
Rasti merasa bingung. Sedangkan di surat itu Kenzo yang mengundang dirinya untuk makan malam, di restoran.
Tapi ternyata bukan. Kenzo juga kaget melihat keberadaan Rasti. Meja untuk mereka sudah di booking.
Meja itu, telah di booking sebelumnya oleh Bu Zoya. Kenzo dan Rasti duduk berhadapan.
"Apa ini, siapa yang merencanakan ini?" ujar Kenzo.
"Aku juga tidak tahu, karena kamu yang mengirimiku surat!" jawab Rasti.
"Aku tidak mengirim surat!" bantah Kenzo yang tidak merasa, mengirim apapun pada Rasti.
"Aku berani bersumpah, jika aku menerima surat darimu. Dan kamu mengajakku untuk makan malam!"
"Ini pasti, ulah Mama," gumam Kenzo yang paham jika ini adalah rencana Mamanya.
Makanan oembuka di hidangkan di atas meja
"Krena kamu penyebabnya. Coba saja kamu tidak mengajakku, untuk bersandiwara. Pasti mamamu tidak akan merencanakan semua ini!" Rasti kemudian mengambil garpu dan sendok. Ia melihat dan merasa bingung dengan apa yang disajikan.
"Makanan apa ini, namanya?" tanya Rasti heran dan mengerutkan dahinya, sambil menatap Kenzo.
"Stuffed mushroom!" jawab Kenzo.
Rasti mengirisnya, dan mencoba makanan itu.
"Cukup aneh ya, rasanya. Aku tidak terbiasa makanan seperti ini!" ucap Rasti yang tak biasa bahkan baru mencoba, makanan yang terbuat dari komposisi jamur, sayuran dan keju juga bumbu lainnnya.
"Kita pulang sekarang!" ucap Kenzo berdiri.
"Setuju, lebih baik kita pulang. Karena aku juga ada urusan lain!" ucap Rasti.
Mereka berdua keluar dari restoran itu. Kenzo tidak mau dinner bersama Rasti. Semuanya terasa aneh walaupun ia mengakui jika Rasti cantik, dan berbeda dengan perempuan lainnya.
"Bagaimana perceraianmu, dengan mantan suamimu itu?" tanya Kenzo yang membuat langkah Rasti terhenti.
Rasti menatap Kenzo dan merasa aneh, dengan pertanyaan pria itu. Kenapa ia peduli dengan sidang perceraiannya.
"Beberapa hari lagi, aku akan menjalani sidang kedua. Semoga saja adalah sidang terakhir!"
"Jadi kamu sudah resmi, bercerai dengannya?"
"Kenapa kamu ingin tahu?"
"Aku hanya bertanya, karena aku tidak mau dibilang sebagai pria perebut istri orang. Jika statusmu itu belum jelas!" detik kemudian Kenzo berjalan menuju mobilnya.
"Dasar pria aneh, kenapa dia harus peduli dengan statusku. Kita juga tidak punya hubungan!" gumam Rasti mencebik.
"Harusnya! Aku tidak berdandan seperti ini, untuk apa juga aku membuang waktu makan malam dengan Kenzo!" ujarnya sebal
Rasti yang berjalan, dan mengambil ponselnya untuk memesan taksi online. Tapi di tolak, dan berusaha mencari driver lain.
Mobil Berhenti di sampingnya. Kenzo menurunkan kaca mobilnya.
"Masuklah!"
"Aku akan memesan taksi saja!" jawab Rasti tanpa menatap Kenzo.
"Cepat masuk, Mama akan marah jika aku membiarkan kamu pulang sendiri. Jangan menambah masalahku!"
"Itu masalahmu, bukan aku!" sahut Rasti ketus.
"Jika begitu aku pastikan, kamu pulang dengan selamat!" Kenzo tetap ingin menunggu hingga taksi yang di order oleh Rasti datang.
__ADS_1
Rasti menggeleng. Ia tak bisa memaksa Kenzo untuk segera pergi dan merasa risih. Dan akhirnya memilih masuk ke mobil. agar segera pulang.
"Maaf Bu, tapi rumah ini sudah dibeli oleh mertua saya.
Perkenalkan saya Anita!" ujar perempuan itu yang mulai berusaha tenang. Karena tadi ia emosi, mendengarkan Bu Marni yang langsung, memarahinya.
"Sejak kapan, kamu menempati rumah ini, hah!
"Sudah hampir satu bulan, aku menempati rumah ini bersama suamiku!" jawab Anita.
"Pergi, kalian! Ini rumah Dion!" Bu Marni kembali mengusir Anita.
"Kami tidak akan pergi, karena rumah ini juga sudah di beli. Kenapa anda kekeh sekali? Bahkan sertifikatnya sudah di balik nama, sedang diproses oleh notaris. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada anakmu, dia yang menjual rumah ini pada bapak mertuaku!" ujar Anita kesal. Karena merasa percuma bersikap baik pada Bu Marni.
Dan anaknya ia suruh masuk ke dalam rumah. Karena ketakutan melihat Bu Marni yang marah-marah jika bicara.
"Jadi kami tidak akan pergi!" tegas Anita. Sedangkan suaminya sedang bekerja.
Bu Marni mengambil ponselnya, dan mencari nomor Dion. Dengan cepat ia menghubungi putranya.
Kabar ini sangat membuat Bu Marni syok. Kenapa Dion menjual rumah, tidak memberitahu dirinya.
"Halo Dion, kamu di mana? Sejak kapan kamu menjual rumahmu!" teriak Bu Marni ketika panggilan tersambung.
"Kenapa ibu datang ke rumahmu, sudah ada orang lain yang menempatinya!" tanya Bu Marni kembali dengan nada suaranya yang tinggi. Kemudian melirik sinis pada Anita.
"Cepatlah kamu datang ke sini, dan jelaskan semuanya pada ibu!" bu Marni duduk di kursi teras yang ada di rumah itu, dan mematikan panggilan.
Sedangkan Anita kembali sibuk dengan anak-anaknya, sembari menunggu Dion. Anita juga menelpon suaminya Hendra untuk segera pulang
Hampir setengah jam Bu Marni menunggu, dan akhirnya dia datang. Tak berselang lama Hendra suami dari Anita juga tiba, di rumahnya.
"Ibu kenapa kemari?" tanya Dion.
la merasa tidak segan pada Hendra. Karena ibunya membuat kegaduhan.
"Memang rumah ini sudah aku jual, Bu. Jadi ibu jangan menyalahkan mereka!" jawab Dion mengkaui.
"Sejak kapan?"
"Sudah hampir 1 bulan yang lalu!"
"Kenapa kamu jual rumah ini, Dion bodoh!" umpat Bu Marni.
"Karena aku tidak mau dituntut gono gini oleh, Rasti." ujar Dion.
"Jadi ini semua penyebabnya, karena Rasti!" Bu Marni semakin berang ketika alasan menjual rumah, karena Rasti.
"Percuma saja Bu, kalau aku tidak menjualnya pasti rumah ini juga akan terjual, pada akhirnya. Jadi lebih baik aku jual saja, dan mendapatkan uang sekarang, daripada masuk ke harta gono gini!"
"Maafkan Dion, Bu. Karena tidak memberitahu ibu." ucap Dion pada ibunya.
"Bagaimana Bu, sudah jelaskan jika rumah ini sudah kami beli. Jadi Ibu jangan datang tiba-tiba seperti ini, membuat istri dan anak saya ketakutan!" ujar Hendra.
"Maaf sekali lagi, ya mas Hendra. Ibu saya dia tidak tahu, jika rumah. ini sudah dijual,"
Dion meminta maaf atas kelakuan ibunya.
"Oke, saya maafkan. Jangan di ulangi lagi, jika masalah seperti ini, seharusnya di beritahukan pada keluarga. Agar tidak jadi salah paham!" ujar Hendra.
200
Sedangkan Anita masih merasa kesal, dengan Bu Marni. Ia tak mau bicara. Bu Marni juga menatap sinis, tak merasa bersalah.
__ADS_1
"Aku akan jelaskan di rumah, sekarang kita pulang!"
Dion mengajak ibunya untuk pulang. Marni masih saja berceloteh memarahi Dion.
...****************...
Kini mereka sudah tiba di rumah. Bu Marni duduk di sofa.
"Ibu, mau minum? Aku ambilkan," tawar Dion.
"Tidak usah, cepat kamu jelaskan sekarang. Berapa rumah itu laku, terjual!" cicitnya menuntut Dion memberitahu harga jual rumahnya.
"Lumayan Bu!" jawab Dion.
"Lumayan, berapa harganya, dan Mana uangnya?"
"Uangnya sudah aku bagi dua dengan, Rasti!" jawab Dion jujur.
"Apa, kamu bagi dengan Rasti!" Bu Marni memegangi dadanya yang sebelah kiri.
"Kamu memberi Rasti uang ratusan juta!" Bu Marni murka, sambil terengah karena nafasnya terasa sesak.
"Kami membagi dua, karena jika tidak-"
"Karena kamu takut dengan, ancamannya Rasti! Dasar penakut, kurang ajar Rasti, perempuan itu sudah berhasil memoroti uangmu, Dion bodoh! Sekarang apa yang kamu miliki, rumah sudah tidak ada. Bagaimana nanti dengan Fely!" khawatir znu Marni.
"Justru Ini, Ibu jangan bilang pada Fely. Jika aku sudah menjual rumah itu, aku mohon Bu. Ibu tenang saja, setelah aku menikah dengan Fely, maka aku akan tinggal di rumahnya. Ibu kan tahu Fely itu sangat kaya, tolong ibu rahasiakan darinya!" pinta Dion memohon.
"Ibu juga tidak akan memberitahu ini, pada Fely. Takut dia berubah pikiran, ibu harus segera bertemu dengan Rasti!" ucap Bu Marni.
"untuk apa, ibu mau bertemu Rasti?" tanya Dion.
"Ibu, mau meminta uang hasil penjualan rumah itu. Ibu tidak ikhlas dan jika dia ikut menikmati uangmu, ini tak bisa di biarkan!"
"Jangan Bu, itu sudah haknya
Rasti!"
"Hak kamu bilang, dia sama sekali tidak mempunyai hak pada rumah itu. Karena kamu murni membangun rumah, menggunakan uangmu sendiri! Antarkan Ibu pada Rasti, Ibu ingin memberi pelajaran pada dia, dan mengambil uang itu kembali!"
Dion bergeming.
"Cepatlah Dion!" hardik Marni.
"Aku tidak tahu, dimana Rasti!" sahut Dion.
"Ibu tahu, dia di mana. Kamu antarkan Ibu ke sana, nanti malam kita datangi dia!" ucap Bu Marni tak sabar ingin melabrak Rasti dan meminta uang hasil penjualan rumah.
...****************...
"Ibu yakin, Rasti tinggal di sini? Ini kawasan perumahan elit, Bu. Tidak mungkin dia mempunyai rumah di sini!" ujar Dion.
"Ibu yakin, Rasti menjadi pembantu di sini. Mungkin dia direkomendasikan oleh Bu Elena, dan bekerja di rumah temannya, menjadi pembantu. Apalagi yang bisa dilakukan oleh mantan istrimu! Tapi kan dia sudah mendapatkan uang darimu, ya. Hem Ibu yakin, pasti sebentar lagi dia akan berhenti menjadi pembantu, atau mungkin dia sekarang sedang mempersiapkan untuk membeli rumah, dan membuka usaha? Tidak bisa dibiarkan ini, ibu harus segera meminta uang itu, sebelum dia gunakan sepenuhnya!" Bu Marni keluar dari mobil dan diikuti oleh Dion.
Ketika Dion mencoba untuk menekan bel, yang ada di dekat pagar. Sebuah mobil mewah berhenti juga di depan rumah itu.
Dion yang seperti mengenal. Siapa pemilik mobil itu. Dia lah Kenzo.
Tangan Dion mengepal, dan semakin yakin jika Rasti memang ada hubungan dengan bosnya.
Apalagi waktu itu mereka bertemu, dan Kenzo membela Rasti.
Kenzo membukakan pintu mobil untuk Rasti. Ketika Rasti akan keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
"Bukannya, itu bos kamu yang waktu itu kita bertemu!" ujar Marni.
"Kenapa dia bersama Rasti? Dion, jangan bilang mereka itu punya hubungan!" ujar Bu Marni khawatir.