Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Meninggalkan penyesalan


__ADS_3

Bu Marni menghubungi Siska. Ia terlihat gusar, karena panggilannya tak kunjung di angkat.


"Ibu, kenapa sih mondar-mandir begitu. Aku pusing lihatnya!" ujar Gita melihat ibunya.


"Ini Ibu telepon, Siska. Tapi dia nggak angkat telepon Ibu, kurang 2 jam lagi akad nikah akan segera di langsungkan dan ibu belum make-up!"


Gita memutar bola matanya malas, ketika mendengar ibunya yang risau.


Gita mengambil kebaya yang ia bawa di dalam koper, dan juga perlengkapan yang lain. Untuk di gunakan nanti.


"Kamu, mau ke mana?" tanya Bu Marni pada putrinya.


"Aku mau ke kamarnya Mbak Sinta, mau ikut make up dengan dia. Ibu masih mau nungguin Siska itu, belum tentu dia datang!" ujar Gita.


Sinta sudah membooking MUA. Dan itu temannya sendiri.


Gita membuka pintu kamar Sinta.


"Eh ada Ibu, kenapa ibu datang kemari? Bukannya ibu mau make-up bareng Siska?" seloroh Sinta yang melihat ibu mertuanya berjalan di belakang Gita.


"Siska entah kemana, Mbak! Lagian Ibu suka begitu sama orang baru. Belum tentu baik!" timpal Gita turut menyudutkan Bu Marni.


Bu Marni bergeming. Ia tak mau menjawab, dan harus menebalkan muka. Karena butuh bantuan Sinta.


...****************...


Bu Marni merasa curiga. Ketika yang menikahkan Fely ada pak penghulu.


"Kenapa, bukan Papa Fely, yang menikahkan dia?" tanya Bu Marni pada Sinta karena mereka duduk bersebelahan.


Ferdinand akhirnya hadir, ketika proses ijab kabul. Dan Marni baru tadi berkenalan dengan Papa Fely.


"Gak tahu, Bu! Mungkin Papanya grogi kali, jadi gak mau jadi wali." jawab Sinta.


Bu Marni merasa heran. Dia kembali memperhatikan Carol dan Ferdinand. Kemudian beralih menatap Fely.


"Ibu lihat, kenapa Fely gak mirip orang tuanya, ya? Ibu kira kemarin dia mirip Papanya, tapi gak mirip! Aneh, gak sih Sin? Mama dan Papanya seperti ada keturunan bule eropa, tapi Fely wajahnya kayak artis c*na!" cicit Bu Marni.


"Benar Bu, beda banget. Apa Fely bukan anak kandung kali! Ini tuh gak ada kemiripan sama sekali!" ucap Sinta dan menyadari kejanggalan pada keluarga Fely.


Ibunya Dion itu terdiam. Ia menepis pikiran buruknya. Yang terpenting Fely itu kaya.


"Sah..!" para saksi berkata serempak. Sekarang Dion dan Fely sudah menjadi pasangan suami istri.


Beberapa tamu terpana. Melihat mahar pernikahan Fely yang terdiri dari barang branded, dan juga cincin pernikahannya bukan emas tapi berlian. Yang di sematkan oleh Dion pada jari manis istrinya.


...****************...


Sore itu berlanjut pada acara resepsi. Yang akan berlangsung selama 3 jam. Para tamu undangan mulai berdatangan.


Bu Marni merasa sangat bahagia, dan menyambut tamu. Banyak teman dan rekan bisnis Dion dan juga keluarga Fely. Betapa bangga ibunya Dion dan beberapa kali meminta Gita untuk membuat video, dan juga foto dirinya.


"Kamu kirim foto Ibu tadi menyambut tamu, ke WA!" titah Bu Marni.


"Mau apa, Bu?" tanya Gita.


"Ini loh, mau ibu unggah ke fesbuk!" jawabnya.


Gita mencebik dan hanya menuruti perkataan Ibunya.

__ADS_1


[Selamat menempuh hidup baru, putraku dan menantuku. Kalian sekarang sudah jadi suami istri.] caption yang di tulis Bu Marni.


Tak lupa mahar tadi, dan juga kemewahan lainnya yang sudah di foto. Di unggah bersamaan.


"Dion, nikah gak undangan?" komentar dari Bu Badriah salah satu tetangganya.


"Gak Bu, Dion nikah di hotel. Tamu undangan terbatas, hanya orang penting, rekan bisnis dan kerabat saja yang mendapatkan undangan!" balas Bu Marni mulai menyombongkan diri.


"Oh gitu, jadi kita tetangga ini gak penting ya?" tetangga yang lain ikut membalas yaitu Bu Risa.


"Enggak penting lah Bu, bukan rekan bisnis. Gak level, nanti takut kalau kita cuma ngamplop 30 ribu, gak balik modal. Kan nikah di hotel biayanya mahal!" Bu Desi ikut berkomentar.


Komentar terus bertambah, dari tetangga Bu Marni.


"Jangankan tetangga, kami ni masih kerabat gak di undang kok!" balas Audy yang masih keponakan Bu Marni. Anak dari adik perempuannya.


"Gimana Bu Marni, masa adik sendiri juga gak di undang!" balas Bu Desi yang kembali komentar dengan julid.


"Iya gak butuh tetangga atau saudara, nanti kalau kesusahan minta tolong aja sama rekan bisnis anaknya!" balas Audy.


"Sontoloyo, anaknya Arum. Kok sembarangan ngatain aku!" gerutu Bu Marni ketika membaca kolom komentar. Dia yang berniat ingin pamer, malah di nyinyirin para tetangga dan keponakannya.


Marni mencoba menghubungi Audy. Agar menarik ucapannya kembali, dan tidak membuat statement buruk tentang keluarganya.


Namun Audy menolak panggilan.


Seorang perempuan ikut duduk di kursi yang kosong. Dengan Gita dan Ibunya. Di tengah mereka ada meja bulat, untuk menikmati hidangan.


"Resepsi pernikahannya mewah ya. Budgetnya gak main-main ini!" ujar perempuan berambut pendek sebahu itu menyeletuk.


Bu Marni menatap perempuan di sebelahnya.


"Benar Nak, memang ada orang seperti itu. Nikah sampai gadai sertifikat di Bank, banyak tetangga Ibu, pelakunya. Demi di pandang sebagai ibu hajat dan mengutamakan gengsi!" ujar Bu Marni menimpali dan mencoba sok akrab dengan perempuan itu.


"Begitulah Bu, mereka bahkan rela mengorbankan harga mertua juga ada. Miris,"


"Beruntung anak Ibu tak seperti itu, dia bekerja jabatan bagus di kantor. Jadi mau resepsi pun, tak perlu menggadaikan sertifikat di Bank!" cicit Bu Marni membanggakan putranya.


"Syukurlah jika begitu, lebih baik menyiapkan budget jika mampu tak masalah!" ucap perempuan itu menanggapi Bu Marni.


"Ini kan resepsi pernikahan putra saya,"


"Oh, jadi Ibu mertua Fely?" tanya perempuan itu.


"Iya Nak, kamu temannya Fely?"


"Teman sekantor!" jawabnya.


"Karen, sini!" panggil Anastasya. Salah satu teman Fely juga.


"Saya kesana dulu Bu," ucap Karen dan berpindah meja.


"Silakan, nikmati hidangannya," ucap Bu Marni ramah.


Karen tersenyum tipis setelah meninggalkan meja itu.


Bu Marni mengedarkan pandangan. Ia bangkit dan berjalan menuju Carol. Yang sedang berbincang dengan teman sosialitanya.


Mereka belum tahu, Jika Carol mengalami kebangkrutan.

__ADS_1


"Hai, Bu Car-Carol!" ucap Bu Marni yang kesusahan mengeja nama Carol.


"Ya, Bu Marni," jawabnya. Wajah Carol seperti menahan malu karena mempunyai besan Bu Marni yang norak.


"Ini teman-teman Bu Carol ya, perkenalkan saya Marni, ibunya Dion!" ucap Bu Marni memperkenalkan diri.


Mereka saling tatap, dan tidak menyambut ramah perkenalan diri itu.


Bu Marni merasa canggung seketika, ketika suasana menjadi anyep karena kehadirannya.


...****************...


Fely bersama Dion menghampiri para tamu dan menyapa mereka. Untuk sekedar basa basi.


"Pengantin tercantik!" puji Anastasya pada Fely.


"Terima kasih sayang!" jawab Fely dan tersenyum. Dia tak henti menebar senyum di hari pernikahannya.


"Hai guys!" sapa pria yang baru saja ikut bergabung dengan teman-teman Fely.


Pria itu bertiga. Dion memfokuskan tatapannya. Salah satu pria itu mirip dengan yang semalam ia temui, keluar dari kamar istrinya.


"Aku tidak halusinasi!" ujar Dion membuat Fely menoleh padanya.


"Apa, Mas?" tanya Fely.


"Pria itu, yang berdiri di dekat Karen sekarang. Dia yang aku lihat semalam keluar dari kamarmu!" ucap Dion lirih penuh penekanan.


"Ah, kamu salah lihat Mas!" jawab Fely gugup.


"Siapa, namamu?" tanya Dion menghampiri pria itu.


"Perkenalkan, aku Verrel. Mantan kekasih Fely, selamat ya atas pernikahan kalian!" ucap Verrel dan menatap Fely dengan senyuman smirk.


Membuat jantung Fely berdegup tak karuan.


"Mantan kekasih?" ulang Dion dan kembali berjalan ke arah sang istri.


Beberapa dari teman Fely merasa ada sesuatu, yang tidak beres.


...****************...


"Bu, itu Mbak Rasti!" seru Gita yang melihat kedatangan Rasti bersama Kenzo.


"Rasti, ya ampun dia baru bercerai dengan Dion, udah gandengan terus sama Bos-nya Dion. Padahal belum habis masa iddah!" cibir Bu Marni.


"Mbak Rasti cantik ya, apalagi Pak Kenzo ganteng banget. Kalau mereka menikah, beruntung banget Mbak Rasti sebagai perempuan!" puji Gita mengagumi mereka.


"Halah, mereka itu gak akan menikah. Jangan ngarang kamu!" ucap Bu Marni sinis.


...****************...


"Pak Kenzo?" ucap Anastasya yang menyadari kedatangan Bos mereka.


"Siapa perempuan yang bersamanya?" tanya yang lain.


"Apakah itu pacarnya?"


"Pak Kenzo yang tampan, sudah punya kekasih. Potek hatiku!" ucap Melisa salah satu teman Fely.

__ADS_1


Kini Kenzo menjadi pusat perhatian mereka. Dion dan Fely merasa tak suka, karena mereka kini jadi bahan perbincangan.


__ADS_2