
Bu Marni dan Gita menuju rumah dengan langkah yang lemas, karena mereka tidak jadi belanja seperti yang mereka bayangkan.
Malah terjadi keributan dan Dion dipermalukan oleh Rasti. Di hadapan Bos-nya.
"Rasti memang pembawa sial! Coba saja kita tidak ketemu dia, tadi pasti Ibu sudah menenteng tas mahal itu. Ibu kan mau pakai tas itu nanti, untuk acara arisan di tempat Bu Seno. Buat ngalahin Bu Jamila, yang suka pamer tas mahal!" ujarnya kesal.
"Benar Bu, jika tadi tidak bertemu Mbak Rasti. Aku juga sudah membeli baju-baju yang bagus! Apalagi mas Dion dan Mbak Fely yang mengajak kita, ada yang membayari!" timpal Gita cemberut.
"Cepatlah ibu, suruh Mas Dion itu ceraikan istrinya. Aku benci melihat Mbak Rasti, yang sok banget. Sekarang tuh berani melawan, bahkan kata-katanya itu loh berhasil menyudutkan, Mas Dion. Sampai tidak berani bicara!"
"Pasti, ibu akan segera mendesak Dion agar bercerai dengan Rasti. Untuk masalah rumah itu, Ibu tidak akan rela jika Rasti meminta Dion untuk menjualnya!"
"Ibu hati-hati! Karena sekarang yang mendukung Mbak Rasti itu adalah Bu Elena, pantas saja dia bisa mengancam Mas Dion!"
Bu Marni mengangguk dan paham, akan apa ucapan Gita. Benar juga yang dikatakan putrinya, dia harus berhati-hati karena Bu Elena bukanlah perempuan yang sembarangan.
...****************...
"Ibu dari mana?" tanya Rino yang sedang menonton televisi, bersama Sinta.
Sinta duduk di kursi roda, dia sudah bisa berjalan namun dia belum mau memperlihatkan pada ibu mertuanya.
Bu Marni tak menjawab justru ia melengos, dan diikuti juga dengan Gita.
Sinta semakin kesal melihat gaya Ibu mertuanya, dia tahu tadi Bu Marni pergi bersama dengan Fely. Setiap hari Ibu mertuanya itu semakin akrab, dengan perempuan itu dan Sinta cemburu, dengan kedekatan mereka.
"Akkhhhh...." Terdengar jeritan kencang.
"Ibu, itu seperti suara, Ibu!" ucap Rino dan langsung berdiri dari duduknya. Kaget mendengar jeritan Marni.
"Ada apa itu?" Rino langsung berjalan menuju sumber suara, yaitu dari kamar Bu Marni.
Sinta menutup mulutnya dia menahan tawa, karena senang.
"Yes! Rencanaku berhasil. Apakah ibu sudah terjatuh karena terpeleset, oleh minyak di kamarnya. Rasakan kamu nenek lampir!" ucap Sinta dan menjalankan kursi rodanya menuju kamar sang ibu mertua.
Rino membantu ibunya untuk berdiri, namun Bu Marni terlalu kuat berpegangan dan menarik Rino. Hingga putranya juga ikut terpeleset, dan terjatuh.
"Aduh pinggangku!" pekik Rino karena minyak yang tertumpah itu, cukup banyak.
"Akhh...."
Marni semakin menjerit, karena posisi Rino jatuh menindih tangannya.
Rino segera mengalihkan tubuhnya perlahan.
"Kenapa bisa ada minyak di sini!" ujar Marni yang merasa heran, dengan pelan Rino berusaha bangkit dan akhirnya berhasil merangkak berpegangan pada ranjang.
"Rino tolong ibu, dulu!" pinta Marni.
"Sebentar Bu, aku mengambil handuk dulu. Agar tidak licin saat menarik, Ibu." ucap Rino dan mencari handuk.
Bu Marni meringis kesakitan.
"Jangan tarik diriku lagi seperti tadi, Bu," Marni mengangguk.
"Makanya ibu itu kalau jalan lihat dong, pakai mata. Jangan asal nyelonong aja!" ujar Sinta dan tersenyum tipis.
Ia sudah berada di depan pintu kamar Ibu mertuanya.
"Ibu kenapa?" Gita baru saja datang.
"Ibu jatuh, di kamar. Ada minyak goreng di lantai." jelas Rino.
__ADS_1
"Pinggang ibu sakit!" rintih Marni dengan susah payah Rino menarik ibunya untuk berdiri.
Marni memegangi pinggangnya, yang terasa linu.
"Kenapa bisa ada minyak goreng di kamar ibu, pasti ada seseorang yang menumpahkannya di sini!" ucap Marni mencurigai Sinta dan juga Rino.
Karena hanya mereka berdua yang ada di rumah.
"Siapa Bu, yang melakukannya aku dan Sinta dari tadi di rumah dan kami hanya menonton TV, ya kan sayang?" ucap Rino.
"Iya benar. Lantas siapa yang melakukannya? hantu, mungkin bisa saja ada hantu di rumah ini" timpal Sinta. Bu Marni hanya tercengang mendengar ucapan Sinta.
Dion yang baru saja tiba di rumah ibunya, langsung menuju kamar.
"Bagaimana keadaan, ibu?" tanya Dion.
Minyak yang tadi tumpah sudah dibersihkan oleh Gita. Dan mereka belum tahu siapa pelakunya.
"Pinggang Ibu sangat sakit. Ibu kesusahan untuk jalan," ucap Bu Marni.
"Nanti kita panggil tukang urut, untuk menyembuhkan Ibu!"ucap Dion.
"Lagian kenapa bisa minyak tumpah di sini!" ujar Dion kembali.
"Pasti ada yang ingin mencelakai ibu,"
"Siapa?" sahut Dion.
"Rasti!" terka Bu Marni.
"Mana bisa Bu, dia masuk dari mana!" tampik Dion. Mustahil jika Rasti yang melakukannya.
"Oiya, di mana istrimu. Apakah kamu sudah memarahinya?" Bu Marni lebih tertarik bertanya tentang Rasti.
"Rasti kamu sudah kamu beri pelajaran? Sudah kamu beri hukuman untuknya? Seret dia, dan kurung dia ke gudang, Dion!" ucap Bu Marni memberi saran dengan penuh emosi.
"Rasti pergi, Bu!"
"Maksudmu?" Bu Marni kaget.
"Rasti pergi dengan Della. Aku tidak tahu mereka pergi ke mana,"
"Istrimu kabur? dasar perempuan tidak tahu diri. Coba saja kamu cari ke rumah Ibu Elena. Mungkin dia masih di sana,"
"Tetapi pakaian Della tidak ada, aku juga coba cek pakaian Rasti pun tidak ada lagi di lemari." ujar Dion dan mengusap wajahnya kasar.
"Pergi ke mana dia, pasti Bu Elena itu yang menolongnya. Cari dia sampai dapat Dion! beri dia pelajaran!" geram Bu Marni.
*******
Fely keluar dari kamarnya. Setelah tertidur cukup lama. Kejadian tadi membuat mood-nya berantakan.
Fely yang melewati ruang kerja sang Papa. Mendengar keributan dari dalam.
"Papa yang bodoh, terlalu mempercayai rekan bisnis papa itu. Semua sudah kita korbankan untuk mengikuti investasi itu! Mama tidak mau bangkrut! Jika dia benar-benar penipu, maka kita tidak akan mempunyai apapun lagi!" teriak Carol.
"Tenang Mama, ini hanya isu. Kita tidak akan jatuh miskin!" Ferdinand meyakinkan istrinya.
"Hah, bangkrut?" gumam Fely sambil menyentuh bibirnya.
"Mama juga jangan terlalu memanjakan Fely, dia boros. Bahkan tagihan kartu kreditnya saja, sudah membengkak bulan ini, Mama nasehati dia! Jika tidak Papa yang akan mengusir Fely." ujar Ferdinand membuat Fely syok.
Selama ini memang Fely merasa Ferdinand sebagai Papanya, kurang memberi dirinya kasih sayang. Carol lah yang lebih perhatian padanya.
__ADS_1
"Mama nanti akan nasehati Felly,"
"Anak angkat hanya menyusahkan, dan menghabiskan harta kita. Bahkan dia tidak berguna! Percuma kamu mengangkat dia sebagai anak, apa balas budinya pada kita?" Teriak Ferdinand murka.
"Papa, jangan bicara keras, Fely bisa dengar!" ujar Carol.
Air mata Fely tiba-tiba lolos begitu saja. Membuat Fely mengusapnya dengan kasar, dan kembali berlari ke kamar.
******
Setelah di urut beberapa kali, dengan tukang pijat tradisional. Kondisi Bu Marni mulai membaik.
Dion yang pagi itu sudah tiba, di rumah ibunya. Hari itu tanggal merah, jadi dia tidak berangkat kerja. Semenjak kejadian itu. Dion menjadi canggung bertemu dengan Kenzo. Beruntung mereka jarang bertemu. Namun ada isu jika akan ada pengganti manajer baru. Dion takut jika dirinya, yang akan di ganti atau di turunkan jabatan.
Sudah hampir seminggu lebih Rasti belum juga kembali.
"Kamu sudah berusaha cari istrimu?" tanya Bu Marni.
"Sudah Bu, dan dia tidak ada di manapun. Aku berusaha menghubungi nomornya menggunakan nomor baru, sepertinya nomornya juga sudah tidak aktif!" jelas Dion.
Dirinya kehilangan Rasti. Istrinya itu tidak ada kabar, sama sekali. Bak di telan bumi. Bu Elana juga tidak tahu keberadaannya, ketika Dion menanyakan.
"Jika memang Rasti menghilang, sudahlah Dion. Kenapa sedih? Justru itu lebih gampang untuk kamu, bisa segera bercerai dengan dia. Segera nikahi Fely, kamu tidak mau hidup menjadi orang kaya. Ketika berhasil menikah dengan Fely, dia itu anak tunggal!" ucap Bu Marni. Selalu saja itu yang dibahas oleh ibunya.
"Iya Bu tenang, saja! Nanti juga ada waktunya. Aku mau makan, Ibu sudah masak kan?" ucap Dion. Tak ada lagi istri yang menyajikan makanan untuknya.
"Ibu belum belanja. Uang belanja ibu habis!"
"Bukankah, aku sudah memberi ibu uang di awal bulan, dengan nominal cukup banyak. Kenapa sudah habis?" tanya Dion merasa heran. Karena ibunya ini sangatlah boros.
"Kebutuhan itu semakin hari, semakin mahal. Kamu beri uang, biar Ibu belanja. Nanti Ibu masakin kamu makanan yang enak, semur ayam kesukaanmu, bagaimana?"
Dion dengan raut wajah masam, mengambil dompetnya dan memberikan dua lembar berwarna merah, pada Bu Marni.
Bu Marni dengan cepat menyambar uang itu.
"Ibu mau belanja dulu ya!" ujarnya.
"Bu!" Sinta baru saja datang, dan turun dari motornya. Ia memanggil Ibu mertuanya.
Sinta sudah kembali ke rumahnya sendiri, karena sudah sembuh dan berjalan kembali.
"Ada apa?" tanya Bu Marni ketus. Karena dia yakin yang ketika itu menumpahkan minyak adalah
Sinta pelakunya.
Akan tetapi Sinta tidak mau mengaku, dan Bu Marni tidak mempunyai bukti.
"Ada berita yang pasti sangat membuat Ibu terkejut!"
"Apa itu?" tanya Bu Marni yang mulai tertarik.
"Aku melihat ibunya, Rasti,"
"Ibunya Rasti?" Bu Marni sangat tertarik.
"Iya, itu Bu Ratih. Besannya Ibu. Tadi aku melihat dia itu boncengan, dengan suaminya.
Naik motor, belok ke rumah yang cukup mewah. Aku ingat betul raut wajah orangtua Rasti," jelas Sinta penuh semangat.
"Mereka di sini?"
"Iya, Ibu tahu kan di komplek perumahan itu yang banyak tinggal orang-orang kaya. Nah mereka belok ke salah satu rumah di sana!" ujar Sinta.
__ADS_1
"Apa mereka kemari, dan jadi pembantu ya? Pasti mereka tahu di mana Rasti, kasihan banget jadi pembantu!" ucap Bu Marni yang senang mendengar kabar ini.