
Melihat Rasti yang turun dari mobil mewah. Hati Bu Marni terasa panas sekali.
Bu Marni sangat geram dan juga semakin membenci Rasti.
"Mas Dion? Ibu? Ada apa ya, kemari?" Tegur Rasti dengan raut wajah bingung.
"Darimana kamu, Ras? Kita ada perlu sama kamu," sahut Dion cepat. Matanya melirik dari atas sampai bawah, memperhatikan penampilan Rasti yang sangat jauh berbeda sekali, dengan Rasti yang dulu saat masih menjadi istrinya.
Rasti tidak seperti pembantu, seperti yang dibilang Bu Marni tadi. Malah lebih seperti penampilan wanita sosialita.
"Ada perlu apa lagi? Kamu tinggal tunggu saja surat cerai turun, dan kamu akan segera bebas untuk menikah dengan siapapun." balas Rasti malas.
"Bukan itu," ucapan Dion terjeda.
"Eh, perempuan g*t*l! Kembalikan uang anakku! Mana uang Dion dari hasil penjualan rumah? Itu hak Dion. Karena rumah itu dibeli dengan uang Dion, dengan kerja keras anakku! Bukan dengan uang kamu, yang hanya bisanya uncang-uncang kaki saja sebagai istri! Dasar benalu!" Hardik Bu Marni tiba-tiba. Matanya melotot. Wajahnya merah padam.
"Uang Mas Dion? Nggak salah, Bu? Apa ibu tidak paham tentang undang-undang pernikahan? Kalau sudah menikah, semua harta suami, menjadi hak istri juga. Dan semua itu disebut dengan harta gono-gini. Aku bisa bawa ke meja hijau kalau Mas Dion tak mau membagi hartanya untukku dan Della. Mas Dion juga bisa dituntut karena tidak menafkahi Della yang jelas-jelas anak kandungnya sendiri. Apa ibu tidak malu? Jika anak ibu, malah menelantarkan anak kandungnya sendiri? Apa pernah Mas Dion memberikan nafkah untuk Della, selama kita berpisah?" Rasti menjelaskan semuanya dengan detail. Membuat Bu Marni sejenak terdiam.
"Maaf Ras, bukan itu maksud ibu," Dion berusaha menengahi.
"Lalu apa maksud ibumu? Belum cukup selama ini sudah menyakiti aku dan juga Della?" Dion menelan salivanya dengan berat. Dalam hatinya, dia membenarkan ucapan Rasti.
"Saya nggak peduli! Yang jelas kamu balikin uang Dion sekarang!" Teriak Bu Marni, seperti orang yang kesetanan.
"Eheem. Saya rasa semua ini bisa dibicarakan baik-baik tanpa emosi. Ras, sebaiknya kamu ajak mereka masuk ke dalam, dan sekalian aku mau pamit untuk pulang," kini Kenzo ikut angkat bicara.
Berusaha berbicara lemah lembut pada Rasti. Kenzo kini berdiri disamping Rasti. Cukup membuat Dion merasa gugup.
Didalam hatinya Kenzo, dia juga merasa kasihan dengan Rasti. Ternyata Rasti adalah salah satu perempuan yang sudah dizholimi oleh mantan suami dan juga mantan ibu mertuanya.
"Kamu siapa? Pacarnya Rasti? Kenapa kamu mau sama perempuan kampungan dan benalu seperti dia? Padahal kamu ganteng, kaya, kenapa nggak cari perempuan lain yang lebih berkelas?" Dengan lancangnya Bu Marni berbicara seperti itu pada Kenzo. Padahal Kenzo adalah Bos dari anaknya sendiri, yaitu Dion.
"Kenalkan, saya Kenzo. Atasannya Dion, dan calon suami dari Rasti," dengan gagahnya, Kenzo mengulurkan tangannya pada Bu Marni. Mengajak Bu Marni untuk bersalaman. Dan dengan malu-malu, Bu Marni pun menyambut uluran tangan Kenzo.
Mata Dion langsung melotot. Dia benar-benar terkejut dengan ucapan Kenzo barusan. Tak menyangka kalau mantan istrinya akan disukai oleh Bosnya sendiri. Dion benar-benar telah merasa kalah telak.
"Aku pulang dulu ya, sayang. Sampai jumpa besok. Oh iya, jangan lupa dipake ya, cincin berlian yang tadi aku kasih," Kenzo mengelus lembut pucuk kepala Rasti yang ditutupi oleh kerudungnya, dengan lembut. Wajah Dion semakin gugup saat melihat kemesraan Kenzo dan juga Rasti. Apalagi wajah Bu Marni yang semakin menunjukkan rasa tak sukanya pada Rasti.
"Terimakasih ya, Beb." Kini mau tak mau, Rasti pun terpaksa mengikuti permainanan Kenzo. Karena memang kebetulan mereka sedang di depan dua orang yang Rasti benci.
Rasti pun langsung menyalami Kenzo dengan khidmat. Dan Kenzo pun langsung menaiki mobilnya.
Belum ada satu menit, kaca mobil Kenzo pun terbuka lagi. Mereka bertiga langsung menoleh ke arah Kenzo.
"Dion, ini buat ibumu. Ada sedikit rejeki untuk kalian. Aku harap kalian tidak berlama-lama mengganggu calon istriku. Aku takut dia kelelahan. Dan Rasti bisa segera untuk beristirahat," Ucap Kenzo, sambil menyodorkan uang berwarna merah sebanyak lima lembar.
Bu Marni pun tanpa aba-aba, langsung menuju ke dekat mobilnya Kenzo, lalu mengambil lima lembar uang berwarna merah tersebut dari tangannya Kenzo dengan cepat dan tanpa rasa malu sedikitpun.
__ADS_1
"Terimakasih ya, Nak. Kamu baik sekali." Imbuh Bu Marni kegirangan saat menerima uang itu. Wajahnya yang tadi penuh emosi, kini berubaj menjadi kegirangan.
"Sama-sama. Lebih baik ibu pulang sekarang. Karena hari sudah malam. Tak baik untuk kesehatan ibu." Bu Marni mengangguk dengan mantap. Dia lupa akan tujuannya yang datang kemari untuk melabrak Rasti.
Lalu, Bu Marni pun buru-buru mengajak Dion untuk segera pulang. Sampai-sampai Dion hanya diam tak berkutik. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya.
Tak menunggu lama mereka pun pergi. Dan tak jadi mengganggu Rasti.
Rasti menghembuskan nafas lega. Akhirnya dua manusia menyebalkan itu pergi juga.
Rasti menoleh ke mobil Kenzo yang belum juga pergi.
"Kenapa kamu belum pulang juga?" Tegur Rasti pada Kenzo yang masih betah di dalam mobilnya.
"Aku cuma mau melihat kamu aman, sampai masuk ke dalam rumah." Sahutnya datar. Rasti berusaha menahan senyumnya. Padahal ingin sekalia dia mentertawakan sikap Kenzo yang seperti itu.
"Oke." Lalu, Rasti pun langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Ras?" Panggil Kenzo tiba-tiba. Rasti pun langsung menghentikan langkahnya, lalu menengok kembali ke arah Kenzo.
"Selamat malam." Ucap Kenzo. Lalu Kenzo pun langsung menancap gas tanpa berpamitan lagi. Rasti hanya mengeleng-gelengkan kepalanya. Tak paham dengan sikap lelaki berhidung mancung, dan juga berkulit putih itu.
...****************...
"Sampai kapan kalian menumpang di rumah saya?" Cecar Bu Ratna pada Bagas dan juga Gita yang sedang sarapan pagi.
"Maaf, Bu. Aku akan mengontrak rumah untuk Gita secepatnya."
Sahut Bagas takut-takut.
"Lebih baik kalian cari kerja sekarang! Saya sudah malas melihat muka kalian di rumah ini! Lebih baik kalian keluar dari rumah ini sekarang. Siapa tahu hari ini kalian bisa mendapatkan pekerjaan." Bu Ratna menggebrak meja. Lalu langsung pergi dari ruang makan.
Akhirnya mau tak mau, Bagas pun mengajak Gita untuk mencari kerja bersama-sama. Padahal Gita sudah merasa begah karena perubahan di perutnya. Tapi, karena takut dengan ibu mertunya. Akhirnya Gita pun menyetujuinya.
Tubuh Gita kini sudah mulai mengurus, mukanya agak menciut, tidak sesegar waktu sebelum menikah dengan Bagas.
Setiap harinya Gita selalu kena omel oleh ibu mertuanya.
Pagi-pagi sekali Gita harus tanaman milik mertuanya. Menyapu seluruh ruangan di rumah Bagas, dan juga mengepelnya. Lalu Gita harus mencuci semua pakaian, menjemur, mencuci piring, lalu setelah kering, dia langsung menyetrika pakaian tersebut.
Hidup Gita sangat berbanding terbalik, dengan kehidupan Gita yang dulu.
...****************...
Setelah hampir satu jam berkeliling-keliling mencari lowongan pekerjaan. Akhirnya Bagas dan Gita pun telah sampai di sebuah kedai ayam goreng.
Disana tertera lowongan pekerjaan yang sedang mencari karyawan untuk bekerja di kedai tersebut. Mata Bagas dan Gita pun berbinar senang. Tak menunggu lama, mereka langsung masuk kedalam kedai tersebut, untuk bertemu dengan ownernya.
__ADS_1
"Selamat siang, Pak. Apa benar disini ada lowongan pekerjaan?" Tanya Bagas pada Ammar.
"Iya. Tapi kami sedang mencari karyawan perempuan, untuk bekerja sebagai kasir.
"Berarti saya bisa, Pak?" Gita langsung bertanya dengan semangat.
Ammar belum menjawab, karena dia sedang memperhatikan penampilan Gita yang agak sedikit berbeda. Karena memang Gita sedang mengandung.
"Saya bisa kan, Pak?" Gita mengulangi pertanyaannya.
"Ok. Baiklah, kamu bisa training dulu selama tiga hari. Jika pekerjaanmu bagus, maka kamu boleh menjadi karyawan kontrak disini," jelas Ammar pada Gita yang tersenyum dengan riangnya. Menurut Gita lebih baik berlama-lama di tempat kerja, daripada berlama-lama di rumah mertuanya.
Tak lama, saat Ammar sedang berbincang-bincang dengan Gita dan Bagas.
Tiba-tiba saja pandangan Ammar beralih ke tamu yang baru saja datang, yaitu Rasti beserta keluarga besarnya.
Rasti memang ingin menyenangkan Della, dan juga kedua orang tuanya. Karena Rasti ingin menebus kekecewaan Della waktu itu. Rasti sengaja mengajak Della dan juga kedua orang tuanya untuk makan langsung di kedai ini.
"Selamat datang, tuan putri yang cantik." Ammar langsung menyambut Della dengan senang. Meski kemarin hatinya sempat kecewa karena dia tahu kalau Rasti sudah mempunyai calon suami.
"Hallo, om ganteng." Sahut Della riang.
Gita sontak langsung terkejut saat menoleh ke arah Rasti dan juga pada kedua orang tuanya Rasti. Dia merasa sangat malu, karena sedang berada disini juga. Sedang melamar pekerjaan.
"Loh, Gita? Kamu disini juga?" Tegur Rasti pada Gita, yang kini malah menundukkan wajahnya.
"Jadi kamu kenal sama dia?" Ammar malah menyela ucapan Rasti.
"Dia adik iparku." Sahut Rasti pelan. Karena sebenarnya dia malas untuk mengakui Gita di depan orang lain.
"Oh gitu. Kalau begitu, kamu saya terima bekerja disini, tanpa syarat!" Ammar menjawab dengan antusias. Gita sontak tersenyum senang. Begitu juga dengan Bagas, suaminya Gita.
"Terimakasih, Pak. Terimakasih." Ucap Gita.
"Jangan berterima kasih padaku. Tapi berterima kasihlah pada kakak iparmu ini. Karena mungkin kalau bukan karena dia, kamu mungkin tidak akan saya terima bekerja di sini." Jawaban Ammar cukup menohok bagi Gita.
"Baik, Pak." Gita menjawab pelan. Hatinya mendadak dongkol pada Rasti. Seolah Rasti adalah pahlawan disini.
Ammar langsung pergi, mmebuatkan pesanan untuk seseorang yang sudah mengaduk-aduk hatinya belakangan ini.
Rasti langsung berjalan ke arah meja tempat Della dan kedua orang tuanya menunggu.
"Mbak Rasti! Tunggu!"
"Ada apa?"
"Apa dia pacar kamu? Kok semuda itu dia terima aku kerja? Kamu dan Mas Dion kan belum resmi bercerai, tapi kenapa sudah banyak menggoda lelaki?" Rasti tak menyangka dengan ucapan Gita. Sudah ditolong malah berkata seperti itu.
__ADS_1
"Terserah apa kata kamu! Yang jelas, aku tidak seperti kamu!"