
[Ya ampun Rasti! Aku tuh bener-bener nggak habis pikir tahu nggak sama kamu! Saudara lagi sakit, lagi kena musibah kamu malah enak-enakan jalan-jalan ngabisin uang aku. Apa kamu nggak mikir sama sekali? Hah!] Bentak Dion.
"Uang kamu? uang kamu dari mana? Apa Aku nggak salah denger Mas? kamu lagi ngelindur ya? Bangun gih! Cuci muka sana." Sahut Rasti terdengar santai.
[Ya uang aku lah, emangnya kamu punya uang untuk jalan-jalan? Sekarang aku pengen kamu pulang hari ini juga! Karena Ibu pasti butuh bantuan dan juga tenaga kamu]
Namun sambungan telepon di matikan. Dion berteriak sambil menatap nanar ponselnya.
"Rasti sungguh membuatku gila, Istri durhaka! Pulang ke kampung halamannya, tanpa berpamitan padaku! Sekarang dia semakin melewati batas!" geram Dion sambil meremas ponsel di tangannya.
"Argghhh....!" Dion menyugar rambutnya dengan giginya yang bergemalatuk.
"Dion, kapan istrimu pulang? Nanti setelah Sinta pulang ke rumah. Dia harus merawat Sinta dan juga Fani!" ucap Marni, Ibu Dion.
"Rasti, masih belum mau pulang, Bu. Dia masih ingin di kampung bersama orang tuanya," jawab Dion dan merasa ragu menyampaikan semua ini. Ibunya pasti akan kecewa.
Istri yang selalu bisa ia andalkan tenaganya, malah tak ada di sini. Membuat pekerjaan rumah menjadi berat.
"Duh, kalau Rasti gak pulang secepatnya. Siapa yang mau bantu ngurus Sinta!" keluh Marni gusar. Dirinya butuh Rasti.
"Mas, Dion!" Gita menghampiri Dion.
"Ada apa?" sahut Dion.
"Ini barusan Mas Rino telpon, Mas di minta datang ke rumah sakit," ujar Gita.
"Mbak Sinta, terus memanggil nama kamu Mas, dan ingin kamu ada di sana," ucap Gita menyampaikan apa yang di katakan oleh Rino, kakaknya.
Dion mengernyitkan dahi mendengar ucapan Gita..
"Kenapa dia memanggilku? kan Mas Rino suaminya ada di sana?" ujar Dion yang merasa heran.
"Sudahlah, kamu pergi kesana saja sekarang. Sinta membutuhkanmu!" titah Marni dan menyuruh Dion menuruti permintaan Sinta.
__ADS_1
Dion tiba di rumah sakit. Walau ia merasa setengah hati untuk datang. Tapi Dion tak bisa menolak perintah keluarganya.
"Dion!" seru Sinta dengan mata yang berbinar yang melihat kedatangan Dion.
"Ada apa, Mas? Memintaku datang?" tanya Dion langsung pada intinya.
"Sinta, ingin sekali kamu suapi makan," ujar Rino dan menyampaikan keinginan istrinya.
"Suapi makan?" Dion semakin merasa heran dan meneguk salivanya, menatap Sinta yang tersenyum. Padahal sedang sakit, tapi masih sempat-sempatnya mencari kesempatan.
Dion bukan orang bodoh, dan menyadari jika Sinta itu menyukai dirinya. Beberapa kali Sinta mencoba merayu Dion.
Akan tetapi Dion tidak menyukainya, walau ia tak keberatan jika Sinta meminta sejumlah uang. Karena uang itu memang untuk keponakannya.
Yang membuat Dion juga heran. Kenapa Rino tak mencegah permintaan sang istri. Apa dia tak merasa cemburu pada Sinta? Yang terkesan mencari kesempatan, ketika sakit.
"Mas, saja yang suapin. Aku segan melakukan itu pada Kakak ipar sendiri," sanggah Dion.
"Mas tidak keberatan, Dion. Karena ini permintaan istri yang sangat mas sayangi." Imbuh Rino lagi.
"Kalian adalah ipar, memangnya apa yang kamu pikirkan Dion? Wajar-wajar saja jika seorang adik memanjakan Kakaknya, apalagi kondisi kakaknya sedang sakit." ucap Rino seperti sama sekali tidak merasakan keanehan dengan permintaan mereka.
".Maaf aku tidak bisa mas" tolak Dion dan meninggalkan ruangan itu.
Sinta mengerucutkan bibirnya, sebab Dion menolak permintaannya.
"Aku cuma mau di suapi, Mas! Kenapa kamu hanya diam sih, kejar dia!" titah Sinta karena Rino tak bergeming.
Rino menyusul keluar kamar, untuk mencari Dion. Sebenarnya hati Rino juga merasakan denyut nyeri di hatinya.
Marni ditunjukkan oleh Gita beberapa foto liburan menantunya. Mertua dari Rasti itu belum mengetahui tentang foto, yang di unggah Rasti di story. Ketika Rasti liburan di kebun teh.
Matanya melotot, melihat berulang kali. Foto yang sedang menunjukkan kebahagiaan menantunya. Sedangkan menantu yang harusnya bahagia, karena pulang liburan malah tertimpa musibah.
__ADS_1
'Kenapa, tidak Rasti saja yang kecelakaan!' batin Mirna merutuki kebahagiaan Rasti dan juga Della.
"Rasti dia liburan seperti ini, uang dari mana?" cicit Marni yang penasaran. Menantu miskinnya itu liburan. Sedangkan ia tidak bekerja, tak bisa menghasilkan uang.
"Uang dari Mas Dion lah. Dia kan sudah naik jabatan. Kasihan Mas Dion habis karena Istri! Harusnya uang Mas Dion bisa di belikan hal lain! Yaitu kebutuhan kita!" ujar Gita membuat Marni semakin panas mendengar hal itu.
"Kenapa bisa luput dari pemantauan, ibu!" keluh Marni kesal.
"Sekarang sudah terlambat Ibu tahu," tukas Gita.
"Kurang ajar dia, mengambil uang gaji putraku, hah! Sejak kapan Rasti ikut menikmati uang Dion? Uang itu hanya untuk kita. Berapa banyak uang yang Dion keluarkan untuk istrinya berlibur seperti ini? Tidak bisa, Ibu harus minta balik uang itu!" Hardiknya kesal.
"Setuju, jangan mau dikelabui oleh Rasti yang sudah memanfaatkan kakakku." Tambah Gita lagi, yang sedari tadi memang sengaja memanas-manasi Bu Marni.
Marni yang diselimuti oleh emosi karena apa yang ditunjukkan oleh Gita meminta-ginta untuk menelpon Rasti telepon dia sekarang.
"Cepat kamu cari nomornya Rasti. Ibu ingin bicara dengannya," tunjuk Mirna. Memerintah putrinya untuk menghubungi menantunya. Dan panggilan itu pun langsung dijawab oleh Rasti.
Panggilan tersambung. Rasti mengangkatnya.
"Halo Rasti, seberapa banyak uang Dion yang kamu bawa? Berapa puluh juta yang kamu gunakan untuk pulang ke kampung? Pantas saja ya, kamu pulang kampung. Ternyata kamu menggunakan uang anakku." ujar Mirna mendesak.
"Halo, kamu dimana hei, perempuan durhaka. Pulang kamu! Seenaknya menghabiskan uang putraku. Berapa puluh juta uang Dion yang kamu gunakan? Hah?! Untuk menyenangkan orang tuamu miskin dan kampungan itu!" cerca Mirna langsung menumpahkan semua kemarahannya.
"Soal itu, banyak Bu. Kemarin Mas Dion memberikan uang padaku. Katanya, di gajian selanjutnya uang gajinya akan full di serahkan padaku!" jawab Rasti.
"A-Apa?" sahut Mirna tergagap. Mendengar jawab Rasti.
"Apa ini yang di katakan Rasti, dia hanya berbohongkan. Tidak mungkin Dion berubah dalam sekejap!" Mirna menjadi sedih, karena begitu saja percaya pada ucapan Rasti.
"Iya sayang, ponselnya bagus ya. Harganya saja sampai 7 juta!" terdengar suara Rasti berbicara pada Della.
"Tujuh juta? Barang apa yang kamu beli semahal itu!" tanya Mirna penuh selidik. Jantungnya semakin berdegup, ketika Rasti menyebutkan nominal.
__ADS_1
"Ponsel baru Bu, aku baru saja membelinya dari uang Mas Dion!" ucap Rasti.
Mirna berjalan mundur beberapa langkah, ia mencari sandaran hingga terduduk di kursi teras. Merasa jantungnya berdegup kencang.