
"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Mbak, Sinta!" bantah Dion dengan tuduhan Sinta pada dirinya.
"Sudahlah Dion, kamu akui saja. Bahkan pakaian Mbak sampai robek karena kamu terlalu n*fsu!" ujar Sinta mengarang cerita, agar Fely cemburu dan meninggalkan Dion.
"Kamu berbohong Mbak, aku adukan perbuatanmu ya pada mas Rino. Jika kamu tidak mau mengatakan yang sebenarnya!" ancam Dion agar Iparnya berhenti berdusta.
"Adukan saja, justru bagus jika Mbak diceraikan oleh Mas Rino, dan kita bisa bersama!" ujar Sinta sudah dikuasai oleh perasaannya, yang tidak tertahan pada Dion.
Fely maju dan menampar pipi Sinta dengan kuat.
"Dasar wanita jal*ng, aku lebih percaya pada Mas Dion, sepertinya memang kamu yang terlalu n*fsu untuk menggoda calon suamiku!"
Sinta memegangi pipinya, yang ditampar oleh Fely terasa panas.
"Lebih baik kamu pergi sekarang, sebelum aku mencak*rmu!" tunjuk Felly.
"Aku tidak takut padamu!" Sinta menunjuk Fely dan ingin membalas tamparan.
Namun Fely menangkis tangan Sinta. Dan menghempaskannya dengan kuat.
"Pergi, atau aku cak*r mukamu itu!" Fely yang tidak tahan, mendekat dan mencak*r muka Sinta dengan brut*l.
Sinta menjerit.
"Tolong mbak, Dion!" pekik Sinta meminta pertolongan.
"Makanya Mbak, pergi kamu dari sini. Aku tidak ingin melihatmu.Aku jijik dengan kelakuanmu!" cecar Dion.
Fely melepaskan cakar*nnya. Sinta merasa perih di wajahnya dan terluka bekas kuku Fely yang panjang karena menggunakan kuku palsu.
"Awas kalian, akan aku balas kalian tidak akan pernah bahagia!" tunjuk Sinta dan kemudian bergegas pergi dari rumah Dion.
"Tidak waras Kakak iparmu itu!" cicit Gely.
"Ya sayang. Dia itu terobsesi padaku. Jadi kamu jangan salah paham lagi, aku sama sekali tidak nafsu melihatnya!" ujar Dion.
...****************...
Fely dan Dion pergi ke sebuah restoran Korea malam itu. Semenjak di grebek dan di kenai denda. Mereka tidak berani lama, di rumah itu sebelum menikah.
Tangan Dion merangkul pinggang Fely. Sedangkan Feli merebahkan kepalanya di dada bidang Dion. Tempat duduk seperti sofa, dan ada sekat tiap antar meja. Membuat mereka lebih leluasa.
"Mas, bagaimana dengan pernikahan kita. Kamu bersedia kan untuk memodalinya?"
"Aku akan berusaha menuruti permintaanmu!" ujar Dion. Dia tidak bisa menolak permintaan Fely. Karena rasa cintanya yang besar pada wanita muda itu.
Fely sangat membuat Dion di mabuk kepayang, usianya yang masih muda dan juga cantik, membuat Dion tidak bisa berpaling lagi.
...****************...
Gita sudah melakukan tespek. Hasil dari tespek itu bergaris dua berwarna merah. Gita terduduk lemas di lantai kamarnya, sambil menatap nanar pada tespek itu.
"Aku hamil, Ibu pasti akan marah, gimana ini? Mas Bagus juga nggak ada balas pesanku, kemana sih dia!" gerutu Gita dan mengusap air matanya yang lolos.
"Mas, kamu janjikan jika terjadi sesuatu padaku kamu akan bertanggung jawab. Tapi sekarang kamu menghilang, setelah mendapatkan apa yang kamu mau, pria brengs*k!" umpat Gita ketika mengingat janji manis Bagas.
"Aku harus mencari Mas Bagas, aku harus meminta pertanggung jawaban darinya. Semakin lama perutku masih akan semakin membuncit. Harus bisa menikah dengan dia, karena aku juga mencintai dia!" Gita terus berbicara sendiri merencanakan sesuatu.
Tidak ada tempat yang bisa ia ajak untuk berbagi.
__ADS_1
Karena ini sebuah aib.
...****************...
Setelah mengurung diri di kamar. Sore itu Gita memutuskan untuk pergi ke rumah orang tua Bagas.
Dia pernah diberi alamat oleh Bagas. Di mana tempat tinggalnya, yang tidak terlalu jauh hanya berjarak 20 menit menggunakan sepeda motor Namun memang Gita belum pernah diajak ke sana.
"Gita! Kamu mau ke mana?" tanya Bu Marni yang melihat putrinya.
"Ada urusan dengan temanku!" jawabnya asal.
"Tolong nanti kamu mampir sebentar ya, ke supermarket. Belikan titipan ibu, nanti Ibu kirimkan daftar belanjaannya!"
Gita hanya mengangguk dan kembali meneruskan langkahnya, ia tidak fokus lagi dengan perkataan Bu Marni. Yang ia inginkan hanya cepat bertemu dengan Bagas.
"Kenapa anak, itu?" gumam Bu Marni merasa heran dengan sikap Gita.
...****************...
20 menit jalanan menggunakan sepeda motor sendirian. Gita mencari rumah Bagas. Ia bertanya kepada beberapa warga, karena Gita hanya tahu alamatnya saja, dan tidak tahu persis di mana rumah pria itu.
Dari beberapa warga yang ditanya oleh Gita. Akhirnya dia berhasil tiba di rumah Bagas. Rumah yang tidak terlalu besar, dan bercat warna biru itu. Rumah yang tidak terlalu besar.
Gita akan melangkahkan kaki di teras, dia melihat Bagas yang keluar dari rumah itu.
"Mas Bagas!" ucap Gita yang merasa cukup lega, akhirnya mereka bertemu kembali, dan dia tidak salah alamat.
"Kamu, kenapa datang kemari!" ujar Bagas seperti ketakutan ketika melihat Gita.
"Mas, kamu ke mana. Apa nomormu sudah tidak ganti. Kenapa selalu tidak aktif ketika aku telepon? Kenapa kamu menghilang Mas, apa kamu sudah mempunyai yang lain." cecar Gita.
"Maksudmu apa?" Bagas mulai penasaran.
Gita mengeluarkan tespek dari dalam tasnya, dan menunjukkan benda kecil itu pada Bagas.
"Aku hamil Mas, kamu sudah janji akan bertanggung jawab dengan perbuatanmu!"
"Tapi aku tidak percaya itu adalah anakku!" elak Bagas.
"Tidak percaya, kamu Mas yang sudah meniduriku. Kalau kamu tidak mau bertanggung jawab, maka aku akan berteriak biar semua orang tahu dengan kelakuan bejatmu itu. Aku ingin bertemu dengan orang tuamu, kamu harus mengatakan hal ini dan segera menikahiku. Karena aku tidak mau jika aku melahirkan tanpa suami!" kecam Gita.
Bagas yang merasa takut, akhirnya menuruti permintaan Gita untuk menemui kedua orang tuanya. Kebetulan sore itu, kedua orang tua Bagas sedang ada di rumah.
Ibu Bagas yang bernama Ratna menatap sinis pada Gita. Sepertinya perempuan paruh baya itu, kurang menyukai kekasih putranya.
"Kamu itu cari calon istri itu yang alim, bukan begini penampilannya Setidaknya dia itu sepadan denganmu!" ucap Ratna terang-terangan di hadapan Gita.
Gita yang tadinya tersenyum ramah, mendadak raut wajahnya menjadi bias. Apa maksud dari ibu. Bagas yang menilainya tidak pantas dengan putranya. Sedangkan Bapak Bagas yang bernama Susanto hanya menatap datar, pada Gita. Dan tidak berkata apapun.
"Tante, Om. Aku kemari ingin meminta pertanggung jawaban Mas Bagas!" ucap Gita menyampaikan maksudnya.
Bagas menoleh pada kita.
"Kamu tidak mau bicara, Mas! Biar aku saja yang bicara!" ucap Gita karena menunggu dari tadi Bagas untuk membuka obrolan, tapi Bagas mulutnya seperti terkunci dan tidak bicara apapun.
"Pertanggung jawaban, apa maksudmu? Memangnya apa yang telah dilakukan oleh putraku!" tanya Ratna dan membelalak pada Gita.
"Aku hamil Tante, dan ini anaknya Mas Bagas!"
__ADS_1
"Bagas! Apa benar yang dia katakan, kamu itu anak ibu pintar dan Soleh. Mana mungkin kamu menghamilin anak orang, kamu pasti cewek nakal. Iya kan, enggak mungkin Bagas seperti itu!" ujar Ratna yang tidak mempercayai ucapan Gita.
"Mas Bagas tidur denganku, dan kami berhubungan. Mas kamu bicara yang jujur! Jika kamu tidak mau bertanggung jawab, aku laporkan kamu ke polisi ya!" ancam Gita.
Bagas tidak mau di laporkan.
"I-Iya Bu aku sudah meniduri Gita," tepaksa Bagas menjawab.
"Tante, aku mau Mas Bagas bertanggung jawab dengan menikahiku. Karena tidak mungkin aku hamil tanpa suami. Ibuku pasti akan marah!" ujar Gita semakin memberanikan diri.
Dia mau mendapatkan haknya, agar Bagas tidak lari dari tanggung jawab.
"Pasti kamu kan yang rayu Bagas! Agar menidurimu, kasihan kamu Bagas. Kenapa kamu bisa pacaran dengan wanita seperti ini, yang hanya menjerumus kamu ke dalam dosa!" cerca Ratna yang hanya menyalahkan Gita. Tidak mau menyalahkan sang putra.
"Tante, jangan bicara seperti itu ya. Mas Bagas yang pertama merayuku, bukan aku!"
"Diam kamu, saya nggak percaya ucapan dari wanita nakal seperti kamu!" tunjuk Ratna.
"Terserah tante percaya atau, tidak. Yang ng penting aku meminta dia untuk segera menikahiku. Atau Tante mau, Mas Bagas aku laporkan!" ancam Gita kembali.
Wajah Ratna semakin kesal, karena diancam oleh Gita.
"Baiklah kalau kamu mau menikah dengan Bagas, bisa saja. Tapi suruh semua orang tuamu yang menanggungnya, dari biaya dan semua kebutuhan untuk pernikahan kalian. Karena Bagas ini belum bekerja, dia mau dapat uang dari mana untuk biaya, menikahimu!" ucap Ratna.
Putranya masih pengangguran.
Gita menjadi bingung. Bapaknya sudah tiada, hanya ada ibu. Tapi kan ada Dion pikir Gita seperti itu.
"Oke, aku akan meminta kakakku untuk membiayai pernikahanku nanti, yang penting Mas Bagas tanggung jawab!" ujar Gita.
Tapi Gita masih takut, jika Marni tahu tentang Bagas yang pengangguran.
...****************...
Dion mengajak Rasti untuk bertemu di sebuah cafe. Mereka ingin membahas tentang penjualan rumah itu. Mereka sudah janjian untuk bertemu.
"Mana Della, apakah kamu tidak membawanya?" tanya Dion ketika Rasti baru saja datang seorang diri.
"Della tidak ingin bertemu denganmu!" jawab Rasti dan duduk pada kursi yang berhadapan dengan Dion.
"Kenapa?" tanya Dion.
"Hah? Kamu nanya, kamu bertanya-tanya Mas? Tentu saja dia takut denganmu! Apakah kamu pernah bersikap lembut pada Putri kita, jangan salahkan aku jika dia tidak mau menemuimu!" jawab Rasti.
Dion hanya bisa menghembuskan nafas kasar, mendengar perkataan Rasti. Namun Dion terkesima melihat penampilan Rasti. Yang semakin cantik, berbeda saat mereka berumah tangga. Rasti lebih sering tak dandan.
"Bicarakan, apa yang ingin kamu sampaikan. Aku tak mau membuang waktu!" ujar Rasti.
"Aku sudah menemui pembeli yang akan membeli rumah, dia setuju dengan harga yang aku tawarkan. Jadi besok sore kamu datang ke rumah, karena dia akan membayar secara cash!"
"Cash?" tanya Rasti. Karena jarang sekali orang zaman sekarang membeli rumah, dan membayar secara cash.
"Dia itu sudah berumur 52 tahun. Tidak semua orang suka menyimpan uangnya di bank!" ujar Dion menjelaskan.
Rasti mengangguk mengerti.
"Besok kamu datang, dan uang itu akan kita bagi dua. Tapi kamu jangan bilang pada Ibuku, jika aku telah menjual rumah itu. Jika sampai Ibu tahu, pasti dia akan marah dan tidak setuju dengan keputusanku ini!" ujar Dion karena ia tak memberitahu keluarganya.
"Aku juga tidak akan bilang padanya, dan tidak peduli dengan pendapat ibumu. Karena itu memang aku dan Della!" ucap Rasti.
__ADS_1
Dan mereka sudah membuat kesepakatan berdua