
"Kamu tahu nama lengkapku?" alis Rasti bertaut. Bertanya pada Kenzo.
"Kenapa kamu merasa heran, nama lengkapmu saja aku tahu. Berarti itu sudah cukup membuktikan!"
"Membuktikan apa?" ucap Rasti dan menatap Kenzo. Yang membuat pria itu, semakin salah tingkah, namun masih berusah bersikap tenang.
"Aku mencintaimu, itu tidak cukup untuk menyakinkan kamu? Jangan tolak aku Rasti, aku tidak suka penolakan, setelah masa iddah-mu selesai, aku akan segera melamarmu, bersiaplah menjadi istriku!" ucap Kenzo dan meninggalkan Rasti yang masih tercenung dengan ucapan Kenzo.
Pria itu mengatakan dengan lugas kali ini, dan tak memberikannya kesempatan ia untuk bicara.
"Tidak menerima penolakan?" gumam Rasti bermonolog.
"Kenzo, tunggu!" panggil Rasti membuat Kenzo berbalik padanya.
"Bagaimana dengan kasus Della, siapa dalang penculikan putriku?" tanya Rasti.
"Kamu beri keputusan dulu, aku ingin mendengar jawabanmu!" ucap Kenzo menunggu Rasti menjawab.
"Buktikan saja, perkataanmu. Aku tunggu, jika memang kamu serius, aku tidak mau di imingi janji manis!" ujar Rasti dan kini menantang Kenzo.
"Aku suka itu, tunggu aku akan datang kembali." ujar Kenzo dan menatap Rasti dengan seksama.
Rasti merasa risih dengan tatapan Kenzo. Yang sangat lekat menatapnya. Kenzo tersenyum, dan membuat Rasti menjadi tersipu.
"Katakan sekarang, jangan menatapku seperti itu!" pinta Rasti.
"Oke, kamu harus lihat video ini terlebih dahulu," Kenzo memberikan ponselnya, dan menunjukkan video yang telah ia rekam. Walau di video itu tidak terlalu jelas, karena dia sembunyi ketika merekamnya.
Rasti menutup mulutnya, menggunakan telapak tangan. Dan terperangah dengan percakapan Casie dan juga Sherin.
"Mereka pelakunya, mantan kekasih dan sepupumu?" ujar Rasti.
"Ya," jawab Kenzo.
"Tega sekali, kita baru dekat seperti ini. Mereka sudah menculik Della? Bagaimana jika kita menikah, dia akan lebih nekat!" ujar Rasti khawatir. Dan menyerahkan ponsel Kenzo.
"Kamu jangan khawatir, ada aku. Kita laporkan dia, agar di jebloskan ke penjara, tenang Rasti," ucap Kenzo dan ingin memeluk Rasti.
Rasti mundur beberapa langkah.
"Maaf, aku lupa tidak boleh menyentuhmu. Itu hanya reflek!" ujar Kenzo dan mengusap tengkuknya.
"Aku setuju, kita laporkan mereka sekarang. Agar mereka segera di ringkus!"
"Baik sayang, aku telepon pengacaraku terlebih dahulu!" Kenzo menghubungi Robert pengacaranya.
"Sayang?" lirih Rasti.
...****************...
__ADS_1
Setelah memberikan uang, dan juga berpesan pada Fely. Carol meninggalkan rumah Bu Marni tanpa berpamitan pada besannya. Dia malas berbasa-basi dengan perempuan itu.
"Mama pergi, jika kamu rindu. Kirim pesan, atau video call saja. Past Mama akan berkabar terus denganmu, jangan putus komunikasi kita!" ujar Carol.
"Iya Ma!" sahut Fely dan menunduk lesu. Di lubuk hatinya. Dia merasakan sedih, karena harus terpisah, dari perempuan yang selama ini sudah membesarkannya.
Tak lama dari kepergian Carol dari rumah itu. Bu Marni muncul dan menemui Fely. Yang masih ada di ruang tamu.
"Fely, jelaskan semua ini pada ibu!" ujar Bu Marni yang membuat Feli tersentak, ia dengan cepat menoleh ke belakang Bu Marni sudah berdiri dengan berkacak pinggang, sorot matanya menatap Fely dengan nyalang.
"Apa maksud, ibu?" tanya Fely tergagap dan menggigit bibir bawahnya.
"Kamu itu cuman anak angkat? Jelaskan ini Fely! Kenapa tadi mamamu bilang jika dia sudah bangkrut, dan akan pindah ke luar negeri!" cecr Bu Marni.
"Kenapa ibu menguping pembicaraanku, dengan Mama?" ujar Fely tak suka, dan panik sebab rahasianya telah terbongkar.
"Jika Ibu tidak menguping, maka Ibu tidak akan tahu telah kamu bohongi. Kamu telah menipu kami mentah-mentah! Ibu pikir kamu itu anak orang kaya, ternyata sudah jatuh miskin, apa yang kamu bisa banggakan sekarang?"
"Kenapa Ibu harus marah? Aku sudah menjadi istri Mas Dion, dan aku tanggung jawab putramu sekarang. Jadi Ibu tidak harus merasa tertipu, jika orang tuaku sudah bangkrut!" ucap Fely mencoba membela diri.
"Tentu saja berpengaruh, semua orang tahu jika Ibu itu berbesan dengan orang kaya, konglomerat! Bukan sekedar kaya, tapi sekarang kamu menipu kami? Dion harus tahu semua ini!" ujar Bu Marni dan siap menelpon Dion.
Fely merasa kalut, dan tersudut. Dia tidak tahu lagi ingin menjawab apa.
"Beritahukan saja semuanya pada Mas Dion, karena itu tidak akan merubah statusku, yang sudah menjadi istri darinya!" ujar Fely kemudian ia berlalu meninggalkan Bu Marni.
Hampir tiga kali Bu Marni menghubungi Dion. Dan tidak diangkat oleh putranya. Bu Marni pusing, memikirkan ini.
"Tidak bisa, aku biarkan!" Bu Marni gegas menuju kamar Felly.
Iamengetuk pintu kamar menantunya, dengan kencang.
"Buka pintunya, Fely! Buka pintu!" teriak Bu Marni.
"Ada apa sih, Bu? Mengganggu saja, aku capek ingin istirahat istirahat!" gerutu Fely ketika membuka pintu, sambil bersungut-sungut.
"Kamu hidup di rumah ini menumpang ya, di rumah Ibu. Kamu pikir aku menjadi ratu di sini, dimana uang amplop yang tadi diberikan oleh Mama-mu, serahkan pada ibu!" minta Marni.
"Tidak akan aku serahkan, itu uangku. Bukan milik ibu!" ucap Fely.
"Itu milik ibu, karena yang memodali pernikahanmu itu Dion, uang Dion itu adalah uang Ibu, cepat kamu serahkan. Ibu tidak terima kamu tipu mentah-mentah.
"Aku tidak menipu!"
"Sudah jelas. Kamu itu jatuh miskin dan masih mengelak, Ibu mendengar sendiri keluargamu itu sudah bangkrut!" cicit Bu Marni.
"Tapi tunggu dulu, bagaimana dengan nasib sertifikat rumah ibu yang kamu bilang investasi? Jika keluargamu saja sudah bangkrut? l
"Kamu jangan macam-mmacam ya!" tunjuk Marni.
__ADS_1
"Eh.. Eh itu,"
"Jangan bicara seperti orang g*gu, jawab yang jelas, pasti kamu juga menipu ibu kan. Apakah itu investasi bodong!" bentak Marni dan mulai khawatir dengan sertifikat nya sekarang.
Dia kira Fely baik. Tali kali ini dia di tunjukkan sikap asli sang menantu.
Bu Marni nyelonong masuk ke kamar Fely.
"Jangan sentuh tas itu!" hardik Fely ketika Marni meraih tas di atas lemarinya kecil dekat ranjang.
Di dalam tas itu Fely menyimpan semua uangnya.
Mereka saling tarik-menarik tas.
Sinta baru saja tiba di rumahnya, namun ia sudah disuguhkan pemandangan yang sangat mengerikan.
Rino terkapar lemah, di sudut bibirnya keluar dar*h segar, dan juga di bawah mata Rino leb*m.
Rino tidak bisa bangkit, karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya, setelah dihajar oleh Dion.
"Kurang apa selama ini, aku membantumu, hah...?! Setiap aku gajian, kamu selalu meminjam uangku, yang tidak pernah kamu kembalikan. Dan kamu juga yang awalnya, membuat aku menjadi pelit pada Rasti. Kamu sudah merusak pernikahanku Mas, dan sekarang kamu menjual mobilku? Aku tidak habis pikir! Setelah ini apalagi yang mau kamu ambil dariku!" hardik Dion penuh kemarahan.
Dion mengangkat kerah baju Rino. Dan kembali memberi puk*lan pada wajah kakaknya.
"Hentikan Dion!" pekik Sinta yang tidak tega melihat keadaan suaminya.
"Jangan membela suamimu ini, sekarang aku inginkan sertifikat rumah kalian!" Dion meminta sertifikat rumah Rino.
"Tidak bisa Dion!" ujar Rino lirih.
"Jika kamu tidak mau memberikan sertifikat rumah ini, aku bakar rumahmu Mas!" ancam Dion menunjuk Rino.
"Dion, semua ini bisa kita selesaikan dengan baik-baik!" ujar Sinta dia tidak mau kehilangan rumahnya.
"Aku tidak akan menyelesaikannya dengan baik-baik, perbuatan Mas Rino itu sudah di luar batas!" tolak Dion.
"Serahkan sertifikat itu, atau aku bakar rumah ini!" kembali Dion memperingatkan mereka berdua.
"Ini semua penyebabmu Mas, kamu terlalu serakah. Aku kan sudah memperingati, jangan menjual mobil Dion!" ucap Sinta.
"Apakah kamu yang mengadu padanya?" lirih Rino bertanya dan mencurigai istrinya yang melapor.
"Aku tidak tahu, tapi lambat laun adikmu itu juga pasti akan tahu. Dan sekarang kalian jangan berdebat!"
"Mbak Sinta, cepat ambilkan sertifikat rumah ini!" titah Dion.
"Enggak ada Dion, sertifikat di rumah ini itu juga udah digadaikan!" jawab Sinta."Mbak Sinta, cepat ambilkan sertifikat rumah ini!" titah Dion.
"Enggak ada Dion, sertifikat di rumah ini itu juga udah digadaikan!" jawab Sinta.
__ADS_1