
"Iya Ras. Katanya ada enam orang yang meninggal, dan lainnya luka-luka." Jelas Mbak Utari lagi.
Aku benar-benar merasa terkejut dengan berita yang disampaikan oleh Mbak Utari. Tapi disatu sisi hati ini juga merasa senang atas apa yang telah menimpa Kak Sinta. Semoga saja setelah semua musibah ini, bisa membuat dia sadar atas semua perbuatannya.
"Astaghfirullah." buru-buru kumengucap istighfar, agar setan tak terus-terusan membisiki hati ini dengan pikiran-pikiran yang buruk.
"Baik, terimakasih atas infonya Mbak," ucapku mengakhiri pembicaraan."
"Sama-sama, Ras." Lalu panggilan pun diakhiri.
...****************...
"Ini uang pembayaran untuk lahan Bapak Mardi." ucap salah satu karyawan bagian keuangan yang akan mengelola perusahaan sawit nanti. dengan tangan yang agak gemetar, akupun akhirnya menerima uang itu. Di sebelahku ada Bapak dan juga Ibu yang ikut mendampingi.
Bagaimana aku tak gugup. karena kali ini, kali pertama aku memegang uang dalam jumlah yang cukup banyak. Bahkan selama menikah dengan Mas Dion, aku tak pernah memegang uang sebanyak ini. Uang yang diberikannya hanya cukup untuk kami makan sebulan, terkadang malah juga sering kurang.
"Baik, terimakasih ya, Pak. Saya terima uangnya." Ujarku.
"Sama-sama Mbak, Bapak, Dan Ibu." Lalu Bapak dan aku pun menandatangi berkas-berkas bukti penjualan tanah. Dan setelah transaksi selesai, karyawan itu pun pergi.
...****************...
Suasana di kampung sangat damai sekali. Apalagi disini ada ibu dan bapak, orang yang paling aku di dunia ini.
Niatku, ingin mengajak mereka berlibur dan membuka usaha untuk kami bertiga. Agar Bapak tak perlu bersusah-susah lagi untuk bekerja di sawah. Dan aku juga mempunyai masukan tanpa mengharapkan nafkah lagi, dari Mas Dion.
"Semua uang penjualan tanah, bapak serahkan untuk kamu, Ras. Karena bapak yakin kalau kamu pasti bisa mengelolanya," ucap Bapak saat itu. Saat karyawan tadi sudah pulang.
"Terimakasih Pak, sudah percaya denganku. Apa bapak nggak mau beli rumah lagi?"
__ADS_1
"Nggak Ras. Bapak dan ibu sudah nyaman tinggal di rumah ini. Biar saja uang itu kamu gunakan untuk kalian membeli rumah dan membuka usaha. Agar kamu tak hanya di rumah saja. Dan juga kamu bisa menyekolahkan Della setinggi-tingginya." Aku terharu saat mendengar ucapan bapak. Seakan bapak tau tentang isi hati dan perjalanan rumah tanggaku.
Refleks aku pun langsung memeluk tubuh bapak yang mulai menua. Aku takut, bahkan sangat takut kehilangan kedua orang tuaku. Karena mereka adalah separuh hidupku.
...****************...
Ddrrrtt... ddrrtt... ponselku bergetar, dan ternyata panggilan dari Mas Dion. Mau tak mau akhirnya kuangkat.
"Kenapa?"
[Kapan kamu pulang? Kak Sinta kecelakaan.]
"Aku masih banyak urusan disini." Sahutku malas.
[Apa kamu tidak punya empati sama sekali? Keluarg kecelakaan, kamu malah biasa-biasa saja.] Hardiknya di telepon.
"Loh? Terus aku harus berbuat apa? Harus salto gitu? Apa aku juga harus ikut membeli kembang kuburan? Ups!" Sahutku asal. Dan sukses membuat Mas Dion semakin kesal. Terbukti dia menghembuskan nasfasnya dengan kasar.
"Masa? Aku tak merasa tuh! Karena aku akan bersikap sesuai dengan sikap orang itu sendiri. Kalau kamu bersikap kasar sama aku, ya aku juga bisa. Kalau kamu bersikap baik, maka aku akan jauh lebih bersikap baik lagi." Mas Dion terdiam sejenak.
[Kak Sinta dan anak-anaknya sekarang dirawat di rumah sakit. Kak Sinta mengalami patah tulang di leher serta kaki. Sedangkan kedua anaknya tak terlalu parah. Aku harap kamu bisa segera pulang, karena ibu pasti butuh bantuan kamu.] Refleks aku pun tertawa terbahak.
[Kenapa kamu malah tertawa Rasti? Apa kamu sudah mulai gila? Nggak habis pikir aku dengan sikapmu yang seperti ini.] Lalu panggilan pun diakhiri tiba-tiba. Tapi tak masalah bagiku, karena aku sudah sangat terbiasa dengan sikapnya yang seperti itu.
...****************...
Hari ini kami sekeluarga akan pergi berlibur di daerah puncak bogor. Aku sudah memesan villa yang mewah dan juga tentunya nyaman untuk para keluargaku.
Bapak dan ibu juga mengajak sebagian keluarga besarnya untuk berlibur. Jadi kami tidak menikmati uang itu sendirian.
__ADS_1
Dari aku kecil, Bapak selalu mengajarkan aku untuk berbagi dan tak boleh bersikap tamak pada siapapun. Karena besar kecilnya pemberian, jika ikhlas pasti akan dibalas dan mendapatkan pahala yang besar dari Allah.
Della sangat senang sekali saat aku mengajak dia berlibur di tempat yang terkenal asri dan juga nyaman. Setidaknya aku bisa menghapus rasa kecewa dihatinya. karena tidak ikut pergi ber-rekreasi bersama teman-temannya di sekolah. Ada hikmahnya juga ternyata.
Andai saja aku paksakan untuk ikut piknik dari sekolah, sudah pasti aku dan Della juga akan menjadi korban kecelakaan seperti yang Kak Sinta Alami.
Sengaja aku mengambil foto pemandangan yang indah-indah disini. Setiap momen kuabadikan di dalam ponsel bututku, dan sebentar lagi juga akan kuganti dengan keluaran model terbaru.
Niatku ingin kujadikan status di whatsapp, tapi aku takut kalau Gita akan melihatnya dan membuat keluarga Mas Dion semakin panas. Tapi tak apalah, aku tak peduli. Sama halnya mereka yang tak pernah peduli tentang perasaanku.
(Masya Allah indahnya pemandangan di pagi hari ini. Sugguh indah ciptaanMU Ya Allah.) Kutulis caption yang menurutku biasa saja. Dan tak lupa kusertakan gambar pemandangan kebuh teh dari ketinggian yang membuat mata terasa indah.
Tak lama ada pesan masuk, dan benar saja akan dugaanku. Gita langsung membalas story whatsapp ku.
[Enak ya yang jalan-jalan disaat ada keluarga yang lagi kena musibah.] Imbuhnya.
Loh? Memang apa salahku? Kak Sinta sendiri kok yang pengen jalan-jalan, dan dituruti oleh Mas Dion tanpa memikirkan perasaanku sama sekali.
Mas Dion lebih memikirkan perasaan ipar dan keponakannya, tanpa memikirkan perasaanku dan juga Della sama sekali. Lalu, sekarang aku harus memikirkan perasaan mereka gitu? Oh no! Aku sama sekali tak peduli.
Ddrrtt... ddrrt... kini giliran Mas Dion yang menelepon. Karena pesan dari Gita memang tidak kutanggapi.
"Halo Mas, kenapa lagi?" Jawabku sesantai mungkin.
[Kamu lagi dimana, Ras? Kata Gita tadi kamu lagi jalan-jalan. Apa benar semua itu?]
"Hhmm, maunya gimana?" Tanyaku balik.
[Ya ampun Rasti! Aku tuh bener-bener nggak habis pikir tahu nggak sama kamu! Saudara lagi sakit, lagi kena musibah kamu malah enak-enakan jalan-jalan ngabisin uang aku. Apa kamu nggak mikir sama sekali? Hah!] Bentaknya seenaknya.
__ADS_1
"Uang kamu? uang kamu dari mana? Apa Aku nggak salah denger Mas? kamu lagi ngelindur ya? Bangun gih! Cuci muka sana." Sahutku masih santai. Meski hati sudah mulai emosi.
[Ya uang aku lah, emangnya kamu punya uang untuk jalan-jalan? Sekarang aku pengen kamu pulang hari ini juga! Karena Ibu pasti butuh bantuan dan juga tenaga kamu]