
"Sudahlah Gita, lebih baik kamu nggak usah ikut campur sama urusan ibu! Ini urusan kami, bukan urusan kamu!" Sahut Bu Marni lantang. Dia tak suka kalau ucapannya dibantah.
"Bukan begitu, Bu. Sekarang ibu lihat kan? Bagaimana kehidupanku dengan Mas Bagas?" Gita terisak. Mengingat kenyataan pernikahannya yang tak bahagia.
"Alah! Itu semua memang karena kebodohan kamu sendiri! Dikuliahin biar kamu jadi orang hebat, biar kamu sukses. Eh ini malah menjual diri! Mana punya mertua pelit lagi! Nggak berguna! Pantas kamu hidupnya susah!" Dengan entengnya, Bu Marni malah merendahkan Gita di depan Rino, Dion dan Sinta.
Prrangg! Gita langsung memecahkan gelas. Suasana mendadak tegang. Mata Bu Marni melotot lebar.
"Kalian semua memang hanya manusia yang egois! Aku menyesal telah dilahirkan di dalam keluarga toxic seperti ini! Memang semua ini karena kebodohanku. Tapi semua ini juga karma atas kelakuan ibu dan kalian semua!" Teriak Gita, sambil memangis.
Plaakk! Tamparan Bu Marni pun akhirnya mendarat di pipi Gita.
"Cukup! Sebentar lagi hari bahagiaku dengan Fely! Aku ingin kalian semua berkumpul disini, bukan malah bertengkar! Sudahlah, Git. Kamu nggak usah terlalu ikut campur, dan menyangkutpautkan semua ini dengan hukum karma. Karena hukum karma itu tak ada." Pekik Dion. Berusaha menengahi. Suasana mulai tak kondusif. Dada Dion naik turun, menahan gejolak emosi.
Gita langsung berlari ke kamarnya. Begitu juga dengan Sinta yang langsung pulang ke rumahnya.
Hati Sinta benar-benar merasa remuk. Dia tak menyangka kalau ibu mertuanya, yang dulu sangat menyayanginya, kini malah menyuruh anaknya sendiri untuk meninggalkannya.
...****************...
Hari ini Dion berencana akan membagikan undangan ke rumah yang dihuni oleh Rasti dan juga keluarganya. Saat itu dia sudah mengundang Rasti di pengadilan agama, tapi sekarang Dion khusus mengantar undang ke rumah Rasti. Untuk memastikan juga, jika mantan istrinya datang nanti sore.
Dion merasa penasaran dengan cerita Bu Marni yang katanya bertemu dengan Rasti di dekat rumah pacarnya Rino. Begitu juga dengan cerita Fely, yang katanya Rasti menjadi salah satu pemilik saham di klinik kecantikan milik Bu Elena. Oleh karena itu Bu Marni, Dion, dan Rino akan pergi kesana lagi untuk mencari tahu.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, akhirnya mereka sampai. Mereka bertiga menaiki taksi online. Karena sudah hampir lima hari mobil Dion tak ada kabarnya. Dan hari ini teman Rino berjanji akan mengabari tentang mobil Dion yang telah direntalkannya.
"Ini benar rumahnya, Bu?" Tanya Dion tak percaya. Dion mengatur nafasnya sebisa mungkin, yang merasa semakin sesak.
"Iya Dion. Masa ibu berbohong sih? Tanya aja kakakmu kalau tak percaya." Bu Marni mendecak sebal.
"Iya Dion. Mas memang kemarin juga melihat Rasti dan Bu Ratih di dalam rumah ini. Dan ini rumah Siska, calon istri Mas." Sahut Rino, sambil menunjuk ke arah rumah Rasti dan juga rumah Siska. Dion terdiam sejenak.
"Hebat kan, Mas mu, cari calon istri yang lebih baik dari si Sinta yang gatal itu? Ibu benar-benar sudah merasa ilfil dengan si Sinta. Apalagi saat ibu tahu, kalau dia sudah pernah mengganggu kamu. Makanya lebih baik Mas mu ini buru-buru mencari penggantinya si Sinta. Apalagi si Siska memang orang kaya, maka makin sejahtera lah hidup Ibu nantinya.
Mempunyai dua menantu yang kaya raya." Ucap Bu Marni penuh harap.
Dion tak menjawab ucapan ibunya. Sedangkan Rino hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum penuh percaya diri.
Saat mereka sedang
__ADS_1
berbincang-bincang, salah seorang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Rasti pun keluar untuk membuang sampah. Dan Dion pun tak membuang kesempatan untuk segera bertanya pada asisten tersebut.
"Mbak, saya boleh tanya sebentar?"
"Tanya apa ya, Mas?" Sahut si Art tersebut bingung.
"Apa benar ini rumah Rasti?"
"Memangnya kenapa, Mas? Ada perlu apa?" Si asisten itu malah bertanya balik.
"Jadi benar kalau ini rumahnya Rasti?" Tanya Dion terkejut. Dion tampak shock. Si asisten tersebut mengangguk mantap.
"Iya Pak, benar."
"Kami saudaranya, Mbak. Rasti ada nggak di rumahnya? Karena kami mau bertemu dengan si Ratih dan juga Rasti." Langsung saja Bu Marni menyerocos tak sabar.
"Baik bu, nanti saya akan sampaikan dulu pada nyonya Rasti. Tunggu sebentar ya disini?" Si asisten itu bersiap untuk masuk. Tapi Bu Marni yang tak sabar malah langsung menyerobot dan mendahului si asisten tersebut.
"Loh, Bu. Tunggu disini dulu dong! Kenapa nggak sopan sekali, sih? Saya kan mau nanya dulu sama majikan saya. Takutnya Bu Rasti sedang tak mau diganggu," gumam si asisten tersebut.
"Mbak, dengar ya! Saya ini saudaranya si Rasti, saya ini mantan mertuanya dia. Nggak mungkinlah kalau si Rasti tidak mau diganggu oleh saya! Sombong sekali dia! Lagian dia itu uang darimana sih, bisa beli rumah sebagus ini? Palingan juga uang dari anak saya yang selama ini dia ambil diam-diam. Lagipula, kamu itu cuma seorang pem-ban-tu disini. Nggak pantas di dekat saya lama-lama." Dengan pongahnya Bu Marni berkata seperti itu. Tak peduli kalau sang asisten yang akan tersinggung dengan ucapannya.
Saat Bu Marni masih mencak-mencak di halaman rumahnya Rasti. Tiba-tiba Rasti keluar dari rumahnya.
Bu Marni, Dion, dan juga Rino berhasil dibuat terperangah dengan tampilan Rasti yang sangat berbeda sekali dengan Rasti yang dulu. Mereka tak bisa menampik pesona Rasti yang sekarang, walau ini bukan pertama melihatnya. Yang sudah glow up, dan semakin cantik.
Membuat Dion cukup sulit menahan diri. Ingin sekali ia memeluk Rasti. Andai saja jika masih menjadi istrinya.
Rasti memakai gamis yang terbuat dari bahan sutra berwarna salem dan juga dengan jilbab panjang berwarna senada dengan gamisnya.
Wajah Rasti dipoles dengan make up natural dan membuat Rasti semakin cantik. Apalagi kini tangan Rasti dihiasi oleh gelang dna cincin yang lumayan berkilau, sehingga memberikan kesan mewah di dirinya.
Rasti memang sebentar lagi akan pergi ke klinik kecantikan milik Bu Elena. Karena dia akan mengadakan meeting disana dengan orang penting yang ingin ikut menanam saham di klinik milik Bu Elena. Disana juga katanya akan ada Bu Zoya. Dan juga setelah itu akan ada sesi pemotretan untuk persiapan launching produk baru. Oleh karena itu, Rasti sudah rapi sejak tadi.
"Ra-rasti? Ka-kamu?" Dion tergelagap.
"Ada apa ini? Ibu? Mas Dion dan Mas Rino? Ada urusan apa kalian kemari? Kenapa kalian tau rumah ini?" Tegur Rasti tak suka. Rasti juga terkejut karena tak menyangka kalau mereka semua akan sampai disini.
"Oh jadi benar, ini rumah kamu? Kalau benar ini rumah kamu, berarti ini rumah Dion juga dong? Karena pasti rumah ini dibeli dari hasil penjualan rumah kemarin! Iya kan?" Tuduh Bu Marni seenaknya.
__ADS_1
"Ibu?" Dion memegang pundak ibunya. Berusaha agar ibunya tak terlalu banyak bicara dulu.
"Rumah Mas Dion? Uang Mas Dion? Nggak salah, Bu?
Memangnya berapa harga rumah anakmu itu, Bu? Dan berapa memangnya harga rumah ini? Rumah mas Dion aja kalau dijual dan digantikan dengan rumah ini tak akan cukup. Apalagi uangnya sudah kami bagi dua. Please lah, Bu, jangan mimpi!" Sindir Rasti sambil tertawa renyah.
"Jangan sombong kamu Rasti! Asal kamu tau ya, Siska tetanggamu itu, sebentar lagi akan menjadi istriku. Dan aku juga akan tinggal di rumah itu!" Kini Rino ikut angkat bicara.
"Oh tante Siska. Terus apa hubunganya dengan aku, ya?" Sebisa mungkin Rasti menanggapi dengan santai.
"Ini undangan untuk kamu, Ras. Jangan lupa datang ya? Hubungan kita memang sudah berakhir. Tapi tak ada salahnya kan, kalau kita tetap menjadi saudara? Semua ini demi Della, anak kita." Seloroh Dion, sambil menyerahkan selembar kertas undangan pada Rasti.
"Aku rasa Della tak butuh sosok ayah sepertimu, Mas. Karena tak ada hal baik yang patut dicontoh oleh Della, dari dirimu," sahut Rasti tegas. Tatapan Rasti benar-benar sedang meremehkan Dion.
Mata Dion melotot. Gigi-giginya bergemelatuk menahan emosi karena ucapan Rasti.
"Dasar perempuan sombong! Enak sekali kamu berbicara seperti itu? Saya yakin, kalau kamu kaya dari hasil menju*l diri dengan Kenzo!" Hardik Bu Marni seenaknya. Dia tak terima kalau Dion dihina seperti tadi oleh Rasti.
"Terserah apa kata ibu. Sudah ya?
Cuma mau mengantarkan undangan kan? Soalnya saya sibuk. Tak ada waktu untuk meladeni kalian semua disini berlama-lama. Sekarang silahkan keluar." Tangan Rasti menunjukkan arah pintu keluar. Karena memang mereka dari tadi juga hanya mengobrol di halaman saja.
Rasti sengaja tak mengizinkan mereka semua masuk ke dalam rumahnya. Karena tau, kalau Bu Marni akan membuat keributan.
"Sudah Bu. Lebih baik kita pergi sekarang! Lebih baik kita mampir ke rumah Siska, daripada kita berlama-lama di sini dan berbicara dengan perempuan yang sombong seperti ini." Sindir Rino tak terima.
Lalu dengan langkah kesal akhirnya Bu Marni pun mengalah dan berjalan keluar dari rumahnya Rasti sambil menghentak-hentakkan kakinya. Sedangkan Dion belum juga beranjak dari tempat dia berdiri dan masih memandangi Rasti dengan penuh rasa penyesalan.
"Ras, aku pamit ya? Aku harap kamu datang. Maafin semua kesalahan aku. Aku juga berharap kamu segera menikah dengan Kenzo. Lalu kalian bercerai. Agar kita bisa bersama lagi, untuk membesarkan Della." Rasti sontak tertawa dengan ucapan Dion yang sudah mulai melantur.
Setelah itu Dion pun langsung pergi, sambil terus memperhatikan sekeliling halaman rumah Rasti yang begitu indah dipandang mata.
Saat Bu Marni and the gank sedang berjalan ingin menuju ke rumah Siska, tiba-tiba ada sebuah mobil towing yang mengangkut mobil. Lalu berhenti tepat di depan rumah Rasti. Dan mereka bertiga refleks langsung berhenti dan terus memperhatikan mobil tersebut yang sedang diturunkan.
Rasti terlihat keluar dari rumahnya. Dia sedang berbincang dengan driver yang telah mengirimkan mobil hadiah dari Bu Elena.
Tak lama, Rasti pun menandatangani sebuah berkas-berkas penting dan juga berfoto bersama mobil tersebut.
Hati Bu Marni benar-benar merasa panas dengan pemandangan seperti itu. Sedangkan Dion hanya terdiam meratapi nasibnya, dan hanya bisa berharap jika nanti setelah menikah dengan Fely, hidupnya akan lebih kaya dari Rasti. Agar Dion tak terlalu menyesal karena telah meninggalkan Rasti.
__ADS_1