
"Halah Mbak! Kamu itu nggak usah sok suci, hijab aja di kepalamu. Tapi kamu itu suka menggoda lelaki, kemarin kamu jalan dengan bosnya, Mas Dion. Sekarang kamu dekat dengan pemilik kedai ayam goreng ini!"
"Git!" Bagas menegur Gita. Dan memegangi pundak istrinya untuk berhenti bicara.
Gita menepis tangan Bagas.
"Di lihat juga nggak cantik-cantik banget, tapi bisa mendekati ya itu lelaki kaya, dan juga ganteng. Pasti orang tuamu itu kan Mbak, yang memberimu bekal!" tuduh Gita.
"Bekal apa, maksudmu?" tanya Rasti yang mulai terpancing dengan ucapan Gita.
"Bekal dari kampungmu itu, pasti kamu menggunakan pelet kan untuk memikat lelaki. Karena perempuan sepertimu itu, rasanya tidak mungkin didekati pria yang kaya dan juga tampan. Sedangkan statusmu itu janda sebentar lagi!"
"Gita!" Rasti mendekati dan berdiri di depan Gita.
"Jaga mulutmu itu jika bicara! Aku bukan wanita penggoda, seperti yang kamu tuduhkan!" Rasti menunjuk Gita.
Gita menepis telunjuk Rasti.
"Kamu bercermin! Siapa di sini. Yang hamil duluan!" ucap Rasti kembali.
"Mbak jangan bicara kasar padaku!" ucap Gita tidak terima.
"Aku tidak akan melakukan itu, jika kamu bisa menjaga mulut kurang ajarmu ini!" geram Rasti.
"Ada apa, ini?" Amar kemudian mendekat, ketika melihat Rasti dan Gita yang seperti sedang cekcok.
"Tidak Pak, kami hanya mengobrol biasa!" jawab Gita.
"Ada apa kak?" tanya Amar memastikan pada Rasti.
"Lebih baik mencari karyawan, yang mempunyai manner!" hanya itu jawab Rasti dan kembali ke mejanya.
"Sabar Nak," ucap Ratih dan mengusap lembut punggung tangan putrinya.
"Aku tidak bisa sabar, jika mereka menghina ibu dan bapak," ujar Rasti dan masih kesal menatap Gita.
"Apa, yang kamu katakan pada dia?" tanya Amar.
"Tidak ada Pak, kami hanya saling bertegur sapa saja. Karena kan sebentar lagi mbak Rasti itu, sudah mau menjadi mantan kakak iparku. Karena dia sudah bercerai dari kakakku!" ujar Gita.
"Oh jadi Kak Rasti itu belum resmi bercerai, dengan suami yang sebelumnya?" tanya Ammar tertarik.
Ammar cukup merasa aneh, kenapa Rasti bisa mempunyai calon suami lagi, ketika dia saja belum resmi bercerai. Harusnya dia tidak dekat dengan pria lain. Sebelum masa iddahnya selesai. Begitu pikir Ammar.
Gita kemudian tersenyum. Ia senang sudah bisa membuat image Rasti buruk di depan Amar.
"Kasihan Mbak Rasti, dia itu selama menikah dengan Kakakmu, kan selalu di dzolimi!" ujar Bagas dan membuat Ammar menoleh pada suami Gita.
"Apa, sih Mas!" ucap Gita yang kesal mendengar ucapan Bagas.
"Kamu jangan fitnah Mbak Rasti, bukan kah dia bercerai dari kakakmu. Karena Mas Dion itu pelit, dan Mas Dion juga selingkuh. Sedangkan Mbak Rasti dekat dengan pria lain, setelah dia berpisah rumah dengan suaminya!" ujar Bagas karena pernah di ceritakan oleh Gita.
"Diam Mas!" ucap kita menegur Bagas.
__ADS_1
"Kakakmu digerebek kan, Karena melakukan zina dengan pacarnya di rumah mereka!" timpal Bagas.
Wajah Gita memanas mendengar perkataan suaminya.
"Benarkah begitu?" tanya Amar memastikan.
"Iya Pak, Mbak Rasti itu korban dari suaminya, yang suka selingkuh!" ujar Bagas.
Gita tidak habis pikir. Bagaimana Bagas mengatakan itu semua, di depan Amar. Kenapa suaminya itu ikut campur, dan seakan membela Rasti.
"Baguslah jika mereka sudah mau bercerai, keputusan Kak Rasti itu sudah tepat. Dia berhak mendapatkan pria yang lebih baik!" ujar Amar kemudian berlalu.
"Mas, kamu apaan sih bicara seperti itu! Seakan membela Mbak Rasti!" gerutu Gita.
"Aku hanya bicara kenyataan saja!" tukas Bagas.
...****************...
Hakim sudah mengetuk palu. Detik itu juga Rasti sudah resmi menjadi janda. Perceraiannya sudah resmi di mata hukum.
Ada perasaan lega di hati Rasti. Merasa ada beban yang lepas dan kini terasa ringan, akhirnya dia bisa benar-benar lepas dari Dion.
Sedangkan raut wajah Dion berbanding terbalik, dengan sang mantan istri. Dion seperti ada rasa berat di hatinya, ketika benar-benar bercerai dengan Rasti.
Mereka berdua keluar dari ruang persidangan.
Dion mengikuti Rasti. Ia mencekal pundak Rasti.
Rasti menoleh, dan menyingkirkan tangan Dion yang ada di pundaknya.
Rasti memicingkan matanya, ketika Dion berkata seperti itu.
Sangat percaya diri sekali. Bahkan ia sudah mati rasa pada Dion. Tak ada terbesit sedikitpun, rasa rindu pada mantan suaminya.
"Walaupun, sekarang kita sudah resmi bercerai. Kamu tetap bisa menghubungiku. Jika kamu merasa kesepian, aku akan datang dan menghangatkan malammu!"
"Plak...!" Rasti menampar Dion.
"Aku bukan wanita mur*han, seperti pacarmu itu yang selalu bisa kamu tiduri, walaupun kalian belum menikah!" ujar Rasti.
Dion mengusap pipinya.
"Sudahlah, pasti kamu merasa kesepian, ketika berpisah denganku. Kamu inginkan, ada seseorang yang memuaskan hasr*tmu! Apa Kenzo sekarang yang bisa memu*skanmu!"
mulutmu!"
"Plakkk..!" kembali Rasti menampar Dion.
Dia benar-benar sakit hati pada ucapan mantan suaminya, sama saja Dion itu merendahkan harga diri Rasti.
Dia bukan wanita yang mur*han yang akan tidur dengan setiap pria.
"Mas!"
__ADS_1
suara Fely memanggil Dion. Dan menghampiri mereka berdua.
"Bagaimana hasilnya, kamu sudah bercerai kan dengan dia?" tanya Fely kemudian menatap sinis pada Rasti.
"Sudah sayang, aku sudah cerai dari wanita kampungan ini!" jawab Dion dan mencerca Rasti. Ia ingin Rasti sakit mendengar perkataannya, sebagai balas dendam penolakan Rasti barusan.
"Syukurlah kamu sudah bercerai, dan kita akan segera menikah!" ucap Fely dan memeluk Dion.
Ia melepaskan pelukan dan ingin mengambil sesuatu dari tasnya.
"Aku ada sesuatu untukmu!" ujar Fely kemudian ia mengeluarkan selembar undangan pernikahan.
"Satu minggu lagi, kami akan menikah. Dan ini undangan untukmu. Jika bisa, kamu datang ya. Karena kami akan berbagi kebahagiaan denganmu! Kamu harus melihat, kemegahan resepsi pernikahan kita nanti. Karena aku akan menjadi ratu di pesta pernikahanku, berbeda ya dengan pernikahanmu dulu Bersama Mas Dion. Hanya akad nikah saja, dan kamu tidak pernah kan menggunakan gaun pernikahan yang mahal. Kasihan sekali!" ucap Fely dan di sertai ledekan.
"Memang dia itu hidupnya, penuh kasihan sayang. Kan dia hanya berasal dari keluarga miskin! Beruntung dulu, aku tidak mengadakan resepsi dengannya. Jika tidak, maka aku akan membuang uang sia-sia. Ketika hanya menikah dengan perempuan kampungan ini! Dia itu tidak pantas, mendapatkan hal yang terbaik. Ia hanya pantas menggunakan sesuatu yang murah saja!" timpal Dion dan menatap Rasti.
"Benar kamu Mas, oh iya aku dengar kamu itu dekat dengan Pak Kenzo. Kalian itu dekat bagaimana sih, aku heran kenapa pak Kenzo bisa mengatakan. Jika kamu adalah calon istrinya! Dia itu adalah lelaki kaya, dia itu mungkin sudah banyak tidur dengan banyak perempuan, yang pasti modelnya bukan seperti kamu. Jadi kamu jangan bangga dulu, jika didekati oleh dia. Bisa saja kamu itu, hanya dipermainkan oleh Pak Kenzo. Karena dia hanya penasaran denganmu, setelah rasa penasaran hilang, dia akan membuangmu. Karena kamu tidak akan dinikahi. Jadi kamu jangan mimpi ya Rasti, akan menjadi Nyonya Kenzo Davis!" Felly menunjuk wajah Rasti.
Rasti menangkap telunjuk Felly. Kemudian menariknya ke belakang, hingga Feli merasakan sakit.
"Jaga jarimu ini, jangan menunjukku!" geram Rasti dan melepaskannya.
"Lihat Mas, dia mulai berbuat kasar padaku!" adu Fely pada Dion.
"Pasti dia merasa terhina dengan ucapanmu!" sahut Dion.
"Kenapa kamu harus merasa marah, jika itu memang kenyataan. Aku tidak seperti dirimu, yang mudah menyerahkan tubuh pada pria lain! Kita lihat saja, siapa yang akan menderita kedepannya, aku atau kamu!" ujar Rasti dan berlalu.
"Aku pastikan, kamu tidak akan pernah menikah dengan Pak Kenzo. Kamu itu bukan tipenya!" teriak Fely dan tak peduli menjadi pusat perhatian.
"Dan asal kamu tahu, pria yang akan kamu nikahi itu. Baru saja menggodaku, lebih baik kamu jaga dia, jangan sampai dia merayu perempuan lain dan kamu akan di selingkuhi!" ucap Rasti.
"Mas, apa benar kamu menggoda dia!" Fely mendelik pada Dion.
"Tidak sayang!" Dion mengelak.
Ponsel Dion berdering, ada telepon
dari ibunya.
"Dion, Ibu lihat mobilmu tidak ada di garasi!"
"Maksud ibu apa?" tanya Dion karena suara ibunya terdengar panik.
"Ini mobilmu tidak ada di garasi! Kenapa nggak ada, ya Dion?"
"Apa Mas Rino meminjamnya?" tanya Dion dan ikut merasa panik.
"Tidak ada yang meminjamnya, ibu juga heran kenapa bisa hilang. Tadi ibu sedang berkunjung ke rumah Bu Saidah,"
"Coba Ibu cari kuncinya, makanya ibu jangan tinggalkan rumah!" kesal Dion karena Ibunya suka bergosip ke rumah tetangga.
"Kamu letakkan kuncinya, dimana?" tanya Bu Marni.
__ADS_1
Dion memang tidak menggunakan mobilnya, ketika akan berangkat, menuju ke pengadilan agama. Ia memilih untuk menggunakan ojek online karena dia malas terjebak macet.