Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Pertemuan tidak di sengaja


__ADS_3

[Mas, kamu dimana sih? Lama sekali!] Fely mulai resah, karena Dion tak kunjung datang.


[Sabar sayang. Sebentar lagi aku sampai nih.] Fely hanya menggerutu kesal. Karena sang kekasih malah menghilang entah ke mana. Padahal dia ingin sekali berduaan.


Feli yang masih mengamati Gita dan juga Bu Marni dengan perasaan kesal dan semakin ilfil. Langsung saja dia pergi dari toko itu tanpa memberitahukan terlebih dahulu pada mereka berdua. Fely juga ogah untuk membayar tas yang diminta oleh Bu Marni. Karena harganya sangat mahal.


"Pada kemana sih, orang-orang di rumah ini? Kenapa mereka semua belum pulang? Semenjak aku sakit, mereka sama sekali tak menganggapku! Bahkan Mas Rino juga sering kali keluar rumah dan pulang larut malam! Aarrgghh! Kesal!" Gerutu Sinta. Dia kini benar-benar merasa kesepian. Karena tak ada seorang pun yang mau mengurusnya, bahkan menemaninya.


Dengan langkah tertatih-tatih, dia menuju ke arah meja rias dan mengambil ponsel. Mengirimkan pesan pada Rino, agar membelikan dia makanan. Karena di rumah tka ada makanan yang bisa dimakan.


Bu Marni memang sengaja menyimpan semua makanan yang ia beli. Karena waktu itu Sinta pernah membawanya ke kamar dia semuanya, dan membuat Bu Marni kesal.


Pesan telah terkirim, tapi bukan ke nomor telepon Rino, melainkan ke nomor Rasti. Tapi Sinta tak mengecek lagi dan langsung melanjutkan tidur, sambil menahan lapar. Berharap kalau Rino akan datang dan membawakannya makanan.


...****************...


[Mas, kamu di mana sih? Buruan pulang dong, terus beliin aku makanan. Perut aku lapar sekali. Ibu dan Gitta juga nggak ada di rumah, mereka semua pergi dari pagi entah kemana.]


Rasti yang membaca pesan dari Sinta langsung merasa kasihan dengan kakak iparnya itu. Walau Rasti tahu kalau Sinta sudah sering jahat dengannya. Tapi tetap saja hati kecil Rasti tak tega melihat kakak iparnya tersiksa kelaparan seperti itu.


[Sorry, aku bukan suamimu!] Pesan terkirim ke Sinta.


Sinta yang sedari tadi menatap layar ponselnya, berharap kalau Rino akan merespon permintaannya. Begitu ada pesan masuk, dia pun langsung senang.


Wajahnya yang tadi yang ceria berubah menjadi muram karena balasan pesan yang tak sesuai.


Ternyata dari tadi dia salah kirim, dia malah mengirimkan pesan itu pada Rasti, adik iparnya yang dia benci.


"Duh, bodoh! Kenapa aku bisa sampai salah kirim sih!" Sinta mengacak rambutnya karena kesal dan juga malu.


Dia tak membalas lagi pesan yang dikirimkan oleh Rasti. Sinta langsung beranjak dari tempat tidurnya, menuju ke arah dapur. Berharap kalau dia akan menemukan makanan yang sekedar bisa untuk mengganjal perutnya.


Sesampainya di dapur tak ada makanan sama sekali yang Sinta temui, Sinta benar-benar merasa kesal dan geram dengan ibu mertuanya, yaitu Bu Marni.


Sampai akhirnya terlintas di benak Sinta untuk mencelakai Bu Marni, agar Bu Marni merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Sinta.


Segera Sinta mengambil minyak sayur yang ada yang ada di samping kompor dan bersiap-siap untuk menyebarkannya di depan pintu kamarnya Bu Marni, jika Bu Marni sudah pulang nanti. Sinta berharap dia bisa berhasil mencelakai Bu Marni.

__ADS_1


...****************...


Rasti dan Della kini sudah di depan rumah mewah milik Bu Elena. Karena Bu Elena lah yang akan membantu semua urusan Rasti, dari mulai urusan perceraian dan juga harta gono-gini yang akan dia tuntut kepada Dion.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam, sini masuk Ras. Eh ada anak cantik," smabut Bu Elena ramah. Lalu kami pun langsung masuk ke rumah berdesain sangat mewah dan berkelas.


Della diajak salah satu cucunya Bu Elena yang seumurannya dengannya untuk bermain di area taman belakang.


"Makasih Bu, udah sudi mengundang saya untuk datang ke rumah ibu. Dan mau membantu saya untuk mengurus perceraian antara saya dengan Mas Dion," ucap Rasti, memulai pembicaraan.


"Sama-sama Ras. Tapi benar, kamu sudah yakin ingin berpisah dengan Dion? Kalau memang benar, ibu akan membantu kamu, soal pengacara juga itu mudah. Sangat gampang kamu menuntut Dion. Oh iya, Ibu juga ingin mengajak kamu bekerjasama membangun sebuah usaha klinik kecantikan tak jauh dari sini.Karena menurut ibu, kamu juga mempunyai potensi dalam hal berbisnis," Rasti sontak terkejut karena ucapan Bu Elena. Dia tak menyangka kalau Bu Elena akan merangkulnya untuk selangkah lebih maju.


"Wah? Serius Bu? Terimakasih kalau ibu sudah percaya dengan saya dan mau mengajak saya bekerja sama. Insha Allah saya siap, Bu. Saya juga ingin mempunyai penghasilan sendiri, agar saya tak lagi dicap sebagai beban suami. Saya juga sudah yakin ingin berpisah dengan Mas Dion. Karena ibu tau sendiri kan bagaimana sikap keluarga Mas Dion terhadap saya?" Bu Elena langsung mengelus pudak Rasti. Sedangkan Rasti mengusap ujung matanya yang hampir basah karena terharu.


Rasti merasa doa-doa yang selama ini dia panjatkan mulai diijabah oleh Yang Maha Kuasa. Perlahan-lahan dia akan bangkit dan berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa mengandalkan siapapun dan tak direndahkan lagi oleh siapapun.


"Oke kalau begitu, gimana kalau hari ini kita pergi ketemu dengan salah satu investor juga. Mereka katanya ingin ikut menjadi investor di klinik kecantikan milik saya." Rasti pun langsung mengangguk setuju. Dan mereka pun bersiap untuk berangkat.


Menawarkan jasa pengacara, tidaklah susah bagi seorang janda kaya itu. Dia mempunyai banyak koneksi.


Rasti dan Bu Elena sudah sampai di sebuah Mall, tempat Bu Elena janjian dengan para clientnya.


Sejak pertama bertemu dengan Rasti, Bu Elena memang sudah sreg dengan Rasti. Selain karena Rasti yang sikapnya baik dan sopan, Bu Elena juga sudah menganggap Rasti sebagai seperti anaknya sendiri.


Saat Rasti dan Bu Elena sedang berjalan untuk menuju ke sebuah restoran. Della langsung berkata pada Rasti bahwa dia melihat ayahnya dan juga neneknya yang sedang berjalan bersama seorang perempuan.


"Ibu, itu ayah sama nenek!"


"Mana sayang?" Rasti mencari-cari sosok Dion dan juga Bu Marni.


"Itu, Ras." Bu Elena langsung menunjuk seseorang yang kini sedang berjalan berempat. Mereka membelakangi Rasti dan juga Bu Elena. Ternyata Dion sedang berada di sini juga bersama dengan selingkuhannya yaitu Fely.


Rasti merasa sangat kesal sekali pada Dion dan juga keluarganya, karena sudah berani terang-terangan menunjukkan hubungan haram mereka di muka umum. Tanpa memperdulikan mental Della sama sekali.


Segera saja Rasti mengambil handphonenya dan memvideokan mereka berempat yang sedang berjalan karena mereka juga tak menyadari kehadiran Rasti di sini.

__ADS_1


...****************...


Kini Rasti dan Bu Elena sudah sampai di sebuah restoran dan bersiap untuk bertemu dengan kliennya Bu Elena.


Sejak tadi Della hanya diam saja, dan Rasti pun berusaha untuk mencairkan suasana agar Della tak terlalu memikirkan tentang ayahnya dan juga neneknya yang bersikap seperti itu.


Tak lama klien Bu Elena pun datang yaitu seorang perempuan paruh baya yang berpenampilan khas sosialita kelas atas dan juga seorang laki-laki muda yang sangat cool, tapi bersikap sangat dingin.


Bu Elena menyambut kedua tamunya dengan ramah begitu juga tamunya Bu Elena yang menyambut Bu Elena dan Rasti dengan sangat ramah.


"Halo, selamat siang Bu. Sudah. lama menunggu disini?" Ucap wanita paruh baya yang yang bernama Bu Zoya.


"Selamat siang, Bu Zoya. Tidak kok, kami nuga baru saja datang. Santai saja. Eh iya kenalkan, ini Rasti, dia adalah salah satu rekan bisnis saya juga," Rasti dan Bu Zoya pun langsung bersalaman. Bu Zoya tersenyum sumringah sekali. Karena entah mengapa hatinya senang saat bertemu dengan Rasti.


"Rasti." Ucap Rasti, sambil bersalaman.


"Zoya. Cantik sekali kamu, Nak. Ini anakmu ya?" Sapa Bu Zoya ramah.


"Iya, Bu. Maaf saya membawa anak saya kesini, karena di rumah sedang tak ada orang." Bu Zoya pun langsung manggut-manggut tanda paham.


"Iya gak masalah kok. Santai aja. Oh iya, kenalkan Bu Elena, Rasti. Ini Kenzo, putra saya satu-satunya, yang nantinya akan meneruskan semua urusan perusahaan yang saya miliki. Karena sudah umur segini, saya mau santai dan hanya menunggu Kenzo agar memberikan saya cucu saja, hahaha." Kelakar Bu Zoya pada Bu Elena dan juga Rasti.


Lalu Bu Elena dan Rasti pun bersalaman dengan Kenzo--putra tunggal Bu Zoya.


Setelah itu mereka pun langsung melanjutkan ke pembicaraan inti, yaitu mengenai kerjasama untuk membuka usaha klinik kecantikan.


Setelah semua urusan selesai, mereka langsung pergi berjalan-jalan untuk sekedar berbelanja, menghilangkan rasa penat.


Kenzo nampak mencuri pandang pada Rasti. Dan Rasti pun menyadari akan hal itu. Tapi dia tak berani untuk menatap Kenzo kembali, karena dia sadar kalau dia masih berstatus istri orang.


Kini Rasti dan yang lainnya telah masuk ke dalam sebuah toko tas branded, karena Bu Zoya dan Bu Elena akan membeli sebuah tas mahal.


Saat Rasti sedang sibuk membantu Bu Elena dan juga Bu Zoya untuk memilih-milih tas. Tak disangka rombongan Dion pun lewat tepat di depan toko tersebut, dan Dion pun sangat terkejut sekali.


Begitu juga dengan Bu Marni, Fely dan juga Gita. Dion tak menyangka kalau istrinya akan pergi dengan para orang penting. Apalagi dia tau kalau disana ada salah satu bosnya yaitu Kenzo.


Fely juga tercengang melihat Rasti. Yang bisa bareng dengan Bos-nya.

__ADS_1


__ADS_2