Sangkala Cinta

Sangkala Cinta
Bertemu di arisan


__ADS_3

Kini Dion sudah berada di rumahnya. Menunggu Rasti dan juga Della yang entah pergi kemana.


Tak lama Rasti dan Della pun akhirnya pulang. Della tampak acuh pada Dion saat masuk ke dalam rumahnya. Karena Della merasa kecewa dengan sang ayah.


Sang ayah yang ini telah sibuk dengan dirinya sendiri dan juga keluarganya.


Dion jarang sekali memperdulikan Della dan malah selalu memperhatikan Fani--sepupunya.


"Della, kamu dari mana, Nak?" Bukannya menjawab, Della malah langsung berjalan menuju ke kamarnya. Dia sama sekali tak mekperdulikan Ayahnya.


Mata Dion terus saja memperhatikan putrinya yang kini semakin tumbuh besar, dan juga semakin cantik.


Seketika timbul rasa sedih di hati Dion, saat anaknya bersikap acuh padanya. Dion menganggap bahwa Rasti lah yang telah mengajari Della untuk bersikap seperti itu pada Ayahnya.


"Assalamualaikum." Rasti masuk ke dalam rumahnya, dengan tampilan wajah barunya. Dan sukses membuat Dion terperangah. Sampai-sampai Dion tak sadar kalau mulutnya sudah terbuka lebar.


Dion benar-benar terpana saat melihat istrinya yang berubah total menjadi lebih cantik dan juga wajahnya semakin cerah tidak kusam, seperti kemarin.


Penampilan Rasti juga kini telah berubah total. Mulai dari gamis yang dikenakannya, dan juga tas, serta sepatu yang digunakannya. Semua itu sukses membuat Dion tak berkutik.


"Ra-Rasti? Ka-kamu ...." Dion tak melanjutkan lagi ucapannya karena sangking takjubnya saat melihat penampilan rasti saat ini.


"Kenapa? Kamu kesurupan?" Dion pun langsung tergelagap saat Rasti menjawab ucapannya.


Dion pun langsung berdiri dan berjalan menghampiri Rasti, seketika jiwa kelelakiannya muncul dan ingin segera meminta haknya pada Rasti.


"Maaf, Mas, aku lagi datang bulan." Tolak Rasti, saat Dion ingin menc*umnya. Rasti memang hanya beralasan, karena dia sudah tak mau lagi disentuh oleh suami yang hanya mau enaknya saja.


Rasti memang sedang menyiapkan semuanya untuk segera berpisah. Karena dia memang sudah tak mau lagi untuk hidup bersama Dion. Selain sifat Dion yang plin-plan, Dion juga sudah mempunyai selingkuhan dan Rasti sudah mengetahui itu terlebih dulu. Oleh karena itu tidak ada alasan lagi untuk tidak berpisah dengan Dion.


Dion membuang nafas dengan kesal. Kesal karena merasa diacuhkan dan juga ditolak oleh Rasti.


"Ka-kamu berdandan seperti ini uang dari mana, Rasti? Sedangkan aku saja tidak pernah memberikan kamu uang sebanyak itu, apalagi sampai kamu bisa berdandan dan membeli baju seperti l sekarang. Coba tolong kamu jelaskan padaku!" Kini Dion malah berubah menjadi marah lagi. Selain kepalanya yang pusing karena ditolak oleh Rasti. Dia juga merasa aneh pada penampilan Rasti yang berubah menjadi 180 derajat.


"Sepertinya aku tidak bisa menjelaskan. Karena memang kamu sudah lama kan, tidak peduli lagi padaku? Oh iya kenalin dong selingkuhan kamu sama aku.Saranku mending kamu to the point aja Mas, tidak usah basa-basi lagi. Kalau memang kamu berniat untuk menikahinya, silakan! Aku yang akan mundur, karena memang mungkin kita sudah tidak sejalan lagi," cerocos Rasti panjang lebar. Mengungkapkan semua unek-unek di hatinya.


"Selingkuhan apa sih? Nggak usah deh kamu nuduh yang macam-macam! aku nggak pernah selingkuh kok!" Tampiknya pada Rasti.


"Alah! Udahlah Mas, kamu nggak usah berkilah lagi. Aku udah tahu semuanya kok, aku juga pernah kok lihat story kamu lagi foto berdua, makan-makan seenaknya tanpa memikirkan aku dan Della, kamu malah senang-senang bersama perempuan lain saat aku masih kampung. Lalu kamu juga mengajak perempuan itu kan, ke rumah ibu kamu untuk menemui ibu dan juga adik kamu." Dion menelan salivanya dengan susah payah karena mengira Rasti tak tahu akan semua hal ini. tapi ternyata Rasti malah tahu semuanya

__ADS_1


Dion terdiam sejenak dia tak bisa berkata apa-apa lagi saat Rasti sudah menskakmatnya dengan semua bukti yang ada.


Rasti pun segera berlalu meninggalkan Dion untuk masuk ke kamarnya.


"Rasti! Tunggu! Aku belum selesai bicara. Sekarang coba kamu jelasin, kamu dapat uang darimana? Apa benar kalau kamu itu jual diri? Hah?!" Hardik Dion seenaknya pada Lastri.


Karena setelah Dion pergi, dia juga akan pergi bersama Della.


Rasti memang akan menandatangani surat-surat rumah yang dia beli tak jauh dari rumah mertuanya. Sengaja dia membelinya, agar kedua orang tuanya bisa tinggal di rumah yang mewah dan juga nyaman.


"Sayang, tapi bener kan kemarin kamu nggak ngelakuin apa-apa sama aku? Karena kemarin aku itu kan mabuk berat, jadi aku lupa semuanya," tanya Gita pada Bagas--pujaan hatinya.


"Ya enggak lah, Sayang. Nggak mungkin lah aku berani untuk menyentuh tubuh kamu, kan aku sangat menjaga sekali kehormatan kamu, Sayang." Gita langsung percaya dan tersenyum puas dengan jawaban kekasihnya yaitu Bagas.


"Oh ya udah, bagus deh kalau kamu berfikir seperti itu. Soalnya kan aku nggak mau sayang kalau kita sampai berbuat yang nggak-nggak, terus aku hamil, ih serem. Kalau sampai aku hamil, bisa digantung aku sama ibu aku." Sontak mata Bagas langsung melotot saat mendengar kita berkata seperti itu.


"Enggak dong sayang, Aku kan cinta sama kamu. Nggak mungkin lah aku menodai kamu. Kalaupun kamu seandainya kenapa-napa, berarti bukan sama aku, bisa jadi sama laki-laki lain." Sekarang gantian mata kita yang melotot.


"Bagas! Kok kamu begitu sih ngomongnya? Nggak mungkin lah aku berbuat seperti itu selain sama kamu. Aku nggak semurahan itu kali!" Sahut Gita marah. Tak terima dengan ucapan Bagas barusan.


"Hehe bercanda kok, Sayang. Udah deh jangan marah-marah, nanti kamu cepat tua loh. Yang jelas aku nggak ngapa-ngapain kamu pas malam itu, kamu cuman mabuk berat aja. Terus aku anterin kamu pulang sampai depan rumah deh. Udah gitu doang kok, nggak ada yang lain," sahut Bagas sesantai mungkin. Walau dia tahu kini hatinya sedang ketar-ketir, takut ketahuan akan perbuatannya pada malam itu.


Gita memang berusaha mengalihkan suasana yang sempat memanas, karena jika dibahas semakin panjang dia yakin kalau Bagas akan marah, dan Gita takut kalau Bagas akan meninggalkannya. Karena Gita sangat mencintai Bagas.


"Makan? Hhmm...." Bagas malah garuk-garuk kepala. Bingung mau memberikan alasan yang tepat pada Gita.


"Kenapa? Udah pesen sana!" Rengek Gita lagi. Tak sabar.


Bagas hanya tersenyum lebar saat Gita meminta memesan makanan karena memang dia sedang tak punya uang, tapi malu untuk mengatakannya pada Gita. Bagas memang lelaki kere tapi banyak gaya.


"Duh, aku lagi nggak bawa uang cash lagi, Sayang. ATM aku juga ketinggalan gimana dong? kalau nggak pakai uang kamu dulu aja ya? Nanti aku ganti pas kita ketemuan lagi. Aku juga sama nih, lapar juga soalnya," Gita berdecak kesal.


"Ah, Sayang mah selalu seperti itu.Hhmm, ya udah deh pakai uang aku dulu aja! Keburu pingsan aku kalau kita ambil uang kamu lagi ke rumah." Bagas pun langsung mengangguk tanpa rasa malu sama sekali.


Akhirnya mereka pun makan dengan menggunakan uang Gita. Sebenarnya hal ini sudah sering terjadi. Bagas memang selalu saja beralasan seperti itu. Tapi Gita tak juga menyadari akan hal itu. Karena rasa cinta yang membabi buta. sudah


Sebenarnya pada malam itu, Gita sudah diambil keperawanannya oleh Bagas. Dan saat pagi harinya, Gita menyadari bahwa ada sesuatu yang beda di **** *************. Tapi dia tetap berpikiran positif, karena tak mungkin Bagas akan berbuat seperti itu padanya.


Sinta yang merasa sudah agak mendingan dan kini dia sedang berusaha sekali agar bisa berjalan dengan normal.

__ADS_1


Karena dia tak mau sampai Dion harus memiliki perempuan idaman lain pengganti Rasti, selain dirinya.


Sinta memang merasa menyesal karena telah menikah dengan laki-laki pengangguran seperti Rino. Selama Sinta sakit, Rino juga malah lebih sering pergi keluar, dan tak peduli sama sekali oleh Sinta. Oleh karena itu dia kini berubah haluan, hatinya menjadi sangat mengharapkan Dion untuk menjadi suaminya kelak. Dan Sinta juga akan menceraikan Rino, jika telah mendapatkan Dion.


Oleh karena itu Sinta berusaha keras agar bisa berjalan lagi dengan normal. Dan segera merebut perhatian Dion dari Fely.


Dengan langkah tertatih, Sinta terus berusaha belajar berjalan. Sampai dia tak sadar telah mengeluarkan keringat sebsar sebiji-biji jagung. Semua itu dia lakukan agar segera sembuh dan beraktifitas seperti biasa. Dia juga akan membalas dendam pada ibu mertuanya.


"Aw! Duh ...." Sinta kini sudah sampai di dekat ruang tamu. Tapi dia malah terjatuh, dan disitu ada Bu Marni yang sedang menonton tv.


Bu Marni langsung menoleh ke arah Sinta yang sudah terjatuh, dan tanpa peduli sama sekali, Bu Marni malah melanjutkan acara menonton tv nya.


"Bu, tolongin dong, bu!" Teriak Sinta. Sambil berusaha untuk berdiri lagi. Walau terasa susah payah.


"Udah, jangan manja! Bangun aja sendiri! Menyusahkan saja! Ibu capek. Lagi seru juga filmnya." Sahut Bu Marni yang acuh dan tak menengok sama sekali ke arah Sinta. Membuat Sinta berdecak kesal.


Tok! Tok! Tok!


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.


Bu Marni segera beranjak dari tempat duduknya, dan membuka pintu.


"Assalamualaikum, Bu Marni," Ternyata yang datang adalah Bu Endah. Ketua Arisan di daerah ini.


"Waalaikumsalam, ayo masuk Bu Endah." Lalu Bu Endah pun langsung masuk ke rumah Bu Marni.


Bu Endah terkejut karena melihat keadaan Sinta yang seperti itu. Langsung saja Bu Endah membantu Sinta agar segera berdiri dan memapahnya menuju ke dekat sofa.


Bu Marni yang menyaksikan itu semua. Merasa kesal dengan Sinta yang seolah sedang menunjukkan kesusahannya pada orang lain.


"Ada apa ya, Bu Endah?" Tegur Bu Marni to the point.


"Oh gini lho Bu, Saya mau mengundang ibu untuk datang ke acara arisan besok. Karena besok akan dimulainya arisan kita yang pertama. Jangan sampai nggak datang ya, Bu." Jelas Bu Endah.


"Ok deh Bu Endah. Saya usahain datang besok. Mudah-mudahan saya dapat nomor awal, hehehe," ucap Bu Marni sumringah. Sedangkan Sinta hanya terdiam sambil menyimak obrolan mereka berdua.


...****************...


Bu Marni kini sudah ada di acara arisan besar yang diselenggarakan oleh Bu Endah. Dan hampir semua warga disini turut berpartisipasi. Karena selain arisan, acara ini juga. menyambung silaturahmi antar sesama para sini. Ibu-ibu di daerah

__ADS_1


Saat Bu Marni sedang asyik berkumpul bersama dengan para ibu-ibu yang lainnya. Tak disangka manik matanya melihat sosok yang tak asing lagi. Dan sontak saja dia pun langsung terkejut, karena Rasti juga berada di acara ini.


__ADS_2