
Aku menemani Ibu untuk berkunjung ke rumah besannya. Karena beberapa hari lagi, aku akan menikah untuk kedua kalinya.
Gita sangat sulit di hubungi, semenjak dirinya tinggal bersama mertuanya. Aku dan ibu ingin menjemput Gita untuk pulang, ke rumah. Sampai acara resepsi pernikahanku.
Resepsi Pernikahanku akan digelar secara megah, pada ballroom hotel yang sudah di booking oleh Fely. Pernikahan kedua aku ini akan sangat berkesan, berkonsep wedding internasional. Aku menghabiskan banyak uang, untuk menyelenggarakannya dan mewujudkan impian Fely.
Fely tidak main-main, karena meminta semua barang branded. Walaupun banyak yang harus aku korbankan, demi pernikahan ini. Tapi aku yakin, jika semua yang aku korbankan sekarang, akan mendapatkan gantinya.
Setelah resmi menjadi suami Felly. Aku bisa hidup mewah, dan tinggal di rumah mewah keluarganya. Karena calon istriku itu adalah anak tunggal, dari pasangan kaya raya.
...****************...
Ketika aku sampai di rumah mertua Gita. Penampilan Gita sangat membuat, aku dan ibu menjadi syok. Melihat tubuh Gita semakin kurus, dan perutnya juga terlihat mulai membuncit.
Karena ia memakai kaos yang cukup ketat. Ibu sangat marah melihat adik bungsuku, seperti ini. Aku juga tersulut emosi. Ibu mertuanya menyuruh Gita untuk bekerja, dalam keadaan hamil. Di mana hati nuraninya. Adikku tampak menyedihkan.
"Ratna, Ratna! Si*lan kamu! Apa yang kamu lakukan pada putriku!" Ibu berteriak kemudian berjalan, menuju luar.
Pasti akan terjadi keributan. Aku yakin, ibu selalu bertengkar jika bertemu dengan besannya itu. Terlebih apa yang telah di perbuat oleh Ibu mertuanya pada Gita.
Kami mencari keberadaan mertuanya Gita. Ternyata Ibu mertuanya dan Bagas. Sedang berada di ruang makan, mereka hanya berdua dan siap untuk makan malam.
"Enaknya kamu makan di sini, sedangkan anakku kamu biarkan kurus seperti itu. Apakah kamu tidak memberinya makan, dan memperlakukan dia menjadi Babu!" ujar Ibu meminggikan suaranya. Memaki mereka berdua.
Bu Ratna hanya memutar bola matanya malas, kemudian menyendokkan nasi ke dalam piring.
Aku melihat Bagas yang hanya santai saja, mengambil sendok. Ia seperti tidak peduli dengan kedatanganku dan juga Ibu. Yang sekarang sedang marah, pada perbuatan dirinya.
Aku mendekati dan menarik kerah bajunya, agar dia berdiri.
"Apa ini, Mas!" ucapnya tak terima dengan perlakuanku.
"Kamu masih bertanya apa, suami macam apa kamu hah?! Kamu apakan adikku, kamu di sini bisa makan dengan enak. Sedangkan Gita, kamu suruh dia bekerja, di mana otakmu, tidak becus menjadi suami!" aku memakai Bagas.
"Gita sudah menjadi tanggung jawabmu! Kamu harus menafkahinya, bukan dia yang bekerja!" hardikku dan meninju wajahnya.
Bagas mengusap sudut bibirnya, yang mengeluarkan dar*h segar.
"Hey, kamu jangan berani menyakiti anak saya! Dua kali kamu menghajarnya!" Bu Ratna memarahi diriku, dan tidak terima.
Ibu mertua Gita. Yang bernama Bu Ratna mendekati Bagas.
"Pukulanku tadi ini, belum seberapa untuk anakmu yang pengangguran itu!" tunjukku pada mereka.
"Memangnya kenapa, kalau Gita yang bekerja. Salah dia sendiri mengajak Bagas, untuk menikah. Di saat Bagas belum siap, dan masih menganggur, adikmu sendiri kan yang minta dinikahi!" cicit Bu Ratna yang kembali menyalahkan Gita.
Wanita tua kerasa kepala. Orang macam apa dia, menyalahkan Gita. Dan selalu membenarkan putranya.
"Kamu itu sudah menyiksa putriku, sadar gak! Anakmu itu yang jebak Gita, hingga putriku hamil!" Ibu ikut bicara dan geram pada Bagas juga Ibunya.
__ADS_1
"Halah, kayak kamu udah bener aja jadi mertua. Itu anakmu bercerai dengan istrinya, karena perbuatanmu bukan? Yang selalu menguasai gaji putramu!" cerca mertua Gita pada ibu.
"Sudahlah Bu Marni, nggak usah lagi ditutupin. Saya itu tahu bagaimana keluarga kalian, ada yang bilang pada saya. Dion anakmu ia baru saja bercerai dengan istrinya, dan sudah mau menikah lagi. Mantan istrinya menggugat cerai anakmu, karena dia tidak memberi nafkah dengan layak, dan juga berselingkuh. Tertangkap sedang berzina!" cicitnya kembali mengetahui semua tentang aibku. Memang ya Ibu-ibu jago bergosip.
Perkataan ibu mertua Gita membuat kami terbungkam, ingin bicara membela diri. Akan tetapi apa yang dikatakan memang benar.
"Ibu obati bibirmu yang berdarah," ujar Bu Ratna di sertai anggukan Bagas.
"Kamu nggak usah sok menasihati saya, karena kamu tidak tahu yang cerita yang sebenarnya!" pungkas Ibu.
"Yang sebenarnya memang seperti itu, dan lebih parah. Sebenarnya saya tidak sudi, mempunyai besan seperti kamu!"
"Sudahlah, Bu. Jangan ditanggapi lagi. Gita sekarang bawa pulang!" ucapku.
"Tapi ibu mau merob*k mulut nya Dion. Telah menghina keluarga kita!"
"Bawa sana Adikmu pulang! Baguslah, jika dia pergi dari sini, karena hanya membuat pusing saja melihat dia. Kami akan mengadakan pesta!" ucapnya.
Pesta apa maksud Ibu Bagas. Mereka berpesta gitu, setelah Gita pergi?
"Ibu gil@! anak pengangguran dibela!" teriak Ibu.
Aku dan ibu kembali ke kamar Gita. Karena selama kita ribut tadi. Gita tidak pergi menyusul. Dia terlihat lelah, dan duduk di bibir ranjang.
"Gita, kemasi semua pakaianmu! Ikut Ibu pulang," ucap Ibu dan mengajak dia pulang.
"Tapi Bu, Mas Bagas ikut juga kan?" Gita bertanya.
Ibu menuju lemari, dan mengemasi pakaian, yang akan dibawa.
Bu Ratna dan Bagas hanya melihat kepergian kami. Bahkan kulihat ketika Gita ingin berpamitan pada suaminya. Bagas membuang muka.
Muak aku melihat dia, harusnya Gita bisa mendapatkan suami yang lebih dari dia.
Gita seperti menahan tangis atas sikap Bagas. Ketika menuju mobil. Aku menjemput Gita menggunakan mobil temanku, karena mobilku belum juga dikembalikan oleh teman Mas Rino.
Entah kenapa perasaanku merasa was-was. Takut jika mobilku di bawa kabur, aku tidak kenal siapa yang merental. Belum lagi, masih mencicil.
...****************...
Besok malam. Aku akan resmi menjadi suami Fely. Sore hari akad dan resepsi kami akan di langsungkan.
Di satu sisi aku bahagia, karena akan menikah lagi. Mempunyai istri secantik Felly. Tapi masih terbesit penyesalan, karena telah bercerai dengan Rasti.
Rasti masih ada di hatiku, dia masih mempunyai tempat di sini. Mantan istriku itu semakin cantik, hampir gil@ jika aku memikirkan tentang dia.
Banyak hal yang mengejutkan dari Rasti. Ibu bilang jika dia adalah pemilik rumah mewah, yang saat itu aku datangi.
Dari mana Rasti mendapatkan uang. Apakah benar yang dikatakan Felly. Jika Rasti telah menju"l dirinya pada Kenzo.
__ADS_1
Aku tidak yakin. Seorang Kenzo itu akan serius dengan Rasti. Mana mungkin dia mau menikahi bekasku, dan berstatus janda pula. Semoga saja Kenzo tidak akan pernah mau, menikah dengan mantan Istriku. Sehingga aku bisa mendekati Rasti kembali, jika ada kesempatan.
...****************...
Pagi hari saja Ibu sudah heboh. Karena kami akan bersiap untuk acara nanti sore.
"Bu, aku mau make-up dengan Mbak Tia. Ibu mau ikut gak? Nanti aku bilang padanya jika mau make-up sekalian!" ujar Mbak Sinta yang sudah heboh datang kemari.
Aku kira dia akan mencari masalah, di hari pernikahanku. Karena dia mempunyai rasa padaku, tapi dugaanku salah. Dia tampak antuasias.
"Kamu saja make-up sendiri! Ibu mau make-up nanti dengan perias mahal, sudah di booking oleh Siska!" ucap Ibu dan kemudian reflek menutup mulutnya.
"Siska? Siapa Bu!" Mbak Sinta raut wajahnya berubah marah.
"Gita, kamu jangan melamun terus. Siapkan kebayamu. Yang kemarin Ibu beri!"
"Kebaya, memangnya ada seragam pernikahan ya? Kenapa aku tidak di beri? Dan Siska siapa yang Ibu maksud!" Mbak Sinta mencerca Ibu.
Lagian siapa sih Siska yang di maksud Ibu.
"Kamu jangan banyak tanya!" hardik Ibu pada Mbak Sinta.
"Apakah Siska, yang Ibu maksud itu adalah selingkuhannya Mas Rino? Jadi ibu juga sudah berkenalan dengan dia, Ibu mendukung Mas Rino berselingkuh? Keterlaluan!" ucap Mbak Sinta.
"Kenapa Ibu jahat padaku?" ia meneriaki Ibuku.
"Jangan ribut. Kamu lupa, hari ini adalah hari penting. Pernikahannya Dion,"
"Apa salah aku! Kenapa aku di sakiti!" Mbak Sinta menangis.
"Dia itu janda tua, Bu!" ucap Mbak Sinta.
"Biarlah janda, Ibu lihat dia tidak kelihatan tua. Body-nya masih singset!"
Kasihan juga aku melihat Mbak Sinta.
"Aku tidak akan datang ke pernikahannya Dion!" ujar Mbak Sinta dan sesenggukan.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau datang, ada Siska nanti yang akan datang, bersama Rino. Lamu itu tidak penting. Baguslah, jika kamu sadar diri!" tunjuk Ibu.
"Kasihan Mbak Sinta," ujarku.
"Kenapa kamu merasa kasihan pada dia Dion? Biarkan saja, terserah apa yang dia lakukan. Ibu tidak mau acara Kamu rusak, hanya karena ulah wanita ini!" cicit Ibu.
"Ibu, berhenti mendukung anak ibu yang suka berselingkuh!" Gita tiba-tiba saja berteriak, dan menyalahkan Ibu.
"Apa maksudmu, Gita?" sahut Ibu dan berkacak pinggang.
"Ibu sadar tidak, jika apa yang Ibu lakukan itu. Karma buruknya, jatuh padaku. Aku yang mendapatkan hukuman, karena perbuatan kalian!" Gita menunjuk Ibu.
__ADS_1
Baru kali ini aku melihat, dia berani memarahi ibu.