih membantah ucapan Dion.


Padahal nyatanya memang sebelum hari pernikahan itu tiba. Verrel tiba-tiba datang ke kamar Fely dan mereka pun saling melepaskan rindu satu sama lain.


Fely sendiri yang menghubungi Verrel, setelah telepon diakhiri. Fely benar-benar rindu dan tak tahan ingin bertemu Verrel, walau untuk yang terakhir kalinya. Dan sampai akhirnya Verrel menghampiri kamar Fely dan mereka melakukan itu untuk terakhir kalinya.


...****************...


Pagi harinya, Dion dan Fely bersiap-siap untuk pulang. Semalaman mereka malah bertengkar, padahal malam itu adalah malam pengantin mereka.


"Jadi, kita pulang kemana? Aku pengennya langsung ke rumah kamu aja. Rumah kita di masa depan," Dion terkejut saat Fely memintanya untuk pulang ke rumah milik Dion. Padahal rumah itu sudah dijual sejak lama.


"Nanti aja deh, Fel. Gimana kalau pulang ke rumah kamu saja? Kamu kan anak tunggal, dan disana kita temani mama kamu, agar semakin tidak kesepian." Dengan susah payah, Fely meneguk air liurnya. Bingung mau menjelaskan darimana pada Dion.


"Seharusnya kan istri yang ikut sama suami. Aku nggak mau tinggal di rumah mama. Kan kamu sudah punya rumah sendiri, ngapain juga harus tinggal di rumah orang tua aku? Nggak mau ah!" Sebisa mungkin Fely berusaha mencari cara agar Dion tak pulang ke rumah orang tua angkat Fely.


Karena memang setelah ini, orang tua Fely akan pindah ke luar negeri dan mereka meninggalkan Fely sendiri disini.

__ADS_1


"Rumah aku itu belum dibersihkan, Fel. Sudah lama juga aku tak kesana. Nanti aku suruh orang dulu untuk membersihkannya, n aru kita kesana. Ya udah, lebih baik kita pulang ke rumah ibuku saja. Nanti kita bicarakan lagi." Dengan berat hati Fely pun akhirnya menyetujui ajakan Dion. Meski dia mulai merasa malas pada Bu Marni, mertuanya.


__ADS_2