Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Terlalu percaya


__ADS_3

"Dion! Sepertinya di belakang rumah ini tuh ada kolam renangnya.


"Ayo Dion, kamu videoin Ibu dong. Jangan foto aja ya!" ujar Bu Marni.


Dion merasa risih, dengan Ibunya.


"Buat apa sih, Bu!"


"Untuk ibu unggah di Fesbuk, biar temen-temen ibu itu pada lihat, dan juga di WA. Nanti kan mereka pada lihat status ibu!"


"Ibu norak banget!" cetus Dion.


"Kamu jangan bilang gitu dong,biarin norak sekali-kali. Biar mereka itu kepanasan, karena mereka kemarin kan menggunjing Ibu. Sebab Gita hamil duluan.


"Mereka akan lihat. Kalau kali ini calon menantu ibu itu benar-benar Sultan. Rumahnya saja mewah seperti ini, lihat barang yang ada di rumah, yang paling murah pasti harganya puluhan juta!" ucap Bu Marni dan menyapukan pandangannya.


Memang semua, yang ada di rumah Fely adalah furniture mahal.


"Cepatlah Dion! Kamu rekam ibu pakai ponselmu, yang bagus. Jangan lupa foto ibu juga. Nah di sini dulu. Ini pasti sofa yang sangat mahal!" Bu Marni kemudian duduk dengan berpose.


...****************...


Sedangkan Carol dan juga Fely. Mereka sedang ada di kamar, karena Carol ingin bicara sesuatu.


"Kamu yakin itu calon suamimu?" tanya Carol pada Putrinya.


"Kenapa pertanyaan Mama, begitu?"


"Lihat deh calon ibu mertuamu, dia sangat norak! Mama pikir, kamu akan menikah dengan orang yang setara dengan kita. Dengan latar belakang keluarga yang berada, ternyata!" sinis Carol tak suka.


"Yang penting, Mas Dion itu jabatannya bagus Ma, di kantor. Dia itu manajer!"


"Manajer gajinya berapa sih, Fely! Harusnya kamu itu cari pengusaha. Kamu itu cantik, dan kamu bisa memanfaatkan kecantikanmu, untuk menggaet pria yang lebih kaya!" cicit Carol.


Felly berpikir sejenak, benar juga apa yang dikatakan oleh Carol.


Namun ia mencintai Dion.


Pernah dekat dengan pengusaha, tapi kandas. Soal hati tak bisa menebak, akan berlabuh pada siapa.


"Tapi aku mencintai Mas Dion, Ma. Aku tidak bisa berpaling dari dia. Sebenarnya ada aku suka dengan bosku, tapi dia tidak menyukaiku. Bahkan untuk melirikku saja, sepertinya dia tidak mau!" ujar Fely. Dan yang dimaksud adalah Kenzo.


"Terserah kamu, Mama tidak mau ikut campur terlalu dalam. Karena sebentar lagi kita juga akan berpisah!"


Fely cukup sedih, jika mendengar kata berpisah yang keluar dari mulut Mamanya. Terkadang ia berpikir. Apakah Carol tidak pernah menyayanginya sebagai seorang anak.

__ADS_1


...****************...


"Bagus juga ya pilihan Dion. Dan sebentar lagi aku juga akan seperti dia!" gumam Rino.


"Maksudmu apa, Mas?" tanya Sinta yang ternyata berdiri di belakang Rino. Ia tengah memperhatikan seisi rumah Fely.


"Bukan urusanmu!" sahut Rino. Yang sekarang sikap cuek, dan semakin dingin pada Sinta.


Hari sudah hampir menjelang malam. Dion dan juga keluarganya berpamitan pada Carol untuk pulang.


"Terima kasih ya, sudah mengundang keluarga kami untuk datang ke rumah ini. Dan sebagai silaturahmi. Sebentar lagi, kita akan menjadi besan!" ujar Bu Marni.


"Sama-sama Bu Marni, semoga nanti pernikahan anak kita lancar. Sampai hari H." jawab Carol berusaha ramah pada keluarga Dion.


Dion, Bu Marni, Rino dan Sinta kini pulang. Selama perjalanan. Bu Marni sibuk dengan ponselnya, dia memposting foto dan juga video, ketika berada di rumah Felly.


Setiap sisi rumah Felly difoto oleh Bu Marni. Yang menurutnya menarik, dan menunjukkan sebuah kemewahan.


(Rumah calon menantu)


Bu Marni menulis caption seperti itu.


"Si Rasti pasti akan melihat postinganku ini!" gumam Bu Marni karena dia masih berteman, dengan Rasti di sosial media.


"Sinta, kamu lihat di foto ibu. Bagus-bagus kan. Rasti pasti akan cemburu, dan sakit hati!" cicitnya


"Kamu nih. Ibu tanyain malah melengos, dasar menantu resek!" Bu Marni kembali fokus pada ponselnya.


...****************...


Sore itu Fely datang ke rumah Bu Marni. Dion tidak ada di rumah. Dia sedang urusan bersama temannya. Padahal ini weekend.


"Tante, gimana kemarin saat main ke rumahku, senang nggak?" tanya Fely.


"Senang banget! Rumah kamu itu luas, dan juga mewah. Orang tua kamu pasti asetnya udah puluhan miliar, atau ratusan miliar! Kalian itu benar-benar keluarga Sultan. Ibu yakin, Rasti akan minder melihat kekayaanmu!" ujar Bu Marni dan mulai membandingkan mereka.


"Begitu, dia pakai sok-sokan. Hanya karena dekat dengan Bu Elena, padahal kan dia itu hanya pembantu, di rumah Bu Elena!" ujar Marni yang dia tahu, jika Rasti itu hanyalah pembantu di sana.


Fely tertawa kecil menanggapi ocehan Bu Marni.


"Kami itu beda level, aku sudah terbiasa dengan kehidupan mewah dari kecil!" cetus Fely.


"Oh ya Bu, aku ingin mengajak Ibu sebuah bisnis!"


"Bisnis apa, Fel?" tanya Bu Marni antusias.

__ADS_1


"Ibu kan tahu Keluargaku itu kaya, jadi aku ingin menawarkan ibu untuk ikut investasi,"


"Investasi?" Bu Marni belum paham


"Kami sekeluarga juga ikut investasi, dan itu salah satu juga cara, bagaimana kekayaan orang tuaku bertambah. Jika ibu ikut, harus mempunyai modal dan menanam saham! Dan modal itu terus berkembang, Ibu akan mendapatkan untung setelah 3 bulan bergabung!" Fely menjelaskan.


"Memangnya, berapa untungnya?" tanya Bu Mirna. penasaran dan mulai tertarik.


"Modal cukup 100 juta, dan keuntungan bisa sampai 20 juta perbulan. Atau mungkin lebih.


Ibu mau ikutan, atau idak? Karena sayang sekali jika Ibu melewatkan kesempatan ini," ucap Fely.


"Tapi Ibu tidak mempunyai modal Fel,"


"Bagaimana, jika begini. Ibu jaminkan saja sertifikat rumah Ibu, padaku.


"Nanti, aku yang akan memberikan modal di awal cash. Jadi sertifikat ibu itu hanya sebagai jaminan padaku, tidak akan digunakan untuk macam-macam. Ibu percaya kan?"


"Tentu saja Ibu sangat percaya, padamu!" jawab Bu Marni tanpa ragu.


"Bagus, kalau begitu. Jadi ibu serahkan saja sertifikat rumah Ibu. Aku yang akan daftarkan investasi, Ibu akan mendapatkan uang puluhan juta setiap bulannya, tanpa harus meminta dulu pada mas Dion!" ujar Fely memberi angin surga.


Membuat Bu Marni sangat tertarik dan membayangkan uang, puluhan juta.


"Sangat mau, bisa Ibu belikan perhiasan setiap bulan. Ibu-ibu di arisan akan iri, dengan perhiasan ibu. Yang semakin banyak!"


"Tunggu apa lagi," sahut Fely tersenyum senang.


200


"Baiklah, ibu akan ambilkan sertifikat rumah ini. Ibu menyimpannya di kamar, sebentar ya Fely?" Bu Marni bangkit dari duduknya.


Fely tersenyum karena. Rencananya berhasil untuk membujuk Bu Marni. Agar menyerahkan sertifikat rumah itu padanya.


"Tak lama, Bu Marni kembali kembali dan membawa sertifikat itu. Memberikannya pada Fely!"


"Sebagai bukti keseriusan, ada sebuah surat yang harus Ibu tanda tanganni!" ujar Fely.


200


"Surat apa ini?" tanya Bu Marni.


"Ibu tandatangani saja, hanya sebagai surat perjanjian untuk investasi!" ucap Fely.


"Baiklah, di mana Ibu harus tanda tangan?" tanya Marni.

__ADS_1


Fely menunjukkan di mana Marni menandatangani, dan memberikan pulpen. Marni membubuhkan tanda tangannya di atas matrai.


Akhirnya Fely berhasil mendapatkan tanda tangan bu Marni. Tanpa bu Marni ketahui, entah surat apa yang telah ia setujui


__ADS_2