
"Iya Bu Dia juga seperti wanita karir, kan cocok deh dengan Mas Dion. Mereka serasi!" timpal Gita.
Mendengar ucapan dari adik ipar dan juga mertuanya, semakin membuat Sinta kesal. Dia ingin Marni melakukan sesuatu dan memarahi putranya itu, tapi justru mendukungnya.
Gita mengambil semua makanan yang ada di kamar Sinta. Tanpa tersisa, kecuali bekas bungkus makanan yang telah di makan,oleh Sinta.
"Kamu jangan banyak tingkah ya Sinta, Ibu tak mau disebut repotkan olehmu!" ucap Marni pada Sinta yang hanya terduduk di ranjang.
"Kenapa gak pulang ke rumahmu aja, Mbak? Jika di sini hanya merepotkan saja!" timpal Gita ketus yang juga tidak suka, dengan kehadiran Sinta di rumah itu.
'Di saat sakit diriku sakit, seakan semua orang jijik padaku!' batin Sinta dan merasa sedih.
'Jika ak sudah sembuh nanti, akan aku balas kalian. Dan Ibu, akan aku buat kamu yang menggunakan kursi roda. Agar kamu merasakan bagaimana tersiksanya di posisiku sekarang!' di dalam batin Sinta bertekad.
Terlebih ketika melihat tertawaan Gita dan juga Marni yang remeh.
"Aku adukan kamu pada, Rasti. Jika aku sehat, sudah aku labrak pelakor ini. Tapi biarlah Rasti yang melabraknya. mewakili perasaanku!" gumam Sinta dan mengirim foto itu pada Rasti.
Dia yakin setelah ini. Rasti akan mengamuk pada Dion dan bercerai.
"Jika kalian bercerai, aku siap menjadi penggantimu, Ras. Dan wanita itu bukanlah hal yang sulit untuk aku singkirkan!" ucap Sinta dan tertawa sinis.
Foto terkirim. Tak berapa lama berubah menjadi centang biru.
[Suamimu selingkuh, karena kamu tak pandai merawat diri!] Sinta kembali mengirim pesan. Karena belum ada balasan dari Rasti.
Sinta mendecak kesal. Karena Rasti membaca tapi belum membalas juga, seakan tidak peduli jika Dion selingkuh.
Dengan cepat Sinta kini membuka story WA Rasti.
"Hah, salon?" pekik Sinta yang kaget melihat story Rasti.
"Dari mana ia mendapatkan uang, untuk perawatan?" gumamnya kesal. Pertanyaan yang sama dari semua orang.
[Kamu dapat uang dari mana, bisa perawatan segala?] jiwa kepo Sinta meronta. Dan tidak tahan mengirim pesan itu pada Rasti.
[Suamiku!] balas Rasti singkat.
[Haha... Gak mungkin, Dion memberimu uang. Apalagi untuk ke salon!] ejek Sinta.
[Buktinya aku bisa ke salon! Kenapa iri ya? Karena suamimu gak mampu biayain kamu ke salon juga?]
Mata Sinta membulat membaca balasan kali ini. Rasti sangat berbeda, dan berani membalas pesannya dengan kata tak pantas.
[Sorry ya, aku gak iri sama kamu. Untuk apa kamu perawatan. Jika suamimu saja selingkuh, ih kasian suamimu selingkuh sama perempuan yang lebih segalanya darimu! Cantik, wanita karir. Lah kamu wanita bau bumbu, kusam!
Sekarang baru sibuk perawatan, saat suami udah kecantol perempuan lain. Kasian deh lo!] Sinta mengirimkan pesan dan menumpahkan kekesalannya.
Drrt.. Drrt.. Semangat Sinta ingin membuka pesan balasan Rasti. Ketika menghidupkan layar hanya.
[Oh!]
"Cuma ini balasannya? Aku yakin dia pasti sedang menyembunyikan kesedihannya!" ucap Sinta kesal dan membanting ponselnya pada kasur.
...****************...
Setelah pulang dari kantor. Dion terlebih dahulu pulang ke rumah Ibunya. Dia tak datang sendiri, melainkan bersama seorang perempuan.
__ADS_1
Kedatangan mereka di sambut oleh Bu Marni.
"Kenalin Bu, ini namanya Fely!" Dion memperkenalkan perempuan cantik, dan badan bak model itu pada Marni.
"Fely, Tante," ucap Fely dan mencium punggung tangan Marni.
"Cantik banget, badannya bagus!" gumam Gita yang terpana dengan Fely.
"Aku Gita!" ujar Gita ketika Fely menghampirinya.
Mereka semua duduk di ruang tamu.
"Gita, kamu ambilkan minum untuk tamu!" titah Marni.
"Mbak, mau minum apa?" tawar Gita. Yang biasanya malas, menjamu tamu. Tapi kali ini seakan mencari muka di depan Feli.
"Teh saja," jawab Fely dan tersenyum.
"Mas, kopi ya!" timpal Dion.
"Ya!" sahut Gita dengan malas.
"Fely, mau menjenguk Mbak Sinta,Bu." ucap Dion dan menyampaikan tujuan Fely datang ingin menjenguk Sinta.
"Aku dengar, kakak Ipar Mas Dion kecelakaan, dan sekarang sudah pulang ke rumah. Jadi mau jenguk," ujar Fely yang sudah membawa buah-buahan.
"Repot-repot Nak Fely, keadaan Sinta udah mendingan. Jika begitu, ayo Ibu antar kamu ke kamarnya!" ajak Marni dan bangkit dari duduknya.
"Mas, aku kesana ya," ujar Fely di sertai anggukan Dion yang ikut ke kamar Sinta. tidak
"Sinta, kamu sedang apa?" tanya Marni dari luar.
'Sudah tahu aku tak bisa jalan, dia pikir aku sedang kayang, atau menari gitu?!" gerutu Sinta kesal.
Pintu terbuka. Marni membawa Fely masuk ke dalam kamar.
"Ini Fely, temannya Dion. Mau jenguk kamu," ujar Marni dan bersikap ramah. Karena ada Fely.
Sinta menatap wanita itu dengan seksama. Dan ia ingat jika wanita yang di bawa oleh mertuanya, adalah wanita yang di unggah oleh Dion di story WA tadi.
Seketika tatapan Sinta berubah sinis.
"Fely, Mbak," ucap Fely dan mengulurkan tangan untuk kenalan.
Namun Sinta membuang muka, tak menyambut uluran tangan Fely.
"Heh, kamu tak sopan. Ini ada yang jenguk, gayamu sombong sekali!" ucap Marni lirih penuh penekanan dan menepuk bahu Sinta. Ia sekarang duduk di bibir ranjang dekat Sinta.
"Ibu, kenapa bersikap baik pada dia? Dia itu pelakor, Ibu mau mendukung perselingkuhan anak sendiri!" ucap Sinta dengan suara yang di keraskan. Sengaja agar Fely mendengarnya.
"Dia itu mau menjengukmu, bicaralah yang sopan!" tekan Marni dan kemudian menatap Fely kemudian tersenyum.
Sebenarnya Marni sedang menahan malu. Karena Sinta tak bisa bersikap sopan.
"Kita keluar saja, Fely. Sepertinya Sinta mau istirahat," ucap Marni yang sudah tidak enak dengan Fely.
"Baik tante" jawab Fely dan tersenyum. Wanita itu seperti tidak marah, dengan perlakuan Sinta.
__ADS_1
Sinta juga merasa heran. Kenapa Fely tak terpengaruh dengan ucapannya.
Marni berdiri dan berjalan keluar lebih dulu. Sinta tetap memasang raut wajah sinis, dan menatap tajam pada Fely.
"Wanita cacat!" desis Fely dan tersenyum tipis. Sinta tersentak dengan ucapan Fely barusan.
"Dia terlihat ramah, tapi diam-diam licik. Wanita ini berbahaya!" gumam Sinta. Dirinya yang tadi menganggap remeh Fely. Kini merasa takut, karena Fely bukan wanita yang mudah ia tebak.
...****************...
Fely kembali ke ruang tamu bersama Marni.
"Mbak, di minum teh-nya. Keburu dingin!" ujar Gita dan tersenyum ramah pada Fely.
Fely kembali duduk. Marni merasa takjub melihat Fely.
"Kamu teman kantornya, cantik sekali," ujar Marni sambil memuji Fely.
"Kakak serasi banget sama Mas Dion, tapi cuma teman ya," ujar Gita.
"Kalau Mas Dion, mau serius. Aku terima kok," ucap Fely dan tersipu malu.
"Tapi Mas, Dion sudah punya istri Mbak tahu kan?"
"Jika istri kan masih bisa cerai, Bu!" ujar Dion yang malah tak merasa malu mengucapkan itu pada keluarganya.
"Memangnya Fely, masih sendiri?" tanya Marni bak gayung bersambut. Seakan tidak malu menyahuti ucapan Dion.
"Fely masih gadis, Bu. Dia anak tunggal dan keluarganya mempunyai hotel, dan bidang properti lainnya!" ujar Dion membanggakan kekayaan Fely yang berasal dari keluarga kaya raya.
"Anak tunggal? Tapi apakah keluargamu mau menerima, jika nanti status Dion duda?" tanya Marni yang langsung membahas kearah sana.
"Orang tuaku selalu mendukung, pilihanku Tante. Asalkan pria itu baik dan bertanggung jawab, dan bisa membimbing istri jika sudah menikah," ujar Fely yang memberi angin segar.
"Ibu, terserahmu Dion. Ibu rasa kamu dan Rasti juga sudah tidak cocok lagi, Rasti tidak bisa mengimbangi kamu. Dan selalu melawan menjadi istri!" ujar Marni dan menatap Fely.
"Kasihan Dion, punya istri yang tidak patuh. Sangat melawan pada suami. Ibu harap Dion, bisa menemukan istri yang lebih baik dari dia. Ibu yakin kamu bisa menggantikannya." ucap Marni kembali.
Fely tersenyum merasa tersanjung, dan menatap Dion yang seperti sudah menggebu juga dengan perasaannya.
"Kalian serasi, Kak Fely cantik.
Bagai langit dan bumi kalau di bandingin Mbak Rasti. Kak kayaknya kita bakal cocok juga deh, bisa jadi bestie!" ucap Gita bersemangat. Karena usia mereka sepertinya tak terpaut jauh.
"Jika memang serius, ibu harap di percepat Dion. Jangan lama mengambil keputusan, karena sulit menemukan wanita sesempurna Fely, di saat pertama bertemu saja, ibu merasa kalian itu jodoh!" ujar Marni dan sangat mengharapkan Dion berhasil menikah dengan Fely.
"Pasti Bu, aku akan segera mengurus Rasti terlebih dahulu.Semoga dia mau legowo menerima Fely!"
"Terima kasih, karena kalian mau menerimaku," ucap Fely dan senang dengan respon keluarga Dion.
Cukup lama mereka berbincang. Hingga 1 jam lebih.
Fely di antarkan oleh Marni, Gita dan juga Dion hingga teras. Fely menuju mobilnya dan pulang tanpa Dion karena bawa mobil sendiri.
"Pinter kamu Dion, pilih pengganti Rasti. Dia wanita karir, dan mempunyai mobil. Juga dari keluarga kaya, anak tunggal. Sempurna!" puji Marni.
Dion tersenyum bangga karena merasa beruntung mendapatkan Fely. Dan Fely juga tidak merasa keberatan dengan status Dion nanti.
__ADS_1
"Gak sabar lihat reaksi Mbak Rasti saat melihat Kak Fely, dia bakal terbakar cemburu!" ujar Gita dan tergelak.