
"Della, hilang?" ucap Dion yang mendapatkan telepon dari mantan istrinya.
Jika putri semata wayangnya itu, telah hilang.
"Kamu gimana sih, Rasti? Enggak becus jaga anak, karena kamu itu sibuk pacaran sama Kenzo.
Jadinya Della hilang kan, gak ada yang ngawasin. Kan aku udah bilang ajak Della di pernikahanku," ujar Dion menyudutkan Rasti.
"Sudah! Jangan jadikan alasan resepsiku sebagai kehilangan Della, aku akan kesana!" Dion mematikan sambungan telepon.
"Anakmu hilang di mana, Mas?" tanya Fely yang justru semeringah menanyakan tentang kehilangan Della.
Seperti yang disebutkan oleh Dion barusan.
"Aku tidak tahu, kata Rasti dia itu bermain di depan rumah bersama neneknya. Dan setelah itu entah ke mana, sekarang kamu aku antarkan ke rumah ibu. Setelah itu aku akan pergi menemui, Rasti!" ujar Dion dan meminta Fely untuk segera berkemas. Untuk segera pergi dari hotel.
"Kenapa kamu hanya menemui dia sendiri, aku akan ikut bersamamu!" pinta Fely.
"Tidak usah, kamu itu akan hanya memperkeruh suasana jika bertemu dengan, Rasti! Biar aku saja, aku Ayahnya. Kamu tidak usah membantah!"
"Tapi, Mas!" protes Fely.
"Aku sangat lelah dengan acara kita kemarin, dan sekarang kamu jangan mencari masalah lagi!"
Felly bersungut-sungut. Dia akhirnya mengalah.
...****************...
Dion yang menggunakan mobil Felly mengantarkan istrinya, ke rumah Bu Marni.
"Kenapa kita tidak langsung pulang ke rumah, kita saja mas?" tanya Fely yang menunggu jawaban ini dari mulut Dion.
"Kamu tunggu dulu aku di sini, jangan banyak nanya!" Dion takut jika Fely tahu yang sebenarnya.
"Aku tidak suka Mas, jika nanti tinggal bersama mertua," dengkusnya.
"Sayang! Aku ingin mengatakan sesuatu pada kamu!"
"Apa?" tanya Fely yang menatap Dion.
"Sebenarnya rumahku itu, aku sewakan!" ujar Dion tersenyum.
__ADS_1
"Disewakan?" Fely tak mengerti.
"Iya, sudah ada yang mengontrak untuk satu tahun. Aku saat itu butuh uang. Kamu kan tahu, aku kemarin kesusahan dalam hal finansial. Apalagi untuk membiayai pernikahan kita, jadi aku mengontrakkan rumahku itu. Setelah satu tahun orang itu akan pergi, kita akan menempatinya bersama," ucap Dion memberi penjelasan.
"Hah? Jadi kita tinggal di rumah Ibu?" Fely menggeleng pelan.
"Kenapa kamu mengontrakkan rumah, tidak bilang padaku Mas? Harusnya kamu minta persetujuanku!" ucap Fely kesal.
"Maaf, aku terpaksa saat itu demi mewujudkan resepsi yang kamu impikan. Kenapa kamu harus marah? Ini demi Kita juga, Jika kamu tidak suka tinggal di rumah Ibu, kita bisa tinggal di rumahmu. Aku yakin orang tuamu tidak keberatan, rumahmu itu luas, dan pasti akan menjadi milikmu sayang!" ujar Dion yang justru berharap tinggal di rumah, bukan rumah, tepatnya mansion mewah keluarga Fely.
"Jangan Mas, kita sudah menikah.
Aku tanggung jawabmu sekarang. Mama dan Papa ingin aku mandiri!" ujar Fely. Raut wajahnya yang tadi marah, kini berubah melunak.
Dion hanya bisa mengangguk mencoba memahami. Ini baru permulaan, nanti Fely juga akan mau mengajaknya ke kediaman mewah itu.
"Kamu jangan pulang kemalaman, jangan dekat-dekat Rasti. Kalian itu hanya bertemu karena anak!" cicit Fely mewanti-wanti suamimya.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan macam-macam," jawab Dion.
Felly kemudian keluar dari mobil. Dion membantunya, menurunkan koper Fely yang ada di bagasi.
...****************...
Saat suasana lengang, entah bagaimana mereka bisa mendapatkan izin masuk ke perumahan itu.
Rasti menangis. Semakin menjadi, semenjak menyaksikan cctv tadi. Air matanya hampir mengering.
Bu Elena juga berusaha menolong Rasti. Agar Della segera di temukan. Belum ada tanda-tanda, jika penculik itu meminta tebusan.
Bu Ratih membukakan pintu, ketika Dion datang.
"Ini semua salahmu!" Dion meninggikan suaranya ketika ia berhadapan, dengan Rasti.
"Berhenti, menyalahkan aku!" sahut Rasti tidak terima dan semakin sedih.
"Rasti, di sini aku juga khawatir, aku ayahnya dan juga merasa kehilangan Della. Kamu pikir aku tidak khawatir dengan kondisi putriku, kamu itu terlalu sibuk dengan pacarmu!" tuding Dion menunjuk-nunjuk wajah Rasti.
"Ibu dan bapak, nasehati Rasti ini. Belum habis masa iddah, dia sudah jalan dengan pria lain.
Seharusnya kalian itu menjaga Putri kalian, untuk jaga jarak dengan Kenzo. Mau jika Rasti mendapatkan fitnah, dari orang dan dicap sebagai janda mur han!" seloroh Dion dan merasa senang menyudutkan sang mantan istri.
__ADS_1
"Oh iya, kalian itu tidak akan melarangnya. Pasti kalian justru juga mendukung hubungan mereka, karena bapak dan ibu itu mengincar menantu kaya, seperti Kenzo. Ternyata orang kampung yang sederhana itu, telah berubah menjadi serakah ya, ketika melihat pria kaya! Mereka melupakan kesederhanaan itu, atau mungkin rumah ini juga dibelikan oleh Kenzo, apa yang kamu berikan untuknya, Rasti? Sehingga dia mau memberikan kamu rumah mewah seperti ini," Dion tampak semakin puas berbicara sebuah fitnah.
"Plakkkk...!"
Rasti men*mpar Dion dengan keras.
"Plakkkk...!" tak puas Rasti men*mpar nya sekali lagi.
Dion mendelik dan menatap Rasti nyalang. Karena perbuatannya.
"Jaga mulutmu itu, jika bicara! Siapa yang selama ini tidak peduli dengan Della. Apakah kamu pernah mengkhawatirkan dia, dan sekarang dia hilang kamu hanya menyalahkan aku? Bukankah kamu yang memberi aku undangan, aku tidak sengaja bertemu dengan Pak Kenzo!" ujar Rasti dengan emosional menumpahkan amarah.
"Alasan saja!" ucap Dion.
"Dion, kamu itu harusnya menjadi penenang ketika datang kemari, bukan buat keributan. Kita semua kehilangan Della. Kita berusaha bagaimana caranya agar Della segera ditemui, ini bukan salah Rasti. Tidak ada yang tahu, kapan musibah akan datang, kamu juga harus bercermin bagaimana kelakuan kamu. Lupa jika Della itu juga butuh kasih sayang ayahnya, tapi tidak pernah kamu berikan. Ayah macam apa kamu, yang terburu-buru untuk menikah lagi.
Setelah kalian bercerai, tanpa memberi nafkah juga. Dimana tanggung jawabmu? Berhenti menyalahkan Rasti. Jika kamu masih bersikap seperti ini, lebih baik kamu pergi dari rumah ini!" ucap Bu Elena memarahi Dion.
Dion merasa tersentil, karena dibahas tentang nafkah. Dia memang tidak pernah memberikan nafkah, untuk Della. Seperti lepas tangan, tidak ada tanggung jawab sebagai ayah kandung.
Walaupun mereka sudah bercerai. Masih ada kewajibannya.
"Dan untuk rumah ini, rumah Rasti yang dibeli pada saya, menggunakan uangnya sendiri bukan dari hasil yang kamu tuduhkan. Rasti sangat menjaga harga dirinya sebagai perempuan, dia tidak akan melakukan hal terlarang, ataupun seperti kamu yang tertangkap berzina. Dia tidak sama seperti kamu Dion!" ujar Bu Elena.
Dion semakin tertohok dengan kenyataan ini.
"Omong kosong! Rasti dapat uang dari mana? Bu Elena. Sudahlah, tidak usah mengarang kebohongan untuk membela Rasti!" tukas Dion.
"Saya bicara fakta, dia membeli rumah ini pada saya. Kenapa saya harus berbohong, tanah orang tua Rasti dijual pada sebuah pabrik, yang akan dibuka. Setelah itu, Rasti menanam saham di klinik kecantikan saya. Rasti ini sudah berubah menjadi wanita independen, mandiri secara finansial. Dia sudah banyak berubah setelah bercerai denganmu! Jadi kamu jangan meremehkan dia, Rasti bukan lagi wanita dari kampung, yang bisa kamu injak-injak harga dirinya, karena miskin!" ujar Bu Elena mengatakan semuanya pada Dion.
Agar Dion berhenti mencerca dan menuduh Rasti. Walau sebenernya rumah itu belum dilunasi oleh Rasti. Karena rumah itu mahal dan Rasti belum cukup, uang untuk membelinya. Dia baru membayarnya separuh.
"Benar, Bapak menjual tanah yang ada di kampung. Kamu tidak usah lagi menuduh Rasti, yang melakukan hal yang dibenci oleh Allah. Kalau kamu tidak mau membantu dalam masalah ini, dan tidak peduli dengan Della. Lebih baik pergi! Bapak tidak sudi melihat wajahmu itu, pria sontoloyo!" hardik Bapaknya Rasti. Yang menunjukkan kemarahannya.
Nyali Dion mulai menciut. Apalagi saat mengetahui Rasti yang telah kaya, karena harta orang tuanya.
Ponsel Rasti bergetar. Ada sebuah pesan masuk.
[Berhenti merebut milikku, atau kau mau sesuatu bahaya terjadi pada anakmu?]
"Astaghfirullah, Della!" seru Rasti dan kembali menangis setelah membaca pesan itu.
__ADS_1
"Kenapa, Ras?" Dion ikut panik dan merebut ponsel Rasti.
"Nomor tak di kenal? Si lan siapa yang melakukan ini!" gumam dion