
Berulangkali Rino menelepon Siska yang belum datang juga ke acara pesta pernikahan adiknya.
Rino benar-benar mengharapkan kalau Siska bisa hadir di acara penting tersebut. Karena Rino mau mengenalkan pada kerabat-kerabat lainnya.
[Kamu dimana? Kenapa belum datang juga?]
[Sebentar lagi. Lagi ada trouble nih sedikit.] Balas Siska.
[Ok. Aku tunggu ya.] Rino pun menghembuskan nafasnya gusar.
Dari tadi dia memang sedang menunggu kehadiran calon istrinya itu. Karena dia sudah tak ada rasa lagi dengan Sinta. Dia lebih tertarik dengan janda kaya.
Setengah jam kemudian, Siska pun akhirnya datang. Acara semakin ramai dan meriah. Karena banyak sekali teman-teman kerja Fely dan Dion yang hadir.
Mereka semua hadir karena penasaran dengan pesta meriah Dion dan Fely. Apalagi Dion dan Fely sempat viral karena video syur tersebut.
"Sayang, lama sekali sih datangnya? Memangnya ada halangan apa?" Tanya Rino tak sabar, sambil menggandeng Siska untuk segera masuk ke dalam ballroom.
"Iya nih, maaf ya. Ada sedikit trouble aja. Nggak masalah kok." Jawab Siska asal. Manik mata Rino tak sengaja melihat tanda merah di dekat leher Siska, tapi tak terlalu jelas.
Siska yang memakai kebaya berkerah agak tinggi, berhasil menutupi tanda merah itu.
Rino sebenarnya ingin sekali bertanya, namun ia urungkan. Dia takut kalau Siska akan marah.
Sesampainya didalam, Rino dan Siska tak sengaja berpapasan dengan Sinta.
"Mas, siapa dia? Apa dia yang bernama Siska?" Cecar Sinta, kesal.
"Eh, hmm, iya. I-ini Siska." Sahut Rino gugup.
"Tua sekali ya, ternyata. Aku pikir selera kamu yang jauh lebih cantik dari aku! Taunya selera kamu nenek-nenek! Ih," sahut Sinta lagi. Dengan tatapan menjatuhkan.
"Jaga mulut kamu, ya! Kalau saya tua, kenapa suami kamu malah kepincut sama saya? Hah?! Itu karena kamu tidak menarik lagi. Paham! Jangan kurang ajar ya kamu!" Rino langsung panik. Saat Siska membalas ucapan Sinta.
"Owh, takut. Aku pikir p*l*kor itu cantik-cantik. Eh ternyata malah nenek-nenek! Hahaha," sindir Sinta tanpa takut. Dada Siska kembang kempis, dan dia pun akhirnya melayangkan tamparan pada Sinta, namun gagal.
"Jangan seenaknya main tangan ya, Nek! Semua ada undang-undangnya! Kasian kamu kalau nanti tua dan membusuk di penjara!" Lirih Sinta penuh keberanian. Sambil memegang tangan Siska dengan kencang. Hatinya benar-benar merasa sakit, karena perbuatan Rino dan Siska.
"Sinta! Jaga ucapanmu! Jangan kurang ajar seperti itu!" Kini Rino ikut angkat bicara.
"Sudahlah. Aku tak ada waktu untuk meladeni kalian! Silahkan bersenang-senang disini. Karena sebentar lagi karma juga akan menghampiri kamu, Mas! Sampah memang paling cocok dengan tempat sampah!" Sinta pun langsung pergi. Tak lupa dia berjalan sambil menyelengkat kakinya Siska. Alhasil Siska pun terjatuh.
"Aduh!" Buru-buru Rino membantu Siska untuk berdiri kembali. Beberapa tamu dari tadi ada yang memperhatikan mereka bertiga.
"Maafin Sinta ya, Sayang." Rino berusaha membujuk Siska.
"Lain kali tidak usah kamu temukan aku dengan wanita garang itu, Mas! Mulutnya penuh racun! Pantas saja kamu lebih memilih aku!" Siska mendengus kesal.
Rino tak terlalu menanggapi ucapan Siska. Karena mata Rino benar-benar terlalu fokus pada leher Siska.
...****************...
Sebelum ke acara pesta Dion dan Fely.
"Ras, ada Nak Kenzo datang," Rasti langsung terperangah, saat Bu Ratih menyebut nama Kenzo.
__ADS_1
"Ngapain dia kesini lagi ya, Bu?" Rasti menghentikan aktifitas make up nya. Karena hari ini dia akan pergi ke pesta pernikahan mantan suaminya.
"Iya, ibu nggak tau. Mungkin dia mau bareng sama kamu. Udah temuin gih, sana." Bu Ratih langsung keluar dari kamar Rasti.
Rasti segera menyelesaikan make up nya dan menemui Kenzo di ruang tamu.
"Pak Kenzo? Ada apa kemari?" Bukannya menjawab. Kenzo malah menatap Rasti dengan serius. Matanya tak berkedip sama sekali. Kenzo benar-benar terpesona dengan kecantikan Rasti.
"Pak?" Rasti mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Kenzo.
"Eh, hmm, a-aku. Kamu pasti di undang kan ke acara mantan suamimu?" Ucap Kenzo gugup.
"Iya. Ini saya mau berangkat." Sahut Rasti singkat.
"Kita bareng. Aku nggak mau kalau kamu pergi sendiri kesana," Kenzo langsung berdiri di hadapan Rasti. Kenzo benar-benar merasa sedang salah tingkah. Tak pernah dia seperti ini sebelumnya.
"Ok." Rasti pun langsung berpamitan pada Bu Ratih dan Bapaknya. Begitu juga dengan Kenzo. Kedua orang tua Rasti, merasa sangat bahagia. Karena Rasti tidak terpuruk berlarut-larut pada masa lalunya.
...****************...
Berbarengan dengan kedatangan Kenzo dan Rasti.
Bagas dan Bu Ratna juga ternyata hadir di acara pesta pernikahan Dion. Padahal kemarin mereka sempat berseteru di rumah Bu Ratna. Karena masalah Gita.
Bu Marni yang sudah melihat Bagas dan Bu Ratna dari jauh, langsung membuang muka. Dia sangat malas untuk menemui besannya itu.
"Bu, Gita mana?" Tanya Bagas. Saat dia sudah menghampiri Bu Marni. Mencium tangan Bu Marni, namun ditepis.
"Sombong sekali, sih!" Celetuk Bu Ratna. Kesal karena anaknya ditolak saat mau bersalaman.
"Gita ada di kamarnya. Dia lagi istirahat. Ngapain kamu kesini? Belum puas sudah mensiksa anak saya? Hah!" Cecar Bu Marni ketus.
"Siapa yang menyiksa anakmu? Seenaknya aja kalau bicara!" Bu Marni mendecak kesal.
"Ngomong-ngomong acaranya mewah juga ya? Kira-kira habis berapa ratus juta ini?" Selidik Bu Ratna. Sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas tangan yang dia bawa.
"Oh iya jelas dong! Anak dan menantu saya ini, hartanya tujuh turunan nggak akan habis. Enggak kaya suaminya si Gita, yang ternyata cuma kaya tapi kaleng-kaleng." Bu Ratna refleks tangannya langsung memukul tangan Bu Marni dengan kipas yang dipegangnya.
"Duh, sakit!" Gerutu Bu Marni.
"Kamu itu manusia paling sombong yang pernah saya temui di dunia ini loh! Pantas saja anakmu si Gita itu sampai terjerumus ke pergaulan bebas. Karena ibunya nggak pernah peduli sama anaknya. Malah lebih memikirkan urusan duniawi terus!" Hardik Bu Ratna langsung.
"Lah, terus anak kamu si Bagas, udah benar emang? Dia kan yang menjebak anak saya, dan malah menghamilinya!" Teriak Bu Marni tak kalah kencang.
Pertengkaran mereka, alhasil membuat Dion dan Fely merasa tak nyaman. Segera Dion turun dari pelaminan dan menghampiri Bu Marni.
"Ibu, sudah Bu! Jangan mengacaukan acara aku. Lihat, semua orang sekarang sedang memperhatikan ke arah ibu semua," bisik Dion pada Bu Marni. Mulut Bu Marni hanya komat-kamit saja tak membalas.
"Lebih baik kamu dan ibumu pulang, Gas. Bikin kacau acara saja!" Dengan sombongnya Dion malah mengusir Bagas dan Bu Ratna.
Lalu Bu Ratna pun langsung pergi meninggalkan lokasi acara dengan penuh emosi.
...****************...
Penampilan Rasti sangat maksimal sekali. Postur tubuhnya yang imut, tak menunjukkan bahwa dia pernah menikah dan mempunyai anak. Rasti bak seorang gadis yang cantik jelita.
__ADS_1
Kenzo mengulurkan lengannya, agar Rasti mau menggandengnya. Tapi Rasti ternyata tak meresponnya sama sekali.
"Kamu jual mahal sekali," celetuk Kenzo.
"Maaf. Aku masih dalam masa iddah. Sebenarnya aku juga tak mau kalau harus bersama denganmu. Tapi kamu malah datang tiba-tiba tanpa kasih kabar terlebih dulu," gerundel Rasti.
"Memangnya kenapa kalau masih dalam masa iddah? Lagipula selesai masa iddah, mama akan datang ke rumahmu," bibir Rasti langsung menganga.
"Untuk apa?"
"Untuk melamarmu secara resmi." Sontak Rasti pun langsung terkejut. Mata Rasti membulat. Tak percaya dengan ucapan Kenzo.
"Kenapa secepat itu? Bukankah hubungan kita selama ini cuma pura-pura saja? Agar kamu tak diganggu lagi oleh mantanmu itu, kan?" Protes Rasti pada Kenzo.
Saat mereka sedang berbincang. Tak disangka disana ada seseorang perempuan yang sedang
menguping pembicaraan Rasti dan
Kenzo.
"Awalnya memang pura-pura. Tapi apa salah kalau akhirnya aku jatuh cinta?" Rasti menelan air liurnya sebisa mungkin. Tak menyangka kalau Kenzo akan mengutarakan perasaannya, di hari pesta pernikahan mantan suaminya.
Tak menjawab ucapan Kenzo. Rasti langsung berjalan di ikuti Kenzo. Sampai akhirnya mereka berdua berpapasan dengan para karyawan yang bekerja di kantor Kenzo.
Rasti dan Kenzo akhirnya berjalan berdampingan, bak sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Kenzo benar-benar membuat Rasti seperti ratu.
Bu Marni yang melihat Kenzo dan Rasti yang sedang berjalan menuju ke pelaminan, tak berkutik sedikitpun. Hatinya merasa sangat panas sekali. Di tambah panas juga dengan kehadiran Ratna besannya yang julid.
Lain Bu Marni, lain pula Dion dan Fely. Dion benar-benar merasa gugup saat melihat penampilan Rasti yang sangat berbeda sekali. Rasti sangat cantik, sampai tak ada celah sama sekali.
Tatapan mata Dion, cukup membuat Fely menjadi kesal dengan lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya.
"Selamat ya, Dion, Fely. Semoga kalian langgeng sampai akhir hayat," ucap Kenzo, saat bersalaman dengan Dion, lalu Fely.
"Terimakasih, Pak Kenzo," sahut Fely ramah. Sedangkan saat bersalaman dengan Rasti. Fely langsung membuang muka.
"Terimakasih, Pak Kenzo. Ras, kamu datang bersama Pak Kenzo?" Tanya Dion yang masih tak percaya.
"Iya." Sahut Rasti singkat.
"Mana Della? Apa dia tak ikut kemari?"
"Tidak. Dia tak mau saat ku ajak," wajah Dion mendadak pias. Dion merasa telah gagal menjadi seorang ayah.
Lalu Rasti pun segera berlalu bersama Kenzo. Mata Dion tak henti-hentinya memandangi Rasti yang kini sedang berjalan bersama Kenzo.
"Ehem! Biasa aja kali matanya! Kenapa? Gagal move on?!" Dion. langsung tergeragap saat disindir oleh Fely.
...****************...
"Pak Kenzo, dia siapa? Kenalin dong sama kita, hehehe." Ledek Annastasya. Wanita satu ini memang paling berani saat berbicara dengan Kenzo.
"Oh, ok. Kenalkan ini Rasti, calon istri saya." Ucap Kenzo pada beberapa karyawan yang sedang berkumpul disana. Rasti yang sedang makan, sontak saja langsung tersedak. Buru-buru Kenzo memberikan air pada Rasti, hingga Rasti merasa tenang.
"Cie-cie, akhirnya aku bisa lihat Pak Kenzo romantis juga. Pemandangan yang sangat langka." Celetuk Tasya kembali. Hingga suasana menjadi ramai.
__ADS_1
Bu Marni yang melihat pemandangan seperti itu, hanya bisa menghentak-hentakkan kakinya. Karena kesal dengan mantan menantunya yang menurut dia terlalu genit dan tebar pesona.
Para karyawan Kenzo tak menyangka, kalau bosnya yang dulunya adalah seorang lelaki dingin dan kaku. Kini bisa mencair, saat berdekatan dengan Rasti.