
"Anda itu becanda ya, segitunya ingin menaikkan derajat Rasti di hadapan saya. Sampai mengarang sebuah kebohongan!" seloroh Fely dan tak percaya dengan ucapan Bu Elena.
"Untuk apa saya berbohong? Lihatlah penampilan Rasti, kini dia juga melakukan perawatan kecantikan di sini. Dia sudah glow up, kamu tidak salah mendatangi klinik kecantikan kita!" ujar Bu Elena yang masih berusaha tenang, menghadapi perempuan seperti Fely. Yang angkuh, dan merasa paling kaya.
"Clara!" panggil Rasti pada salah satu pegawai di sana.
"Iya, Bu Rasti," Clara mendekat.
"Kamu beri dia perawatan yang terbaik! Dan beri dia diskon spesial, dari aku," ujar Rasti dan memberi diskon untuk Fely.
"Baik, Bu," jawab Clara.
Rasti kemudian hanya tersenyum, ketika Fely tercengang melihat pegawai itu, menuruti ucapannya.
Begitulah cara Rasti untuk membayar kesombongan Fely. Ini baru awal saja.
Fely tertegun. Berarti Bu Elena itu tidak berbohong, tentang apa yang dia katakan. Jika Rasti itu adalah salah satu, pemilik saham di sana.
"Silakan Kak, mari. Mau pilih paket yang mana? Kami punya banyak penawaran," ujar Clara dan mempersilahkan Fely untuk memilih paket yang akan ia ambil.
Fely datang ke tempat itu, atas rekomendasi temannya, ia diberitahu oleh temannya Lusi. Jika perawatan di klinik kecantikan itu, sangat bagus
Dan juga sedang naik daun, banyak dari sosialita dan juga istri orang penting yang melakukan perawatan di sana.
"Dari mana dia bisa mendapatkan uang, untuk menanam saham di sini?" gumam Felly. Ia merasakan badannya panas dingin, mendapati semua kenyataan ini.
"Berarti, Rasti bukan menjadi pembantu?" gumam Fely yang tahu dari Bu Marni. Bilang jika Rasti menjadi pembantu di rumah wanita kaya, yang membantunya, yaitu Bu Elena.
Kenyataannya. Rasti adalah rekan bisnis Bu Elena.
"Ini tidak adil!" desis Fely yang merasa iri. Kenapa tiba-tiba Rasti itu kaya, dari mana dia mendapatkan uang. Yang membuat Fely bertanya-tanya di dalam benaknya.
Fely tak menghiraukan Clara. Ia justru pergi menyusul keluar. Mendapati Rasti dan Bu Elena masuk ke dalam, mobil Alph*rd.
"Bahkan ia menunggangi kendaraan mewah, apakah sekarang Rasti kaya, karena ju*l diri pada Kenzo?" ucap Fely yang mulai berpikiran picik.
Fely justru memfoto Rasti dan Bu Elena. Ia mengirim foto itu pada temannya.
[Kamu selidiki tentang dia! Aku ingin dia celaka.] Fely mengirim pesan itu pada seseorang, yang bekerja untuknya jika dibutuhkan.
...****************...
Rino mengajak ibunya menuju perumahan elit. Dan Bu Marni tidak asing dengan tempat ini.
Mereka akan mengunjungi rumah Siska. Kekasih Rino seorang Janda.
Di depannya itu, adalah rumah di mana tempat Rasti tinggal. Rino menghentikan sepeda motornya, dan menunggu pagar rumah itu terbuka.
Siska mengundang Rino Untuk datang. Bersama Ibunya, untuk berkenalan. Dan pasti tanpa sepengetahuan Sinta.
"Beneran ini rumah, Siska?" Bu Marni seketika takjub.
__ADS_1
"Iya Bu, Siska itu kaya. Dia itu ditinggal mati oleh suaminya, dan suaminya itu punya banyak bisnis. Dan di tinggali harta berlimpah!" jelas Rino.
"Hebat kamu Rino, bisa mendapatkan perempuan kaya!" puji Bu Marni.
Bu Marni kemudian menepuk bahu Rino.
"Kamu tahu tidak, rumah di depan ini. Rasti itu bekerja jadi pembantu, di sini!" ujar Bu Marni memberitahu.
"Hah, yang benar Bu?"
"Iya, ibu pernah memergoki dia di sini. Apalagi jika bukan jadi pembantu!"
Ketika Bu Marni sedang membicarakan Rasti dengan Rino.
Terlihat dari kejauhan. Bu Ratih keluar, ia membawa penyiram tanaman, dan mulai menyiram tanaman di depan rumah mewah itu.
"Tuh lihat, ibunya si Rasti, lagi nyiram tanaman! Betul apa kata ibu, mereka itu jadi pembantu!" ujar Marni kesenangan, dan dirinya semakin yakin dengan dugaannya.
ART yang ada di rumah Siska membukakan pagar, untuk Rino.
Siska sudah menunggu kedatangan Rino dan juga ibunya.
"Ayo bu, sudahlah kita tidak usah peduli lagi dengan Rasti. Tidak level kita dengannya. Apalagi keluarganya yang miskin!" ajak Rino.
Namun Bu Marni belum puas. Ia mendekati Sari ART Siska.
"Mbak, kamu kerja di sini, berapa lama?" Bu Marni tidak menghiraukan ucapan Rino. Justru bertanya pada Sari yang bekerja, sebagai art di rumah Siska.
"Pasti kamu hafal dong, dengan lingkungan sini. Kamu tahu, perempuan yang menyirami tanaman itu!" Bu Marni menunjuk Bu Ratih.
"Dia itu pembantu ya, memangnya siapa yang mempunyai rumah itu. Nama majikannya siapa?" Bu Marni mulai mengintrogasi dan ingin tahu, siapa majikan dari tempat Rasti dan orang tuanya bekerja.
"Setahu saya, itu rumahnya Mbak Rasti!" jawab Sari.
"Rumahnya Rasti? Kamu yang benar dong kalau kasih informasi!" hardik Bu Marni tak terima dengan jawab Sari.
"Ini benar, Bu. Saya tahu, itu rumahnya Mbak Rasti, dan yang menyiram tanaman itu Ibunya. Mereka memang baru beberapa bulan ini pindah, di rumah itu. Sebelumnya kan kosong, itu bukan pembantu!" ujar Sari menjelaskan.
"Rino, kamu dengarkan!" Bu Rasti gusar dan menyikut Rino.
"Mbak salah kali, pasti itu hanya jadi pembantu di sana!" ujar Rino yang tidak mau mempercayai kenyataan ini.
"Saya tahunya begitu, karena yang tinggal di sana Mbak Rasti dan keluarganya. Dan juga anaknya yang bernama Della, kadang saya bertemu dengan bu Ratih. Yang mengajak Della main di depan pagar sana, mereka itu ramah! Walaupun orang kaya," ujar Sari yang kadang bertemu Bu Ratih.
"Kaya? Memang nya dia punya usaha apa!" cecar Bu Marni.
"Enggak tahu Bu, saya gak nanya sampai situ." ujar Sari yang merasa takut melihat Bu Marni. Di jawab pertanyaannya, justru marah-marah."Saya tahunya begitu, karena yang tinggal di sana Mbak Rasti dan keluarganya. Dan juga anaknya yang bernama Della, kadang saya bertemu dengan bu Ratih. Yang mengajak Della main di depan pagar sana, mereka itu ramah! Walaupun orang kaya," ujar Sari yang kadang bertemu Bu Ratih.
"Kaya? Memang nya dia punya usaha apa!" cecar Bu Marni.
"Enggak tahu Bu, saya gak nanya sampai situ." ujar Sari yang merasa takut melihat Bu Marni. Di jawab pertanyaannya, justru marah-marah.
__ADS_1
"Dapat uang dari mana Rasti, membeli rumah itu. Jika pun itu uang hasil penjualan rumah, tidak mungkin dia bisa membeli rumah di sini. Yang harganya pasti miliaran!" gumam Bu Marni dan mulai resah.
"Ibu mau ke mana?" tanya Rino ketika ibunya justru menuju rumah di depan itu.
Bu Ratih menyadari kehadiran Bu Marni. Yang berjalan menuju pagar rumahnya, namun bu Ratih hanya diam, masih memantau apa yang akan dilakukan oleh Bu Marni padanya.
"Ibu mau ke mana?" Rino dengan cepat berlari menghentikan ibunya.
"Ibu mau ke sana, Ibu mau bertanya sama si Ratih itu. Benar tidak jika rumah itu milik Rasti, dari mana dia mendapatkan semua kekayaan itu!"
"Ibu jangan ke sana, nanti aku malu dengan Siska, jika dia tahu ibu membuat keributan!" cegah Rino.
"Aku mohon Bu, kali ini saja!" pintanya memohon.
Bu Marni berbalik, kembali ke rumah Siska. Dan menuruti permintaan Rino.
Tapi Bu Marni kembali memandang ke arah rumah Rasti. Ada mobil berhenti di depan pagar sana. Mobil mewah, dan Rasti keluar dari dalamnya.
Ingin Bu Marni berteriak memanggil nama Rasti.
"Mas, kamu kenapa lama sekali, aku sudah menunggu di dalam!" ujar Siska yang akhirnya menyusul keluar. Karena menunggu kedatangan Rino. Dan juga Bu Marni sedari tadi.
"Iya sayang, aku ini baru saja mau masuk," jawab Rino.
Bu Marni dengan cepat mengalihkan pandangannya, pada Siska.
"Kamu Siska, ya. Calon mantu, Tante!" ujar Bu Marni memasang raut wajah semringah ketika melihat Siska.
Perempuan yang mungkin berusia 40 tahun, berpenampilan glamour, dan juga menggunakan perhiasan terlihat mahal. Dan menggunakan make-up yang cukup tebal.
"Iya Tante, perkenalkan aku Siska," Siska meraih tangan Bu Marni dan menciumnya.
"Silakan masuk Tante, mas Rino. Aku sudah menyiapkan hidangan yang enak, khusus untuk menyambut kedatangan kalian!"
"Terima kasih Nak Siska, oh ya Ibu ada membawa sesuatu untukmu! Bu Marni mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, yaitu undangan pernikahan Dion dan Fely.
"Kamu datang nanti!" ucap Bu Marni sambil menyodorkan undangan itu, dan diterima oleh Siska.
Mereka kemudian berjalan bersama, menuju rumah janda kaya itu.
"Pasti aku datang Tante, tapi dengan siapa?" ujarnya tiba-tiba lesu.
"Tentu saja dengan Rino, siapa lagi?" sahut Bu Marni.
"Aku tidak berani Tante, nanti istri mas Rino marah, dan di bilang pel*kor!"
"Kamu tidak perlu takut dengan Sinta, secepatnya Rino akan menceraikan, Sinta. Iya kan?" Bu Marni menatap Rino.
"I-Iya Bu, aku akan segera bercerai dengan Istriku, kamu tenang saja sayang, tidak perlu khawatir tentang itu!" jawab Rino.
Siska tersenyum mendengar jawaban Rino.
__ADS_1